Tak ada jawaban, adalah jawaban itu sendiri
dew
KIROKAZE
almost home
đ©” avery cochrane đ©”
NASA

⣠Chile in a Photography âŁ

@theartofmadeline
he wasn't even looking at me and he found me

tannertan36
Game of Thrones Daily
Keni
Claire Keane

Product Placement
The Bowery Presents
Misplaced Lens Cap
d e v o n
hello vonnie
todays bird
macklin celebrini has autism
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

bliss lane
seen from United States

seen from Malaysia

seen from France

seen from Indonesia
seen from United States

seen from United Arab Emirates

seen from United States
seen from Germany
seen from Nigeria
seen from United States
seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
@dewiiqu-blog
Tak ada jawaban, adalah jawaban itu sendiri
dew
Seni Menolak Orang
Seni menolak pinangan dan yang semacamnya adalah dengan tidak basa-basi tapi tetap menghargai.
Banyak perempuan tampaknya kesulitan dalam menolak lelaki, dan mungkin juga sebaliknya. Barangkali karena takut menyakiti atau menyinggung perasaan.
Di saat seperti ini, menjaga perasaan orang bukan lagi hal yang paling penting. Karena yang paling penting adalah menghilangkan zona abu-abu yang bisa saja jadi multitafsir dan memberikan harapan.
Saat kamu bilang, âMaaf, saya belum bisa terima?â Orang tersebut akan berpikir, âBelum? Kenapa belum? Berarti masih bisa diusahakan dong? Gak bisa? Berarti mau? Tapi suka kan? Ah, masih ada harapan sepertinya.â
Maka penting sekali untuk memberi jawaban yang lugas, jelas, dan tidak mengundang banyak pertanyaan. Seperti:
âMaaf, saya gak suka dan gak mau sama kamu.â
âMaaf, saya sudah ada calon. Tolong hentikan ya.â
Disini tujuanmu adalah menolak dan tidak memberi harapan. Soal menjaga perasaan, perkataan yang paling lembut sekalipun tidak akan mampu melindungi perasaannya dari perihnya ditolak.
Justru, mengutarakan penolakanmu selugas-lugasnya akan menjaga perasaannya dalam jangka panjang, sebab dia bisa lebih cepat pulih selepas harapan dan usahanya pupus dari mendapatkanmu.
Sampai disini, paham?
Mampang Prapatan | © Taufik Aulia
Jadi, sepertinya bukan hanya perempuan yang membutuhkan sebuah kepastian, pun lelaki juga sangat membutuhkan.
Monggo dibaca, âSeni Menolakâ ini.
Satu yang masih saya pertanyakan, kediaman seseorang. Apakah ia diam karena ia takut melukai hati? Jika itu, menurut saya jauh lebih baik penolakan itu diutarakan dan disampaikan, karena bagaimanapun juga, orang lain tak akan tahu apa isi hati kita, bukan?
Karena yang paling penting adalah meniadakan zona abu-abu.
Kamu & Senja
Ada senja di balik jendela. Kutanya ada perlu apa, sekadar singgah jawabnya.
Miliki aku sesukamu. Tapi jangan tinggalkan aku sebagaimana senja yang baru saja berlalu.
Aku tak sedang menggoda. Aku sedang kecewa. Kepada senja, yang meninggalkanku selepas matahari tiada.
Beruntunglah senja, masih kuperkenankan ia datang dan pergi sesukanya.
Sialnya, jika itu kamu. Cobalah tinggalkan aku sekali saja, maka tak akan ada lagi pintu kembali bagimu.
Mampang Prapatan | © Taufik Aulia
Sekali saja, dan kau takkan kuijinkan melangkahkan kaki menujuku.
Senyatanya doa yang kau ucap, Setingginya harap yang kau buat, Kau tahu pada siapa harus digantungkan, Penciptamu yang Maha Hebat.
Dew (via @dqyara.id on instagram)
Hampir Senja.
Janji pasti di setiap waktu, senja akan datang, dan terserah kamu akan menunggunya atau melewatkannya.
Napak Tilas (060219) Bagian 1
Well, mau mencoba seperti blog sebelah yang bercerita atau sekadar review atau mengulas sesuatu hal, biar gak melulu isinya cerita fiksi mehehehe
Pagi itu, pukul 05.45, saya kayuh sepeda lawas saya (ini sepeda sejak jaman SMP fyi) napak tilasi jalanan yang dulu rutin saya lalui ketika bangku menengah pertama. Dulu, sepagi itu saya sudah berangkat bersama seorang teman, namanya Dana, sekarang beliau sudah punya dua bayek (jangan bertanya kapan giliran saya) jadi saya ndak mungkin ajak dia mengayuh sepeda bersama. Sekolah saya berjarak kurang lebih 7 km dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dengan kecepatan selow. Memang cukup jauh, letaknya di Boyolangu diapit dua sekolah menengah atas -Madrasah Aliyah-, sebelah timur lagi ada Pasar Pahing yang selalu ramai ketika pasaran pahing, ramai dengan banyak ternak. Daaaan kebetulan hari itu adalah pahing, jadi sepanjang perjalanan saya kesana banyak motor, mobil box hingga truk yang mengangkut ternak mereka yang akan dijajakan.
