Memupuk kekuatan dengan “Percayalah setiap air mata kesabaran hari ini akan berubah menjadi rasa syukur yang tak tertanding”.
#reminder #quotereminder

No title available
Mike Driver
todays bird

JBB: An Artblog!
Alisa U Zemlji Chuda
styofa doing anything

Kiana Khansmith
ojovivo
DEAR READER

tannertan36
Sweet Seals For You, Always
Peter Solarz

blake kathryn
trying on a metaphor
tumblr dot com
d e v o n

祝日 / Permanent Vacation
h
we're not kids anymore.

No title available

seen from India
seen from Kuwait
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Finland

seen from Netherlands
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Russia
seen from United States
seen from Netherlands

seen from France
seen from Finland
seen from United States

seen from United States
@umamiebbb
Memupuk kekuatan dengan “Percayalah setiap air mata kesabaran hari ini akan berubah menjadi rasa syukur yang tak tertanding”.
#reminder #quotereminder
Perjalanan Menerima Takdir
Perjalanan menerima takdir, kadang memang gak mudah. Mungkin ada masanya marah, kecewa, sedih. Hingga merasa Tuhan tak adil, terus bertanya 'why me?', kenapa harus aku?
Namun, Tuhan tak menakdirkan suatu hal tanpa alasan.
Beberapa hal Tuhan berikan untuk bisa belajar dan pindah dari satu bab ke bab kehidupan selanjutnya. Pindah sedikit agar hal baiknya bisa terlihat. Hanya perlu sedikit merubah sudut pandangnya agar hal baiknya
Boleh marah, kecewa, nangis. Perasaan yang wajar. Menangislah jika ingin menangis, marahlah jika ingin marah. Tapi, berlarut dalam sebuah perasaan adalah pilihan.
Toh, ketidaksempurnaan pasti hadir di tiap-tiap bab kehidupan setiap orangkan?
#reminder #quotelife #takdir
Satu pertanyaan yang beberapa kali ada dalam pikiran, tapi belum pernah menemukan jawabannya;
"Gimana bedain apa yang terjadi adalah sebuah pertanda untuk tidak melanjutkan proses menuju pernikahan atau justru sebuah ujian menuju pernikahan?"
it’s okay sesekali ngetawain diri sendiri, kita hanyalah seorang hamba dan hidup ini rangkaian gagal dan bangkit. Salah ya perbaiki, ambil hikmahnya. Keberhasilan betul-betulnya nanti saat pulang dan bisa bertanggungjawab sama yang punya semua ini.
#reminder #friendlyreminder
Tuhan, tolong sembuhkan rasa trauma yang tidak bisa saya diskusikan pada siapapun, bahkan pada diri sendiri
Memilih Pertanyaan
Dalam memulai sebuah obrolan, kupikir pasti dimulai dengan sebuah pertanyaan. Entah untuk basa basi atau benar-benar bertanya. Terlebih jika dua orang atau lebih lama tak berjumpa. Pertanyaan apapun akan semakin banyak.
Obrolan di jaman yang semakin canggih ini tak hanya terjadi di dunia nyata. Tapi juga dunia maya. Bertegur sapa, bertanya kabar dan lain sebagainya terjadi juga di media sosial.
Kemarin, aku bertegur sapa dengan salah satu kerabat melalui media sosial. Kerabatku ini pun sudah lama tak berjumpa, terlebih di pandemi saat ini. Lalu pertanyaan yang muncul adalah
‘eh katanya dirimu cerai ya? kok bisa?’
tenengggg, hmm, hmm. Aku ketika membacanya, seperti ingin tersenyum tapi tak ikhlas menelan ludah. Dalam pikiranku langsung terlintas sebuah pernyataan yang ingin sekali disampaikan tapi rasanya tak perlu. ‘Yang gini-gini nih yang perlu di edukasi’ pikirku.
Dilanjutkan dengan dirinya yang menceritakan sekilas bahwa ia pun pernah berbuat khilaf, menjelaskan bahwa manusia tak ada yang sempurna dan mengatakan bahwa istrinya pun memaafkan atas khilaf tersebut. Lantas aku langsung membalasnya ‘lo gatau apa yang gw alamin, lo gatau udah ada usaha yang gw lakukan, lo gatau cerinta kan.’ Tapi sayang, hanya dalam pikiran haha. Justru yang tersampaikan adalah pernyataan yang menjelaskan bahwa diriku bukan tak mau memaafkannya.
Aku menyadari, kondisiku saat ini lebih membaik tapi belum stabil penuh. Sehingga ketika kalimat yang menjelaskan istrinya memaafkan, perasaan terpojokkan itu ada. Lagi-lagi aku ingin berbicara bahwa bercerai bukan karena ketidaksabaran, bukan pula karena tidak memaafkan, bukan juga karena merasa diri ini sempurna dan lebih baik. Bukan karena itu semua.
Pertanyaan-pertanyaan yang terlihat sederhana ternyata terkadang tidak sesederhana yang dilihat untuk yang ditanya.
Ketika aku mendapatkan pertanyaan diiringi dengan judging, jujur perasaan untuk menceritakan panjang lebar itu ada. Agar orang-orang tidak kepo ataupun menyalahkan salah satu pihak. Tapi orangtuaku selalu mengingatkanku untuk tidak menceritakan alasannya. Ada hal-hal yang tidak bisa diungkapkan selain ke pihak-pihak yang berwenang. Dan bagi mereka menjaga aib adalah kebaikan, hal yang dicintai oleh Allah.
Di sisi lain, meski aku terlihat seperti seseorang yang sangat terbuka, aku pun tak bisa menyampaikannya begitu saja. Untuk berani bercerita kepada pihak yang berwenang perlu kekuatan yang besar. Memerlukan waktu yang cukup panjang. Karena permasalahan yang tidak sederhana dan ketika menceritakan kembali, otakku kembali berputar untuk mengingat kejadian yang membuatku tak nyaman.
