I hate to see you stand in the bus, but for givin' a seat for a mother and a baby.. That's terrifically cute
Ratu, almost 22 and getting a lighter live with you

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
seen from China

seen from United States
seen from Germany

seen from France

seen from India

seen from India

seen from India
seen from China

seen from India

seen from Malaysia

seen from India
seen from China

seen from India

seen from Australia
I hate to see you stand in the bus, but for givin' a seat for a mother and a baby.. That's terrifically cute
Ratu, almost 22 and getting a lighter live with you
All I need are.. Laugh with you, watch some incredible movies, eat a plate full of Cordon Bleu, drink a big torn of lemonade and sleep a long night tightly to find my work sheets all done when I wake up...
Ratu, little drunk with her final paper and definitely, her job!
Utuh 2500 Karakter
Ini kencan kita yang pertama. Kita menyusuri kotaku dengan sepatu kedsku dan pantopelmu. Di suatu jalan yang ramai lalu lalang kendaraan, kau mengajakku menyebrang. Kau nampak terbelalak saat kedsku turun dari trotoar, menapaki aspal yang berdebu, mendekati lalu lalang kendaraankendaraan itu. Aku mengalihkan pandangan melihat orang-orang menyebrang dengan tenang, tapi kau menarik tanganku dan menuntunku naik tangga jembatan penyebrangan. Aku menatapmu penuh tanya dan kau menjawab orang-orang di kotaku terlalu berani menjelang kematian. Kau senang aku mau menurutimu, menaiki anak tangga satu demi satu. Lalu, kau bilang kau cinta jembatan penyebrangan, meski istrimu membencinya. Ribet dan capek! Kau menirukan suaranya dengan logat yang dimirip-miripkan. Aku tergelak. Jangan harap mau naik jembatan penyebrangan, istrimu bahkan malas keluar mobil untuk kemudian menyebrang. Jadi kau, acap kali, mesti menyetir memutar demi mengantarnya langsung ke gerbang, atau pintu. Kau bilang jembatan penyebrangan telah selamatkan ribuan orang, dan kau tak mengerti mengapa istrimu mengatakan jembatan penyebrangan adalah hal yang sia-sia. Yang sia-sia bukan jembatan penyebrangan, Bung. Yang sia-sia adalah kau yang bertahan dengan istrimu, aku membatin sedang kau tak berhenti bicara. Kau bercerita soal kotamu, juga jembatan-jembatan penyebrangan yang selalu ramai. Katamu, kota-kota besar memang punya banyak pengendara ugal-ugalan, dan kotamu, adalah satu dari sekian kota besar itu. Aku bilang kau mesti menyesuaikan. Di kotaku, tak banyak pengendara yang ugal-ugalan, pengendara tak tahu aturan. Kau bersikeras pengendara ugal-ugalan selalu ada dan kau memintaku berjanji menaiki jembatan penyebrangan demi bayi kita. Sehabis itu kau tetap bicara. Tentang apa saja. -- Itu bukan kencan terakhir kita, meski itu adalah kencan yang paling berkesan bagiku. Sekarang kau dan perempuanmu telah pergi dari kotaku, tentu bersama anak yang dititipkan di rahimku itu. Sering di antara pundi-pundi rupiah, aku bertanya pada angka-angka nolnya, kenapa kau bisa mencintai perempuan yang bahkan tak mau melahirkan anakmu, yang tak mau melakukan hal-hal yang kau inginkan. Naik jembatan penyebrangan, misalnya. Sekarang usiaku sudah 26, kau mungkin 45 atau lebih dari itu. Aku masih sering menaiki jembatan penyebrangan yang aku temui, meski kebanyakan bukan untuk menyebrang, tapi mengenangmu. Kau tidak boleh berpikir bahwa aku masih menyimpan segalanya untukmu, meski iya, aku sering mengenang-ngenang tapak kaki kita. Di jalan-jalan kotaku.
May I Introduce You to Ibu yang Tumbuh Bunga di Kepalanya!
"Semester berapa kamu sekarang?" Tanya Lemonadded yang tiba-tiba menclok di jendela Z12. Aku tertegun dan mencoba mengalihkan pandangan pada Ibu Dosen yang di kepalanya tumbuh bunga, yang berjalan sambil bercerita apa manfaat menulis di kelas Wacana Bahasa Indonesia. Lemonadded masih duduk dengan manis di kusen jendela, dia mengoyangkan siripnya, membuat gerakan yang aneh dan memaksa aku menoleh lagi. “Kamu jangan gangguin dong! Aku semester 6. Huuush.. Pergi ke alam baka!” Aku melempar pulpen, tapi Lemonadded terlalu tangkas dan mengelak dengan mudahnya.
