Hal yang Tak Kau Pesan Lewat Doa #1
āKewajiban anak tetap melekat untuk menghormati orang tuanya, bahkan untuk orang tua terburuk sekalipun di dunia ini yang membuang anaknya. Ini bukan untung rugi hubungan anak dan orangtua, tapi urusan dengan Allah SWTā
Aku kesal !, Saat ini Aku butuh ketenangan. Bukankah sudah kusampaikan dengan bahasa tubuh?. Tak pahamkah dengan posisiku saat ini sedang menyembunyikan diri? Hampir saja aku menggapai fase tidur Non-Rapid Eye Movement (REM) yang lebih mendalam, tapi tidurku yang hampir nyenyak itu terputus kebisingan. Sangat berisik. Kegaduhan ini membuat privacy-ku terganggu. Ā Ah sial, sudah hampir sepekan tidurku tidak teratur. Aku kaget saat suara pintu kamar dibanting dengan keras. Aku marah, ku tatap sumber suara dengan pupil membesar. Pintu kamar itu tampak merintih kesakitan, entah untuk keberapa kalinya ia merasakan sakit yang sama. Namun, aku tak bisa bersimpati dengan rasa sakit yang ia rasakan. Aku sering kesal dibuatnya, tak ada rasa kasihan lagi. Siapa suruh sering usil dan tidak mau membuka diri jika aku ingin keluar dari kamar ini. Si pintu kamar melotot padaku karena kesal. Aku merespon cuek dan lebih tertarik untuk tidur kembali.
Re perempuan yang memeliharaku-Si pembanting pintu- itu menangis sejadi-jadinya dibalik selimut. Cukup lama selimut itu menutupi tubuh sintal milik Re. Entah sudah berapa lama, aku pun belum bisa terlelap kembali. Perlahan ku dengar suara tangis itu mulai mereda.
Re menatapku sendu āKali ini apa lagi?ā Tanya ku lewat sorot mata. Ia seperti memahami pertanyaanku.
āBidu, rasanya sakit bangetā Ucap Re sambil menghampiriku di kasur mini yang selalu dibersihkan Re untukku. Ia menggendongku dan memeluk erat. Hufh, tapi tetap saja aku masih kesal, tak taukah kamu Re aku lebih butuh ketenangan dari pada pelukanmu saat ini. Tapi entah mengapa Re tak memahami perasaanku kali ini. Ia tampaknya hanya ingin suara hatinya saja yang ingin didengar. Re mengelus kepalaku, badan, kemudian ekor dan sesekali mengusap-usap daguku.
Kalau dalam kondisi seperti ini aku tak suka jika terlahir menjadi kucing. Seringnya banyak keinginanku yang tak dipahami. Tak sadarkah perempuan ini aku sedang tidak ingin mendengar curhatannya. Bisakah nanti saja ceritanya? setelah aku tertidur dengan lelap!. Re terus melanjutkan aksinya mengelusku, mengusap dengan lembut dan sesekali meremas bulu-bulu lebat di tubuh ini. Tanpa kusadari, aku ndusel-memeluk Re sambil tiduran. Aku terlalu mudah takluk, jika sudah disayang seperti ini. Tak ada salahnya juga jika Re memberiku nama āBiduā singkatan dari hobi ndusel. Jika sudah diposisi nyaman seperti ini aku siap mendengarkan Re untuk bercerita tentang hal apapun.
āEmang aku ga cantik ya, Bid? Mama kok tega banget bilang aku gendut, jerawatan dan ga akan laku jika terus beginiā tanya Re saat memulai ceritanya. Aku mungkin ga akan sesakit ini jika orang lain yang bilang aku begitu Bidu, tapi ini Mamaku sendiri, kamu kebayang ga sih sakitnya hatikuā lanjut Re dramatis. Aku tak tau, Re ingin aku merespon apa dari pertannyaannya itu, yang kutau aku hanya bisa menikmati belaian Re.
