Ibu dengan Bunga yang Tumbuh di Kepalanya
Ibu dengan bunga yang tumbuh di kepalanya datang lagi. Kali ini bunga ungu, berputik kuning dan berdaun hijau. Ada manik-manik yang berkilau, membentuk garis-garis seperti garis nada dalam partitur. Tidak ada kupu-kupu di dada kiri, berganti dengan tomat, buah persik atau entah apa yang mirip seperti itu.
Penampilan ibu boleh berganti, tapi tidak dengan apa yang disampaikannya. Ada kata-kata yang menguap seperti air dalam baju basah yang disetrika. Kata-kata melayang, terpantul dari dinding satu dengan dinding lainnya. Kata-kata ibu adalah cahaya yang dipantulkan pada cermin, bukan menerangi, justru membuat partikel-partikelnya hanya buang-buang energi.
"Apakah artikel?" Tanya ibu, bunga di kepalanya menebar wangi yang asing, menuai wajah-wajah dengan kerut. Saat melempar mata ke seisi kelas, sosok Lemonadded tertangkap sedang hinggap di kaos seorang laki-laki.
"Kenapa kita perlu menjawab apa itu artikel sesuai dengan yang dia mau?" Tanya Lemonadded.
"Sebab ibu menginginkannya. Kamu bukan burung kan? Kenapa hinggap di situ?"
"Kenapa kita menuruti keinginan ibu?" Lemonadded tidak peduli pertanyaan soal hinggap itu, dia cuma peduli dengan pertanyaan yang dia ajukan tentang ibu.
"Sebab kita mau pintar."
"Iyakah menuruti ibu mengubah kita jadi pintar?"
'Mungkin. Minimal kita bukan pembangkang.”
"Oh. Kamu kenal Soe Hok Gie? Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan, kata dia.”
"Itu kata Gie dulu. Zaman berubah.’ “Zaman berubah. Kebenaran tidak bergeser seincipun!”
"Duh.. Kebenaran mana yang zaman sekarang tidak berubah? Kebenaran bisa diseret kesana-kemari dan berubah setiap dia berpindah tangan dan otak.”
Aku yang sedang mendengarkan ibu, yang di kepalanya tumbuh bunga, jadi terusik. Ternyata di kelas ini ada orang lain yang bisa bicara dengan Lemonadded, dan pembicaraan itu mengganggu.
Sangat mengganggu.















