Gadis Yang Menari Dalam Hujan
Aku berlari kecil menuju halte terdekat karena hujan yang tiba-tiba turun. Kemeja kuningku telah basah sebagian, lalu kuusap agar sebagian air yang belum terserap sempurna jatuh dari kemejaku. Beberapa orang yang terlambat berteduh telah basah kuyup karena hujan. Kuedarkan mataku ke sekeliling komplek kantor terdekat. Mataku berhenti pada seorang gadis berkaos merah dan bercelana pendek yang sedang berdiri di depan sebuah kantor. Ia membawa sebuah payung besar dengan motif bunga berwarna biru. Aku berpikir sejenak apa yang ia lakukan disana.
Tak lama kemudian seorang pria keluar dari pintu masuk perusahaan itu, berbicara sebentar dengan si gadis, lalu berjalan berdua menuju halte tempatku menunggu. Beberapa menit kemudian mereka telah berada di depanku. Pria itu memberikan uang lima ribuan dan secarik kertas. Dan pikiranku menduga-duga sesuatu yang tak baik. Gadis itu kemudian berlari kembali ke depan kantor. Menunggu orang lain yang mungkin dapat memberinya selembar uang lima ribuan.
Sebuah bus kota yang mengarah ke rumah sewaku berhenti di halte. Aku berpikir sebentar, dan mengurungkan niatku untuk menaiki bus itu. Aku kembali duduk di bangku halte. Setelah bus itu melaju pergi, gadis itu kembali nampak di seberang. Seorang wanita kini ada bersamanya, berbicara sebentar kemudian berjalan beriringan menuju halte. Beberapa menit kemudian, mereka telah ada di depanku. Wanita itu memberikan selembar lima ribuan. Gadis itu mengucap terimakasih lalu mulai beranjak. Sebelum ia melangkahkan kakinya, tanganku telah menggenggam tangan kirinya yang bebas tak membawa payung. Sontak dia tertarik ke belakang dan segera menolehkan kepalanya.
"Ah Tuan, ada yang perlu saya bantu?" Katanya seraya tersenyum.
"Ya, tolong antarkan aku ke kedai di seberang jalan sana" jawabku.
"Dengan senang hati Tuan" jawabnya dengan mata yang berbinar. Aku tak menyangka, sebuah permintaan tolong dariku dapat membuatnya sebahagia ini.
Kami berjalan beriringan, kemudian aku mulai memperhatikannya. Rambutnya ternyata ikal dan ia mengikatnya sembarangan. Ia tak memakai anting seperti kebanyakan gadis lain. Ia hanya mengenakan sandal kusam berwarna biru.
"Kau, rumahmu dimana?" Tanyaku memecah keheningan diantara kami.
"Ah di kelurahan sebelah, Tuan" aku sedikit mengernyit tapi tak bertanya lebih lanjut.
"Lalu mengapa kau jadi seorang ojek payung?" Tanyaku lagi, aku sebenarnya takut untuk menanyakan hal yang bagiku sedikit privasi ini. Kugigit sebelah bibir bawahku menunggu jawaban darinya. Dia tidak berhenti berjalan, tidak mengubah ekspresinya dari riang menjadi sedih, melainkan dia sedikit tertawa, renyah, suara tawanya membuatku sedikit terpesona. Lalu ia menjawab,
"Tuan, aku menyukai hujan. Bagiku menjadi seperti ini, adalah penghiburan. Aku merasa seperti menari dalam hujan" jawabnya, singkat tapi ia sepertinya enggan menjawab lebih lanjut.
"Kau, selalu ada di jalan ini setiap hujan?" Tanyaku polos. Entah kenapa gadis ini menarik perhatianku. Dia berpikir sejenak.
"Tidak selalu Tuan. Tapi seringkali aku memilih jalan ini"
"Baiklah, jika hujan turun kau harus menungguku di depan kantor itu" kataku seraya menunjuk gedung tempatku bekerja. Ia sedikit kaget, kemudian agak gelagapan menjawab,
"Ah ya Tuan, siap. Akan saya usahakan" jawabnya.
Beberapa minggu kemudian,
"Apa yang sebenarnya membuatmu memilih pekerjaan ini?" Tanyaku pada suatu hari ketika hujan turun. Kami berjalan beriringan.
