#30, judulnya: Empat Sekawan (2)
Salah satu dari tujuh golongan yang diberikan naungan di hari akhir adalah dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, mereka berkumpul karenaNya dan berpisah karenaNya.
Pada postingan sebelum ini,saya menceritakan bagaimana saya bersyukur bertemu teman-teman baru yang menjadikan lingkungan saya lebih baik, dan menjadikan daya seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Pada cerita tersebut saya mengambil tiga dari sekian banyak teman baik saya untuk diceritakan, dan kemarin saya sudah sedikit bercerita tentang Abdul.
Melanjutkan cerita sebelumnya, sekarang saya akan ceritakan sosok Putra dan Bagas. Di mata saya Putra adalah orang yang bisa keras menjaga keimanannya. Keras kepada dirinya sendiri, dan melunak kepada orang lain. Diantara kami, dialah yang paling suka mengingatkan untuk solat berjamaah. Kalau sudah adzan berkumandang, sebentar lagi Putra akan bilang "kuy sholat kuy".
Pendekatan terbaik untuk dia belajar Islam adalah lewat komedi, karena dia menyukai standup comedian seperti Pandji dan Raditya Dika tentu hadirnya ceramah Ustadz Somad di youtube membuatnya mengagumi sosok ustadz tersebut.
Suatu hari kami di ruang studio arsitektur dan dia terlihat asik mengerjakan tugas akhir sambil mendengar sesuatu dengan earphone. Sedikit iseng, saya tarik plug earphone dari jack laptopnya dan ternyata dia sedang mendengarkan ceramah ustadz favoritnya. Itu karena di studio sedang ramai orang, maka ia menggunakan earphone supaya tidak mengganggu yang lain. Tapi bila hanya kami berempat dia akan nyalakan itu keras-keras, mungkin supaya jin di studio juga ikut ngaji.
Selanjutnya Bagas, beberapa temen lain mengira Bagas adalah orang yang pendiem, tapi bagi saya sebetulnya dia orang yang asik. Apalagi saat berdiskusi, tentu sangat tidak terlihat sebagai orang yang pendiam.
Diantara kami, Bagas lah orang yang paling rajin menghapal Al-Quran. Pernah saat kami di masjid agung jawa tengah, ia mengaku masih menghapal surat Al-A'laa, tetapi tiga bulan kemudian dia sudah menghapalkan full juz 30. Bagian ini lah saya sedikit iri, karena hapalan saya sudah buyar amburadul entah hilang kemana hehehe.
Bukan hanya rajin menghapal, diam-diam dia suka menyendiri untuk tadarrus Al-Quran. Kemana-mana ia akan membawa Al-Quran dan menyempatkan diri untuk membacanya. Entah bagaimana bisa, dari sekian teman yang kesulitan mencari Bagas, saya selalu dengan mudahnya tau dimana dia berada.
Jadwal rutin dia Ramadhan terakhir adalah pagi masih di rumah, siang dia mulai menuju kampus tapi singgah dulu di masjid kampus untuk tadarrus. Setelah dzuhur baru ia ke studio arsitektur untuk mengerjakan tugas akhir, nanti menjelang buka puasa ia akan pergi lagi ke masjid untuk mendengarkan kajian dan mencari takjil untuk berbuka. Kemudian tadarrus lagi sampai Isya, baru setelah terawih dia akan ke kampus lagi untuk mengerjakan tugas akhirnya lagi.
Dia baru akan pulang dari kampus biasanya jam 10 malam, bahkan beberapa kali menginap di kampus. dan kalau diantara waktu malam itu ada yang mencari dia karena dia suka tiba-tiba menghilang, saya akan suruh orang itu mencari di ruang sebelah, dia pasti disana sedang curi-curi waktu untuk tadarrus di sela pikiran stress karena tugas akhir. Dan kalau dia menginap, tepat jam 2 pagi ia akan kembali menghilang, tapi kali ini bukan di ruang sebelah, melainkan di musholla, ia sedang sholat malam.
Itulah mereka tiga dari sekian banyak teman saya di kampus yang membawa saya pada lingungan baik, dan memotivasi saya untuk menjadi orang baik juga.
Kami beberapa kali ngaji bareng, kami tau bahwa salah satu dari kami akan langsung masuk surga, dan kami berpesan kepada masing-masing.
Kalau suatu nanti kalian tidak mendapatiku di surga, cari aku di neraka. Angkat aku dari sana, dan katakan pada malaikat bahwa Tuhan selalu menepati janjinya.
Cinta terbesar adalah cinta milik seorang saudara kepada saudaranya yang lain di jalan Allah, keduanya berkumpul karena Allah, dan berpisah karena Allah.
Saat ini kami sudah berpisah karena takdir Allah, saya kembali ke Tangerang, Putra sedang berjuang membangun karir di Jogja, Bagas dan Abdul merantau ke Bandung. Kabar terakhir kos Bagas dan Abdul berdekatan, mereka masih rutin mengikuti pengajian di masjid Salman ITB, dan mereka juga sekarang sudah mendapatkan guru tahfidz yang membimbing mereka untuk menghafal Al-Quran.
Dulu saya enggan merantau karena takut kehilangan lingkungan yang baik, tapi karena percaya pada Allah bahwa kalau kita pergi untuk mencari ilmu maka Allah akan memberi ganti yang lebih baik, dan terbukti bahwa Allah memberikan mereka kepada saya. Saya sangat mensyukuri nikmat tersebut, semoga kalian juga akan segera mendapati teman dan lingkungan semacam itu. Aamiin Allahumma Aamiin
@ceritacita @pcltelor @fadhila-trifani @mathmythic @adhit21