Namun memang, aku tak akan pernah bisa mengendalikan apa-apa yang orang lain bicarakan. Tapi mungkin setidaknya, aku jadi belajar bahwa memilih pertanyaan itu perlu, karena ada hal-hal yang memang tak perlu ditanyakan dan tak sesederhana yang kita kira. Cukup bersangka baik dan mendo’akannya, bahwa apapun pilihan setiap orang adalah hasil do’a-do’anya do’a-do’a itulah yang menguatkannya.
Pendidikan yang tak boleh terlupakan
Banyak kasus-kasus menyeramkan di zaman ini, termasuk kasus yang berkaitan dengan seksual. Entahlah ini karena begitu canggihnya teknologi di zaman ini atau kurangnya nilai spiritual. Memang teknologi yang modern ini memiliki dampak yang baik tapi sering juga disalahgunakan.
Kasus-kasus seperti berhubungan seksual di luar nikah, hamil di luar nikah, sodomi, pemerkosaan dan perilaku-perilaku menyimpang yang bersebrangan dengan nilai-nilai islam seringkali terdengar. Ini terjadi bukan hanya pada kalangan dewasa, tapi juga anak-anak juga sebagai pelaku. Bahkan saya pernah mendengar ada yang dengan sangat bangga menceritakan aib-aib yang pernah dikerjakannya kepada publik, Naudzubillah.
Hal-hal yang jauh dari nilai agama bahkan terlihat dibuat wajar. Seolah hal tersebut tidak memalukan. Ini memilukan bagi saya yang memiliki anak. Menjadi salah satu tantangan dalam mendidik dan membersamai anak. Meski setiap generasi memiliki tantangannya masing-masing dalam pendidikan, tapi rasanya tanggungjawab, peran dan tugas pendidikan orangtua di zaman ini semakin besar dan berat.
Anak-anak bukan dididik hanya untuk menjadi generasi yang sehat secara fisik saja, tapi juga sehat secara emosional, intelektual dan spiritual. Hal ini menjadi pondasi untuk masyarakat ke depan yang beradab. Maka pendidikan seksual ini menjadi bagian dari pendidikan akhlak.
Pendidikan seksual, pendidikan yang juga harus diajarkan sejak dini. Agar setiap anak bisa menjaga dirinya dan menjaga orang lain. Mengetahui aktifitas-aktifitas yang memang diperbolehkan dan yang dilarang, secara agama, sehingga anak-anak bisa menghindarinya.
Aktifitas seksual yang benar akan menjadi ibadah, tapi yang menyimpang akan menjadi sebuah dosa besar. Naudzubillah. Hal ini bukanlah hal yang tabu diobrolkan. Tentu diobrolkan dengan suasana yang terbuka dari hati antara orangtua dan anak dengan melihat tahapan umur dan kebutuhan.
Pendidikan seksual yang saya lakukan sejak dini adalah mengenalkan bahwa saya perempuan dan ia adalah seorang laki-laki. Sambil diberi tahu nama-nama organ seksual yang dimilikinya dengan nama yang benar. Kemudian membiasakan keluar dari toilet tidak tanpa handuk/baju, membiasakan membukan pakaian di dalam toilet, tidak membiasakan berenang tanpa pakaian, mengenalkan bagian-bagian mana yang sangat tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain dan mengajarkan malu jika tidak menggunakan pakaian.
Mungkin diusia dimana nanti ketika ia sudah lebih besar dan bisa diajak diskusi, mulai menjelaskan fungsinya. Sebelum masa akil baligh, anak-anak perlu tau lebih jauh fungsi dan resiko penyalahgunaan organ seksual.
Adanya keterbukaan antara anak dan orangtua menjadi pintu kebaikan. Ketika anak bertanya akan suatu hal, maka perlu orangtua menjelaskan dengan benar. Menyebutkan mana yang benar dan salah.
Bekal agama, menjadi yang paling penting. Dalam islam, semuanya diatur.
Pertama, menenamkan nilai keimanan yang menimbulkan perasaan selalu di awasi oleh Allah SWT, sehingga anak tidak melanggar larangan-Nya. Ketika mulai tidur terpisah, dibiasakan untuk meminta izin untuk masuk ke kamar orangtuanya terlebih pada tiga waktu, yaitu setelah dzuhur, setelah isya dan sebelum subuh. Kemudian mengenalkan konsep aurat, yang wajib ditutup karena perintah Allah SWT. Tidak diperkenankan melihat dan memperlihatkan.
Adanya penanaman moral dan nilai agama diupayakan untuk menghindari penyalahgunaan teknologi agar terhindar dari hal-hal yang merangsang seksual, dan dapat menimbulkan kejahatan dan kelainan seksual. Menjadi bekal agar kelak dapat menghadapi pergaulan yang begitu menyeramkan di zaman ini dan membedakan mana yang benar dan salah.
Dengan begitu canggihnya teknologi saat ini, begitu banyak orang tanpa malu melakukan hal-hal yang sebenarnya dilarang oleh agama. Bahkan seolah-olah dibuat menjadi hal yang wajar. Sebagai orangtua yang tidak sempurna dan tidak bisa mengawasi sepenuhnya, inilah ikhtiar yang bisa dan akan dilakukan. Dan selalu meminta pertolongan Allah SWT untuk melindunginya. Wallahua’lam.
Se-ta-ra
Zaman sekarang banyak sekali perempuan yang menuntut kesetaraan dengan kaum laki-laki. Perempuan-perempuan dikondisikan dan ditarik-tarik dengan mindset modernitas dan feminis harus bisa berdaya dan setara. Melakukan apa yang laki-laki lakukan, mendapatkan apa yang laki-laki tapi tidak lupa juga harus pandai memasak, tampil menawan dan sempurna.