Pukul 05.50, saya melewati Ringinpitu, dulu di daerah ini saya selalu berpapasan dengan banyak anak sekolah menengah pertama yang akan berangkat ke sekolah mereka masing-masing, tentu saja bersepeda. Sepagi itu, saya hanya berpapasan mungkin hanya 10 hingga 20 anak yang bersepeda. Time flies too fast, and people changed. Sekarang sangat sepi pesepeda yang pergi ke sekolah, kebanyakan mereka memilih mengendarai motor, mungkin karena lebih tak memakan waktu dan jarak menjadi tak terlalu berarti. Agak sedih sebenarnya, karena setiap kuliah sarjana dulu selalu mendapat pesan, jika jarak yang kamu tempuh tak seberapa pilihlah kendaraan yang jauh lebih ramah lingkungan, mungkin karena pada era ini beban pencemaran akibat aktivitas transportasi telah sangat meningkat. Oh ya, selain itu sekarang disediakan bus sekolah dengan trayek jurusan tertentu oleh pemerintah daerah, ya sebuah pencapaian sih menurut saya. Sayangnya saya kurang tau mengenai info tentang bus sekolah ini, whether ini berbayar atau bagaimana (mungkin suatu saat bisa saya bahas :p).
Dari Ringinpitu, saya kayuh sepeda kearah barat menuju Kepatihan hingga perempatan Radio Joss saya harus berhenti karena lampu lalu lintas, dahulu disini tak ada lampu lalu lintas. Menurut saya tepat lampu lalu lintas ini dipasang karena di perempatan ini selalu ramai pengendara sehingga kadang banyak pengendara yang tak mau mengalah. Setelah perempatan, saya berbelok ke kiri menuju selatan hingga ke Boyolangu. Dulu, di Kepatihan ini, saya selalu berpapasan dengan seorang anak laki-laki berseragam SMPN 3, setiap pagi (betul-betul setiap pagi). Setiap berpapasan kami selalu saling lihat, hahaha, lucu kalau hal sepele ini diingat-ingat. Tapi pernah suatu ketika ia bermain kerumah teman sejak kecil saya (tetangga) yang ternyata adalah teman ia di sekolah, dan lagi-lagi kami hanya saling lihat (hahahahhaa :p). Oke, mari kita skip cerita ini.
Menuju arah Boyolangu, saya melewati sebuah desa, namanya Serut, di jalanan desa ini saya berpapasan dengan seorang bocah SD yang dapat membuat saya membelalakkan mata, karena kagum. Dari kejauhan ia kayuh sepeda beroda tiga, saya awalnya tak terlalu memperhatikan, tapi ketika ia semakin mendekat, nampak oleh mata saya bocah itu (mohon maaf) disabilitas. Entah karena kelilipan atau apa, mata saya berair. Saya bayangkan betapa ia sangat hebat dalam memotivasi dirinya sendiri. Sepagi itu, ia berangkat menuju sekolahnya untuk menuntut ilmu, tanpa diantar orangtuanya. Bukankah sangat hebat kemandirian bocah itu?Â
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. 55:13)
Semoga Allah berikan hidup yang baik untukmu. Amiiin
Lanjut menuju Boyolangu, saya temukan banyak hal yang telah berubah selama kurang lebih 13 tahun ini. Rumah teman saya, Faisal, cat nya sudah ganti warna (jangan lawak!) namun tak pindah, tapi entah dia masih menempati rumah itu atau tidak. Rumah sebelahnya, Nia, juga tak banyak berubah. Oke saya masih bisa mengingat nama teman sekolah menengah pertama beserta rumahnya (alhamdulillah). Selain itu banyak toko-toko yang dulunya ada kini tiada dan sebaliknya. Contohnya, tempat rental komputer dan jasa pengetikan kini telah lenyap, saya yakin siswa-siswa sekarang menganggap laptop dan notebook bukan hal mewah, dulu jaman saya menjadi siswa menengah pertama dua barang itu amat sangat mewah, jangankan kedua barang itu, handphone saja sudah merupakan barang mewah. Lalu, di sebelah kiri jalan, dulu merupakan toko penyedia jasa cetak foto dan kini telah menjadi toko kue. Wow banting setir yang cukup ekstrim, tapi jika melihat waktu 13 tahun mungkin hal itu lumrah. Oh ya, dan satu lagi yang berubah. Nama sekolah saya ternyata juga diganti, sekarang ada angka 1 diantara MTsN dan Tulungagung. MTsN 1 Tulungagung.
Bersambung...
Hati Seluas Samudra
Oh Allah
Jadikan hatiku seluas samudra
Agar ketika badai, aku tak terhempas karena hebatnya
Oh Allah
Jadikan hatiku seluas samudra
Agar ketika banyak orang melemparkan batu, aku sama sekali tak merasakan sakit
Oh Allah
Jadikan hatiku seluas samudra
Agar setiap harapan yang tak sesuai takdirMu, selalu ada penerimaan yang ikhlas
Oh Allah
Jadikan hatiku seluas samudra
Agar setiap kehilangan, tak mengurangi imanku padaMu
3 Maret 2016
Ayahmu tak pernah mendidikmu untuk menjadi seorang pendendam! Berbuat baiklah, karena sesungguhnya kamu sedang berbuat baik untuk dirimu sendiri
Dew (via @dqyara.id on instagram)
Jadi, kamu harus siap ketika aku tak menjadikanmu nomor satu.
Nanti, jika surga-ku pun bisa kudapatkan melaluimu, tolong mengertilah konsep ini sebagai landasannya. Kita bertemu, bersama, hanya karena Dia.
FAITH
Surabaya, 3 Juli 2015
Aku menarik koper berukuran besar menuju check in counter dan langsung menunjukkan bukti pemesanan tiketku kepada petugas. Beberapa menit kemudian aku sudah berada di ruang tunggu, menunggu penerbangan pertamaku menuju Jepang. Selang beberapa menit, handphoneku bergetar dan terpampang nama seseorang yang setahun ini telah menjadi spesial bagiku.
âAda apa?â kataku singkat.