"Oh.. Manis ya. Semester 6, kelas Wacana Bahasa Indonesia, tapi jabarannya masih tentang unsur tulisan." Lemonadded terkekeh, suaranya bikin hati aku panas dan meleleh. "Bukan mau aku ko. Toh yang ada di bayangan aku, kami disuruh baca, bikin analisis, kritik atau apalah. Mungkin ini masih pertemuan pengantar. Mungkin Bu Dosennya lupa kalo beliau sedang ngajar anak semester 6. Mungkin Bu Dosennya terlalu pengertian jadi beliau ga bikin tugas yang bikin mahasiswanya jungkir balik memutar otak. Mungkin.. Mungkin," habis bilang begitu, Lemonadded melanjutkan kekehannya.
Aku cemberut dan kesal, sementara Ibu Dosen berkeliling menanyakan berapa jam dalam sehari, anak kelas aku membaca. Rata-rata menjawab dengan jawaban “Ga tentu, Bu,” tapi ibu tentu tidak puas dan menginginkan jumlah jam yang pasti.
Lemonadded kemudian berhenti terkekeh, lalu tertawa dengan keras. Mungkin seumur hidupnya, Lemonadded baru menemukan pertanyaan dan situasi selucu ini. Aku yang sudah ga punya hati karena kadung terbakar, akhirnya ikut tertawa. Keras sekali, tapi Ibu Dosen yang di dada kirinya hinggap kupu-kupu masih sibuk menerangkan, mengeluarkan kata-kata yang entah apa.
Welcome Tumblr!
Halo, Ka Eko! Sudah sekian lama sejak postingan terakhir dengan nama Ka Eko di dalamnya aku posting di Tumblr. Sekarang, di meja 12, nama Ka Eko muncul lagi dengan Oreo Float yang Oreonya ga enak.
Ka Eko apa kabar? Aku sih ga begitu baik. Di otak aku sekarang ada tabloid bulan depan yang belum pada kelar tulisannya, ada 11 mata kuliah semester ini yang salah satunya adalah statistika, ada harapan punya lensa baru, ada ketakutan-ketakutan soal luka, masa depan, bayang-bayang yang benda aslinya membentuk siluet entah dimana. Maaf ya, Ka Eko. Rasanya ga enak harus cerita yang bikin kesal, sedih dan memusingkan. Tapi habis cerita kita selalu merasa lebih lega kan?
Aku terdiam agak lama sebelum memutuskan numblr lagi. Aku berjanji buat ga menulis sampah lagi. Aku takut ga bisa menepati itu sampai angkot Caheum-Cileunyi menampar gendang telinga aku dengan klaksonnya. Kira-kira, begini terjemah klakson itu: “tulisan kamu sampah atau engga, yang memutuskan pembaca, dan putusan pembaca itu, punya satu sifat yang melekat. Namanya subjektif,”
Aku tahu di dunia ini (oalah, dunia!) kayaknya banyak yang lebih dukung aku nulis serius. Bikin cerpen atau artikel ilmiah, bukan bikin diary online yang ga jelas juntrungannya. Bahkan kemarin, Si Adi, Redaktur Online Suaka, komentar waktu aku bikin status tentang memahami mesin cuci di Facebook. ”.. udah jadi ****** mah harusnya statusnya lebih seirus dan bermutu..”
Gimana rasanya dibilang kayak gitu sama Adi? Sebel? Kesel? Aku ga mau bohong sih, Ka Eko. Rasanya emang ga enak. Tapi masa iya aku melulu mesti serius, membagi-bagikan berita dan artikel menarik di situs online yang aku baca, mengomentari judul berita asal-asalan yang dibikin media online, ngobrolin politik dan ekonomi karena kedudukan aku sekarang? Aih. Aku benci pencitraan yang lebay. Ka Eko benci juga kah?
Ya.. Jadi aku memutuskan buat numblr lagi, Ka Eko. Ga peduli ini penting atau engga, ada yang baca atau engga, membunuh waktu aku dengan sia-sia atau engga. Aku mau numblr lagi. Bikin esai dan kronik yang ga begitu serius biar hidup kepenulisan aku ga datar dan kaku.
Hahaha. Welcome Tumblr and see you, Ka Eko. :)
Resolusi Revisi
Resolusi 2013 aku kebanyakan tercapai, tapi belum di hari ke10 2014, beberapa yang tercapai itu justru aku revisi. Hahaha. Kayak skripsi ya?
—
Hari ini aku harus bayar semesteran. Dari semester ke semester mengantre di bank ga pernah menyenangkan. Aku selalu sebal sama hal teknis mudah tapi gabisa dilakuin karena kesalahan orang lain. Misalnya bayar semesteran yang gabisa pake transfer di ATM. Misalnya melupakan hal-hal menyakitkan karena banyak hal yang mengingatkan hal-hal menyakitkan itu.
Mau tahu satu dari sekian hal yang tercapai terus aku revisi?
Aku ga akan menulis sampah lagi :)
Healing Incantation to 2013
