Out of nowhere, kapjagi *eaa bilingual* pengen nulis apa yang ada di kepala.. sambil nunggu.
Ini sih tema nya bisa nyerempet ke review buku, spill spill dikit.
Jadi dalam beberapa minggu ke belakang iseng buat cari buku yang love at the first sight aja deh apa aja. Dan tidak butuh waktu lama jatuh hati lah ke buku di bawah ini:
Memang sudah ada di list dari kapan tahun, baru tau juga ternyata ada versi Bahasa Indonesia nya di toko buku itu. Dan ini adalah buku parenting pertama sayaa.. yippi excited banget bacanya.
Setelah baca setengah halaman buku tersebut, kira kira ekspresi saya seperti ini:
*menghela nafas* WAHH.. ternyata benar apa yang dikatakan orang – orang diluaran sana, mengurus anak tidak lah mudah dan sebuah tantangan yang “seru” katanya. Coba bayangkan *udah kayak renungan di sekolah - sekolah* manusia yang pada dasarnya banyak takutnya memutuskan untuk menanggung hidup seorang manusia lainnya dari mulai masih sebesar biji bunga matahari sampai manusia ini bisa menanggung hidupnya sendiri, untuk pertama kalinya dan hanya berbekal pengalaman satu mulut ke mulut lain yang belum tentu bisa relate dengan zamannya nanti. Buku ini pun mungkin hanya sebatas landasan yang tidak semuanya harus diterapkan karna perbedaan kondisi dan zaman.
Tapi ada poin yang menggilitik di setiap bab nya yaitu "mengenal diri sendiri " ga ada habisnya ya kita mempelajari diri kita, ini aja udah pusing wkwk. Pengenalan terhadap diri sendiri menjadi pelajaran seumur hidup yang akan kita terus bawa bawa, bahkan saat membersamai anak kita nanti.
Yap, karena kita bersinggungan dengan manusia kecil yang juga harus mengenal perasaannya, maka dari itu tujuan kita yang ingin memiliki anak.. di dahulukan pengenalan terhadap perasaan diri sendiri dulu.
Loh kok? Kan udah gede, harus udah tau maunya diri kita apa dong?
Yakin udah kenalan dalam setiap kondisi? Sudah punya emosional yang cukup stabil? Kondisi menikah dan punya anak adalah baru bukan? Kita pasti kenalan dengan diri kita dalam kondisi -kondisi tertentu yang juga cukup baru itu, bisa dibilang kita pasti adaptasi. Kita juga mengalami pertambahan umur dan proses hidup ke depan, pasti kita bertemu dengan diri kita yang mungkin dulu rasanya kita lemah ternyata dalam kondisi tertentu kita lebih kuat dari apa yang kita pikirkan sebelumnya.
Saya juga belajar memahami diri saya dari mengurus adik adik saya dari bayi merah sampai sekarang yang beberapa tugasnya masih saya kerjakan, yang masih bikin saya jengkel dan marah, ga bisa diem ditempat umum bikin pengen narik dan ikat dia di mobil wkwk canda. Sempet juga nangis di depannya karna ga bisa mengendalikan emosi, dan surprisingly itu normal.. itu proses yang membuat saya jadi berpikir lebih logis lagi dalam mengendalikan emosi. Saya jadi lebih kenalan lagi sama diri saya.
Buku ini menguras banyak energi saya, saya jadi flashback bagaimana saya diperlakukan sebagai anak, saya juga jadi ngerti setiap rasa yang saya kasih ke orang tua saya dan adik – adik saya, sesekali menyesal tapi ya sudahlah namanya juga idup ya tempat belajar ya kan.
Tapi saya bersyukur bahwa saya dikenalkan lagi dengan emosi yang saya punya dalam diri saya, bagaimana mengendalikannya, dan membuka pikiran bahwa tidak setiap proses tersebut harus menyenangkan.
Tentang part menyenangkan dan Bahagia, terkadang kita punya imajinasi bahwa kita ingin memiliki anak yang bahagia. Tetapi buku ini mengenalkan bahwa setiap anak tidak harus mengenal hidup Bahagia atau ideal, ada bagian kehidupan yang mereka harus tau bahwa inilah hidup secara realistis, sewaktu – waktu ada rasa tidak menyenangkan.
Kenalkanlah dunia yang warna - warni itu kepada sang anak. Semangat bunda ayah diluaran sana!
Segini dulu aja.. di next part mungkin baru review isi isi bukunya secara rinci. Makasih banyak yang udah mau baca sampai akhir :)