masa lansia seharusnya menjadi golden age kita kelak.
Ketika mendengar frasa ‘golden age’, rentang usia mana yang kamu pikirin? Di usia 0–7 tahun yaa Bun biasanya kita didengungkan seperti itu.
Nah, namun, percayakah bahwa golden age ialah juga ketika kita berada di penghujung usia? Di usia 70 tahunan, mungkin?
Coba deh bayangin, kalau diberi usia hingga 70 tahunan, diri kita pada saat itu sedang asyik ngapain sih?
Berbicara soal standar, yaa paling ditandai dengan masa anak-anak yang mulai membangun rumah tangga mereka sendiri, kemudian beberapa di antara kita berhenti bekerja, kegiatan menjadi lebih pasif — yaa barangkali berkebun, dititipi cucu, nonton televisi, dan kegiatan slow mode life lainnya.
Apakah itu impian masa tua Andahh? Maka mari bergabung bersama Prundent*al!~~ Wgwg. Nggading. Tapi, to be honest, bukan seperti itu masa tua yang saya inginkan.
Webinar Ahad Movement seminggu lalu menguatkan prinsip dan impian akika sejak lama: bahwa jika diberi usia hingga lanjut, saya bukan tipe yang akan menjalani kehidupan pasif — saya insyaallah akan tetap aktif berkontribusi dalam lingkup masyarakat. (Mamak-mamak BM dan ambi sedari lahir macklum :p)
Mungkin simpelnya, mirip kayak Joe Biden yang di usianya yang udah eyang-eyang (78 tahun bunn), eh, kepilih jadi Presiden AS. Atau kayak Almarhumah Ibunda Jokowi (walau bukan fans, ehe) — yang tetap jadi advisor politik informalnya Jokowi sampai akhir hayatnya. Atau ustadh-ustadh deh kayak Gus Mus, misal, atau Aa Gym. Atau yang paling bener Rasulullah SAW yang masih tetap aktif berkontribusi di akhir hayatnya.
Intinya, di usia senjakala saya kelak (aamiin), saya ingin semakin menguatkan apa-apa yang sudah saya investasikan di sepanjang hidup saya, bersama dengan suami dan keluarga kecil kelak.
Adalah perkataan Ustadz Adriano Rusfi tentang golden age, yang mana saya akrab menyebutnya dengan panggilan Bang Aad. Dalam webinar Ahad Movement “Sistem Pendidikan Islam” (25 Februari 2021) beliau berujar, bahwa sepatutnya, dari hari ke hari amal shalih kita semakin gemilang. Bang Aad juga mengutip sebuah pepatah “Sungguh merugi jika hari ini lebih buruk atau bahkan sama dengan hari esok.”
Bang Aad juga menambahkan, bahwa ada tiga fase dalam pendidikan Islam (yang mana menurut saya ini universal pattern gitu, lho).
Di usia 0–15 tahun, ialah tahap untuk character building (membangun karakter) agar melahirkan manusia-manusia yang mukallaf (mampu diberi amanah), aqil baligh (kematangan akal sejalan dengan kematangan fisik), dan paham akan potensi dirinya. Istilahnya, value dasar seseorang harusnya kebentuk ya di masa ini.
Di usia 15–40 tahun, ialah tahap capacity building. Capacity building ialah masa dimana seseorang membangun kecakapan dan keahlian, untuk mampu mengaktualisasi diri dan potensi. Kalau yang saya tangkap, di masa ini kita berupaya mengasah jurus-jurus andalan yang sesuai dengan potensi diri.
Nah, ini dia. Life begins at forty. Pada usia di atas 40 tahun, sepatutnya menjadi fase Success Making alias membangun golden period dengan optimalisasi kinerja dan kemanfaatan untuk akhir hidup yang baik. Inilah fase dimana seseorang berada di peak performance dalam hal kebermanfaatan.
Bang Aad mendasari pendapatnya ini dari usia diangkatnya Muhammad bin Abdullah menjadi Rasulullah SAW, yakni 40 tahun. Selain itu, sepertiga waktu terakhir baik dalam hari, tahun, serta bulan Ramadhan — adalah sepertiga sisa waktu yang mengandung lebih banyak keberkahan.
Pertanyaannya, kalau sebelum 40 tahun udah berhasil, emang kenapa?
Ini juga sempat jadi salah satu track playlist pemikiran (cuileh) di otak saya, jauh sebelum Bang Aad memaparkan pendapatnya soal golden period dalam hidup manusia.
Saya jadi teringat pernah baca buku Originals, dari Adam Grant. Dalam bab “Fools Rush In”, justru orang-orang yang sukses di usia 20 tahunan, akan cenderung ‘kehabisan energi’ untuk meramu inovasi/sesuatu yang produktif dan kreatif. Tokoh-tokoh lain yang menginvestasikan pembentukkan kapasitas diri sebelum mereka berusia 40 tahun — cenderung nantinya akan menciptakan ‘breakthrough masterpiece’ yang terus menerus evolving ketika usia mereka mencapai 40 tahun.
Ada juga semacam sindrom being trapped-professional (Ini istilah saya aja, ya, disarikan dari pendapat Adam Grant). Kayak, “Gue udah terlanjur dikenal berhasil dalam bidang ini.” Terus jadi agak sulit untuk menciptakan inovasi yang breakthrough di penghujung usianya.
Sedangkan yang nge-delay success making-nya sampai usia 40, sudah menampung dan tahu pasang surut kehidupan — jadi bisa menavigasikan ilmu-ilmu kehidupan serta potensi dirinya untuk menciptakan sesuatu yang aduhay.
Mungkin bisa, si 20 tahunan yang udah berhasil ini, berhasil lagi, tapi barangkali butuh energi yang guede banget dan kuasa Yang Maha Kuasa ya.
Terus, kalau akika punya impian ketika udah tua ntar mau urus cucu, home-based grandpa/grandma — emang ngga bole?
Sebenarnya nggak ada larangannya juga kali ya, jikalau memang kelak mau jadi home-based elder— jadikan keberadaan kita di masa tua jauh lebih bermanfaat, tidak membebani orang-orang di sekitar kita. Dan sebenarnya, banyak juga ya, komunitas-komunitas di masa tua yang bikin kita semakin terenergikan — kayak banyak juga kaan komunitas-komunitas yang suka adakan acara sosial.
Sing penting hari ini harus lebih baik dari hari kemarin! Insyaallah.
Wallahu’alam.***
Ilustrasi dari sini.