The last month hit me pretty hard as a first daughter, a woman, and simply a human. Alhamdulillah, even though I’ve been in survival mode nonstop, my body is still cooperating. I’m hanging in there :")
No title available
Keni
styofa doing anything

pixel skylines
todays bird
wallacepolsom

oozey mess
sheepfilms
trying on a metaphor
KIROKAZE

Kaledo Art

Andulka

⁂

Origami Around

@theartofmadeline
One Nice Bug Per Day
Lint Roller? I Barely Know Her
d e v o n
Game of Thrones Daily
Peter Solarz

seen from Belarus

seen from Singapore
seen from United States
seen from Puerto Rico

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Netherlands
seen from United States

seen from Australia
seen from United States

seen from Australia

seen from United States
seen from T1
@raroses
The last month hit me pretty hard as a first daughter, a woman, and simply a human. Alhamdulillah, even though I’ve been in survival mode nonstop, my body is still cooperating. I’m hanging in there :")
There’s a restless feeling for no clear reason that makes everything feel heavy and wrong~
"In this era, many things are blurry. even when it comes to doing good" --
So many sparks in life have been lost, and I have to rediscover them with all my strength. Maybe this is just a phase-- no one ever told me that making it through this era would be this challenging
Even love has lost its color… I just hope someone finds me soon, bringing a different spark, unforgettable, and comes without hesitation~~
Kenapa beberapa orang merasa bersalah bahkan menyalahkan dirinya sendiri pada apa yang bukan sepenuhnya tanggung jawabnya atau bahkan bukan kesalahannya sama sekali?
Kenapa beberapa orang merasa ketakutan pada sesuatu yang bukan menjadi kewajibannya?
Sampai ia tak bisa melihat dirinya, padahal ia harus bergantung salah satunya pada dirinya sendiri :(
Life must go on~
Kata - kata yang pada zaman anak piyik rasanya gampang sekali untuk diucapkan, karena ya "emang harusnya tinggal di jalani ga sih?"
Sekarang paham banget arti dari kata tersebut, beratnya jadi dewasa nge bawa kata tersebut ngebuat jadi jauh lebih berarti.
Yap, karena semakin ke sini tekanan dari berbagai arah semakin banyak, belum lagi harus berhadapan dengan manusia - manusia yang tega saling menyakiti, atau dengan serba - serbi pilihan untuk sebuah alasan bertahan hidup, ditambah dengan standar kehidupan manusia yang semakin menjulang tinggi.
Life must go on? Yap, i know it does.
Ketika 2 orang yang sama - sama terluka lalu bertemu, tau apa yang paling berat? Berharap akan saling menyembuhkan.
Bahkan ada kemungkinan keduanya akan saling menyakiti jauh lebih sakit
Ketika masa seseorang habis untuk menemani langkahku, ternyata Allah kasih seseorang lain di masa ini:
"Semangat ya!"
"Ayok kita berjuang bareng - bareng!"
"Do'a sama - sama ya"
"Gimana? Udah ... .... ?"
Padahal isi kepala dan hati sedang di paksa untuk berpikir banyak peran lain, tak bisa tidur karena tak berhenti berpikir. Semangat itu hilang timbul setiap harinya karena efek kelelahan sehari - hari. Tapi mungkin Allah kasih pukulan kencang dari orang - orang masa kini kalau ada hal baik lain yang harus diperjuangkan kembali.
"Atur saja Ya Rabb yang terbaik, Aku percaya Engkau membersamaiku"
Benar saja, semangat sedang turun - turunnya lalu ada yang sedang memperjuangkan semangatku tak boleh sampai turun.
Aku kehilangan banyak orang di masa lalu, yang tak pernah di sangka - sangka Allah kirimkan kembali orang - orang di masa kini untuk membersamai prosesku 😭