Salah satu badan yang memperjuangkan hak-hak dasar perempuan adalah The Commission on The Status of Women atau yang biasa disebut dengan CSW. CSW didirikan di tahun 1946. Berawal dari konflik internal antara perempuan dan laki-laki yang dipicu oleh keterpurukan perempuan dalam peradaban barat. Awalnya sebuah gerakan sosial kemudian menjadi program internasional dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Feminis, kata yang sangat familiar. Feminis hadir untuk melawan patriarki yang katanya mendominasi peran dan posisi penting di masyarakat. Dan ingin membuat perempuan diakui sebagai manusia seutuhnya. Tapi justru, hal-hal tersebutlah yang membuat banyak perempuan lebih banyak mengalami stress. Insecure karena tidak sama dengan perempuan yang digaungkan saat ini. Memiliki kemandirian finansial, tidak memiliki pemasukan, tidak memiliki jabatan dlsbnya berarti dirinya bukan apa-apa. Dari sana, perempuan-perempuan jadi berpikir negatif atas dirinya. Padahal kehormatan perempuan sama sekali tidak diukur dari pekerjaannya.
Pemberdayaan perempuan memang tak salah. Tapi menjadi negatif jika memaksakan dan menuntut perempuan melampaui fitrah yang sesungguhnya. Dalam islam, perempuan dan laki-laki pada dasarnya sudah setara, yang membedakan hanyalah ketaqwaannya. Bahkan perempuan dalam islam lebih dimuliakan dibandingkan laki-laki. Jadi untuk apa diturunkan untuk setara dengan laki-laki?
Menurut perspektif feminis, hak perempuan 100% sama dengan laki-laki. Dalam islam laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang berbeda. Bentuk keluarga tidak hanya pernikahan laki-laki dan perempuan. Dalam islam posisi kepala keluarga ada pada suami. Sedangkan dalam perspektif feminis, suami dan istri sejajar. Secara logika, laki-laki lebih menggunakan logika dibandingkan perempuan yang dominan dengan perasaan. Laki-laki menjadi pelindung keluarga.
Nafkah keluarga, dalam perspektif feminis menjadi tanggungjawab bersama sedangkan dalam islam, suami wajib menafkahi keluarga istri boleh membantu. Menjadi tugas laki-laki memenuhi semua kebutuhan perempuan. Menjadi hak perempuan untuk bisa merasakan nafkah dari pasangannya. Tak perlu merasa sungkan untuk meminta apapun karena memang itu tugasnya laki-laki. Dengan menjadi istri yang mampu dididik, mampu memberikan jalan untuk suami memenuhi kebutuhan perempuan, berarti kita memberinya jalan pahal untuk laki-laki. Peran perempuan yang digaungkan feminis sebagai aktualisasi diri. Sedangkan dalam islam sebagai ibadah dan memperluas kebermanfaatan.
Perempuan, dengan lahir dan menjadi perempuan sebenarnya sudah sangat mulia. Dengan mengerjakan apa-apa yang menjadi kewajiban dan perannya. Bahkan keistimewaannya menjadi seorang istri, bisa masuk surga dari pintu manapun ketika suami ridho atas istrinya. Sudah selayaknya, perempuan memiliki rasa berharga diri yang tinggi tanpa perlu mencari-cari pengakuan dengan standar-standar yang digaungkan oleh orang lain. Wallhua’lam.
Hari itu
“ditunggu dua minggu ya, kalau satu bulan belum ada panggilan datang lagi kesini sambil bawa surat ini ya.” kata petugas pendaftaran kepadanya.
Selesai pendaftaran, penggugat dan tergugat disuruh menunggu dua minggu hingga satu bualn untuk menerima surat panggialan. Jika tidak ada sampai satu bulan, maka harus dipertanyakan kembali ke pendaftaran. Selesai mendaftar, hatinya mulai tenang. Hari itu terlewati dengan baik, alhamdulillah.
Dua minggu kemudian, surat itu datang. Tepat di tanggal pernikahannya, 25 Februari. Disampaikan langsung oleh orang Pengadilan Agama. Dalam surat tersebut tertulis bahwa tanggal sidang di tanggal 9 Maret, yang artinya dua pekan lagi. Mulai hari itu, dirinya kembali tegang. “dua minggu yang akan menegangkan, atau mungkin lebih.’ pikirnya.
Ia berusaha menenangkan diri. Menyiapkan diri dan berdo’a agar mulutnya bisa menyampaikan kesaksian yang tidak melebih-lebihkan tapi juga tak kurang sama sekali dan berharap bisa berbicara dengan tenang di hari itu. Ibunya selalu berpesan untuk berpasrah, menyerahkan diri kepada pihak yang lebih paham. Meminta dirinya menerima apapun nanti keputusannya, termasuk jika harus kembali bersama.
Hari itu datang, tanggal 9 Maret. Hari dimana panggilan untuk sidang pertama. Masuk ke ruangan, terdapat empat orang di meja depan. Satu menit baru duduk, hakim meminta untuk ke ruang mediasi. Ternyata harus melewati proses mediasi di ruangan yang berbeda karena satu pihak masih ingin bertahan. Mediasi bersama moderator berakhir dengan mata sembab. Ya proses mediasinya tetap mengeluarkan air mata. Tak kuasa ia menahan air matanya. Betapa menyakitkan baginya saat itu.
Dua pekan kemudian, sidang kedua dilaksanakan. Saat itu hakim bertanya, respon pertama kali dari dirinya tentu meminta hakim untuk membacanya. Nyatanya, ia tetap harus berbicara dan menceritakannya kembali karena hakim tak mau membaca surat gugatan yang dibuatnya.
Dengan mental yang ternyata tidak siap, diikuti dengan sikap hakim yang menekan akhirnya ia menceritakan kembali dengan air mata yang turun begitu saja. Lagi, ia keluar dengan mata sembab. Pikirannya tak menentu, banyak yang tak disampaikan karena perasaan dan mental yang tidak siap. Menyesal keberanian itu lagi-lagi belum ada.