âApa kau sudah pergi? Bolehkah aku menemuimu sebentar saja?â katanya, aku menangkap adanya rasa menyesal disana.
âAku tak bisa, pesawatku akan segera take offâ
âMaafkan aku, aku menjadi pengecut sebelumnya. Berpikir bahwa aku tak sanggup melepasmu. Aku akan menunggumu kembaliâ katanya. Suara petugas terdengar menginformasikan semua penumpang untuk segera menuju pesawat, hampir semua penumpang segera beranjak menuju pesawat, aku terdiam sebentar.
âBaiklah, aku harus segera pergi. Terimakasihâ kataku memutus percakapan dan menutup sambungan telepon.
Bukan hanya ia yang menjadi pengecut, aku merasa akulah pengecut yang sesungguhnya. Aku tak ingin melihatnya dan mengurungkan niatku untuk pergi. Memiliki seorang tunangan tak harus menjadikan aku lupa terhadap mimpiku. Aku telah lama menunggu kesempatan ini hingga akhirnya aku benar-benar mendapatkannya. Sepanjang perjalanan, aku masih mempertanyakan apakah aku telah mengambil keputusan yang baik bagi kami berdua. Aku mulai melamunkan hal-hal yang telah berhasil kami lalui selama satu tahun ini. Lamunanku bermula dari pertemuan pertamaku dengannya di sebuah event seni di Jakarta.
Í...
Jakarta, 9 September 2013
Mataku mengedar ke seluruh ruangan dimana semua karya seni dipajang, mengagumi setiap hal kecil yang ada disana. Aku mulai berjalan, berkeliling dari satu titik ke titik lain mencoba memahami karya-karya itu, dan seringkali aku gagal memahaminya. Kukeluarkan kamera kecil milikku, mencoba memotret karya-karya yang menurutku indah. Aku terbiasa sendiri, melakukan hal-hal sendirian lebih menyenangkan bagiku.
Aku berjalan menuju sudut ruangan, dan tanpa sengaja seorang pria menumpahkan cairan berwarna hijau ke kemeja putih gadingku. Aku terdiam sebentar, mencerna peristiwa yang baru terjadi.
âAh! Maafkan aku, aku sungguh tak sengaja Nona. Mari ikutlah denganku sebentar, aku akan mencarikan pakaian ganti untukmu, mungkin panitia penyelenggara memilikinyaâ katanya panik menatapku dengan perasaan bersalah.
âOh tak apa, sungguhâ kataku, dan mulai menyadari siapa pria di hadapanku ini.
âSungguh Nona, ikutlah denganku sebentar saja. Aku berjanji ini tak akan memakan waktu lamaâ katanya masih bersikeras membujukku.
âBaiklahâ kataku akhirnya, dan mulai mengikuti langkahnya yang agak panjang menuju bagian samping gedung.
Pria itu mulai sibuk bertanya pada panitia tentang apa yang ia mau, jelas saja panitia dengan sigap memberinya selembar blouse berwarna biru muda dengan corak bunga sakura. Tak lama ia membalikkan badannya dan memberikan kain itu padaku.
âNona aku sungguh mohon maaf karena telah mengotori kemejamu, jika kau tak keberatan aku bisa membersihkannya untukmuâ katanya benar-benar menunjukkan penyesalan.
âOh sungguh tak perlu cemas Tuan, aku bisa membersihkannya sendiriâ
âBaiklah, ini kartu namaku, jika kau membutuhkan apapun, jangan ragu untuk memintanya padakuâ katanya sembari mengulurkan kertas kecil bertuliskan nama dan informasi tentang dirinya.
âBaiklah terimakasih Tuanâ aku menerima kartu itu dan pamit untuk mengganti bajuku.
Aku tak pernah tahu jika pria itu lah yang akan menjadi duniaku nantinya. Aku hanya menganggap itu hanyalah pertemuan biasa tanpa makna, tanpa perkenalan, tanpa maksud apapun.
Í...
Tokyo, 31 Desember 2015
âBagaimana kabarmu? Apakah kau sehat?â kata suara di seberang.
âAku sehat, bagaimana denganmu? Apa kau merindukanku?â
âKau tahu kau tak perlu menanyakan itu. Aku baik. Apa yang kau lakukan disana saat tahun baru begini? Apa kau hanya berdiam diri di apartemenmu tanpa merayakan pergantian tahun?â
âKau mengenalku, kau juga tak perlu menanyakan ituâ dia tertawa mendengar jawabanku, dia tahu apa yang selalu aku lakukan di malam tahun baru.
âBaiklah, baiklah. Apa kau mau mendengar ceritaku seperti tahun-tahun sebelumnya?â
âKau tak perlu bertanyaâ dia tertawa lagi dan memulai ceritanya.
Kami selalu menghabiskan malam pergantian tahun bersama sejak pertemuan pertama kami dulu. Menyeduh coklat panas dan bercerita, lebih tepatnya aku mendengarkan ceritanya. Ia adalah seorang seniman, pelukis dan juga pendongeng ulung bagiku. Karena apapun yang diceritakannya selalu menarik segenap perhatianku.
Malam ini ia menceritakan seorang penjual kayu bakar yang selama hidupnya ia dedikasikan untuk membangun sebuah sekolah kecil untuk anak-anak di kampungnya. Mungkin bagi orang lain yang tak mendengarkan langsung darinya akan mengira ini cerita yang biasa, tapi jika mendengar langsung dari bibirnya yang mendongeng, hal ini bukanlah hal yang sederhana.
