Utang
Tabloid Cempaka edisi 141/III/11 - 17 Desember 1991
Utang
Cerpen Muhammad Anwari SN
Dua hari lagi Munandar, kakaknya Tutik, menikah. Kakak beradik itu teman sekantorku. Mau tak mau aku harus datang. Apalagi ini ada hubungannya dengan Tutik, teman sekantorku yang paling dekat, sangat mengharapkan kehadiranku pula. Sampai sejauh ini di antara kami memang belum ada yang menyatakan cinta. Namun acara ngobrol, tukar pengalaman sambil makan di luar atau sekedar jalan-jalan, sering kami lakukan tanpa sepengetahuan teman-teman. Sayangnya pernikahan itu diselenggarakan pas pada tanggal tua, saat gajiku bulan ini telah habis.
Kini aku bingung. Sebab sama sekali belum punya uang. Bisakah aku sepulang kerja nanti mencari pinjaman uang untuk beli kado? Rasanya tak mungkin.
Esoknya aku mencoba cari pinjaman di antara teman-teman dengan berbisik-bisik. Tapi tak ada yang bersedia memberi pinjaman. Tanggal tua, uang mereka sudah banyak yang habis. Kalaupun ada, cuma pas untuk kebutuhan mereka sendiri. Aku semakin resah.
Parno, teman sekantorku juga, pagi itu mulai narikin iuran sewa mobil.
“Budi, nanti sore kamu jadi ikut ke Ngawi, kan?” tanyanya.
“Jadi,” jawabku.
“Pukul berapa?” kataku balik tanya.
“Enam sore.”
Berarti sepulang kerja nanti, aku harus mati-matian mencari pinjaman uang. Tak boleh gagal. Sebab sudah telanjur janji akan ikut ke Ngawi, di mana pernikahan Munandar akan dilangsungkan.
Aku sedikit lega, karena Parno bersedia meminjamiku dulu untuk bayar iuran sewa mobil, meski nanti sore aku harus cepat-cepat mengembalikannya lagi. Kami akan kumpul di depan kantor ini nanti sore, setelah pulang untuk mandi dan pamit pada yang ada di rumah.
Hari ini setelah berhasil mengelabuhi bos, aku sengaja pulang lebih awal dari biasanya, hanya untuk ngobyek cari pinjaman.
Mula-mula aku mendatangi Tinoyo. Dia sering memberi pinjaman uang padaku. Kupikir kali ini pun dia pasti mau memberi pinjaman. Terlebih untuk keperluan yang teramat mendesak ini. Dugaanku ternyata meleset. Dia malah mengaku tak ada uang. Sialan.
Dengan langkah lunglai kutinggalkan rumah Tinoyo di bilangan Puspowarno itu. Kukayuh sepedaku yang terasa semakin berat, seolah ikut kelelahan.
Aku menuju Jalan Imam Bonjol, menemui Ida Nur Khasanah, pacarku nomor tiga. Dia masih seperti dulu, penuh perhatian dan suka memberondong pertanyaan bila aku lama tak mengapelinya.
“Dari rumah saja, mas? Kenapa lama tak ke sini? Sibuk, atau sudah punya yang lain?” Begitu pertanyaan-pertanyaannya, beruntun. Sampai bingung untuk menjawabnya.
Langsung kukemukakan maksud kedatanganku. Dia malah mengeluh. Sesambat tak punya uang. Rupanya nasibku lagi benar-benar sial kali ini.
“Tolong Dik Ida, bantu aku. Uang kantor yang belum bisa kukembalikan itu, nanti sore akan digunakan teman-temanku untuk keperluan kantor. Cuma kurang lima puluh ribu rupiah. Aku dulu tak akan menggunakan uang kantor kalau tidak dalam keadaan terpaksa. Apa boleh buat, tak ada uang lain, sementara ibuku sakit keras, kataku berbohong.
Dia malah cuma termenung dan ikut-ikutan bingung.
Akhirnya aku pulang dengan tangan hampa. Sebelumnya aku memaksa Ida menyediakan uang itu sore ini juga dengan sedikit ancaman.
“Dik Ida, kalau kau masih suka padaku, pasti kau bisa menyediakan uang itu sore ini, entah apa pun caramu. Kalau tidak, jangan harap kita bisa bertemu lagi.”
“Ya jangan gitu, Mas Budi,” keluhnya dengan sedih sekali.
Kutinggalkan rumah Ida Nur Khasanah. Aku sempat memperhatikan wajahnya sekilas sebelum kukayuh sepedaku, nampak murung dan semakin sedih. Sebenarnya aku tak sampai hati. Apa boleh buat. Aku pun merasa cuma sebagai korban keadaan.