Sidang ketiga, kesaksian dari pihaknya yang belum datang di sidang kedua. Sekaligus kesaksian dari pihak tergugat jika memang ada. Saat memasuki ruangan, dengan kesiapan yang disiapkan sebelumnya, ia memberanikan diri untuk berbicara untuk menyampaikan beberapa hal yang tak tersampaikan. Pupus, ia tak lagi diberi kesempatan berbicara meski sebenarnya sudah ada dalam surat gugatan.
Pasrah, hanya itu yang bisa dilakukannya. Mencoba merendahkan diri untuk menyerahkan apapun keputusannya termasuk jika harus berdamai. Meski dengan kesaksian salah satu saksi pihak tergugat baginya justru memberatkan pihak tergugat.
Satu pekan kemudian, sidang keempat dilaksanakan. Dimana ternyata hakim mengabulkan gugatan dirinya, biidznillah hari itu pun ketok palu. Dirinya resmi berpisah menjadi seorang janda tepat satu hari ia memasuki usia yang baru, 26 tahun.
Lahawla walaquwwata illa billah, proses yang cukup menegangkan baginya terlewati. Tidak selama yang ia pikirkan meski keberanian dalam proses tersebut tak hadir sepenuhnya. Proses ini seperti drama, tapi ini nyata dan bukan rekayasa. Satu proses ini memang terlewati, namun masih banyak proses yang akan dihadapinya setelah ketok palu.
Welcome, life after ketok palu. ‘Semoga dengan apa yang terjadi membuatku semakin bergantung pada-Nya dan Allah menguatkan langkah kakiku. Aamiin’ do’anya dalam hati.
Pertanyaan yang menyebalkan
Apa pertanyaan yang menyebalkan untukmu?
Pertanyaan itu datang untukku. Dan bagiku ini adalah pertanyaan yang cukup menyebalkan. Aku disuruh berpikir kembali apa=apa yang orang tanyakan padaku. Haha
Kalau aku diizinkan bercerita sedikit tentang diriku, aku akan menceritakannya, bahwa aku adalah orang yang terbilang cuek terhadap apa yang orang obrolkan. Jarang memasukkan perkataan orang ke dalam hati. Justru aku akan sebal, dengan diriku sendiri, jika aku salah berbicara atau bertindak. Ini menyebalkan karena membuatku terus kepikiran.
Temanku pernah bilang, ‘hatinya shofa terbuat dari apasih, kok gak marah?!’ katanya gemas ketika aku terlihat baik-baik saja saat salah satu temanku berbicara dan bertanya hal tak enak tentangku dihadapanku. Aku saat itu, memang memilih diam dan mengabaikan. Memasukkan ke dalam hati dan marah hanya mempersulit diri, pikirku seperti itu. Tapi itu dulu.
Satu tahun ke belakang, perasanku melemah. Pertanyaan menyebalkan rasanya banyak sekali. Tak banyak, tapi berulang. Dan pertanyaan itu tentu meliputi apa yang terjadi padaku. Kupikir karena memang diriku tak siap dan tak menerima hal ini terjadi padaku.
“Kenapa sih harus cerai?”
“Alasannya apa nih harus sampai memilih cerai?”
“Kira-kira nih, mau nikah lagi gak?”
“Gak bisa dimaafkan kesalahannya?”
Sekiranya, itu pertanyaan-pertanyaan yang sangat menyebalkan untukku. Sedikit, tapi berulang dari banyaknya orang yang bertanya.
Meski aku sadar bahwa tak semuanya ingin memojokkanku, tapi dengan keadaan mental yang tak siap dan masih tertekan tentu hal itu menyebalkan. Bukan tidak boleh bertanya. Tapi perasaan terpojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan itu memang ada. Memang mungkin tidak semua berniat seperti itu, tapi dalam kondisi yang tak siap, seolah seperti itu.
Takdir tak pernah ada yang tau. Sebesar apapun upayaku mencoba mempertahankannya, takdir masih lebih berpengaruh. Dan untuk alasan pun pasti ada alasan yang tidak bisa diungkapkan kecuali ke pihak yang memang berwenang.
Pertanyaan untuk menikah lagi pun kerap datang. Bukan tak mau menikah, hanya fokusku saat ini bukan hal tersebut. Di hati yang terdalam, keinginan menikah itu pasti ada. Sebagai seorang perempuan, sekuat apapun hati ini tetap lemah. Namun masih ada hal yang harus kuselesaikan. Rasanya aku tak ingin mendzalimi siapapun dengan apa yang belum selesai yang ada pada diriku.
Tentang kesalahannya, bukan aku tak bisa memaafkannya. Bukan pula berarti diri ini merasa suci dari dosa. Tuhan pun Maha Pemaaf, dan aku mencoba melakukan itu. Hanya saja ini masalah toleransi, kesana kemari aku mencoba mencari jawaban apakah aku salah memegang nilai yang tertanam selama ini, pun ternayata tidak. Memaafkan dengan menerimanya kembali adalah hal yang berbeda.
Rasanya, ketika pertanyaan itu tertuju padaku, aku ingin menjawabnya. Namun tak bisa, tak kuasa. Air mata itu turun tanpa disadari, seolah menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia. Berharap dunia bisa mengerti diriku. Ingin rasanta menghilang dari peradaban, tapi tak bisa.
Tapi ketika semangat itu hadir, diri ini tersadar bahwa aku tak bisa mengontrol hal tersebut. Pertanyaan itu akan terus ada, pasti. Disampaikan atau tidak, pertanyaan itu akan ada. Satu hal yang bisa kukendalikan adalah perasaanku, mengembalikan kondisi hati seperti saatku dulu.
Kemuliaan Perempuan
Dulu di zaman sebelum datangnya agama islam, perempuan tidaklah berharga. Dianggap hina, hanya sebagai pemuas nafsu, ditindas, diperlakukan tidak baik. Hingga jika memiliki anak perempuan maka akan dikuburkan hidup-hidup. Dengan munculnya agama islam, semua berubah. Perempuan dimuliakan. Bukti kemuliaan seorang perempuan disebutkan dalam al-qur’an khususnya di QS An-Nisa.
