32 , Pengakuan: Semudah Membalikkan Sejadah.
kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana sesuatu hal yang kecil dapat berpengaruh pada sebuah hal yang besar.
jadi pada masa kecil saya dahulu, saya paling malas kalau disuruh-suruh, termasuk disuruh sholat. jadi tiap kali orang tua saya mengingatkan saya untuk sholat, yang terjadi adalah saya pergi ke kamar, menutup pintu, rebahan sambil main hp (saat itu jamannya nokia 8250).
Kira-kira setelah tiga menit saya akan keluar kamar setelah mengacak-acak sejadah dan sarung. selalu seperti itu saat saya sedang malas sholat, males - disuruh sholat - masuk kamar - main hp 3 menit - acak sajadah dan sarung - lalu keluar kamar. Kebiasaan itu selalu bekerja sebagaimana mestinya, setidaknya sampai....
saat itu bukan saja sedang malas sholat, tetapi saya juga malas mengacak-acak sejadah dan sarung. jadi kira-kira setelah waktu sholat isya saya keluar kamar dengan membiarkan sejadah dan sarung masih rapih dengan lipatan sebelumnya, yaitu lipatan setelah ibu saya selesai sholat.
Besok paginya saat ibu saya bangun untuk melaksanakan sholat shubuh, dia melihat bahwa mukena yang dia pakai semalam masih menumpuk di atas sejadah, sedangkan sarungnya masih berada di paling bawah tumpukan tersebut. saat itulah saya ketahuan bahwa tadi malam tidak sholat Isya hehehehe.
Setidaknya sampai hari itu saya mengira bagian terpenting dalam praktik berbohong itu adalah waktu 3 menitnya, ternyata saya salah. Justru bagian “mengacak sejadah dan sarung” lah yang terpenting. dengan saya mengacak-acak sarung artinya saya membuat bukti palsu. kalau saja saya mau sedikit sabar dan rajin untuk mengubah posisi sarung pada tumpukan itu dari yang semula mukena-sejadah-sarung menjadi sarung-sejadah-mukena, pasti praktik berbohong saya masih akan berlangsung lama hehe.
Itulah yang saya maksud satu bagian kecil dapat berpengaruh pada sebuah hal yang besar.
Saya rasa begitu juga dengan hidup, kadang kita belajar sesuatu yang sangat jelas tidak ada kaitannya dengan apa yang akan kita lakukan lima-sepuluh tahun kedepan, tapi sebenarnya itu baru mulai dirasakan manfaatnya setelah dua puluh atau tiga puluh tahun setelahnya, mungkin di umur kita lima puluh tahunan.
Kita memang belum berumur segitu, tapi bukan berarti kita tidak bisa mengambil pelajaran kan? bukankah sudah banyak orang-orang tua di luar sana yang menyesal, andai saja mereka bisa memulai sedekah pada waktu muda, bisa mulai rutin berolahraga di umur dua puluh tahunan, berhenti merokok sejak dini, dan lain sebagainya.
Pelajaran apa yang kita dapat? cobalah kita mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan di umur kita yang sekarang. saat kita mulai mengeluh pada persoalan sekolah, karir, bisnis, pertemanan bahkan percintaan. karena mungkin kesulitan yang kita lalui saat ini adalah contoh solusi atas masalah hidup kita beberapa puluh tahun kedepannya.
Seperti bagian pada puzzle, kita tidak selalu mendapatkan bagian yang berurutan. yang kita perlu adalah menyimpan bagiannya, sehingga saat bagian sekitarnya sudah terpasang, kita tinggal melengkapinya dengan bagian-bagian puzzle yang pernah kita simpan tadi.
Teruslah sabar melakukan apa yang hari ini harus dilakukan, karena siapa sangka suksesnya suatu tindakan hanya semudah membalikkan mukena-sarung-dan sejadah?









