Mendidik ala Rasulullah SAW
Benarkah jangan mengatakan ‘jangan’ kepada anak?
Dalam dunia parenting, sering gak sih kita menemukan sebuah info grafis yang melarang kita menggunakan kata jangan. Apakah benar?
Sebagai seorang muslim, rujukan terbaik adalah Al-Qur’an. Dasar terbaik, pegangan yang kuat. Maka filterlah dari Al-Qur’an karena itulah petunjuk terbaik. Dalam kisah Lukman yang diabadikan dalam QS.Lukman, setidaknya ada 3 kata jangan. Jangan yang dinasehati oleh Lukman ada pada masalah aqidah, muamalah dan hubungan dengan orangtua.
Ternyata tidak seutuhnya benar untuk tidak mengatakan jangan. Mempelajari kehidupan Nabi dan sahabat memang akan lebih menenangkan. Di bulan mulia ini, bulannya diturunkannya Al-Qur’an adalah waktu ynag tepat untuk memulai kemebali mempelajari Qur’an. Dan Al-Qur’an akan lebih mudah dipahami dngn diiringi mempelajari siroh.
Ada tiga rukun yang memudahkan meneladani Rasulullah SAW
1. Orang-orang yang berniat mencari rahmat dan ridho Allah SWT.
2. Orang-orang yang berorientasi akhirat, karena akan terasa berat meneladani Rasulullah SAW jika orientasinya duniawi.
3. Semangat untuk selalu mengingat Allah kapanpun dan dimanapun
Anak bagi Rasulullah SAW itu katanya ada 2;
1. Anak biologisnya, yaitu
2. Anak Ideologis, orang-orang yang beriman terlepas berapapun umurnya. Maka istri-istri nabi adalah ibunya orang-orang beriman.
Jadi, bagaimana Rasulullah SAW berinteraksi dan mendidik anak-anaknya?
Pertama, dengan metode ‘cobain sendiri’. Membiarkan anak mengeksplore dan mengerjakan sesuatu sendiri tanpa bantuan tapi dengan tingkat bahaya yang terukur. Jika mentok dan butuh bantuan, baru orangtua ajarkan. Ini secara tidak langsung pun mengajarkan kecerdasan ketangguhan.
Kedua, membuka dialog dengan hal yang disukai. Ketika ingin menasehati anak, jangan bertatapan ibarat lawan. Tapi pandanglah ke arah yang sama. Samakan frekuensi. Masuk ke dunia anak dengan melihat apa yang disukai. Jangan melarangnya, tapi jangan dilepaskan begitu saja.
Ketika sudah masuk, ajaklah mereka untuk masuk ke dunia orangtua kemudian berikan arahan lebih dalam.
Ketiga, dengan melihat potensi anak. Menggali potensi seorang anak adalah kewajiban. Sebagai orangtua, berikan dan kasih kesempetan anak untuk mengembangkan apa yang diminati sang anak. Karena ketika potensi itu tidak dialirkan kearah positif, akan mengalir ke arah negatif.
Suka dunia tarik suara, arahkan ke lagi-lagi yang baik, ikuti lomba-lomba qur’an.
Kenakalan saat ini, boleh jadi karena adamya potensi potensi anak yang tidak tersalurkan dengan baik. Maka, memetakan, mengenali potensi anak kemudian memberikan fasilitas adalah penting.
Mudah-mudahan Allah bimbing hati ini buat selalu mengambil hikmah dan memudahkan membersamai anak-anak tersayang, aamiin.










