Ada Apa Dengan Konspirasi? (Bag.1)
Covid-19 itu senjata biologis Cina. Eh-eh bukan deng, agenda depopulasinya elit global tv! Bumi itu jelas-jelas kotak kaya kepala Adudu datar! daaan lain lain.
Familier atau seenggaknya pernah denger pernyataan setipe topik-topik di atas? Percaya sama wacana yang disajiin? Atau justru jadi yang kontra dan greget liat banyak orang yang percaya? Hehe. Iya bebas kok iya, emang hak tiap orang kok buat percaya atau engga ke suatu wacana. Tulisan ini juga bukan secara eksplisit ngebahas hal-hal itu & ngegiring yang baca buat percaya atau enggak. Tulisan ini sebenernya cuma pengen bahas, sebenernya ada apa sih dengan konspirasi? Kenapa sih wacana-wacana konspirasi selalu ada dimana-mana? Bener apa salah sih? Juga pertanyaan-pertanyaan serupa lain.
Let’s get started!
...
Sebenernya ada apa sih dengan teori konspirasi? Kenapa sih bisa ada dimana-mana?
Menurut Wikipedia, “Teori Konspirasi adalah teori-teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia, dan sering kali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh” (Wikipedia, 2020). Definisi dari Cambridge Dictionary juga kurang lebih sama, dengan mengartikan konspirasi sebagai "aktivitas bersama orang lain untuk secara rahasia merencanakan sesuatu yang buruk atau ilegal" (Thesaurus, 2020). Teori-teori konspirasi ini bisa muncul dan ditemuin dimana aja, juga gampang buat tersebar dan berpotensi dipercaya khalayak. Mulai dari teori konspirasi di sekolah dimana jarang ada pulpen yang umurnya lebih dari seminggu, di pemilihan ketua RW karena RT sebelah terus yang juara bertahan, apalagi yang lagi happening kaya Covid-19.
Peneliti dari School of Psychology, University of Kent berhasil nemuin beberapa alasan yang mendasari kenapa sih teori konspirasi itu bisa ada dan laku. Yang secara sederhana dapat diklasifikasi jadi tiga alesan: epistemik, eksistensial, & sosial (Douglas, Sutton, & Cichocka, 2017).
Teori konspirasi hadir karena pandangan alternatif lebih dianggap memuaskan curiosity, ketika informasi yang tersedia dianggap enggak cukup lengkap dan memuaskan. Dalam tingkatan bermacam-macam, ada keyakinan bahwa ada hal-hal yang sengaja disembunyikan ke publik, ada koordinasi suatu atau berbagai pihak di balik layar atas terjadinya suatu peristiwa konspiratif. Sehingga terjadi penolakan dan penentangan terhadap kuasa informasi yang mapan.
Konspirasi juga mampu tarik atensi publik karena coba melindungi suatu hal yang dari sebelumnya udah diterima dan dipercaya, serta coba melindungi perasaan ‘aman’ yang dimiliki masyarakat. Sikap denial terhadap vaksinasi, misalnya (Nichols, 2017).
Anggapan bahwa vaksinasi AIDS adalah konspirasi jahat salah satunya timbul karena masyarakat merasa dihadapkan dengan kondisi enggak biasa yang mengusik rasa aman.
Studi tersebut juga menyatakan, bahwa potensi masyarakat untuk percaya teori konspirasi cukup tinggi ketika terjadi peristiwa yang “wah”, tapi penjelasan yang ada enggak memenuhi ekspektasi karena dirasa biasa-biasa aja. Ditemukan juga korelasi antara kepercayaan terhadap teori konspirasi dengan taraf inteligensi dan kualitas edukasi, dimana makin tinggi kemampuan berpikir kritis, analitis, dan rasional seseorang maka makin rendah potensinya untuk percaya teori konspirasi. Satu hal yang pasti: banyak orang tertarik untuk cari tahu, buat, dan percaya teori konspirasi karena terlihat lebih appealing than satisfying. Kelangsungan hidup teori konspirasi dibantu juga oleh bias konfirmasi, dimana manusia emang punya kecenderungan buat percaya hal yang sebelumnya mereka percaya (Prasetya, 2020).
