Berbeda Ataupun Tidak, Tuhan Tahu Cinta Kita
“Cukuplah, isi kepalaku hanya kamu saja. Jarak panjang dan Tuhan yang berbeda, biarkan itu hanya pemanis kita.“
Dear Tuhanku Yang Maha Romantis,
Di belahan bumi paling selatan, 5207 km dari titik aku berdiri, ada sesosok makhluk ciptaanMu yang paling sempurna. Terima kasih sudah menghadirkan dia walaupun dengan jarak dan waktu yang berbeda. Ini anugerahMu.
UntukMu aku menyembah dan meminta segala sesuatu. Termasuk aku meminta cinta dan kerinduan ini tak lepas untuknya. Walau aku tahu, aku dan dia tak sama. Kami berbeda seperti yang Kamu tahu. Aku bersujud kepadaMu Tuhanku. Tapi dia berlutut menghadap TuhanNya. Ampuni aku.
Dia selalu bilang kalau Kamu itu asyik dan aku mengamininya karena itulah Kamu, Maha Asyik dan Romantis. Selalu memberikan kasih sayang dan cinta kepada makhlukNya walaupun dengan berbagai macam cobaan dan ujian, termasuk kepada diriku saat ini. Kamu memberikanku sayang dari sesosok indah ciptaanMu yang berbeda. KepadaMu, hamba memanjatkan doa. Untuk kekuatan hati yang tak semakin kuat makin hari ke hari. Kuatkanlah.
Sesuai firmanMu, aku meyakini di bawah hujan deras yang engkau turunkan saat ini, doaku akan cepat sampai, dan hanya dengan kuasaMu akan segera dikabulkan. Tuhanku yang Maha Asyik, Jagalah dia. Cuma itu pintaku. Aku tak berharap secepatnya kami bersatu tapi ini semua aku percaya sebagai bagian proses hidup dan takdirMu.
"Tuhan, sempat terlintas satu pikirku. Kenapa Kamu temukan aku kepada dia yang berbeda? Apakah ini hanya sebuah kisah? Atau takdir yang harus kami lalui bersama dahulu?"
Aku dan kamu seperti berada di tengah jembatan tali rapuh, yang dikelilingi oleh tebing jurang yang curam. Ringkih, risau, dan membeku tak bergerak. Jalan ke depan begitu terjal, menukik tajam, kapanpun bersiap terjungkal, dan akhirnya jatuh. Apakah aku siap? Aku tak tahu. Tebing jurang seolah menandakan kalau memang ini sangat sulit untuk kami lewati sendiri. Kami membutuhkanMu, Tuhan. Tapi kami memiliki Tuhan yang berbeda. Apa Engkau rela, Tuhan?
Terkadang kusesali mengapa kami dipertemukan dalam sebuah rasa. Padahal sejak awal, tak ada kata sepakat untuk jatuh cinta. Tapi aku tak ingin menyalahkanMu Tuhan. RencanaMu itu indah.
Bolehkah kami nikmati dan perjuangkan ini? Untuk memohon restuMu.
Sudah hampir 2 tahun, aku mengenalnya dan berani mengambil hatinya untuk satu rasa. Cinta. Tak pernah terpikir sebelumnya, mencintai gadis yang memiliki keyakinan berbeda dan berani untuk mengucap sebuah janji agar kami sama-sama memperjuangkannya. Tuhanku untukku dan Tuhannya untuk dia, dalam sama-sama satu keyakinan hati untuk merebut satu perhatian dari Tuhan kami. Pantaskah?
"Jangan berani-berani pacaran dengan agama yang berbeda! Ujung-ujungnya juga akan berakhi. Buang-buang waktu."
Entah mengapa cemooh itu sudah kebal di telinga kami. Seakan Tuhan kami menjaga telinga ini untuk tak meneruskan ke pikiran dan hati. Perbedaan memang akan menjadi masalah besar dalam menjalin sebuah hubungan ini karena akan menjadi cinta segitiga antara aku, kamu, dan Tuhan.
"Hai kamu, apa kabar Tuhanmu? Sudahkah meminta dariNya untuk kita?"
Tiap hari pasti terlontar pertanyaan itu dan segera kami tanyakan sebagai salam pembuka pembicaraan. Tak ada maksud lain selain berserah dan terus berserah. Mungkin bagi sebagian orang itu pertanyaan bodoh. Tapi buatku dan mungkin kamu, itu pertanyaan harapan. Harapan akan kami masih punya Tuhan yang kami sembah dan pinta segala asa.
Memang perasaan ini seperti sudah dibutakan dengan apa yang dinamakan dengan cinta. Aku terlahir dari keluarga yang menjunjung tinggi agamaku. Dia pun begitu. Pernah terfikir, ini ujian Tuhan akan sebuah pilihan "ingin dicintai penciptanya atau mencintai ciptaan-Nya". Aah... aku pun tak mampu untuk memilih.
"Kita sepasang manusia yang hanya tunduk atas takdir. Mungkinkah ini salah satu jalan takdir?"
Kami menyalahkan takdir? Bukan! Kami mengikuti takdir. Kami hanya melakukan apa yang bisa kami lakukan sebelum Tuhan memutuskan -- bersatu atau mungkin kami dipisahkan.
Perbedaan dan jarak seakan sudah jadi obat yang kami tenggak tiap saat. Tak peduli manis atau pahit, seakan terbungkus oleh satu kata: RINDU.Terkadang ini terasa tak adil. Di satu sisi, tak dipungkiri hubungan seperti ini tak akan mungkin bertahan lama. Sudah berbeda keyakinan, long distance pula. Apa yang kami harus lakukan? Sejauh ini kami hanya lakukan perombakan dan perlawanan kepada konflik yang ada di hati. Tuhan jawabannya.
" Cukuplah, isi kepalaku hanya kamu saja. Jarak yang panjang dan Tuhan yang berbeda, biarkan itu hanya pemanis kita."
Kalimat "Kita sepertinya salah jalan?" semakin tak terfikirkan lagi dan berganti dengan pemikiran bahwa - kita tak melakukan kesalahan atas perbedaan? mengapa kita harus takut untuk berjuang lebih? - Picik memang. Kami baru dua tahun membina hubungan, tapi sudah berlaku sok tahu akan hadirnya cinta seperti ini. Huft... Jarak dan perbedaan itu tidak bisa dimasukan ke dalam tagline "Cinta itu Sederhana". Terbukti di hubungan seperti ini. Yang mungkin dibutuhkan hanyalah merubah pola pikir dan sudut pandang: apa yang seharusnya yang akan terjadi, sekarang dan nanti, seberapa kuat perjuangan untuk terus bersama. Sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan hal apa saja yang orang anggap salah.
Karena memang tidak seharusnya hubungan ini menjadi sumber segala sumber, yang menjadi sebuah jurang pemisah yang mengatasnamakan perbedaan dan jarak. Justru hal seperti itu kami jadikan sebagai pengingat, pemersatu, dan pelengkap antar kami dengan terus bersama berjalan disamping Tuhan kami masing-masing.
Saat ini cuma Tuhan yang bisa dijadikan sandaranku. Sandaran kami untuk terus melaju dalam titihan langkah demi langkah di lintasan jembatan ringkih ini.
Terima kasih Tuhan. Aku sayang Kamu. Sudah senja, aku akan bersiap menunaikan kewajiban 3 Rakaatku untukMu.
Jaga dia, Tuhan. Cuma itu pintaku, aku rindu.
http://www.hipwee.com/opini/berbeda-ataupun-tidak-tuhan-tahu-cinta-kita/