Wawasan
Minggu, 26 Juli 1998
Mahasiswa baru
Cerpen Muhammad Anwari SN.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ajaran baru ini, para lulusan SMU baru saja saling berebut mendapatkan kesempatan kuliah di perguruan tinggi negeri. Bahkan persaingannya semakin seru. Karena ledakan lulusan SMU semakin banyak, sementara jumlah kampus negeri tetap. Banyak calon mahasiswa kehilangan kepercayaan diri. Ada yang berusaha lewat pintu belakang. Bahkan ada pula yang pergi ke dukun.
Di tengah suasana sulit ini, Parmo merasa mendapat peluang bisnis yang bagus. Mulanya istrinya tak mengizinkan. “Jangan, pak, berbahaya. Bisa celaka kita nanti. Ingat tho kejadian tahun kemarin, banyak yang ditangkap. Kita malu nanti,” kata istrinya mengingatkan.
“Cara kerja kita lain, bu. Tidak seperti mereka yang ditangkap dulu,” kata Parmo. “Kita tidak memberikan contekan pada peserta ujian. Apalagi kita tidak punya bocoran soal-soal. Juga tidak akan berkolusi dengan pejabat kampus. Sama sekali tidak. Kita cukup di rumah saja, atau mengerjakan pekerjaan lain. Tidak melakukan upaya apa-apa. Tapi begitu mereka ada yang diterima, kita mendapat imbalan,” jelas Parmo.
“Caranya bagaimana?” tanya istrinya.
Parmo kemudian menjelaskan secara panjang lebar. Akhirnya istrinya bisa menyetujui, bahkan ikut mendukung. Lalu Parmo diam-diam mengumbar pengumuman, mengaku kenal akrab dengan beberapa rektor di Jawa Tengah, dan bersedia membantu calon mahasiswa yang ingin masuk perguruan tinggi negeri. Kabar ini dengan cepat meluas di masyarakat. Sehingga nyaris tiap malam Parmo didatangi tamu yang ingin memasukkan anaknya ke perguruan tinggi negeri. Mereka paling sedikit menjanjikan uang satu juta kalau anaknya bisa diterima. Ada pula yang berani membayar kontan lima juta. Bahkan kalau anaknya sudah masuk kuliah masih sanggup menambahi. Tapi semua ditolak oleh Parmo. Parmo hanya mau menerima kalau calon mahasiswa yang bersangkutan sudah jelas diterima.
“Pak, aku nanti dibelikan kalung ya,” pesan istrinya.
“Beres deh, Bu. Aku nanti mau menukarkan sepeda motorku dengan yang baru,” jawab Parmo dengan optimis.
Parmo sudah menyiapkan surat perjanjian bermaterai untuk orang yang minta bantuannya. Mereka disuruh menandatangani. Tapi Parmo masih menganjurkan agar anak-anak mereka tetap tekun belajar supaya tidak memalukan. Supaya anak-anak mereka tidak semata-mata menggantungkan upayanya. Sehingga kemungkinan diterima lebih besar.
“Anak yang pintar saja sulit masuk perguruan tinggi negeri, apalagi yang bodoh. Kenapa demikian? Karena anak pintar sekarang banyak. Tapi daya tampung kampus sudah tidak memadai. Sehingga yang diseleksi sebenarnya cuma anak-anak pintar saja. Sedang yang bodoh secara otomatis tersingkir dengan sendirinya,” kata Parmo kepada orang-orang yang minta bantuannya.
Maka ketika ketika calon mahasiswa kemarin tegang mengikuti tes, Parmo sudah tidak perlu repot lagi, cukup tenang-tenang saja di rumah. Karena yang memperjuangkan untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri sebenarnya bukan Parmo, melainkan para calon mahasiswa sendiri.
Ketika hasil UMPTN diumumkan, orang-orang yang minta bantuan Parmo terkejut. Anak-anak mereka kebanyakan tidak diterima. Mereka memaki-maki Parmo. “Katanya kenal baik dengan rektornya. Apa buktinya? Anakku tidak diterima. Terus usahanya itu bagaimana? Pantas dulu menolak kubayar di muka. Lha dia cuma cari untung, tapi tak mau melakukan usaha apa-apa. Tahu begini, dulu minta bantuan orang lain saja,” kata salah seorang di antara mereka.
Dari sekian banyak anak yang oleh orang tuanya dimintakan bantuan Parmo, ternyata cuma Lutfi yang beruntung. Benarkah Lutfi diterima di perguruan tinggi negeri karena Parmo? Tidak. Parmo tidak melakukan apa-apa untuk Lutfi. Yang jelas di SMU-nya Lutfi meraih ranking pertama.
Mendengar Lutfi diterima di perguruan tinggi negeri, Parmo senangnya bukan main. “Wah kita cuma mendapat satu juta, bu. Karena orang tua Lutfi, sesuai perjanjian, cuma sanggup memberi kita satu juta,” kata Parmo dengan nada masih mengeluh.
“Lutfi diterima?” tanya istrinya.
“Jelas, dong. Lutfi anak pandai,” jawab Parmo.
“Biarpun yang akan kita terima cuma satu juta harus disyukuri. Toh kita tidak mengeluarkan modal apa-apa kepintaranmu membohongi orang,” kata istrinya lagi.
Para orang tua yang anaknya tidak diterima di perguruan tinggi negeri memaki-maki Parmo. Karena selama UMPTN berlangsung Parmo ketahuan cuma menganggur di rumah. Sama sekali tak melakukan upaya apa-apa di kampus. Akhirnya orang tua Lutfi terpengaruh. Sehingga tak mau membayar sesuai perjanjian. “Untuk apa uang satu juta diberikan Parmo. Memangnya cari duit gampang? Anakku bisa diterima di perguruan tinggi negeri karena anakku memang pintar, sama sekali bukan karena usaha Parmo. Buktinya orang-orang penting di kampus tak ada yang kenal dengan Parmo,” katanya.
Malam-malam Parmo datang menagih janji orang tua Lutfi. Tapi orang tua Lutfi menolak membayar. “Saya tidak mau membayar. Saya tahu anak saya bisa lolos UMPTN karena memang pandai, bukan karena upaya Anda”.
“Saya percaya kalau yang pintar seperti Lutfi itu banyak. Tapi yang bisa lolos itu sedikit, di antaranya Lutfi. Mereka yang tidak lolos itu tidak ada yang memperjuangkan. Sedangkan yang mati-matian memperjuangkan Lutfi itu saya. Bapak sudah menandatangani surat perjanjian. Bapak harus bayar yang satu juta itu,” kata Parmo.
“Anda memperjuangkan Lutfi itu buktinya apa? Kenapa tetangga saya yang sudah menyanggupi lima juta, malah tidak diterima? Itu kan menandakan Anda tidak melakukan upaya apa-apa. Anak saya bisa lolos UMPTN karena dasarnya memang pintar”.
Karena orang tua Lutfi tetap tak mau bayar, Parmo marah-marah. Lalu lapor ke polisi, bahkan orang tua Lutfi tak mau bayar hutangnya. Maka orang tua Lutfi terkejut ketika datang panggilan polisi untuk pemeriksaan. Orang tua Lutfi marah-marah setelah tahu yang melaporkan Parmo. Kabar ini cepat tersebar di masyarakat. Sehingga ketika orang tua Lutfi memenuhi panggilan polisi, mereka yang merasa ditipu Parmo balas mengadukan ke polisi. Akhirnya malah Parmo sendiri yang mendekam di tahanan polisi.
“Rasain lu,” kata mereka.
Semarang, 1998.


