Selepas menelepon selama hampir tiga jam, aku beranjak menuju tempat tidur dan menarik selimut tebalku karena diluar sana turun salju. Namun mataku tak bisa terpejam, sama sekali. Tadi pagi, seorang teman dari Jakarta mengunjungiku dan dia berkata akan tinggal di Tokyo sementara waktu. Tentu itu bukan hal yang menarik bagiku, dan juga bukan hal penting. Tapi perkataannya tadi pagi membuatku terkejut dan tak tahu harus berekspresi seperti apa.
âAku tak akan melepasmu lagi kali iniâ katanya pagi tadi.
Aku tak mengerti apa yang ia pikirkan, bagaimana bisa ia berkata seperti itu ketika ia tau aku telah memiliki sesorang yang aku harapkan menjadi pendamping hidupku. Dan lagi, ia adalah salah satu saksi perjuangan kami untuk mendapatkan persetujuan dua keluarga. Aku tak berani menceritakan apa yang terjadi padanya. Entah apa yang akan terjadi ketika semuanya terungkap.
Í...
Surabaya, 5 Mei 2016
Aku sedang membaca sebuah buku di teras rumah, kebetulan aku mendapatkan libur satu minggu dari kantor dan aku memanfaatkan kesempatan ini untuk pulang ke tanah kelahiranku. Hari masih pagi, tapi sebuah mobil memasuki rumah dan seorang pria keluar dari dalam mobil. Ah pria favorit nomor duaku telah tiba.
âApa yang kau lakukan sepagi ini di rumahku Tuan?â kataku menyapanya dengan senyum hangat.
âTentu untuk bertemu denganmu Nona, kau sudah tau alasannya jadi kau tak perlu menanyakannyaâ dia mengerling.
Aku mengajaknya masuk dan sarapan bersama ayah dan bunda di ruang makan. Rutinitas seperti ini sudah biasa bagi kami, sayangnya belum ada pesta peresmian untuk mengumumkan pada dunia bahwa Tuan favorit nomor dua adalah milikku.
Suasana hangat yang sangat kurindukan, sudah hampir setahun aku tak merasakan kehangatan ini. Selama di Tokyo aku tak bisa bercengkrama dengan mereka. Namun tiap pagi ada seseorang dengan senyum hangat yang selalu mengajakku sarapan bersama sebelum berangkat ke kantor. Dan mereka tak pernah tau akan hal ini, terutama Tuan favorit nomor dua.
âBolehkah aku mengajak putrimu keluar ayah?â
âTentu saja Tuan, kalian pasti butuh waktu untuk membicarakan banyak hal sejak kalian tak bertemuâ ayahku lebih suka memanggilnya Tuan karena terlalu terbiasa mendengar panggilan itu dari bibirku.
Mobil melaju di jalanan kota, kebetulan hari ini bukan akhir pekan, jadi kami tak khawatir akan terjadi kemacetan. Kami ingin pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, tentu bukan untuk berbelanja, hanya untuk berjalan dan mengedarkan mata sambil bercerita sepuas kami.
âAku ingin membicarakan sesuatu denganmu Tuanâ kataku, aku berpikir inilah saatnya aku harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Tokyo.
âSilahkan Nona, agaknya ini masalah yang cukup seriusâ jawabnya dengan sedikit nada canda, entah ketika mendengarnya ia akan tetap bercanda atau malah amarah yang akan ada disana.
âSebenarnya, seseorang selalu memberikan perhatian padaku selama aku ada disana. Kebetulan ia dipindah tugaskan kesana oleh kantor tempatnya bekerja. Dan kau mengenalnya cukup baik. Mungkin sangat baikâ kataku, sedikit menggigit ujung bibir, takut. Tapi Tuan favorit nomor dua-ku tak mengubah ekspresinya, tetap dengan senyumnya dan aku tahu itu isyarat untuk melanjutkan ceritaku.
âDia berkata tak akan melepaskan aku untukmu kali iniâ kataku menutup kalimat, dan aku yakin ia akan terkejut atau bahkan marah.
âRhe, kau mengenalku sudah berapa tahun?â aku sedikit terkejut mendengar jawabannya. Aku hanya diam sedikit tak mengerti dengan ucapannya. Aku mengira ia akan sangat marah dan kecewa padaku karena aku memberikan peluang pada pria lain untuk memberiku kenyamanan.
âRhe, kau tak perlu cemas aku akan marah atau kecewa padamu. Aku selalu percaya padamu. Bukankah aku pernah bilang aku akan menunggumu kembali?â katanya lembut tetap dengan senyum dan tatapannya yang hangat.
âDan ini adalah sesuatu yang harus kamu putuskan Rhe, memilih untuk tetap kembali padaku, atau menerima orang itu dan menjalani hal baru dengannyaâ katanya dengan tenang.
Aku tak menyangka akan diberi dua pilihan, dan harus kuakui bahwa aku sebenarnya bimbang. Dua kemungkinan itu pernah aku bayangkan sebelumnya, hidup dengan Tuan favorit nomor dua, atau dengan teman kami dari Jakarta.
âRhe, kau tak perlu menjawabnya sekarang juga. Kau bisa memikirkannya dengan baik, aku tak memberimu batasan kapan kau harus memberiku jawaban. Dan kau harus tau, aku tetaplah aku, Rega. Aku akan tetap menghubungimu, bercerita padamu tentang hariku, berbagi dongeng yang aku simpan khusus untukmuâ jawabnya lembut, ia seperti bisa membaca pikiranku. Aku tak menjawab sepatah kata pun, aku malu padanya dan pada diriku sendiri.
Í...