Di zaman modernitas saat ini, banyak yang menggebor-gemborkan bahwa perempuan harus setara dengan laki-laki. Pergaulannya, kebebasannya, hak, pekerjaan, jabatan dan lainnya karena merasa terdiskriminasi, tidak bebas, terdzalimi, direndahkan, tidak berdaya dlsbnya. Padahal dalam islam jelas perempuan sangat dimuliakan. Dengan lahir dan menjadi seorang perempuan aja sudah mulia. Dengan mengerjakan apa-apa yang memang menjadi perannya, perempuan bisa sangat mulia. Bahkan katanya bisa lebih baik daripada bidadari surga, dengan menjadi perempuan sholihah.
Ketika menjadi anak, anak perempuan bisa membukakan jalan surga untuk ayah kita, jika ayah kita merawat anak perempuan dan mendidiknya menjadi anak sholehah. Bagi saudara laki-laki, jika mereka pun berhasil menjaga saudara perempuannya dengan baik dan selalu takut dengan Allah karena melalaikan urusan-urusan saudara perempuannya, maka dia punya hak masuk surga seperti ayahnya.
Saat menjadi istri, bisa menjadi perhiasan dunia.
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri sholihah”
Tugas seorang perempuan yang paling pertama dan utama adalah melayani suami. Suami sebagai pelindung, yang memenuhi kebutuhan. That’s why gausah ngerasa gak enakan sama suami buat minta skincare dll karena ya memang itu tugasnya. Dengan seorang perempuan menjadi istri sholihah, mampu dididik, mampu memberikan jalan untuk suami memenuhi kebutuhan istri, seorang pereempuan memberikan mereka pahala. Dan ketika suami rdho dengan istrinya, lalu istrinya meninggal maka istri boleh masuk surga dari pintu mana saja. Ini keistimewaan untuk perempuan.
Perempuan dianugrahkan rahim, sehingga bisa hamil dan melahirkan yang pahalanya setara dengan jihad. Lalu menjadi ibu. Derajatnya lebih ditinggikan dan dimuliakan dibandingkan ayah. Seperti kisah seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali? Rasulullah memberikan jawaban “ibumu” sampai diulangi tiga kali, baru kemudiaan ayahmu (HR Bukhori dan Muslim).
Dan surga ada di bawah telapak kaki ibu. Kata-kata itu sering terdengar bukan?
Menjadi perempuan, bisa menjadi pintu surga bagi 4 laki-laki berbeda. Sudah selayaknya para perempuan punya rasa berharga diri yang kuat tanpa harus perlu mencari-cari keluar dengan standar-standar yang disebutkan orang-orang.
Jadi, wahai para lelaki, muliakanlah seorang perempuan. Muliakan ibumu, muliakan saudara perempuanmu, muliakan istrimu dan muliakan anak perempuanmu. Jagalah mereka selalu.
Lingkaran kecil
Satu hikmah besar lainnya yang kurasakan saat ini, aku jadi (sedikit) tambah mengerti arti dari sebuah keluarga. Keluarga, bukan sekedar unit terkecil dalam masyarakat yang menjadi tempat pulang aja, bukan itu.
Dahulu mungkin aku memang tidak pernah mau memiliki hubungan spesial dan memiliki seseorang yang namanya mantan, tapi disisi lain, aku rasa aku tidak bersyukur atas keluargaku. Perhatiannya yang terbilang sangat protektif, membuatku saat itu merasa terkekang, mohon maaf pernah ada dimasa berontak haha. Melihat teman-teman lain yang bebas untuk bisa menginap kapanpun, dengan siapapun dan pulang jam berapapun aku iri. Bisa kemanapun pergi dengan motor tanpa harus diantar setiap harinya, tidak harus memakai rok dan kaos kaki dan lain sebagainya. Aku pernah ingin ada di posisi itu.
Dengan apa yang kualami saat ini justru aku jadi mengerti dan bersyukur atas keluargaku. Mengapa diriku tak diizinkan pulang larut malam, selalu ditanya dengan siapa jika aku pergi, selalu diantar dan berusaha untuk selau dijemput sekalipun dengan motor dan lain sebagainya karena orangtuaku ingin menjaga. Karena keluarga, menjadi salah satu yang harus dijaga.
Allah seperti menamparku. Memperlihatkan sebuah kondisi yang mungkin terjadi jika aku menginginkan kondisi yang ku inginkan dulu. Klo dibahasain, ‘nih dikasih liat nih, biar kamu teh bersyukur atas keluargamu”.
Lingkaran utama membentuk pribadi adalah keluarga. Disana semua pondasi dibentuk. Karakter, pola pikir, etika dan nilai-nilai terjadi di dalam rumah sebelum keluar. Menjadi sumber utama kasih dan sayang, tempatnya berbagi suka dan duka, mencurahkan cinta. Tak ada yang saling menjatuhkan, tapi saling menguatkan dengan caranya masing-masing. Bahkan diam-diam mendo’akan.
Keluargaku memang tidak sempurna, tapi hadir ditengah-tengah keluarga yang menanamkan nilai dan norma, serta lahir dari orangtua yang tetap memiliki perhatian ditengah aktivitas padatnya, selalu bertanya dimana keberadaan anak-anaknya, selalu menjaga anak perempuannya untuk tidak naik ojol motor hingga ayahku rela menjemput jika tak ada supir sekalipun harus dengan motor asal tidak bersama dengan lelaki yang bukan mahram ternyata adalah sebuah kenikmatan yang seharusnya disyukuri dari dulu. Karena ternyata tak sedikit pula keluarga yang tak mau tau, memilih untuk angkat tangan dengan apa yang terjadi pada anggota keluarganya atau bahkan hanya ingin mendengar kabar baiknya saja.
