Rendesvouz Film India
Mulanya kukira telah terindikasi gila sejak lama, nyatanya manusia miliki ketidakwarasan masing-masing dalam hidup. Meski tak menemukan istilah psichology untuk menamainya aku mulai percaya bahwa itu adalah hal wajar. Sesuatu yang mampu membikin tertawa tergelak-gelak saat tak ada yang bisa diajak bicara, yang dalam sendiri bisa melerai dari tangis, yang tak akan menimbulkan jenuh sewaktu-waktu, yang memberi lebih dari sekadar rasa senang. Hal sederhana yang membuat seseorang merasakan rubatosis, enoument, jouska, sonder, kenopsia bahkan vellichor secara bersamaan. Telak!
Sepasang buku 'Aku Dan Film India Melawan Dunia' bagiku adalah sehimpun 'kegilaan' yang tak hanya lahir dari sekadar kegandrungan berlebihan pada 'sesuatu' tetapi luapan perpaduan perasaan dan pengalaman saat jatuh cinta. Mahfud Ikhwan terlihat bagai pemuja agung saat mereview kebanyakan film zaman Inspektur Vijay berjaya juga beberapa film besutan Rajkumar Hirani yang dilakonkan apik Aamir Khan (tentu saja saya sepakat) tapi bisa tetiba menjelma pembenci adiluhung di beberapa bagian ketika berbicara tentang performa Hritik Roshan (kupikir Empunya Dawuk itu punya masalah pribadi dengan Roshan 😆) bahkan kadang menonjolkan keduanya secara bersamaan saat mengisahkan kualitas Bebo (baca : Kareena Kapor Khan) mendampingi Ajay Devgun dalam Omkara. Orang mana yang melakukan semua itu jika tidak sedang kasmaran? 😂
Ingatanku kembali ke bab-bab lama, menandai setiap halaman pengalaman nonton India(ku), entah bagaimana muasal saya begitu menyukai negara Barata itu, tarian kaki jinjit pinggul bergetar ala Chakdhoom Dhoom bahkan pernah berhasil membikin nasibku persis ending Warkop DKI, berakhir dalam kolam kehijauan penuh mujair. Dicandu film India di generasi 90an tak membikinku bersungut-sungut saat harus menonton Bhagavat atau film (baheula) lain yang menunjukkan aksi idola kakek(ku) sekelas Dharmendra, Jeetendra atau Tuan Bachchan meski tetap tak akan kupaksakan diri menyukai semua film klasik bollywood hanya demi terlihat lebih berkelas, tak semua film dari zaman pelopor Angry Young Man menarik dinikmati apalagi masa-masa jauh sebelumnya. Begitu pun suguhan film di tahun-tahun millenial, tak semua lantas menjadi buruk. Tak bisa dipungkiri pesona Vidya Balan (Tum Hari Sulu, Kahaani, The Dirty Picture) satu dari sekian wanita yang berdiri sendiri, tak butuh lelaki menciumi tengkuknya demi menjadi pemeran utama, juga tak bisa menghilangkan kesan bahwa sejarah mestinya dipelajari seperti saat menyaksikan Lagaan dan film lain yang tak akan dilakonkan kaisar Khan yang lain selain Aamir (3 Idiots, Rang De Basanti, Peekav/PK, Taree Zamen Par). Aku Dan Film India Melawan Dunia' menunjukkan bagaimana cara mengulas juga memaki dengan pandangan, data, fakta, nilai juga solusi.
"Bagaimana bisa kamu tak menyukai musik yang lahir dari peradaban tertinggi tertua di dunia itu?"
kalimat yang berada di halaman awal itu tak berdampak bagiku, klasik atau kekinian kutelah mencintai musik India sejak lama dan akan selalu seperti itu. Petikan kecapi tradisional di Tu Jo Mila bahkan terdengar mirip birama sayang-sayang (musik tradisional Mandar) Soundtrack film Nasib Si Miskin yang dinyanyikan Santi Sardi bernada sama dengan Amma Ek Roti De, Chahonnga Main Tujhsenya Mohd Rafi digubah Mansyur. S menjadi Hartati, lagu Ida Laila yang sama persis dengan Aaje Pardesi dan sekian banyak lagu India yang dijiplak habis oleh Raja Dangdut Indonesia (saya benci menulis ini) Bagaimana mungkin musik India tak terasa begitu dekat?
Saya selalu menunggu lahirnya film India dari rahim modernitas tapi tak mampu menahan pesona antik sinema India dari abad di masa kakek-nenek(ku) hidup. Sama bersemangatnya saat mendengarkan musik India saat yoga, sama menggebunya membaca tulisan mengenai negara anak benua itu terus menerus.