Tokyo, 31 Desember 2016
08.00
Pagi ini ia mengajakku sarapan seperti biasanya. Kami berjalan menuju Taman Ueno di distrik Taito-ku, Tokyo. Entah ini sedikit disebut kencan atau tidak. Mungkin inilah salah satu caranya mendapatkan kesempatan dariku. Aku tak berbohong aku merasa nyaman ketika aku bersama dengannya, dan jelas ia juga menikmatinya. Sejak percakapan dengan Rega waktu itu, ia tak pernah merubah sikapnya terhadapku. Itulah yang membuatku merasa semakin bersalah terhadapnya, dan jika aku berlanjut menerima kebaikan pria ini, sungguh aku merasa tak tahu diri dan tak tahu malu.
Hari ini tekadku sudah bulat, aku akan membicarakan semuanya dengan pria yang berjalan disampingku ini. Menjelaskan segala kemungkinan yang akan terjadi dan kebaikan serta keburukan pilihanku. Aku berharap ia akan menerima apapun pilihanku nantinya.
23.00
âTuan, aku akan kembaliâ kataku singkat di telepon.
âAku akan menunggumu Nonaâ jawabnya.
Aku menahan air mata sebisaku, aku merindukan Tuan favorit nomor dua-ku, sangat merindukannya.
Í...
Surabaya, 27 April 2017
âNona, aku mencintaimuâ katanya berbisik di telingaku.
âKau tak perlu mengatakannya Tuanâ aku tersenyum.
Kami tak menyadari sedari tadi kami telah menjadi pusat perhatian di pesta ini. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak kami bersamaan.
âHey! Kalian berdua adalah bintangnya malam ini. Jangan asik berbisik-bisik sendiriâ kata orang itu sambil tertawa. Dia dengan seenaknya menarik tangan kami berdua menuju tamu-tamu yang sedari tadi ingin mengajak kami bercakap-cakap.
âRega, Rhea selamat ya, akhirnya setelah sekian tahunâ kata salah seorang teman kami.
âIya, andai saja Nona ini mau menikahiku sejak duluâ kata Rega sambil meledek ke arahku. Aku hanya tertawa menanggapinya.
Malam tahun baru itu, aku langsung memesan tiket untuk penerbangan pertama ke Indonesia, aku pulang, aku kembali padamu Tuan favorit nomor dua-ku.
ÍÍFIN Â Í
Kukatakan pada fajar,
âKenapa kau tak pernah enggan memberikan keindahan?â
Jarak tak kasat mata itu, menyadarkanku bahwa tak ada lagi peta yang dapat membuatmu menujuku.
dew
Secangkir Teh Panas Dengan Potongan Jeruk Nipis (Part 1)
Aku akan menceritakan padamu tentang seorang gadis yang selalu memesan secangkir teh  panas dengan potongan jeruk nipis di dalamnya. Gadis itu selalu duduk di sudut kedai tepat di sebelah jendela yang menghadap ke jalan raya. Nanti kamu pun akan tahu apa yang sebenarnya ditunggu oleh gadis itu.
Í...
âKlintingâ bunyi bel yang terpasang di pintu kedai berbunyi ketika gadis itu memasuki kedai dengan baju sedikit basah. Ternyata rintik hujan diluar kedai telah menderas ketika ia melewati pintu. Gadis itu langsung menuju tempat favoritnya. Meja nomor 17 di sudut kedai tepat di sebelah jendela yang menghadap ke jalan raya.
Seorang pelayan datang padanya dan ia hanya melemparkan senyum dan mengangkat jari telunjuknya. Pelayan itu tersenyum dan segera berbalik untuk menyiapkan pesanan gadis itu. Tak lama kemudian, secangkir teh panas dengan potongan jeruk nipis terhidang diatas mejanya. Dia mengucapkan terimakasih dan langsung mengangkat cangkir itu. Gadis itu mencium aroma teh dengan potongan jeruk nipis itu sebelum menyeruputnya sedikit.
âHangatâ katanya dalam hati. Kemudian ia memandang kembali ke arah jalan raya yang tak terlalu banyak dilewati orang. Matanya hanya menatap ke satu titik di seberang jalan.
Tiba-tiba kursi di depannya tak kosong lagi. Seorang pemuda telah duduk dihadapannya tanpa ia sadari. Pemuda itu melemparkan senyum, dan gadis itu--seperti telah lama menanti kedatangan pemuda itu--membalas senyum itu. Mereka tak banyak berbicara, hanya sesekali bergurau sambil tertawa kecil. Gadis itu kemudian menceritakan apa yang ia alami hari ini. Pemuda itu mendengarkan dan sesekali menanyakan hal-hal kecil menanggapi cerita si gadis. Gadis itu tetap dengan pembawaannya yang kalem menceritakan banyak hal, tapi matanya sangat antusias dan ekspresif. Itulah yang dicari pemuda itu, rindu akan mata antusias dan ekspresif milik gadis itu.
Malam mulai turun dan hujan telah lama berhenti. Gadis itu selalu pulang sebelum pukul tujuh dan diikuti pemuda misterius itu yang perginya pun tiba-tiba. Gadis itu menuju kasir dan membayar tagihannya, selalu hanya secangkir teh panas dengan potongan jeruk nipis. Gadis itu mulai menjadi pelanggan tetap sejak hampir setengah tahun lalu. Menghabiskan waktu sorenya di sudut kedai dengan secangkir teh panas dengan potongan jeruk nipis. Entah sejak kapan semua pelayan kedai telah terbiasa dengan kehadirannya dan pesanannya yang selalu sama serta meja nomor 17 yang setiap sore selalu diisi oleh kehadirannya.
Í...
Beberapa minggu kemudian, gadis itu kembali lagi ke kedai, memesan pesanan yang sama, dan duduk di meja yang sama. Namun beberapa menit selanjutnya, seorang perempuan cantik berusia paruh baya memasuki kedai, duduk di seberang meja si gadis kemudian memesan secangkir teh panas. Mulai memperhatikan si gadis yang telah mulai memandang keluar jendela, terdiam sebentar, dan mengalihkan pandangan kearah kursi di depannya dan mulai berbincang dengan laki-laki itu.