Selain itu secara motif sosial juga ditemukan korelasi antara teori konspirasi dengan ‘kebutuhan akan keunikan’. Orang yang punya ‘kebutuhan akan keunikan’ tinggi lebih mungkin dan lebih cenderung ngedukung teori konspirasi daripada yang lain (Grohol, 2020). Juga dalam artian, orang-orang yang percaya atau buat teori konspirasi merasa lebih spesial karena merasa lebih tahu informasi yang enggak diketahui orang lain, terlebih karena sifat teori konspirasi sendiri yang merujuk ke ‘pengetahuan rahasia’ dimana gak semua orang tahu. Jadi bisa timbul perasaan edgy gitu lah karena ada perasaan saya-anti-mainstream-dan-spesial itu tadi.
Hal itu ditambah juga dengan sifat manusia yang pada dasarnya emang males buat pahamin hal-hal rumit plus njelimet, dan lebih gampang tertarik ke hal yang beda plus menarik. Maka, pas ada tudingan konspiratif bahwa chip di KTP itu katanya cara pemerintah buat mata-matain semua warganya, tudingan itu bisa aja dipercaya banyak orang dan dapet banyak atensi. Karena percaya hal kaya gitu emang lebih menarik dan gampang dimengerti daripada percaya dan pahami penjelasan ahli IT yang bawa-bawa transmisi data, database, komputasi, dan segenap hal kompleks lain yang bikin orang awam males duluan buat nyimak.
...
Hmm jadi teori konspirasi itu boongan ya, atau beneran sih? Kalo berpotensi besar untuk invalid, kenapa bisa tersebar?
“Di era disrupsi, internet dan media sosial menjadi pupuk yang menumbuh suburkan konspirasi.”
Lewat penganalogian dunia maya sebagai warung kopi, banyak para pegiat konspiratoris jadi sosok tukang ngopi yang dominan karena pembawaannya bisa terlihat meyakinkan ketika ngobrol dengan yang lain, terutama ke orang awam. Makanya enggak aneh kalau teori konspirasi bisa gampang narik perhatian atau dirasa seakan relate sama kehidupan. Perlu diketahui juga, teori konspirasi yang hadir sebagai wacana alternatif sejak awal muncul sampai hari ini bisa masuk ke berbagai subjek mulai dari politik, sejarah, sosial, sains, bahkan agama sekalipun.
Ah masa sih agama dijadiin subjek konspirasi? Gak mungkin!
Sayangnya, iya. Bahkan agama jadi salah satu subjek yang paling gampang dan paling banyak dijadiin sasaran. Konspirasi yang subjeknya bawa agama punya kemungkinan lebih besar untuk dipercaya dan tersebar, karena fungsi agama itu sendiri yang esensial buat kehidupan manusia. Selain itu, isu komunal dengan narasi playing victim juga marak jadi senjata teori konspirasi. Kalau narasinya dibantah, bakal muncul tudingan persekongkolan sistematis. Kalau melanggar hukum dan ditahan, bakal muncul klaim telah dikriminalisasi.
Pokoknya, mereka yang nolak narasi konspiratif dianggap bagian dari konspirasi itu sendiri, atau korban propaganda para konspiratoris (Nathaniel, 2020). Sudut pandang terzalimi dengan salahin keadaan, sistem, negara, atau para elit (yang entah siapa) seringkali jadi target empuk. Contoh nyatanya, waktu Masjid As-Safar yang dibangun Ridwan Kamil rame-rame dituding sebagai masjid illuminati. Entah kesimpulan pembaca gimana tentang itu, kalo saya sih yakin ini contoh konkrit konspirasi feat. cocokologi yang sukses dapet panggung dan narik banyak atensi, hehe.
Padahal sebagaimana yang dijelasin Syaikh Yusuf Al-Qardlawi, di Islam sendiri suatu ilmu harus jelas keakuratan sumber dan metodologinya, harus bisa tahan diuji sebelum ‘lolos seleksi’ dan disebarluaskan, juga harus bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini dikarenakan ilmu punya posisi penting sebagai penunjuk keimanan, sehingga keduanya saling berdampingan satu sama lain. Saling ber-tafahum, bukan bertolak-belakang (Qardlawi, 1991).
“Ilmu yang benar menghidayati keimanan, dan iman yang haklah yang melapangkan wawasan ilmu.” - Syaikh Yusuf Al-Qardlawi
Bersambung ke bagian dua, artikel dapat diakses di sini









