Jogja
Jogja istimewa, siapa yang tidak kenal kota gudeg dengan beragam tempat wisatanya yang menarik. Saya sedari kecil selalu tergoda untuk pergi ke kota pendidikan ini, alasannya satu. Ya, karena saya ingin sekali melanjutkan kuliah di kota ini. Meski sampai sekarang saya hanya lulusan smp, kejar paket c yang selalu tertunda dan sedang sibuk sibuknya mengurus rumah tangga muda.
Saya selalu mengagumi kota ini dari jauh. Seingat saya hanya sekali saya berkesempatan ke kota ini. Saat study tour smp, saya dan teman teman berangkat dari sekolah malam hari dan sampai di Pantai Parangtritis sehabis subuh. Saya masih ingat betul suasana pantai pagi itu, sendu, gerimis, tapi manis. Kami yang berniat main pasir akhirnya gagal karena gerimis tak hentinya datang.
Setelah dari pantai, saya lupa lupa ingat. Apakah kami ke Keraton dulu atau ke Candi Borobudur dulu. Tapi sepertinya kami mengunjungi keraton dulu, kalau di sini saya sudah agak lupa. Mungkin karena terlalu lelah dan lapar. Saya hanya ingat bahwa saya membeli oleh oleh berupa kaos warna merah untuk kakak saya dan pastinya bertuliskan jogja. Kaos itu menjadi salah satu kaos kesayangan kakak dan dibawa kemanapun dia pergi.
Setelah dari keraton, kami menuju ke candi borobudur. Berjalan jauh sampai puncak, sampai lelah dan turun saat senja hampir tiba. Sehabis magrib kami berjalan pulang kembali ke kediri.
Jogja istimewa, saya selalu ingin ke sana. Meski pernah, kata kata jogja adalah satu kata yang paling saya hindari. Saya tak yakin kenapa saya sekanak kanak itu. Meski perlahan, saya mencoba untuk kembali membuka hati saya untuk jogja. Biarlah beberapa masa lalu jadi kenangan manis untuk memperindah jalan ke depan. Tak perlu terlalu dirisaukan apa apa yang belum tentu terjadi, kan?