"Flower, gleam and glow. Let your power shine. Make the clock reverse. Bring back what once was mine.. What once was mine. Heal what has been hurt. Change the Fate's design. Save what has been lost. Bring back what once was mine… What once was mine.."
--- Lagu itu judulnya Healing Incantation. Bikinan Glenn Slater dan Alan Menken. Dinyanyikan Rapunzel dan Mother Gothel biar khasiat Sun Gifted terasa: menyembuhkan, mengembalikan yang hilang. Kalo aku punya rambut Rapunzel, atau menemukan Sun Gifted sebelum Gothel, tentu bunga kuning yang bercahaya itu ada di kamar ini. Aku ga akan lagi numblr, tapi sedang membaca mantera agar Sun Gifted mengembalikan apa yang dulu aku punya, memutar jarum jam dan segala apa yang terjadi kembali seperti dulu kala. Aku belum puas sama 2013. Belum puas mengetik tahun, belum puas kesana-kesini untuk kangen sama Bandung. Aku belum naik kereta. Belum berhasil bikin film soal Aulia. Belummmmmmm.. Jangan dulu pergi. Jangan dulu hilang. Reverse the clock! Reverse! Di tengah teriakan pada jarum jam yang terus berputar, jam analog yang berjalan dari 1 ke 2, 2 ke 3, 3 ke 4 dan seterusnya, Lemonadded datang dari jendela yang terbuka. "Gandeng ari kamu!" sentak Lemonadded dengan mata melotot. Aku kaget dan mundur sampe mepet tembok. Iya sih aku gandeng. Aku salah. Aku mau minta maaf, tapi sama siapa dan emang apa gunanya? Aku cuma mau jamnya kembali, waktunya berputar mundur. Aku bukan perempuan jerawatan berusia 20 tahun yang bertanggung jawab penuh soal keredaksian di pers apapun sepanjang 2014, bukan anak semester 5 yang belum mengabdi secara struktur dan kultur sama HMJnya, bukan anak keduanya mamah yang suka diem di kamar kalo lagi di rumah sambil ngulik Disney Wiki, bukan beswan yang jarang kumpul Community Empowerment yang lagi digarap sama CE12013, bukan bukan bukan.. Tapi semakin panjang daftar bukan itu, semakin banyak waktu tertelan 2014 yang menginjak hari kedua. "Bangun. Ratu.. Bangun.." kata Lemonadded dengan lembut. Siripnya yang keemasan mengusap pipi aku yang berminyak. "Dunia ga butuh kamu yang menyesali semuanya, dunia butuh kamu yang bergerak dan berkarya, membuka mata sama hal-hal di luar jendela, di seberang laut dan pulau. Dunia butuh kamu yang membuka tangan untuk mereka yang minta kamu peluk, dunia butuh kamu yang mengulurkan tangan bukan memeluk lutut di kamar. Dunia butuh kamu yang..." "Pstt... Lemonadded. Cukup. Semakin panjang daftar dunia butuh aku yang itu, semakin banyak waktu tertelan di 2014 yang meninggalkan hari kedua," kata aku sambil mematikan lampu, mereguk susu coklat yang tinggal seperlima gelas dan menarik selimut itu.
Accidentally Disappear
"Ratu, data yang tadi langsung dicopy ke laptop saya ya," dan begitu masukin memori, mau 'CTRL+C,' telunjuk yang sedang berduka malah galau duluan dan zap! Semua file hilang ditelan 'CTRL+D+Enter'. Bapak marah? Dari mulutnya, Bapak bilang engga, meski di wajah Bapak ada raut kecewa. Aku minta maaf banyak banget, tapi aku tau itu ga akan tertebus. Semua momen bahagia dan segalanya, rasanya hilang, lenyap bersama puluhan file tadi. Ujungnya, setelah sunyi melingkupi kami di ruang panitia, Bapak bilang, "Rekaman gambar bisa hilang, tapi yang di sini (Bapak nunjuk kepalanya), ada selamanya,". Aku terharu. Aku tau Bapak kecewa, tapi kita bisa apa selain rela? -- Shift aku akhirnya habis dan aku nulis cuma buat marah-marah, mengenang semua yang hilang. Bukan file-file itu aja, tapi hal-hal yang hilang padahal aku mau menyimpan hal-hal itu selamanya. -- Kenyataannya, memang banyak hal-hal di dunia ini yang mau aku simpan selamanya. Seperti tapak kaki kita di jalan-jalan kota ini dan kota kamu, senyumnya Papah, atau ribuan cerita dongeng yang dibacakannya sebelum tidur. Kenapa kita ga bisa menyimpan semuanya selamanya? Kenapa hilang terjadi dimana-mana, bahkan di dunia yang katanya ada pada kendali kita? Kenapa perasaan hilang? Orang-orang hilang? Waktu hilang: dan tiba-tiba sekarang jam setengah satu dan aku belum beranjak buat UTS Penulisan Berita dan Feature jam 2 nanti? Tolong Ebiet, jangan jawab kalo aku harus bertanya pada rumput yang bergoyang.