Saya dan Ulum mungkin seumuran, tetapi karena saya sekolahnya terburu-buru, jadilah ia dua tingkat di bawah saya.
Semalam ia mengeluh soal teman-temannnya di kampus. Dia bilang;
“Aku orangnya terlalu lugu kali ya, Mbak? Sampai dibully begini sama temen-temenku. Nggak kuat aku, Mbak. Putus asa rasanya. Mau berhenti aja kuliahnya.”
Saya hanya menjawab, “Hal yang perlu kamu lakukan adalah bodo amat.”
Pff~ teman. Iya, teman. Entah kenapa saya lebih suka menyebutnya kenalan daripada teman. Sebab teman terlalu jahat terdengar di kuping saya. Apalagi kalau sosoknya hanya seonggok manusia yang duduk di kelas yang sama. Apalagi kalau kerjaannya hanya seperti lintah dan enggan dirugikan balik. Apalagi kalau tingkat keegoisannya melebihi raja Fir'aun. Duh. Ingin rasanya saya tendang jauh sampai terdepak dari galaksi.
Dalam hidup saya, jenis manusia seperti itu banyaaaaak sekali. Terlebih ketika saya kuliah, tidak terhitung jumlahnya. Ada jenis yang suka mencari keuntungan buat dirinya sendiri dan tidak peduli sekitar. Ada jenis yang mudah berpindah manusia demi pergaulan yang ew. Entahlah. Saya mendadak antagonis sejak mulai mengenali karakter manusia-manusia yang sekelas dengan saya. Selain dengan anaknya Buk Jam, saya tidak pernah berteman baik dengan mereka. Sederhananya, tidak ada yang bisa bersimbiosis mutualisme dengan saya. Dan jelas saya tidak mau dirugikan. Bukankah secara kasar hakikat berteman seperti itu?
Sebagian besar waktu saya di kampus habis untuk HMJ dan kebahagiaan saya sendiri. Saya hampir tidak memiliki lingkar pertemanan seperti manusia pada umumnya. Dengan anaknya Buk Jam, saya bisa dekat melebihi saudara. Sampai kini, dia satu-satunya manusia yang sadar akan eksistensi saya, —yang masih sering berkabar di tengah kesibukan masing-masing.
Awalnya, saya pernah berteman baik dengan seseorang. Dia benar-benar membuat saya merasa berfungsi sebagai manusia. Namun, entah suatu hari kami terlalu dekat sampai pada akhirnya jenuh dan mulai menjauh. Lalu hubungan kami sekadar-bertanya-kalau-sedang-butuh dan saya menjadi yang ditanyai. Itu membikin empati saya luntur.
Saya kemudian merasa tidak butuh teman. Tidak perlu lingkar pertemanan. Tidak perlu diakui menjadi anggota sebuah geng atau apalah namanya. Saya menjadi asosial. Itu berjalan selama berbulan-bulan sampai memasuki hitungan tahun. Saya malas bertemu manusia yang banyak tingkah. Saya malas dengan manusia yang menyebut dirinya teman tetapi kelakuannya bikin jengah. Kampus mencetak saya menjadi manusia individu. Sebab saya hanya butuh belajar dan suasana yang nyaman untuk belajar. Jika kehadiran teman hanya merusak suasana, buat apa?
Dan kemudian saya mendengar Ulum dibully hanya karena dia polos dan lugu kok ya rasanya gemash. Gemash pingin kugeprek manusia-manusia yang membulllynya. Apakah mereka nanti matinya jalan sendiri ke kuburan?
Maka kubilang dengan tegas pada Ulum, “Tenan Nduk, bukan mereka yang membayarimu kuliah. Ingat emak yang jungkir-balik nyari duit buat dana kamu kuliah. Ingat betapa dulu kamu maksa diijinin kuliah. Ingat ketika emakmu jual sawah ke paklik demi bayarin biaya masuk kuliah. Ingat ketika kamu terpilih SNMPTN. Nda usahlah didengerin apa kata temenmu. Kamu ya kamu. Mereka ya mereka. Tujuanmu nyari ilmu. Belajar. Anggap saja hal di luar itu sebagai selingan. Kamu cukup bodo amat aja sama mereka.”
Serius, saya selalu berpikir, hakikat teman yang sebenarnya itu bagaimana sih?