"Pekerjaan ini bukan pilihan Tuan. Aku harus melakukannya, selain karena aku menyukainya" ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, "Tuan, apakah Tuan pernah berpikir tentang mimpi terbesar yang Tuan miliki? Aku dilahirkan di keluarga yang sederhana, tapi aku tak memiliki mimpi yang hanya sederhana. Bagiku, mimpi inilah yang menjadi motivasiku untuk selalu menjadi seseorang yang ceria dan bersyukur. Orangtuaku memang tak menyuruhku untuk menari dalam hujan, tapi inilah yang bisa kulakukan kini" ia menutup penjelasannya malam ini. Ia tak menyebutkan apa mimpinya yang tak sederhana itu. Namun beberapa saat kemudian ia melanjutkan,
"Tuan, aku ingin sekali menjadi pendidik. Namun bukan sekedar pendidik, aku ingin menjadi yang terbaik. Pendidik dengan wawasan yang luas. Aku ingin bersekolah di negara dengan kualitas pendidikan yang terbaik" katanya. Aku terdiam sebentar,
"Kau, berapa umurmu sekarang?" Tanyaku to the point. Aku sadar gadis sepertinya sangat jarang kutemui. Akupun berasal dari keluarga yang sederhana, jadi ibuku pun akan sangat menyukainya ketika suatu saat mereka bertemu.
"Eh? Delapan-belas Tuan" jawabnya dengan mata yang menyiratkan tanda tanya. Aku kemudian tersenyum.
"Oke" jawabku singkat. Ia tetap dengan tatapannya itu, seperti dalam hati ia bilang 'i have no idea what this man talking about'. Rasanya aku ingin tertawa setiap kulihat kembali tatapan matanya itu, tapi aku mengabaikannya.
"Baiklah, sampai disini saja. Kau istirahatlah dan pulang" kataku kemudian melambaikan tangan padanya dan berlari menuju bus yang sudah berhenti di halte.
Selama beberapa bulan hujan selalu turun setiap malam, sehingga aku selalu menghabiskan malamku bersama gadis itu. Kadangkala aku mengajaknya makan malam di warung tenda pinggir jalan atau hanya sekedar menyesap wedang untuk menghangatkan badan kami.
Malam-malam itulah yang membuatku bersemangat menceritakan kisah-kisah motivasi untuk membuatnya semakin bersemangat untuk meraih mimpinya yang tak sederhana itu. Sesekali pada suatu malam ia menceritakan beberapa masalah yang sedang ia hadapi dan menanyakan pendapatku. Semakin sering bersamanya, semakin tertarik pula aku padanya. Seorang gadis muda dengan semangat yang tak pernah meredup dan keyakinan yang mantap akan janji masa depan yang lebih baik.
Musim hujan tak akan selamanya berlangsung, akan tiba masanya ia akan berganti. Hingga suatu malam langit sangat cerah dan begitu pula malam-malam seterusnya. Aku tak sempat mengucap pisah dengan gadis itu dan aku tak pernah bertemu dengannya lagi setelah itu.
Aku berada di ruang meeting saat mendapat sebuah email yang selama beberapa tahun ini kutunggu. Aku telah dipindahkan ke kantor cabang dan diangkat sebagai seorang CEO disana. Saat itu aku hanya menyodorkan selembar kertas dengan alamat emailku pada gadis itu. Berharap suatu saat ia menghubungiku.
Apakah Tuan ingat dengan seorang gadis yang menari dalam hujan? Andai kita bertemu, aku akan tertawa mengingat malam-malam selama beberapa bulan yang kuhabiskan bersama Tuan.
Maafkan aku yang tak punya keberanian menghubungi Tuan. Jika hari ini aku berhasil meyakinkan diriku untuk menghubungi Tuan, itu artinya perasaanku telah mengalahkan egoku.
Terimakasih banyak Tuan, karena malam-malam yang kuhabiskan bersama Tuan membuatku semakin bersemangat untuk meraih mimpiku. Karena Tuan pula aku hampir menyelesaikan studiku disini. Aku akan segera kembali ke Indonesia. Tentu aku akan mencari Tuan ketika aku pulang nanti. Sudikah Tuan bertemu denganku?
Sungguh, aku sangat bahagia. Seusai meeting, aku langsung memesan tiketku untuk terbang ke Finlandia malam ini juga. Aku tak peduli aku akan tersesat disana. Sudah kuputuskan, akan kutemukan kau bagaimanapun caranya.