The power of Du'a: "Semoga selalu dikelilingi orang - orang baik"
Hanya karena tidak upload foto pekerjaan bukan berarti tidak sibuk
Hanya karena tidak membuat status mengeluh, bukan berarti tidak punya masalah
Hanya karena tidak update status galau, bukan berarti tidak pernah sedih
Hanya karena tidak pernah share foto jalan-jalan, bukan berarti tidak pernah bersenang-senang
Hanya karena tidak update status bahagia, bukan berarti tidak bahagia.
Dunia tidak sesempit dan sesingkat postingan media sosial.
Orang lain punya masalah masing-masing pun punya nikmatnya masing-masing, punya sedih dan bahagianya masing-masing.
:)
Ada satu dua kesempatan dapet DM kayak gini "Masih idup kan Ra?" Wkwk..
Dijawab "do'a in ya sehat terus, umurnya berkah"
Gara - gara sekarang jauh lebih sepi, pada dasarnya emang sepi itu sosmed tapi sekarang jauh lebih kedap.
Hola 👋 aku sedang menjalani kehidupan yang jauh lebih selow kok, bukan sepenuhnya menghilang. Memang lagi nyaman begini, kalau pun posting random berarti memang lagi nyamannya begitu. Ada satu dua hal yang ngebuat nyamannya tidak terlihat oleh beberapa orang, ga dikepoin orang orang, dan cuman menikmati momen.
Random Thoughts #2
Beberapa kali menemukan kasus di-mana 'Bersiap' sebelum nikah di rasa tabu bahkan sia - sia.
"Seminar pra-nikah ga perlu, yang perlu pahami pasangan"
"Kelas Parenting juga ga perlu, realitanya akan berbeda nanti"
"yang penting bahagia kuncinya kalau mau jadi ibu, ga perlu belajar.. nanti menyesuaikan kok"
"Kesehatan dijaga kayak biasa aja, pikirannya di kasih yang baik- baik"
Dannn sebagainya..
Huh.. di sisi lain bingung untuk merespon takutnya jadi sok tau, di sisi lain juga gemes.
But, let me tell you..
Nikah bukan hal se-sederhana 'dipikirin' nanti, nikah juga bukan hal yang ngebuat semua hal jadi lebih mudah dan bahagia karena berdua, nikah juga bukan hanya 1 fase yang berubah, nikah juga bukan se-sederhana cari pasangan yang 'baik'.
Menikah, di awali dengan mengenali diri kita. Bersiapnya di awali dari kebiasaan dan karakter kita sendiri, lalu berjalan ke prinsip yang kita pegang. Dannnn LOGIS! Cinta boleh jadi landasan, tapi jangan jadi landasan utama setelahnya.
Wow, aku salut sama orang - orang yang berpikir sederhana tentang topik menikah. Pada nyatanya pikiran ku serumit itu, at the same time aku juga lega dengan keribetan diriku ini setidaknya aku melindungi diriku sendiri di kemudian hari.
Dengan apa? Dengan ilmu, gapapa mungkin beberapa orang merasa ga ada apa apanya ilmu persiapan pernikahan itu. Tapi buatku segalanya~
Yes. Setidaknya ilmu tersebut memberikan makanan untuk segala ke-khawatiranku, jiwa ku penuh dengan segala ketenangan yang ilmu itu kasih tanpa sadar. Setidaknya persiapan tersebut membuat resiko - resiko di depan bisa dijalani tanpa rasa sesal.
Dan~ jangan salah. Ilmu membuat kecerdasaan emosional jadi lebih terasah dan terarah. Ga percaya? Cobain deh. Dan hal itu perlu dalam mengolah konflik rumah tangga (yang katanya ga bisa dihindari).
Jadi biarlah mereka para calon istri atau suami ini belajar semau mereka ya, jangan dijulidin 'sok alim' 'sok pintar' lagi.. kita ga tau apa sebenernya yang mereka cari dari tahap pembelajaran tersebut.
Wdyt? Boleh komen 😉 pro dan kontra sangat diterima hihi.
Tuhan..
Aku pernah ragu se ragu - ragunya
Pernah takut se takut - takutnya
Pernah menjadi dingin se beku - bekunya
Lalu Engkau hangatkan kembali hidupku dari hal - hal kecil ke esokan hari nya.
Dan bila hal tersebut terulang kembali, aku hanya meminta kepadaMu hangatkan kembali aku.