Perempuan cantik paruh baya itu mendekati petugas kasir yang tak pernah digantikan orang lain dan bertanya,
âSejak kapan perempuan itu berkunjung kemari?â tanyanya sambil menunjuk pada meja nomor 17.
âKira-kira hampir enam bulan ini, Bu. Adakah yang bisa saya bantu?â tanya petugas kasir itu.
âOh tak apa, saya kebetulan mengenalnya dan ingin tahu kabarnya. Jadi saya mengikutinya kemari.â
Petugas kasir itu berpikir sebentar, ia merasa ada yang aneh ketika mengenal seseorang tapi tak menyapanya secara langsung. Tapi petugas kasir itu mengabaikan pikirannya dan menanggapi perempuan paruh baya tadi.
âOh gadis itu selalu berkunjung setiap sore tak pernah absen, Bu. Selalu memesan secangkir teh panas dengan potongan jeruk nipis. Kemudian akan menatap keluar jendela kemudian berbincang seolah ada orang.â Petugas kasir itu menjelaskan dengan sedikit perasaan heran akan apa yang selalu ia amati. Perempuan cantik paruh baya itu menggumam dan kemudian mengangguk pada petugas kasir lalu meminta bill untuk pesanannya kemudian membayarnya.
âTerimakasih ya.â Kata perempuan cantik paruh baya itu. Petugas kasir hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih atas kunjungannya datang di kedai tersebut.
Í...
Satu tahun yang lalu.
âBraaaakkkâ suara yang tiba-tiba terdengar sore itu memekakkan telinga, menarik perhatian setiap orang yang berada di sekitar jalan itu. Sebuah truk besar telah terguling di tengah jalan raya. Para pejalan kaki berteriak ngeri melihat kejadian yang seperti dalam film tersebut. Mereka saksi hidup kejadian yang menyebabkan beberapa nyawa hilang itu.
Pelayan kedai-kedai sepanjang jalan itu berhamburan keluar untuk menolong orang-orang yang terluka. Mereka melihat beberapa orang yang terjepit kendaraan, segera saja mereka mencoba mengeluarkan korban-korban itu. Hingga akhirnya ambulans, pemadam kebakaran, dan pihak kepolisian datang dan segera melakukan evakuasi. Beberapa jam setelahnya, para korban sudah diangkut ke rumah sakit oleh tenaga medis, tapi truk itu masih melintang di jalan sehingga memutus jalur transportasi jalan. Semua kacau hari itu.
Kecelakaan mengerikan yang tak diketahui sebabnya itu telah membekukan aktivitas transportasi disana selama beberapa hari. Hingga akhirnya petugas pemadam kebakaran dengan banyak bantuan dari kepolisian dapat memindahkan truk itu. Kecelakaan itu telah ramai menjadi pembicaraan disana â sini terutama para pelayan kedai disana. Sebuah kedai yang tepat berada di seberang lokasi kejadian hingga kini masih belum membuka kedainya, namun para pelayannya telah berkumpul untuk merapikan kedai mereka. Kemudian seorang pelayan menunjukkan sesuatu pada teman-temannya.
âAku menemukan ini ketika kecelakaan kemarin.â Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, sebuah cincin bermata berlian kecil. Jelas itu milik seorang perempuan.
âSemacam cincin kawin.â Kata temannya. âDimana kamu temukan?â
âDi trotoar depan kedai. Aku tak tahu siapa pemiliknya. Jadi kusimpan saja.â
âEh kok malah disimpan sih? Kan ada banyak polisi kemarin.â Protes temannya.
âMungkin saja akan ada yang mencarinya di kedai kita, makanya kusimpan.â
âSudahlah, terserah kamu saja. Aku gak ikut campur lah.â
Kemudian mereka bekerja kembali, merapikan kedai mereka yang berantakan akibat kecelakaan itu. Mereka tak menyadari bahwa apa yang telah ditemukan tersebut merupakan satu garis kehidupan yang telah redup.
Í...
Satu hari sebelum kecelakaan.
âRhe, kamu bisa menemui manajer real estate itu untuk menggantikanku tidak? Sepertinya aku harus pergi ke luar kota selama beberapa hari.â
âKapan?â Jawabku singkat. aku sudah menduga Ky akan melimpahkan tugas itu padaku.
âLusa jam makan siang.â
âTapi tak gratis.â Kataku mulai menggodanya.
âHmmm baiklah kau mau apa?â Katanya sambil melingkarkan lengannya ke pingganggu. Aku berpura-pura berpikir. âBagaimana kalau kita berkencan besok, kau ingat kan besok tanggal berapa?â usulnya.
âMemang tanggal berapa?â
âDua-puluh-lima.â Ia menekankan setiap katanya dan mengeratkan lengannya pada pinggangku. Wajahku semakin mendekat pada wajahnya, pipiku sudah panas, kurasa sudah sangat merah.
âHmmmmâ aku sudah tak bisa konsentrasi. âMemang ada apa dengan tanggal itu?â kataku pura-pura lupa.
âWah berani-beraninya kau melupakan ulang tahun pernikahan kita. Kau harus dihukum.â Tiba-tiba ia merenggangkan lengannya, dan tangannya menggelitiki pinggangku. Aku tak bisa menahan geli, aku tertawa dan menggeliat berusaha melepaskan diri.
âAmpuuun. Cukup Ky.â Aku masih berusaha melepaskan diri. âIyaaaa iyaaaa ayo kita bertemu di kedai biasa.â Aku menyerah dan dia tertawa. Ia menghentikan serangannya dan mencium pipiku.
