Ada hari di mana kita membutuhkan waktu untuk bertafakur dengan alam, menikmati indahnya ciptaan Tuhan yg maha segalanya ini, dan ada pula kesempatan di mana kita membutuhkan waktu untuk bersilaturahim barang sebentar dengan teman-teman seperjuangan. Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan itu kepada saya. Walaupun dalam situasi sedang banyak-banyaknya tugas kuliah, tugas organisasi, dan segala macam tugas perumah tanggan anak kosan, kemarin saya dapat kembali merasakan ukhuwah kekeluargaan itu bersama teman-teman kastil. Walaupun dalam kesempatan kali ini ada beberapa teman yang berhalangan hadir dikarenakan sakit, persiapan UTS, tidak mendapat izin bermalam dari asramanya, serta adanya jadwal kuliah umum. Semoga yang sedang sakit diberikan kesembuhan, yang hendak uts dan kuliah diberikan kemudahan, dan yang tidak diberikan izin bermalam, di lain kesempatan dapat ikut serta dalam kegiatan silaturahim lainnya, Insya Allah.
Kemarin, 30 Maret 2013, pagi-pagi sekali sesudah sholat subuh saya langsung bergegas mandi dan meninggalkan kosan untuk berurbanisasi barang sehari ke Bandung. Bersama Anggun, kami menggunakan travel Arnes meluncur dari Jatinangor pukul 6.30 wib. Suasananya, Nangor masih sepi dan teramat dingin. Tidak lama kemudian kami berdua pun tiba di Bandung, tepatnya di depan Baltos, lalu kami menaiki angkot dan berhenti di simpang MD Dago. Di sana kami menunggu 2 orang personil kastil lainnya yaitu Agnes dan Eji. Setelah sekian abad menunggu, akhirnya Agnes tiba kemudian disusul oleh kedatangan Eji. Kami berempat segera menuju ke Cimbeuleuit dengan menggunakan angkot lagi.
Setiba di depan RS TNI AU Cimbeleuit, di sana sudah terdapat beberapa personil kastil lainnya, diantaranya ada Ayi, Tarex, Yola, dan Cake, serta disusul dengan kedatangan Sitti si tukang tidur. Setelah memesan makanan, bersalam-salaman, cipika-cipiki, ngobrol sana-sini, akhirnya kami memutuskan akan memulai journey kami yang panjang pada hari ini. Kami menyewa angkot menuju tempat wisata tujuan, yaitu Curug Cimahi. Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan yg tidak terasa lamanya karena dihabiskan dengan berkelakar bersama mereka, akhirnya kami tiba juga di Curug Cimahi. Baru saja tiba, karena melihat pemandangan yang betapa indahnya, sifat dan sikap narsis semua personil kastil tidak dapt dibendung sama sekali. Kami pun berfoto dengan meminta bantuan jepretan oleh bapak-bapak yang bertugas menjaga pintu masuk.
Memasuki kawasan curug, ratusan anak tangga menyapa pemandangan. Namun karena sedang bersemangatnya, berfoto sana-sini, akhirnya kami tiba juga di anak tangga terakhir yang mempertemukan kami dengan curug yg sesungguhnya (walau kaki agak tremor jadinya). Curug (dalam bahasa Sunda yg artinya Air terjun) Cimahi ini adalah curug pertama yg pernah saya lihat secara langsung dalam hidup saya. Aliran air yang tumpah dari ketinggian puluhan meter itu menimbulkan tekanan yang dahsyat sehingga menghasilkan hembusan angin dengan sisipan air yang menyegarkan. Sungguh luar biasa kuasa Allah,s.w.t. Hamparan pepohonan dan pemandangan lainnya menambah syahdu dan takjub di dalam diri ini akan indahnya kuasaNya itu.
Setelah puas menikmati pemandangan yang indah, ngobrol-ngobrol, foto-foto (lagi), makan, akhirnya tibalah waktu sholat Zuhur. Kami melaksanakan sholat Zuhur berjamaah di mushola kecil yang disediakan di sana. Dengan diimami oleh Eji (satu-satunya cowo yg ikut dalam rombongan), kami pun melaksanakan sholat. Di tengah indahnya alam, kami bersujud menyembahNya, sholat berjamaah kali ini rasanya semakin menumbuhkan rasa persaudaraan diantara kami.
Setelah selesai melaksanakan sholat, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan panjang kami. Menaiki tangga yg panjangnya luar binasa sekali (lebih dari 600 anak tangga meeeen) dengan penuh kesabaran dan perjuangan yang sangat tangguh, akhirnya kami tiba kembali ke tempat awal.