Pukul lima sore saat aku tiba di rumah kembali. Kurebahkan tubuhku dengan lemas campur gelisah. Pasti beberapa teman sudah menunggu kedatanganku. Satu jam lagi mereka sudah berangkat ke Ngawi. Tanpa diriku. Sungguh tak bisa kubayangkan, bagaimana teman-teman akan mencaci-maki aku besok. Soalnya aku sudah telanjur janji. Ongkos sewa mobil sudah telanjur dibayar dengan uang Parno. Pasti Parno akan ngomel-ngomel.
Kira-kira lima menit kemudian, pintu depan rumahku diketuk orang. Aku gelisah dan bingung. Pasti salah satu dari teman sekantorku yang datang menjemput, pikirku. Padahal sepeserpun aku belum punya uang. Mana mungkin akan nekat berangkat. Aku semakin bingung jadinya. Untuk menemui, malas. Sebaliknya, kalau tidak ditemui, tidak enak. Serba bingung jadinya.
Terdengar lagi ketukannya di pintu untuk ketiga kalinya. Lalu terdengar suara langkah kaki adikku yang tergesa-gesa ingin menemuinya. Aku pura-pura tidur. Tapi diam-diam aku memasang telinga, berusaha mendengarkan percakapan mereka. Namun sia-sia.
Tak lama kemudian adikku membangunkan aku yang pura-pura tidur.
“Mas, dicari temanmu,” katanya.
“Siapa?”
“Mana aku tahu.”
“Cewek apa cowok?” tanyaku kemudian.
“Cewek,” jawab adikku, terus pergi.
Aku bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah yang datang itu Tutik? Blaik! Apa yang harus kukatakan bila benar-benar dia? Haruskah berterus-terang bahwa aku tak jadi ikut ke Ngawi karena tak punya uang. Tapi seingatku Tutik belum tahu pasti alamat rumahku. Dengan malas sekali aku bangkit. Lalu mengintip dari celah kain kordin.
“Dik Ida,” desisku pelan. Ada perasaan lega setelah tahu yang datang bukan Tutik. Meski pelan, rupanya sempat didengar suara yang menyebut namanya tadi. Gadis itu menoleh dan menyebut namaku pula.
“Mas Budi.”
Sama sekali tak kunyana. Semula kukira kedatangannya untuk sekedar memohon agar aku tidak bersikap sekejam tadi. Tapi perkiraan ini meleset. Ia justru datang dengan sejumlah uang yang telah kupesan. Sekarang uang Rp 50.000 sudah ada di tanganku. Jumlah yang sama sekali melampaui batas kebutuhanku yang cuma sekedar ingin beli kado dan bayar ongkos pergi ke Ngawi. Saking gembiranya, Ida langsung kupeluk dan kucium. Ia terus pulang setelah menyarankan agar aku segera membawa uang itu ke kantor.
Aku mandi dengan teramat tergesa-gesa. Tiba-tiba aku teringat pada Tutik ketika kami jalan-jalan di Pasar Johar. Ia tertarik pada sebuah gaun yang harganya cuma Rp 25.000. Aku langsung ke sana. Gaun itu ternyata masih ada. Terus aku beli. Pasti Tutik senang menerima bingkisan ini. Sebelum dibungkus di dalamnya kuberi tulisan, “Dari sahabatmu yang diam-diam memperhatikanmu. Semoga kau mau menerima ini.”
Sedangkan kakaknya yang akan melangsungkan pernikahan, cuma kubelikan kado seharga Rp 3.000.
Sayangnya jam di tanganku sudah menunjuk pukul setengah tujuh kurang beberapa menit. Aku terlambat sampai di kantor. Lemaslah rasanya sekujur tubuh ini. Sudah telanjur beli kado, malah ketinggalan dengan teman-teman. Untung masih menyimpan alamat Munandar dan Tutik, kakak beradik satu rumah itu. Segera malam itu juga kado aku paketkan lewat titipan kilat.
Ketika aku sudah bertemu lagi dengan teman-teman di kantor, betapa terkejut, mereka ramai berbincang-bincang. Sama sekali tidak memperbincangkan aku yang tak jadi turut serta dengan mereka.
“Tutik itu pintar membuat kejutan,” kata Fredy, temanku di bagian iklan. Aku sama sekali tak mengerti maksudnya.
“Coba bayangkan. Kita belum pernah dengar ceritanya dia punya cowok, kan? Tak tahunya, bersamaan dengan pernikahan Munandar kemarin, dia punya acara sendiri, tunangan. Edan, nggak?” lanjut Fredy.
“Tunangan?” kataku setengah tak percaya. “Dengan siapa?”
“Tetangga satu desa,” sahut Rahmat Jabrik, temanku di bagian Fentura.
Tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Mata berkunang-kunang. Lalu tubuhku tersandar di meja dengan lemas. Teman-temanku bengong semua. Tak tahu apa yang terjadi pada diriku.
Semarang, 1991.

