âOke istriku, jangan terlambat ya.â Katanya sambil mengedipkan mata.
Kami bahagia dengan pernikahan kami, walaupun baru satu tahun kami bersama. Kami banyak belajar bahwa menikah bukan hanya tentang kami berdua, tetapi juga keluarga kami. Selain itu banyak hal yang baru tentangnya dan tentangku yang baru kami ketahui masing-masing setelah menikah. Kami sama-sama bersyukur kami diciptakan untuk satu sama lain. Kami berharap hanya mautlah yang dapat memisahkan kami. Kami selalu berusaha untuk saling mengerti dan memahami, karena dalam satu perahu tak mungkin kami abai satu sama lain. Namun, kami tak tahu takdir apa yang menunggu kami di depan sana.
Gadis Yang Menari Dalam Hujan
Aku berlari kecil menuju halte terdekat karena hujan yang tiba-tiba turun. Kemeja kuningku telah basah sebagian, lalu kuusap agar sebagian air yang belum terserap sempurna jatuh dari kemejaku. Beberapa orang yang terlambat berteduh telah basah kuyup karena hujan. Kuedarkan mataku ke sekeliling komplek kantor terdekat. Mataku berhenti pada seorang gadis berkaos merah dan bercelana pendek yang sedang berdiri di depan sebuah kantor. Ia membawa sebuah payung besar dengan motif bunga berwarna biru. Aku berpikir sejenak apa yang ia lakukan disana.
Tak lama kemudian seorang pria keluar dari pintu masuk perusahaan itu, berbicara sebentar dengan si gadis, lalu berjalan berdua menuju halte tempatku menunggu. Beberapa menit kemudian mereka telah berada di depanku. Pria itu memberikan uang lima ribuan dan secarik kertas. Dan pikiranku menduga-duga sesuatu yang tak baik. Gadis itu kemudian berlari kembali ke depan kantor. Menunggu orang lain yang mungkin dapat memberinya selembar uang lima ribuan.
Sebuah bus kota yang mengarah ke rumah sewaku berhenti di halte. Aku berpikir sebentar, dan mengurungkan niatku untuk menaiki bus itu. Aku kembali duduk di bangku halte. Setelah bus itu melaju pergi, gadis itu kembali nampak di seberang. Seorang wanita kini ada bersamanya, berbicara sebentar kemudian berjalan beriringan menuju halte. Beberapa menit kemudian, mereka telah ada di depanku. Wanita itu memberikan selembar lima ribuan. Gadis itu mengucap terimakasih lalu mulai beranjak. Sebelum ia melangkahkan kakinya, tanganku telah menggenggam tangan kirinya yang bebas tak membawa payung. Sontak dia tertarik ke belakang dan segera menolehkan kepalanya.
"Ah Tuan, ada yang perlu saya bantu?" Katanya seraya tersenyum.
"Ya, tolong antarkan aku ke kedai di seberang jalan sana" jawabku.
"Dengan senang hati Tuan" jawabnya dengan mata yang berbinar. Aku tak menyangka, sebuah permintaan tolong dariku dapat membuatnya sebahagia ini.
Kami berjalan beriringan, kemudian aku mulai memperhatikannya. Rambutnya ternyata ikal dan ia mengikatnya sembarangan. Ia tak memakai anting seperti kebanyakan gadis lain. Ia hanya mengenakan sandal kusam berwarna biru.
"Kau, rumahmu dimana?" Tanyaku memecah keheningan diantara kami.
"Ah di kelurahan sebelah, Tuan" aku sedikit mengernyit tapi tak bertanya lebih lanjut.
"Lalu mengapa kau jadi seorang ojek payung?" Tanyaku lagi, aku sebenarnya takut untuk menanyakan hal yang bagiku sedikit privasi ini. Kugigit sebelah bibir bawahku menunggu jawaban darinya. Dia tidak berhenti berjalan, tidak mengubah ekspresinya dari riang menjadi sedih, melainkan dia sedikit tertawa, renyah, suara tawanya membuatku sedikit terpesona. Lalu ia menjawab,
"Tuan, aku menyukai hujan. Bagiku menjadi seperti ini, adalah penghiburan. Aku merasa seperti menari dalam hujan" jawabnya, singkat tapi ia sepertinya enggan menjawab lebih lanjut.Â
"Kau, selalu ada di jalan ini setiap hujan?" Tanyaku polos. Entah kenapa gadis ini menarik perhatianku. Dia berpikir sejenak.
"Tidak selalu Tuan. Tapi seringkali aku memilih jalan ini"
"Baiklah, jika hujan turun kau harus menungguku di depan kantor itu" kataku seraya menunjuk gedung tempatku bekerja. Ia sedikit kaget, kemudian agak gelagapan menjawab,
"Ah ya Tuan, siap. Akan saya usahakan" jawabnya.Â
  Beberapa minggu kemudian,
"Apa yang sebenarnya membuatmu memilih pekerjaan ini?" Tanyaku pada suatu hari ketika hujan turun. Kami berjalan beriringan.