Next trip, awalnya kami bingung hendak melanjutkan perjalanan ke mana lagi setelah ini. Karena ada 2 orang personil dari Jogja yg hendak tiba di Bandung sore nanti, jadi rencananya kami akan menunggu kedatangan mereka hingga sore tiba. Untuk menunggu kedatangan mereka, awalnya kami hendak ke Punclut, namun setelah dipertimbangkan kembali, akhirnya tidak jadi ke Punclut dan memutuskan untuk terus ke ITB. Setiba di ITB, kami memutuskan untuk rehat sebentar di Masjid Salman ITB menanti datangnya waktu Sholat Ashar. Lima menit sebelum sholat, pengasuh masjid mengumumkan waktu sholat kepada semua jamaah yang berada di seputaran kampus untuk sejenak meninggalkan perkerjaannya karena waktu sholat Ashar akan segera datang. Mahasiswa-mahasiswi yang sedang beraktifitas di seputaran kampus berhamburan menuju tempat wudhu dan mempersiapkan diri untuk sholat. Tidak lama kemudian azan pun dikumandangkan, indah, syahdu, merdu, dan menggetarkan hati-hati yang mendengarnya. Barisan-barisan pada saf laki-laki dan perempuan mulai terpenuhi dengan jumlah jamaah yang menurut saya lumayan banyak. Saf diatur dan dirapikan serapih mungkin sebelum sholat dimulai. Kami yg pertama tiba mengisi saf di barisan perempuan, diminta untuk mengisi saf dari barisan yang paling belakang. Awalnya saya bingung, mengapa saf yang diisi haruslah dari yang paling belakang. Namun akhirnya saya teringat dengan aturan sholat untuk kaum perempuan, bahwasanya sebaik-baiknya saf untuk perempuan adalah saf yg paling belakang. Setelah selesai sholat, sejenak saya mengandaikan seandainya masjid di Unpad dan di tempat lainnya seperti itu, dengan pelayanan yang sangat memperhatikan umat.
Dari ITB, kami melanjutkan perjalanan kembali namun belum tau hendak ke mana (Galau lagi ceritanya). Karena ada beberapa personil yang kelaparan, akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke salah satu tempat makan di seputar kampus ITB, kami memutuskan untuk makan ramen. Ketika sedang menikmati ramen, hujan pun mengiringi.
Hari beranjak semakin sore. Tiba-tiba tercetus dari mulut seseorang mengajak untuk foto studio (ternyata belum puas juga, padahal dari tadi juga kerjaanya adalah foto-foto), dan proposal tersebut disetujui oleh personil lainnya. Demi menyenangkan hati teman, saya pun akhirnya menyetujui. Akhirnya kami memutuskan untuk foto studio di Yonas Ciwalk.
Setiba di Ciwalk, kami melaksanakan sholat Magrib. Namun ironisnya, ketika tiba di tempat-tempat besar seperti itu, selalu saja dihadirkan dengan kenyataan bahwa betapa kecilnya tempat sholat itu dibandingkan dengan jumlah luasan tempat belanja dan jumlah jamaah yang banyak sehingga membuat kegiatan beribadah pun berdesak-desakan.
Hiruk pikuk keramaian yang berlangsung di dalam membuat kami memutuskan untuk menunggu dua orang teman yg dari Jogja tersebut di luar saja. Ketika memasuki halaman luar, saya antusias sekali melihat dua orang bocah perempuan yang sedang bernyanyi dan menari dengan lincahnya dalam sebuah kontes acara yang diadakan di sana. Hal ini menurut saya sangatlah menarik. Di mana menyaksikan anak seusia kurang lebih 9 atau 10 tahunan dengan kepandaian dan PD yang sangat tinggi adalah jarang di kalangan kehidupan saya sendiri. Namun, timbul lagi sebuah drama singkat di dalam hati ini ketika ingat akan hal yang berbeda di sisi kehidupan yang lainnya.
Setelah sekian lama menunggu 2 orang teman kami tersebut, akhirnya mereka datang juga, dan foto studio pun dapat segera dilaksanakan. Selesai foto studio sekitar pukul 9 an kami makan di sekitar wilayah Ciwalk. Ngobrol-ngobrol sebentar, haha-hihi sebentar, dan akhirnya waktu memang benar-benar memaksa kami harus kembali ke kosan pada saat itu juga. Ya, saya dan 8 orang teman perempuan saya yg lainnya sudah terlalu melanggar SOP. Akhirnya kami pun kembali ke kosan salah seorang teman yg sangat ikhlas menampung keberadaan kami di Bandung.
Sesungguhnya banyak sekali hal-hal yang menjadi catatan pribadi di dalam hati saya selama perjalanan bersama teman-teman ini. Senang bisa kumpul lagi bersama mereka setelah sekian lama tidak berjumpa. Walaupun banyak dibully, tapi tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan daripada bisa tertawa bersama mereka. Rasa lelah, capek, dan sebagainya dinikmati saja. Saya kira itulah rasanya sebagai satu keluarga. Walaupun sudah banyak sekali hal-hal yang berubah pada pribadi mereka semua. Namun, tidak jauh dan dan tidak ubahnya mereka yang dahulu ketika bertemu orang-orang yang dahulu. Sayangnya, keesokan harinya tidak sempat lagi mampir ke kosan teman-teman yang sakit.
Terimaksih teman-teman yang sudah meluangkan waktunya, dan segala macamnya. Untuk kebersamaan kita satu hari kemarin. Semoga di lain kesmpatan kita dipertemukan kembali dalam keadaan jasmani, ruhani, dan materi yang lebih baik, lebih seru, dan pada waktu-waktu terbaik dalam hidup kita. Terima kepada Agnes, Anggun, Cake, Chaikal, Eji, Ipe, Sitti, Tarex, Tirta, Yola, dan Ayi yang sudah merelakan kosannya untuk diberantakkan. Maafkan jika ada kata-kata atau perbuatan yang kurang berkenan di hati teman-teman sekalian. Kepada Vivi, Fibi, Nisa, semoga cepat sembuh. Untuk Wahyu, Pees, dan Lala, semoga diberi kemudahan dalam ujiannya. Untuk Husen dan Jeje, semoga bisa main ke Bandung di lain kesempatan. Untuk semuanya, semangat mengejar cita-cita..!
Curug Cimahi, 30 Maret 2013