āMama terlalu banyak menuntut, tak pernah sekalipun memahami inginku, tak pernah sekalipun mengerti kesulitan yang aku hadapiā Racau Re kembali āAku kuliah di bidang yang mama mau aku jalani walaupun aku tak suka, Aku kerja di tempat yang mama inginkan, aku jabani walaupun aku stress setiap hari, sekarang mama juga menuntutku untuk menikah dengan laki-laki pilihannya. Apa mama tidak ingin melihat aku bahagia dengan pilihanku saja?ā Air mata ratapan Re menetes ke tubuhku āMaafkan aku ya Bidā Ucap Re sambil menyeka air mata dengan tisu lalu mengeringkan buluku.
Aku tak tau pasti cantik itu seperti apa. Kutatap rambut semi keriting milik Re yang panjang hampir menutup punggung, wajah seperti bayi dengan kulit putih dan pipi merah tomat sehabis menangis. Kulitnya mulus, walau akhir-akhir ini sedang ditumbuhi jerawat. Hidungnya kecil tidak mancung, sepintas seperti keturunan korea tapi perpaduan bola matanya yang besar dan alis yang lebat kurasa lebih mirip keturunan Arab. Bola mata milik Re akan Ā tenggelam oleh pipinya yang bulat jika Ia sedang tertawa dengan riang. Jika tadi Re bertanya apakah dia cantik? Aku hanya bisa menjawab orang-orang akan sepakat untuk tak akan bosan menatap wajah Re dalam waktu yang lama.
Aku tak habis pikir dengan Ibu Anita, mamanya Re. Bu Anita terlalu menuntut dengan anak tengahnya itu. Bukankah semua hal sudah Re turuti ? Tapi jika soal berumah tangga didikte juga, itu sungguh keterlaluan.
***
Bagi Re, Ia hidup seperti dalam kukungan sel yang tak diberi kebebasan dalam memilih hal yang diinginkan. Sangat bertolak belakang dengan kakak dan adiknya, Orang tuanya lebih memberikan kebebasan untuk mereka. Terkadang sempat terlintas dipikiran Re, apakah Ia bukan anak kandung dari keluarga ini? Tapi segera ditepis dengan kenyataan bahwa Ia memiliki fisik dan alergi yang hampir mirip dengan adik dan kakaknya.
Re terkadang takut untuk mengekspresikan diri, Ia tumbuh menjadi perempuan penyendiri. Setiap pilihan yang Re buat harus berdasarkan persetujuan dari kedua orang tuanya. Setiap hal baru yang ingin Re coba, selalu memohon izin Mama dan Papanya. Ketika Re memilih pilihan yang berbeda dengan orangtuanya, Ia selalu mendapatkan penolakan dan respon mengejek. Entah sampai kapan hal itu berlaku untuknya.Ā
Di luar Bulan tengah menyanyikan syair kegelapan. Re terlelap cukup lama setelah menangis dan baru menyadari jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia tatap Bidu yang tertidur sambil mendengkur, Ia terlihat nyaman saat terlelap. Re tersenyum menyadari dengkuran Bidu yang membuatnya damai dan tenang. Setelah menggelung rambutnya asal, Re menggeser badannya pelan agar tidak menggangu tidur Bidu. Re ingin ke dapur karena merasakan lapar dan haus. Begitupun dengan engsel pintu yang Ia perlakukan lembut, dibukanya dengan pelan, Ia tak ingin suara pintu ini menggangu Bidu.
Re menatap nanar meja makan. Ia tak menemukan makanan yang bisa mengganjal perutnya. Hanya roti tawar dan makanan mentah yang tersedia di kulkasnya. Sepertinya Bu Sum belum belanja keperluan dapur. Re mulai menyiapkan bahan seadanya dan sisa nasi untuk memasak nasi goreng, Ia tak bisa melanjutkan tidur jika kelaparan. Saat Ia sedang menuangkan semua nasi goreng ke piring, bertepatan dengan Mama ke dapur untuk mengambil air minum. āAstaga Re, jam segini kamu makan? Ga boleh Re, liat itu badanmu udah segede toren airā Ucap mama menyakitkan Re sambil memindahkan nasi goreng Re ke tong sampah. Re hanya bisa menangis.
Bersambung...