"Pekerjaan ini bukan pilihan Tuan. Aku harus melakukannya, selain karena aku menyukainya" ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, "Tuan, apakah Tuan pernah berpikir tentang mimpi terbesar yang Tuan miliki? Aku dilahirkan di keluarga yang sederhana, tapi aku tak memiliki mimpi yang hanya sederhana. Bagiku, mimpi inilah yang menjadi motivasiku untuk selalu menjadi seseorang yang ceria dan bersyukur. Orangtuaku memang tak menyuruhku untuk menari dalam hujan, tapi inilah yang bisa kulakukan kini" ia menutup penjelasannya malam ini. Ia tak menyebutkan apa mimpinya yang tak sederhana itu. Namun beberapa saat kemudian ia melanjutkan,
"Tuan, aku ingin sekali menjadi pendidik. Namun bukan sekedar pendidik, aku ingin menjadi yang terbaik. Pendidik dengan wawasan yang luas. Aku ingin bersekolah di negara dengan kualitas pendidikan yang terbaik" katanya. Aku terdiam sebentar,
"Kau, berapa umurmu sekarang?" Tanyaku to the point. Aku sadar gadis sepertinya sangat jarang kutemui. Akupun berasal dari keluarga yang sederhana, jadi ibuku pun akan sangat menyukainya ketika suatu saat mereka bertemu.
"Eh? Delapan-belas Tuan" jawabnya dengan mata yang menyiratkan tanda tanya. Aku kemudian tersenyum.
"Oke" jawabku singkat. Ia tetap dengan tatapannya itu, seperti dalam hati ia bilang 'i have no idea what this man talking about'. Rasanya aku ingin tertawa setiap kulihat kembali tatapan matanya itu, tapi aku mengabaikannya.
"Baiklah, sampai disini saja. Kau istirahatlah dan pulang" kataku kemudian melambaikan tangan padanya dan berlari menuju bus yang sudah berhenti di halte.
 ÍÍ
Selama beberapa bulan hujan selalu turun setiap malam, sehingga aku selalu menghabiskan malamku bersama gadis itu. Kadangkala aku mengajaknya makan malam di warung tenda pinggir jalan atau hanya sekedar menyesap wedang untuk menghangatkan badan kami.
Malam-malam itulah yang membuatku bersemangat menceritakan kisah-kisah motivasi untuk membuatnya semakin bersemangat untuk meraih mimpinya yang tak sederhana itu. Sesekali pada suatu malam ia menceritakan beberapa masalah yang sedang ia hadapi dan menanyakan pendapatku. Semakin sering bersamanya, semakin tertarik pula aku padanya. Seorang gadis muda dengan semangat yang tak pernah meredup dan keyakinan yang mantap akan janji masa depan yang lebih baik.
Musim hujan tak akan selamanya berlangsung, akan tiba masanya ia akan berganti. Hingga suatu malam langit sangat cerah dan begitu pula malam-malam seterusnya. Aku tak sempat mengucap pisah dengan gadis itu dan aku tak pernah bertemu dengannya lagi setelah itu.
 ÍÍ
 Beberapa tahun kemudian,
Aku berada di ruang meeting saat mendapat sebuah email yang selama beberapa tahun ini kutunggu. Aku telah dipindahkan ke kantor cabang dan diangkat sebagai seorang CEO disana. Saat itu aku hanya menyodorkan selembar kertas dengan alamat emailku pada gadis itu. Berharap suatu saat ia menghubungiku.
Selamat malam Tuan,
Apakah Tuan ingat dengan seorang gadis yang menari dalam hujan? Andai kita bertemu, aku akan tertawa mengingat malam-malam selama beberapa bulan yang kuhabiskan bersama Tuan.
Maafkan aku yang tak punya keberanian menghubungi Tuan. Jika hari ini aku berhasil meyakinkan diriku untuk menghubungi Tuan, itu artinya perasaanku telah mengalahkan egoku.
Terimakasih banyak Tuan, karena malam-malam yang kuhabiskan bersama Tuan membuatku semakin bersemangat untuk meraih mimpiku. Karena Tuan pula aku hampir menyelesaikan studiku disini. Aku akan segera kembali ke Indonesia. Tentu aku akan mencari Tuan ketika aku pulang nanti. Sudikah Tuan bertemu denganku?
 Salam,
 Kanna
 Forssa, South Finland
 Sungguh, aku sangat bahagia. Seusai meeting, aku langsung memesan tiketku untuk terbang ke Finlandia malam ini juga. Aku tak peduli aku akan tersesat disana. Sudah kuputuskan, akan kutemukan kau bagaimanapun caranya.
Hufflepuff: *puts chocolate bar in shopping cart* You can have this when you finish cleaning your room.
Gryffindor: Iâm 21. My success in cleaning my room is not dependant on a chocolate bar.
Hufflepuff: *puts chocolate bar back* Okay.
Gryffindor: Noooooo. Donât put it away. I still want chocolate.
Sepotong Cerita Ramadhan
Sejak kecil, ibuku selalu menanamkan bahwa Al-Qur'an adalah kitab suci yang harus sangat dihormati. Bahkan dimana aku harus meletakkan Al-Qur'an ku sangat dipantau oleh beliau. Ketika aku meletakkannya di kasur saja ibuku sudah memarahiku karena aku dianggap kurang 'hormat' terhadap Al-Qur'an.
Kemarin, aku sangat marah. Amarah itu bahkan membuatku hampir menangis. Karena banyak yang memperlakukan kitab suci itu layaknya buku catatan yang bebas ditaruh dimanapun. Banyak yang menaruhnya asal di lantai, dimana lantai itu diinjak sehingga kitab suci itu sejajar dengan kaki mereka. Bukan hanya satu dua, banyak. Mungkin itu hal yang 'sedikit' membuatku enggan untuk 'kesana'.
Aku tak mengerti, apakah pemahamanku yang ditanamkan oleh ibuku sejak kecil tak sama dengan pemahaman mereka. Tapi sadarkah, bukankah Al-Qur'an pedoman hidup kita? Langsung dari Allah. Wallahua'lam
Semoga hidayah Allah untuk kita semua. Amiiinnn
Orang-orang tak membutuhkanmu dan akan meninggalkanmu ketika kamu tak memberikan apa-apa. Maka setidaknya, bersikap baiklah!
â Taufik Aulia