Memang manusia, terkadang harus ditampar terlebih dahulu agar benar-benar paham dan bersyukur.
Satu aktivitas sedari kecil yang masih berjalan dan terasa dampaknya hingga saat ini adalah melingkar keluarga. Dulu mikir untuk apa hal ini dilakukan. Berjalannya waktu, semakin menyadari, bahwa melingkar keluarga adalah kenikmatan juga yang dampaknya akan terasa. Ditengah kesibukannya masing-masing, ada moment khusus untuk saling berbagi cerita, mendapatkan nasihat dan semangat serta do’a, yang ternyata itu adalah kebutuhan untuk bisa saling menguatkan.
Satu lagi, ternyata menjadi orangtua tidaklah gampang. Dengan semua dinamika dan tantangan kehidupan ini emang menuntut diri buat terus tawakal sama Allah. Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus.
Hampir satu tahun
Hampir satu tahun aku memilih dalam kesendirian, satu tahun itu pula aku belajar banyak hal. Tentang kesabaran.
Banyak orang yang bilang, ketika seseorang memilih bercerai biasanya karena ketidaksabaran ‘ah gak sabaran aja itumah’, katanya seperti itu. Padahal aku memilih bercerai bukan berarti seperti orang-orang yang dikisahkan dalam pesan-pesan yang selalu dikirimkannya padaku.
Bagiku, sabar adalah bagaimana menerima secara utuh dalam semua ketetapan-Nya disertai ikhtiar yang maksimal. Dalam situasi apapun, pilihan apapun, selalu ada peluang kesabaran disana.
Aku mengambil pilihan ini, harus bisa bersabar dalam menghadapi justifikasi orang, bersabar menghadapi situasi-situasi sulit yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, bersabar menghadapi stigma-stigma negatif tentang perceraian dan janda, bersabar untuk tetap berbuat baik. Dan paling sulit, bersabar untuk tidak membandingkan takdir diri dengan takdir orang lain.
Ya, aku pernah tak menerima semua ini terjadi padaku. Aku mengeluh dan bertanya-tanya kepada Tuhan mengapa harus aku yang mengalami ini. Dunia ini tak memihakku. sampai aku berpikir seuatu yang sebenernya gak baik. Aku menyesal (saat itu), bahwa seharusnya dulu aku memiliki hubungan spesial dengan makluk yang namanya laki-laki. Aku sampaikan pada kedua orangtuaku bahwa selama ini aku berusaha menjaga diriku untuk tidak memiliki hubungan spesial dengan siapapun, seperti apa yang mereka nasehatkan selalu pada anak-anaknya, hingga suatu saat nanti bersama yang Allah takdirkan dan ridhoi.
Aku marah dan tidak terima dalam beberapa waktu. Seperti yang kutuliskan beberapa watu lalu, bahwa menerima ini semua pun tak mudah, meski aku yang mengambil keputusan ini. Hingga aku memberanikan diri bertemu dengan banyak guru, psikolog dan konselor. Aku tak boleh terus membiarkan diri berlarut dalam kekecewaan. Salah satu yang kutemui adalah Ustadz yang juga memberikan khutbah dan nasihat pernikahan saat hari pernikahanku dulu.
Satu yang terus kuingat sampai hari ini, tanpa aku bertanya pada beliau mengapa ini terjadi padaku, beliau bilang bahwa tidak semua pertanyaan manusia harus ada jawabannya saat itu. Ada hal-hal yang memang tak terpikirkan oleh manusia. Allah ingin mengajarkan sesuatu atas apa yang terjadi padaku, tetaplah untuk berprasangka baik karena Allah lebih tau yang terbaik untuk hamba-Nya.
Dari pertemuan itulah aku mulai terbuka dan mulai bisa menerima. Menikah saat itu ternyata memang kegagalan lagi dalam hidupku, tapi kegagalan itu bukanlah suatu yang hina. Hidup ini memang rangkaian gagal dan bangkit bukan? Salah ya perbaiki, ambil hikmahnya. Masa itu tidak boleh menjadi beban bagiku, tapi menjadi pelajaran yang sangat berharga untukku. Keberhasilan sesungguhnya saat nanti benar-benar pulang dan bisa mempertanggungjawabkan semuanya sama yang punya semua ini. Wallahua’lam, semoga Allah tuntun kaki ini untuk tetap kuat dalam semua ketetapan-Nya.
Lagi-lagi tentang memaafkan
Lagi lagi dikala sulit memaafkan karena hal yang terus terulang, Allah punya banyak cara buat ngingetin hamba-Nya untuk memaafkan. Dan kali ini lewat Teh Leni, teteh yang baru dua kali ketemu tapi kalo ngomong selalu enak didenger. Setiap obrolannya selalu bernilai. Teh Leni bilang klo memaafkan itu sebuah usaha untuk ngelepasin kebencian kepada sesuatu atau seseorang dan mendorong diri untuk berbelas kasih dan bermurah hati untuk diri sendiri dan orang lain.
Sebenernya aku juga malu, teringat tulisan pertama yang dimuat dalam buku adalah tentang memaafkan. Aku merasa seperti, ‘inget memaafkan adalah hal yang harus selalu kamu ingat’. Memaafkan memang tidak mudah, butuh proses, tidak segampang kata-kata aku memaafkanmu. Karena memaafkan bukan melupakannya begitu saja. Semakin aku berusaha melupakan, justru semakin sakit. Hal tersebut hanya tersembunyi tanpa benar-benar hilang dan lupa, justru ketika teringat lagi semakin sakit dan meledak-ledak. Satu yang menohok dan baru aku sadari, memaafkan bukan untuk memberikan keuntungan untuk orang lain, tapi memaafkan menguntungkan diri sendiri.
