Sebelum menulis bagian pertama, sebenarnya aku lebih dulu ingin menulis bagian yang ini. Beberapa minggu ke belakang, banyak sekali postingan tentang ibu yang masuk ke lini masa sosial mediaku. Sampai akhirnya melihat video yang berjudul What Did You Lose While Having Me, Mom? (baru sadar judul sebelumnya kutulis Why...). Rasanya video tersebut pas sekali menutup serangkaian pemikiranku tentang ibu di minggu-minggu belakangan ini.
Keresahan tentang menjadi ibu ini di mulai pada satu hari saat aku membaca postingan seorang teman, “all your achievements is’nt just about your efforts, it’s your mom’s dua’s” kurang lebih begitu kalimatnya. Satu-satunya reaksiku adalah terkesiap, wkw. Jadi ingat kalau pernah bilang ke umi apa-apa yang ku lakukan secara ‘iseng’ biasanya membuahkan hasil; mendaftar sekolah, komunitas, perlombaan, dsbnya. Respon umiku saat itu terkesan menyinggungku, tapi kemudian aku yakin beliau lebih tersinggung. Meski nggak selalu bilang apa yang akan ku lakukan, beliau kan nggak pernah berhenti mendoakan.
Hal yang menunjang keresahanku selanjutnya adalah secara tidak sengaja, aku membaca serangkaian cerita instagram milik Mbak Zahratul Iftikar, salah satu penulis buku Mengukir Peradaban. Dalam pembahasan tersebut, beliau membuka diskusi di kolom QnA tentang ‘tirakat’ atau ibadah-ibadah lain--yang istiqomah dilakukan sebagai amalan tetap oleh para orang tua. Ia mengaku sedang mencari juga bentuk 'tirakat’ yang akan ia lakukan. Menyimak jawaban-jawabannya.. Terenyuh. Karena dari kolom yang Mbak Zahra bagikan tidak lain adalah pengakuan para anak tentang amalan-amalan rutin orang tua mereka. Berdzikir sambil memasak, sedekah, salat malam, mengaji sampai sepuluh juz, ‘memaksakan’ diri agar terus berbuat baik dan mencontohkan amalan-amalan salih. Baik ayah maupun Ibu. Di rangkaian cerita itu Mbak Zahra menyebutkan bahwa amalan-amalan mereka sebagai orang tua masih sangat ‘receh’ padalah ia dan suaminya dalah hafidz - hafidzah. Ia menyentil lagi bahwa menjadi orang tua itu berat. Bahkan hampir tiap hari ia takut bangun pagi kalau-kalau ia tidak bisa mendidik putrinya dengan baik. Jika teman-teman penasaran, rangkaian cerita ini bisa diakses di sorotan instagram beliau dengan judul Orang Tua.
Setelah membaca soal ‘tirakat’ atau amalan-amalan salih itu, aku ingat pernah membaca postingan seorang penulis asal Jogja, Mas Puthut Ea. Ia menceritakan tentang anaknya, Kali. Di sela-sela itu ia memasukkan paragraf yang menghangatkan sekali:
“Saya teringat Gus Baha’, suatu saat beliau bercerita kalau kakeknya adalah seorang ulama ahli tirakat. Selalu puasa. “Kowe ra usah tirakat, Ha’. Wis tak tirakati.” Jadilah Gus Baha yang sekarang ini mungkin karena tirakat yang dijalankan oleh Kakeknya.
Bapak saya juga ahli tirakat. Tak pernah lupa tahajud dan selalu puasa Daud mungkin sudah belasan tahun. Konon beliau menirakati saya. Setelah Kali lahir, ganti menirakati Kali.”
Mungkin bagi pengikut Mas Puthut, sedikit banyak tau bagaimana Kali. Cerdas, tegas, sopan dan manis sekali. Ia masih SD tapi ‘gentle’ saat dipilih menjadi ketua kelas, bertanggung jawab dan menyenangkan. Hehe. Bahasannya jadi kemana-mana.
Setelah mengumpulkan puzzle-puzzle yang muncul satu-persatu tentang orang tua khususnya ibu ini, aku bertekad menuliskannya agar kelak bisa dibaca ulang untuk mengingatkan. Sampai esok paginya, aku mendengar perbincangan antara adik perempuanku dengan umiku. Konon katanya, adik perempuanku ini saat kecil sering sekali diganggu makhluk halus karena kami baru saja pindah rumah ke area yang masih baru, hanya rumah kami disitu. Selebihnya semak belukar.
: “Mi, kenapa sekarang aku nggak pernah diganggu lagi ya?”
: “ya dari kecil dulu umi do’akan, dzikirkan tiap bangun tidur, menjelang maghrib dan mau tidur.”
Mengumpulkan cerita-cerita ini aku semakin merasa tidak ada apa-apanya usahaku selama ini.. Belum ada apa-apanya ibadahku. :” pantas saja Allah janjikan surga di telapak kaki Ibu. Pantas saja Allah sebutkan wa la takullahuma uffin; janganlah kamu berkata ‘ah’ pada orang tuamu.
Tidak hanya menjadi Ibu --tentu, menjadi ayah, menjadi orang tua berat sekali. Makanya tidak main-main perjanjian menjadi keduanya, melalui proses mitsaqan ghaliza. Perjanjian suci yang bahkan dalam al-Qur’an hanya Allah hanya sebutkan tiga kali; perjanjian Allah dengan para Rasul, perjanjian Allah dengan Bani Israil dan perjanjian dalam pernikahan. Mengingat hanya disebut tiga kali, berarti perjanjian pernikahan sama sakral dan kuatnya seperti dua perjanjian lainnya.
Sejak saat itu aku jadi bermimpi, mudah-mudahan Allah izinkan dan mudahkan kita para perempuan menjadi sebaik-baiknya wanita, menjadi ibu yang baik, istri yang menyenangkan dan bijaksana. Sejak saat itu juga aku jadi menambah satu list mimpi, menjadi ibu yang punya banyak tirakat dan amalan salih lainnya. Karena ketika anak-anak kita besar dan jauh nantinya, apalagi pelukan yang lebih aman dan nyaman selain do’a? :”
“Sejak menjadi orang tua aku sadar, surga itu jauh ya..” -Zahratul Iftikar
Apakah kita selama ini hanya dengan salat lima waktu, puasa ramadan dan mengganti puasa saja sudah merasa surga begitu dekat? Sudah merasa pantas jadi ibu hebat dan bermimpi punya putra-putri manfaat untuk umat? Apakah selama ini hanya dengan dzikir setelah salat kita yakin sudah meluruhkan semua pengharapan kita padahal kelak, begitu banyak yang ingin kita bersamai di akhirat?
Semoga Allah mudahkan dan mampukan selalu... Semoga Allah bantu kita semua menjadi ibu, ayah dan orang tua yang menciptakan sebaik-baik lingkungan bagi buah hati kita kelak; untuk mengenal Rabbnya, Sang Maha Pencipta dan Maha Segala :”