Seorang aku pernah bermimpi berada di panggung teater musikal, dengan menampilkan beribu wajah kepada jutaan penonton.
Bersenandung dan menari bermain - main dengan melodi, memancarkan banyak ekspresi hidup.
Marahku
Kesalku
Tangisku
Bahagiaku
Semuanya ada dalam satu panggung sandiwara.
Jingkrak - jingkrak tanpa henti, meliuk liukan kaki panjang ini sambil merentangkan kedua tangan mengikuti irama.
Tak ada lagi memendam rasa, tumpah semua pada permainan teater dalam sebuah skrip fiksi.
Berteriak sekencang - kencangnya pun, aku tetap sedang bermain peran. Penonton hanya melihat ini hanya bagian dari permainan.
Padahal rasanya, aku ingin memberi nyawa pada setiap rasa yang memang nyata adanya.
Aku ingin benar benar ada di panggung sandiwara itu, menjadi seseorang yang terlihat manis dan menyeramkan di satu waktu.
Lail dan Esok
Aku sangat rindu mereka, jika kehidupan mereka punya beberapa part buku lagi akan seperti apa ya ceritanya?
Pilunya menusuk, getarannya sunyi dan leluasa, bau tanahnya masih terasa dalam ingatan, tangis lail mungkin masih terasa basah meski sudah beberapa tahun buku tersebut selesai dibaca.
Setiap ada guncangan alam yang tak biasa, atau perubahan yang merusak..
Pikiranku langsung melesat ke kondisi lail dan Esok pada saat itu.
Ah rindunya, tapi kehadirannya semoga tak pernah ada di dunia nyata.
Lagu - lagu Sherina kecil mengantarkan Tiara kecil menjadi lebih menikmati masa kecil, dan memandang bahwa masa kecil memang seharusnya menyenangkan.
Meski aku tidak tumbuh saat Petualang Sherina 1 sedang boom, tapi aku mengenalnya dan langsung jatuh cinta dengan lagu - lagunya di kala beberapa tahun setelahnya.
Lalu, diberi kesempatan untuk menonton Petualangan Sherina 2. Di akhir cerita aku meneteskan air mata tanpa aba - aba sampai bertanya tanya "Weh, kenapa nangis?" padahal ga ada scene yang menyedihkan malah adanya yang kocak - kocak dan jingkrak - jingkrak.
Ternyata aku meratapi Sherina dan Sadam yang bertumbuh, dan ternyata aku juga bertumbuh: dengan mimpi dan asa, dengan cerita dan dongeng, dengan lagu dan kesenangan.
Kesulitan dan kesedihan memang jadi bumbu perjuangan di perjalanan bertumbuh. Sherina dan Sadam dengan garis waktu mereka untuk sama sama berjuang melawan itu, aku dan orang disekelilingku juga yang sedang berjuang melawan realitas menjadi dewasa :)
Sherina..
Sadam..
Aku sangat terinspirasi, aku janji akan menjadi diriku yang tak kenal lelah untuk berjuang.
Notes for Sherina: Kalimantan sama indahnya dengan Swiss, jadi tak apa sher, kamu pada akhirnya menemukan Sadam untuk membersamai mu ke Swiss di hari lain.
Ada pepatah mengatakan ...
Hidup itu sementara: bagaikan setetes air, tapi dibalik itu ada benarnya.
Hidup kita memang seperti tetesan air dimana air tersebut bisa memberikan manfaat untuk tumbuhan, tumbuhan bermanfaat untuk manusia, terkadang terdapat sisa dari tumbuhan tersebut dan terjadi pembusukan, terbawa angin lalu tunas tumbuh darinya. Perjalanan hidup kita juga seperti perjalanan setetes air, bisa menjadi amat menyenangkan, bermanfaat, jatuh merasa tak tersisa padahal masih ada probabilitas untuk bangun dan menjadi sesuatu yang indah atau pun sebaliknya.
*potongan notes dari kajian Ust. Nouman Ali Khan
📍Macan Museum
Random Thoughts #1
Out of nowhere, kapjagi *eaa bilingual* pengen nulis apa yang ada di kepala.. sambil nunggu.
Ini sih tema nya bisa nyerempet ke review buku, spill spill dikit.
Jadi dalam beberapa minggu ke belakang iseng buat cari buku yang love at the first sight aja deh apa aja. Dan tidak butuh waktu lama jatuh hati lah ke buku di bawah ini:
Memang sudah ada di list dari kapan tahun, baru tau juga ternyata ada versi Bahasa Indonesia nya di toko buku itu. Dan ini adalah buku parenting pertama sayaa.. yippi excited banget bacanya.
Setelah baca setengah halaman buku tersebut, kira kira ekspresi saya seperti ini:
*menghela nafas* WAHH.. ternyata benar apa yang dikatakan orang – orang diluaran sana, mengurus anak tidak lah mudah dan sebuah tantangan yang “seru” katanya. Coba bayangkan *udah kayak renungan di sekolah - sekolah* manusia yang pada dasarnya banyak takutnya memutuskan untuk menanggung hidup seorang manusia lainnya dari mulai masih sebesar biji bunga matahari sampai manusia ini bisa menanggung hidupnya sendiri, untuk pertama kalinya dan hanya berbekal pengalaman satu mulut ke mulut lain yang belum tentu bisa relate dengan zamannya nanti. Buku ini pun mungkin hanya sebatas landasan yang tidak semuanya harus diterapkan karna perbedaan kondisi dan zaman.
Tapi ada poin yang menggilitik di setiap bab nya yaitu "mengenal diri sendiri " ga ada habisnya ya kita mempelajari diri kita, ini aja udah pusing wkwk. Pengenalan terhadap diri sendiri menjadi pelajaran seumur hidup yang akan kita terus bawa bawa, bahkan saat membersamai anak kita nanti.
Yap, karena kita bersinggungan dengan manusia kecil yang juga harus mengenal perasaannya, maka dari itu tujuan kita yang ingin memiliki anak.. di dahulukan pengenalan terhadap perasaan diri sendiri dulu.
Loh kok? Kan udah gede, harus udah tau maunya diri kita apa dong?
Yakin udah kenalan dalam setiap kondisi? Sudah punya emosional yang cukup stabil? Kondisi menikah dan punya anak adalah baru bukan? Kita pasti kenalan dengan diri kita dalam kondisi -kondisi tertentu yang juga cukup baru itu, bisa dibilang kita pasti adaptasi. Kita juga mengalami pertambahan umur dan proses hidup ke depan, pasti kita bertemu dengan diri kita yang mungkin dulu rasanya kita lemah ternyata dalam kondisi tertentu kita lebih kuat dari apa yang kita pikirkan sebelumnya.
Saya juga belajar memahami diri saya dari mengurus adik adik saya dari bayi merah sampai sekarang yang beberapa tugasnya masih saya kerjakan, yang masih bikin saya jengkel dan marah, ga bisa diem ditempat umum bikin pengen narik dan ikat dia di mobil wkwk canda. Sempet juga nangis di depannya karna ga bisa mengendalikan emosi, dan surprisingly itu normal.. itu proses yang membuat saya jadi berpikir lebih logis lagi dalam mengendalikan emosi. Saya jadi lebih kenalan lagi sama diri saya.
Buku ini menguras banyak energi saya, saya jadi flashback bagaimana saya diperlakukan sebagai anak, saya juga jadi ngerti setiap rasa yang saya kasih ke orang tua saya dan adik – adik saya, sesekali menyesal tapi ya sudahlah namanya juga idup ya tempat belajar ya kan.
Tapi saya bersyukur bahwa saya dikenalkan lagi dengan emosi yang saya punya dalam diri saya, bagaimana mengendalikannya, dan membuka pikiran bahwa tidak setiap proses tersebut harus menyenangkan.
Tentang part menyenangkan dan Bahagia, terkadang kita punya imajinasi bahwa kita ingin memiliki anak yang bahagia. Tetapi buku ini mengenalkan bahwa setiap anak tidak harus mengenal hidup Bahagia atau ideal, ada bagian kehidupan yang mereka harus tau bahwa inilah hidup secara realistis, sewaktu – waktu ada rasa tidak menyenangkan.
Kenalkanlah dunia yang warna - warni itu kepada sang anak. Semangat bunda ayah diluaran sana!
Segini dulu aja.. di next part mungkin baru review isi isi bukunya secara rinci. Makasih banyak yang udah mau baca sampai akhir :)