Memaafkan, kunci membangun kebahagiaan, karena hati menjadi lapang dan bersih. Hal ini menjadi tanggung jawab diri, karena setiap orang gak bisa selamanya menyalahkan orang lain atas perasaan yang kita miliki. Satu hal tersulit, ternyata bukan memaafkan orang lain. Tapi memaafkan diri sendiri. Atas kekecewaan yang kualami. Aku terlanjur melabeli diri bahwa diriku gagal dalam banyak hal. Padahal hidup ini memang rangkaian gagal dan berhasil, aku harus mengizinkan diri untuk menerima kegagalan.
Ketika diri sulit memaafkan, justru disana diri ini tidak punya empati sama diri sendiri. Membuat hati sempit. Tapi lagi-lagi semua memang tentang proses, memaafkan memang membutuhkan waktu. Semua ini memang tidak mudah dan perlu usaha.
Beberapa bulan yang lalu Teh Leni memberiku sebuah tugas untuk aku belajar memaafkan (dengan benar). Salah satunya, setiap mau tidur berdialog dengan diri sendiri. Berbicara, bukan dalam hati, dengan mengeraskan suara, bahwa aku memaafkan si x si y dengan menyebutkan namanya satu-satu. Proses belajar memaafkan lainnya, bisa dengan menulis jurnal perasaan. Ini pun mulai kulakukan ketika aku merasa otak ini begitu semrawut. Banyak sekali yang dipikirkan dan gak karuan. Dengan menulis, perasaan-perasaan yang kita miliki akan terurai.
Yuk bisa yuk, memaafkan untuk bahagia lahir dan batin..
Posisi puncak perempuan
Aku mengalami fase dimana diriku ingin berkarya, menjadi wanita karir yang memiliki kemandirian secara finansial. Memiliki segudang aktivitas di luar rumah dan menyerahkan urusan anak kepada khodimat. Keinginan itu pernah ada dalam benakku dan bahkan pernah kutuliskan dalam bukuku.
Aku ingin menjadi seorang perempuan yang memilki kecantikan dari dalam diri dan menginspirasi, menjadi istri yang sholihah penyejuk hati, menjadi ibu yang selalu dirindukan jika tak ada serta menjadi nenek yang sehaat lahir, batin dan finansial..
Menginspirasi, disitulah kenginanku yang sangat duniawi. Tapi ternyata ketika masuk ke dunia pernikahan, ternyata ada yang berubah. Melihat banyaknya fenomena yang terjadi. Pergaulan yang mengerikan, anak-anak yang terjerumus dan menjadi korban banyak hal yang tidak seharusnya, dan banyak cerita lainnya keinginan itu berhenti.
Aku sebagai perempuan, sebagai seorang yang seharusnya memiliki peran penting dalam keluarga, ingin menjadi ibu yang benar-benar bisa membersamai anak-anak hingga baligh dan menjadi orang yang berkualitas baik yang akan berpengaruh pada dunia masa depannya. Kunci peraadaban ada ditangan setiap ibu, bagaimana meahirkan dan mendidik anak-anaknya untuk menjadi pemimpin yang lurus.
Saat aku bekerja, dan ketika hamil aku memilih resign meski aku baru dua bulan mendapatkan pekerjaan itu. Aku memilih resign karena hanya bisa dilakukan diawal tahun. Sedangkan aku melahirkan diperkirakan di pertengahan tahun.
Dari proses belajarku, aku memahami rezeki sudahlah pasti. Ketika sepasang suami istri bekerja, ya rezeki yang sudah ditetapkan akan tetap. Sama halnya dengan jika istri berhenti bekerja, akan tetap sama karena rezekinya akan masuk melalui suami. Karena itu aku berani mengambil pilihan tersebut demi melaksanakan kewajiban yang melekat dalam diri, membersamai anak dengan sepenuh hati.
Qodarullah, kondisinya berbeda. Apa yang terjadi padaku ternyata tidak sepenuhnya bisa seperti harapan terakhirku. Aku ada dikondisi yang mungkin seharusnya aku bekerja setidaknya memenuhi kebutuhan anakku, karena aku setidaknya tak ingin merepotkan kedua orangtuaku ketika aku tak bisa memberi mereka apapun. Tapi disisi lain pun sebenernya perang batin.
Aku teringat sebuah pesan dari Teh Elma bahwa dalam perjalanan hidup perempuan, menjadi ibu adalah kondisi puncaknya. Dan ternyata itu benar. Dari momen melahirkan dimana tiba-tiba muncul perasaan sayang yang luar biasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Melihat anak tumbuh sehat, menjadi anak sholeh cerdas yang berhasil pasti itu menjad kebanggan tersendiri untuk setiap para ibu.
Teh Elma bilang bahwa yang sebenernya membutuhkan menjadi ibu adalah kita setiap para perempuan. Ketika bayi membutuhkan sesuatu, bisa digantikan oleh orang lain. Tapi justru perasaan kita yang tidak enak jika harus meninggalkan anak, pasti ada rasa bersalah. Karena ternyata kita yang membutuhkan mereka. terkait produktivitas dan kebermanfaatan, dengan menjadii bu pun kita produktif dan bermanfaat. Bermanfaat untuk masyarakat lainnya, nanti ada momentnya. Ketika kewajiban dituntaskan, disitulah Allah berikan tugas berikutnya.
Pesan Teh Elma memang eenar, tapi keinginan dari sisi lain pun pasti ada. Harus banyak banyak meyakini diri sendiri, karena setiap diri punya peran dan potensi yang diberi Allah dan setiap potensi punya amal jariyahnya masing-masing di waktu yang tepat, insya Allah.
Mencari peran Ayah
Kenapa janda harus menikah lagi, bukankah lebih baik setia agar bersatu kembali si Syurga bersama suami pertamanya?
ini ya teteh, kalau gak nikah lagi, siapa yang nanti ajak anak untuk sholat ke masjid, siapa yang akan ajarkan tentang menjadi laki-laki yang kuat qawwamahnya, apa bisa peran ayah digantikan oleh kakek atau pamannya?
