Sejak Pandemi
"Terhitung sejak pandemi. Aku bosan... "
"Kadang aktivitas di rumah gak beraturan."
"Sejak pandemi aku sadar. Keberadaan kita diuji, siapa yang sanggup bertahan?"
Beberapa bulan terakhir, umat manusia dikejutkan dengan masa pandemi. Pandemi virus yang mengusik kehidupan umat manusia, ia adalah Covid-19. Berbulan-bulan kita habiskan aktivitas di rumah, produktivitas sedikit berubah karena sentuhan virus yang menyadarkan umat manusia.
Gak semua aktivitas harus dikerjakan di luar rumah. Kita sadar, semakin kita diam di rumah semakin banyak pertanyaan berlalu lalang hingga tiba di titik bosan. Akhirnya menanyakan kondisi, kapan pandemi berakhir?
Semua gaduh membuat asumsi, ribut memperbaiki kondisi negeri, bahkan ada yang santai waktu pertama kali corona datang ke bumi. Karakter manusia emang berbeda-beda, merespon sebuah masalah dengan cemas atau bisa jadi sikap santai yang berkelas.
Di kota besar yang berjejer gedung tinggi yaitu tempat sarangnya polusi. Awan yang rusak oleh kepulan polusi yang entah kapan asri kembali. Menjadi tanda bahwa, sumber polusi perlu dibenahi bahkan harus terus terlihat asri. Apalagi dikatakan ibukota, perkembangan sebuah negara berada di sana.
Dari pandemi, kita belajar bahwa berdiam di rumah supaya manusia tak banyak mengonsumsi kerusakan alam ini. Dari langit saja sudah memberikan bukti, langit ibukota cerah saat kebijakan berdiam di rumah ditegakan. Dan, ketika aturan berbenah kembali langit terlihat berbeda sekali. Kepulan polusi yang membumbung tinggi menghilangkan langit cerah yang baru saja sekilas terasa di benak penghuni.
Sebagian bosan diam di rumah, pernyataan ini berlaku pada orang yang terbiasa beraktivitas di luar rumah. Kita berada pada kondisi bosan, mengeluh pada keadaan. Keadaan yang sedang terjadi yaitu kisah bumi dan pandemi yang belum usai.
Sekarang, berada di fase bahwa kita dituntut untuk melakukan kebiasaan baru. Kebiasaan yang kita gak pernah menyangka akan seperti itu. Kebiasaan yang entah kapan terhenti hingga terbiasa lagi seperti dulu.
Sebagian manusia patuh dan sebagian mengabaikan. Semuanya berasumsi soal satu kekuatan, tentang imun yang dimiliki oleh setiap diri.
Tuhan yang menguji, menyadarkan bumi beserta penghuni. Kita sadar, kita bergandengan dengan alam. Menghirup seluruh udara yang tersaji masuk ke diri. Mencintai lingkungan ini, peduli. Bahkan merusak pun ada, mengeksploitasi demi ego sendiri.
Terkadang, kita salah dan kita benar jika disodorkan masalah. Terkurung mencari solusi dari hari ke hari. Kesabaran dan amarah yang terus berdiskusi mencari kedamaian. Saling bersahutan memperbaiki era pandemi.
*Kita dan pandemi.

















