Bolak-balik ke Rumah Sakit
Cerita Trimester 3 kehamilanku
Di trimester 3 rasanya itu luar biasa engap. Gimana engga, nafsu makan ku sudah merajalela. Aku paling doyan makanan manis untuk cemilan (bahkan aku ngidam kue nastar. Dan suami pulang kerja bawa 1 kotak nastar. Dalam 2 hari ludes tak tersisa. Habis sama siapa coba?)
Usia kandungan ku ke 7 bulan pernah lagi aku mau pingsan. Jadi dihitung-hitung sudah 3 kali mau pingsan dengan gejala yang sama persis. Waktu usia kandungan 6 bulan aku sempat menjalani tes kesehatan lengkap dasar seputar darah dan akhirnya lupa untuk di bahas dengan dokter ku yang ke 2. Aku sempet cek 2x tes darah (artinya sudah 3x tes darah) dan di dapati kalau hemoglobin ku itu rendah. Aku ngga ngerti apa-apa disitu sampai akhirnya ketemu seorang dokter yang jelasin tentang hasil tes terbaru ku namanya dokter Achmad Irawan Spog (beberapa menit sebelum periksa lagi), disitu baru lah aku tahu itu penyebab aku hampir mau pingsan. Dokter itu juga 'nembak' aku untuk harus segera melakukan transfusi darah saat itu juga setelah baca beberapa hasil tes aku yang lalu. DUARRR... "Ya mau ngga mau kamu di transfusi ya" "Hahhh??? Engg.. Ini pilihan atau harus, Dok?" "Ini harus Bu. Kalau ngga resiko nya besar buat Ibu dan bayi nya." (Detik itu juga aku sedang menahan diri supaya air mata ngga menetes. Eh air mata nya menggenang hahaha. Lebay? Tapi aku takut lho. Serem duluan bayangan aku). Saat itu aku ditemenin Pupung nya Zeke. Pupung doli nya Zeke diluar sementara Pupung boru dan aku diruang dokter (Mama coba ngelus punggung ku karena tau aku pasti takut banget).
Setelah mendengar penjelasan dokter aku pun mengerti plus takut inget kata transfusi. Kurang lebih penjelasannya seperti ini :
"kalau tidak dilakukan transfusi darah akan membahayakan Ibu dan bayi. Karena darah itu membantu mengalirkan oksigen untuk bayi bernafas juga. Kalau Ibu nya saja susah bernafas lalu bagaimana bayinya? Kan kalau di tindak sekarang bisa membantu menaikan jumlah hemoglobin lewat transfusi itu. Kalau dibiarkan bayi bisa lahir cacat, Bu (aduh seraaaaam) dan (dokter mohon maaf sebelumnya) paling parah pendarahaan saat operasi; Ibu nya bisa lewat, atau anaknya atau bahkan dua-duanya" begitulah kira-kira yang aku ingat.
Saat di lakukan transfusi darah usia kandungan ku sudah sekitar 32 minggu. Puji Tuhan semua berjalan baik tidak seperti yang aku khawatirkan sebelumnya. Malahan aku menawar ke suami untuk menambah jam inapku lantaran aku ngidam bubur sumsum dan susu cokelat di RS untuk besok pagi nya. Padahal hari itu dokter bilang aku sudah boleh pulang. (Walau akhirnya aku pulang hari itu juga karena suami ku ngga memberi ijin extend 1 malam hihihi).
4 kantung darah ternyata yang aku butuhkan. Dan anemia ku ini terjadi hanya karena aku sedang hamil. Hal ini umumnya kerap terjadi karena Ibu harus berbagi segalanya dengan sang calon bayi. Jadi, untuk Ibu yang sedang hamil sangat penting bagi kita melakukan tes kesehatan sesuai anjuran dokter. Awalnya aku agak ragu tes kesehatan semacam ini eh taunya malah penting sekali.
Kejadian di trimester 3 ini membuat ku merasa lebih siap menghadapi proses persalinan. Karena setiap minggu aku pasti berhadapan dengan macam-macam tes kesehatan *fiuhhhh* *elus-elus tangan*. Memang setelah di transfusi aku tidak merasa mau pingsan lagi dan pasti nya bayiku didalam perut juga jadi lebih nyaman kan.
RS saat trimester 3 pindah (lagi) dan berakhir bahagia ketemu sama dr Tigor Pniel Simanjuntak, of course he is male Obgyn (triple checked) and this one was more explicit, economical and helpful. He helped to ease patient anxiety by telling jokes while inserting the truth of my query.
Bagian ekonomis si dokter. Mau usg 4D tapi apa daya udah 2x kontrol coba bujuk, dokter nya ngga mengijinkan (USG 4D). "It was merely like having a fun thing." Well, my parents were in doctor's side. Skakmat! Positifnya, aku malah bertanya balik ke diriku bahwa apa memang niat aku dan suami murni untuk cek organ anak atau penasaran dengan wajahnya? Wajah kan nanti juga ketemu pas dia sudah lahir. Percaya lah bahwa Tuhan sudah memberikan aku seorang bayi yang sempurna.
Ketakutan pas mau di suntik anastesi, dikasih bantal dan aku gigitin niatnya buat nahan sakit (karena nervous aku jadi nangis dimeja operasi. aku pikir tadinya bakal sakit. Ini sih karena belum pernah aja eh taunya GAK SAKIT! Habis itu aku senyum-senyum bilang "kok ngga sakit yah, Dok hehe" (sambil nyengir). Ternyata dokter ku benar "percaya sama saya ngga akan sakit" hahaha)
di ruang operasi semua serba higienis sampai pakai kacamata pun dilarang (ya sudah burem lah semua kecuali wajah dokter yang dekat ke aku hahaha)
I didn't wear glasses in the operation room but when my baby came outside from my jelly belly successfully, I knew exactly the time; 12:45 pm. The clock seemed so clear.
I gained 22kgs and something. My previous weight was 48kgs so it became 70kgs something. Yes! BIG ENOUGH. (This was not part of trimester 3 but you know what, It merely remains 3kgs before getting my weight back YAY! *Jeans, I'm back!!!*)
Aku sama sekali ngga takut atau grogi sampai di ruang operasi sekalipun. Entah, aku merasa kekuatan dan keberanian ku semua sudah keluar secara alami dimulai sejak bertemu jarum suntik alat tes sampai saat aku detik-detik mau di operasi.
Aku sempat menitikkan air mata right after hearing my baby's crying. Dokter ku malah godain "eh-eh jangan nangis lagi dong kan anak nya sudah keluar tuh (beliau ngomong dengan logat batak nya. asli aku disitu sebel tapi mau ketawa ngga berani sambil inget perut lagi diotak-atik. Dok ini tuh terharu!") "dokter dia tuh nangis terharu kali dok" eh ada dokter lain yang menimpali.
selama proses bedah yang diputar lagu batak dari awal sampai akhir.
kaki kebas akibat anastesi. Rasanya mau digerakkin eh ngga bisa.
Bibirku gemetaran entah karena menggigil, nervous atau efek obat bius ya? Aku sampai tanya ke dokter "kenapa nih dok bibir ku kok bergeter ya" haha.