Itu tulisan yang dituliskan oleh seorang temanku. leih tepatnya kaka kelasku.
Kalimat terakhirnya jugalah yang menjadi pertanyaanku sampai saat ini. Apa bisa peran ayah digantikan oleh kakek atau pamannya?
Saat aku membacanya dan bahkan sampai detik ini aku menulis, aku memang belum terpikir untuk menikah kembali. Jika ditanya aku mau menikah lagi atau tidak, jawaban pun tidak. Entah enam bulan sampai satu tahun lagi. Mungkin berbeda, mungkin.
Meski begitu, aku setuju dengan tulisannya. Jika ayahnya tak ada, siapa yang akan mengajarinya menjadi laki-laki yang kuat qowwamahnya, mencontohkan apa-apa yang harus laki-laki lakukan, bagaimana lak-laki harus bersikap dan lain sebagainya. Inilah yang kukhawatirkan.
Aku selalu bertekad dalam diriku untuk tak akan pernah menghalangi ayahnya untuk bertemu dengan anaknya, meski jika aku ingin mengikuti egoku aku sangat malas berurusan dengan dirinya tapi aku pun tak ingin anakku menjadi seseorang yang kehilangan peran dan sosok dari ayahnya, seperti apa yang dialami dirinya. Dan melihat dampak buruknya orang-orang yang kehilangan sosok ayahnya, yang bisa terjadi pada anak yang orangtuanya pun bersama. Masalah yang selalu timbul dalam diri seseorang yang kehilangan sosok dan peran ayahnya salah satunya problem solving yang kacau. Dan aku tak ingin ini terjadi pada anakku.
Kaka kelasku menulis dalam kondisi menjadi janda (yang sudah menikah lagi) karena ditinggal meninggal oleh pasangannya. Lain halnya dengan diriku, menjadi seorang janda karena bercerai. Sosok ayahnya berarti masih ada, tapi tak bersama.
Kekhawatiran itu terkait dengan sikap ketegasan, kepemimpinan, dan khawatir jika nantinya lebih memakai perasaan dibandingkan logikanya, padahal pada dasarnya anak laki-laki Allah lebihkan dari sisi fisik dan logikanya. Meski disisi lain aku selalu berdoa agar anakku memiliki hati yang lembut tapi kuat otot dan logikanya.
Aku selalu berpikir bahwa keberadaan kakek dan pamannya bisa menggantikan, setidaknya mencontohkan hal-hal dari sisi maskulinnya. Tapi dengan membaca pertanyaan itu, rasanya memang tidak 100% bisa tergantikan. Meskipun yang disana pun rasanya tidak bisa juga disebut seorang ayah(?) hehe
Apa benar seorang janda harus menikah lagi, setidaknya untuk memberikan sosok dan peran ayah bagi anak ? Wallahu’alam
Aku sebenarnya
Pagi ini aku baru membaca sebuah pesan yang sebenarnya sudah masuk ke direct message intagramku beberapa minggu lalu, hanya saja belum terbaca. Pesan ini rasanya terbaca karena Allah tak ingin aku melakukan yang tidak seharusnya dilakukan.
Shof jujur aku salut banget sama kamu. Karena dibalik semua ketegaran kebaikan kamu yang tersebar, ada luka yang padahal sedang kamu tutupi. Bahkan mungkin orang terdekat kamu aja gak tau dan gak menyangka, saking kamu sangat menjaga dan menutupi itu. Kamu pun sangat menjaga dari pihak lain, gak ada aib yang tersear sedikit pun.
Ya sesaat sebelum pesan ini terbaca, keinginan untuk membuka semuanya itu muncul. Ketika diriku dihadapkan dengan sikapnya yang lagi-lagi membuatku berpikir ‘wah bener nih orang ga ngerti lagi otaknya dimana’, rasanya aku ingin ingin membeberkan semuanya.
Aku menutupi semuanya, menahan semuanya juga gak mudah. Aku sebenarnya, tidak sebaik yang orang pikirkan, tapi aku hanya ingin lebih baik. Rasa itu tetap ada dan slalu memuncak ketika dirinya berulah. Setidaknya sangat ingin aku menceritakan pada teman-teman terdekatku dan keluarga terdekatku yang selalu ditemui olehnya.
Sebenernya aku males marah. Dari dulu, hingga teman-temanku juga heran ketika dihadapkan situasi yan meremehkanku, aku hanya memilih diam. Ya aku tidak suka berkonflik, terserah orang mau ngapain aja. Bagiku marah hanya menghabiskan energi.
Terkecuali, jika memang orang tersebut/siapapun itu sudah terlalu. Dan orang ini menurutku udah lieur, gatau lagi jalan pikirannya seperti apa. Hingga akhirnya aku pernah benar-benar marah, blak-blakan dan keluar kata-kata yang bagiku itu sebenarnya hanya sebuah pertanyaan “otaknya dimana sih?!”.
Emosi gak stabil, badan lelah, jadilah sumbu pendek. Keluar kata-kata itu. Daaaaan aku yang diprotes hehe. Kata ibuku, meski marah jangan pernah sampai menghina, karena bagaimanapun ini ciptaan Allah. Kesel sih, tapi memang benar. Tapi aku pun lelah dan benar-benar ada ditahap ini orang gak bisa dibiarin aja. Menuntut banyak hal, tapi lupa sama kewajibannya.
Aku paham, aku harus memahami dirinya, memaklumi dirinya. Mungkin dia kepepet atau mungkin memang efek dari ‘hal’ itu. Tapi sampai kapan aku harus memahami dan memakluminya?
Sejujurnya, aku benar-benar tidak peduli dirinya mau melakukan kewajibannya sebagai ayah atau tidak. Tapi aku tidak terima jika terus dituntut dan ditekan terus menerus seperti ini. Aku tidak suka dengan situasi ini. Meski aku tau inilah situasi yang harus kupelajari. Lagi-lagi aku harus banyak belajar untuk bersabar.