Ibu Menyusui: Puasa atau Tidak?
Ramadhan tahun ini kondisiku sudah berbeda dengan Ramadhan tahun lalu. Kalau Ramadhan tahun lalu aku sedang hamil, alhamdulillah tahun ini adalah masa aku menyusui.
Biasanya di circle bu ibu hamil atau menyusui akan muncul pertanyaan-pertanyaan, "Puasa atau tidak?"
Dulu aku berpikir, ibu hamil atau menyusui yang tidak berpuasa karena ingin mengambil kemudahan saja, tidak mau berusaha. Astaghfirullah, suudzon banget ternyata ya aku saat itu.
Namun nyatanya, Allah sudah memberikan rukshah untuk para ibu hamil dan menyusui untuk tidak menjalankan ibadah puasa ini. So, tidak diharuskan jika berpuasa dapat menimbulkan kemudharatan baginya. Lalu bagaimana kalau tidak berpuasa? ya, kalau khawatir karena tubuhnya sendiri, ibu hamil dan menyusui wajib qadha puasanya. Jika ia juga mengkhawatirkan kondisi bayinya, maka ia qadha dan juga membayar fidyah.
Biidznillah, setelah delapan hari di bulan Ramadhan ini, aku memilih untuk berpuasa dan alhamdulillah mampu menjalankannya. Anakku, Aqsha, juga alhamdulillah kondisinya baik, BAKnya juga alhamdulillah normal, tidak rewel, ya kurang lebih sama saja seperti hari-hari biasanya.
Awalnya ada keraguan juga didiriku sendiri untuk berpuasa, karena beberapa orang yang aku kenal sedang menyusui, mereka memilih untuk tidak puasa. Lah aku kok sok-sokan puasa nih?
Qadarullah, aku mendapatkan kesempatan bisa sharing dan konsultasi langsung dengan tiga dokter dari Klinik Umma. Ada dokter Pusfa, dokter Nuri, dan dokter Evi. Aku menceritakan segala keluh kesah, perasaanku, dan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan bagaimana puasa untuk ibu menyusui.
Aku inget banget dr Evi bilang, "Mungkin akan ada ibu-ibu yang membandingkan kalau busui puasa berarti kuat, kalau yang tidak puasa berarti lemah. Padahal setiap tubuh manusia itu berbeda-beda, kemampuan tubuhnya juga berbeda, jadi jangan disama ratakan. Allah pun sudah memberikan rukshah, jadi tidak ada masalah bila kita tidak tahan berpuasa lantas memilih untuk tidak berpuasa Ramadhan."
Adapun juga kekhawatiran ku mengenai perkataan orang-orang diluar sana, "Loh kok puasa? Emang ASI nya cukup? Ga kasian sama bayinya?"
Alhamdulillah kegelisahan ini terjawab dengan jawaban dokter Pusfa, "Teh yolan kan sudah belajar dan tahu ilmunya. Sehingga mengambil langkah untuk berpuasa ketika sedang proses menyusui. Mungkin jika ada pendapat orang-orang yang menyatakan seperti itu, karena mereka belum paham ilmunya dan mereka juga gatau apa dasar teh yolan tetap berpuasa ketika menyusui. Maka, yakini diri, tetap semangat berpuasa dan beribadah. Tetap perhatikan kondisi anak dan kondisi teh yolan saat berpuasa ya,"
Setelah konsultasi dan sharing, aku semakin yakin dan percaya dengan pilihanku untuk memilih tetap berpuasa. Alhamdulillah juga kang suami selalu support pilihanku, jika aku yakin dengan apa yang akan aku jalani.
Jadi teman-teman, kita garisbawahi bahwa tidak ada si paling kuat antara ibu-ibu hamil dan menyusui ya. Setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda. Wallahu'alam.


















