Cerpen Muhammad Anwari SN
Yudi dan Lasmi baru kira-kira dua bulan lalu menikah. Tak heran bila pasangan ini nampak masih selalu tampil mesra. Bila bepergian berdua nyaris selalu bergandengan tangan. Tapi di balik hubungan yang nampak mesra itu, sebenarnya ada yang mengganjal di benak Lasmi. Orang lain tak ada yang tahu kecuali Lasmi dan suaminya sendiri.
Wanita itu sedih. Malam pertama yang dibayangkan penuh keindahan dan kenikmatan ternyata cuma berakhir dengan kecewa. Meski demikian Lasmi mencoba untuk bersabar.
“Mungkin suamiku belum berpengalaman dan masih perlu belajar banyak,” katanya menghibur diri. “Aku akan mencoba melayani sesuai seleranya. Siapa tahu akan timbul gairahnya,” katanya dalam hati yang membuatnya masih punya rasa optimis.
Seperti biasanya, menjelang tidur Lasmi mengenakan daster. Yudi sampai hapal betul. Sehingga bisa dijadikan pertanda, kalau istrinya sudah memakai daster, berarti jam tidur pasangan ini sudah tiba.
Acara Dunia Dalam Berita tivi baru saja usai. Seperti biasa Lasmi terus mengajak tidur. Kalau sudah begitu, Yudi biasanya cuma bisa menurut, meski sebenarnya belum belum ngantuk. Tak berani menolak karena khawatir Lasmi kecewa. Tapi kali ini, Yudi mencoba mengalihkan perhatiannya dari tivi ke koran, karena tivi sudah dimatikan Lasmi tanpa seizinnya. Ia baca koran kantor yang tadi ia sembunyikan dalam tasnya. Sekali-kali ia mencoba untuk menolak ajakan istri. Sebab khawatir kejadiannya akan seperti malam-malam sebelumnya.
Tapi Lasmi terus merengek, “Ayo, mas”.
Saat itu hati Yudi sebenarnya tersayat-sayat. Ia tahu istrinya minta dilayani. Sayang lelaki ganteng itu tak bisa melayani dengan baik. Ia pura-pura asyik membaca. Namun sebenarnya membaca pun ia sudah tidak konsentrasi lagi. Adanya cuma rasa tersiksa. Sementara istrinya terus menungguinya dengan sabar dan setia.
“Kamu tidur duluan aja dulu,” kata Yudi dengan amat terpaksa.
“Tetapi aku ditemeni. Membacanya di kamar saja,” jawab Lasmi sambil tangannya setengah menarik lengan Yudi.
Kali ini Yudi tak bisa menolak. Untuk membaca koran kan tidak harus di ruang tamu. Di kamar tidur sambil menemani istri kan bisa. Apalagi lampu di kamar tidur cukup terang. Tapi Yudi yakin, istrinya pun sebenarnya belum ngantuk. Ajakannya ke kamar cuma siasat supaya bisa menggodanya. Inilah yang Yudi belum siap.
Yudi terkejut ketika melihat mata yang terpejam itu melelehkan air mata kesedihan. Ia segera meletakkan korannya. Ia ikut sedih melihat pemandangan itu. Ya sedih sekali. Perkawinannya baru berjalan dua bulan, tapi ia sudah merasa membuat menderita istrinya. Bila saja yang di samping istrinya saat ini lelaki lain, pasti lelaki itu sudah menerkam istrinya.
Pelan-pelan dan hati-hati sekali Yudi mengusap air mata yang meleleh di pipi istrinya, dengan harapan supaya tidak terbangun. Tapi di luar dugaan, kelopak mata istrinya malah membuka. Tahu-tahu pula tangan istrinya sudah memegang kancing celananya untuk membuka. Tapi dengan halus Yudi mengelak.
Masa mudanya, Yudi lebih banyak hidup dalam khayal. Ia suka melihat gambar dan film porno. Bila sudah terangsang lalu melakukan onani. Apa boleh buat, penyalurannya cuma satu itu. Kadang sehari Yudi melakukannya sampai tiga kali. Karena terlalu seringnya, badannya menjadi ringkih dan kurang sehat. Sebenarnya ia ingin sekali-kali melakukan hubungan seks yang wajar, seperti di film atau gambar porno itu. Tapi wanita mana yang mau diajak main seperti itu kalau uang saja ia tak punya, pengangguran lagi.
Niat melakukan persetubuhan ini demikian menggebu-gebu. Akhirnya ada niat, jalan pun ada. Apalagi niatnya tidak baik, setan pun dengan mudah memberi jalan. Uang sekolah selama dua bulan diselewengkan. Ia pergi ke kompleks pelacuran. Tapi ternyata ia tak mampu.
“Mungkin karena onani ini aku jadi impoten,” kata Yudi dalam hati.
Pukul 16.00 kantor mulai tutup. Yudi mulai berkemas-kemas pulang, karena tak ada pekerjaan yang perlu dilembur. Hari ini ia cuma jalan kaki, karena motornya masih di bengkel. Sesampai di pinggir jalan, ketika akan menghadang bis, tiba-tiba Hendrik menghampiri.
“Ayo bonceng aku,” katanya.
Yudi menurut meski sebenarnya masih jengkel dengan ucapan Hendrik tadi. Apa boleh buat, terpaksa, dari pada berdesak-desakan naik bis, dengan membonceng Hendrik bisa lebih irit. Apalagi mereka satu jurusan.
Begitu sampai di perempatan jalan, Hendrik membelokkan motornya ke jalan yang tak biasa dilewati Yudi bila pulang ke rumah. Karuan Yudi heran, ia khawatir akan ditelantarkan, mengingat Hendrik orangnya suka bercanda.
“Aku ingin kau bawa ke mana?” tanya Yudi penasaran.
“Makan dulu di warung sate Pak Jambul. Enak sate kambingnya”.
“Ah, tidak, Hen. Aku khawatir nanti di rumah jadi tak doyan makan. Lagian kasihan istriku yang sudah menunggu“.
“Ah, kau ini, kayak pengantin baru saja. Sekali-sekali dong beri kesempatan aku nlaktir kamu. Sate kambing yang satu ini enak lho. Bisa menambah gairah seks,” kata Hendrik asal ngomong.
“Oh ya, Hen?” Yudi malah menanggapi dengan serius.
“Kalau tidak percaya, nanti buktikan sendiri. Kau pasti mendapat pujian istrimu”.
Yudi memang pernah dengar, sate kambing bisa menambah gairah seks laki-laki. “Sialan. Kenapa tidak saya coba dari dulu,” gerutu Yudi. Warung sate Pak Jambul ternyata ramai dan penuh sesak. Yudi semakin yakin terhadap anggota ini.
“Tak jarang orang sudah datang dari jauh-jauh sampai di sini kehabisan, soalnya larisnya bukan main sate ini. Aku pernah sampai di sini tak kebagian satu tusuk pun. Penggemarnya tidak cuma laki-laki. Wanita pun banyak yang doyan,” Hendrik nyerocos bicara seperti sedang promosi.
Yudi menjadi bersemangat sekali. Jangankan ditraktir, disuruh ganti mentlaktir pun mau. Ternyata satenya memang enak. “Pantas laris sekali,” katanya dalam hati. Ia makan lahap sekali.
Karena ada acara makan-makan ini, Yudi sedikit terlambat sampai di rumah. Ia mendapati pintu rumahnya terkunci dari dalam. Diketuk-ketuk sampai berkali-kali, istrinya tak kunjung keluar.
“Pasti Lasmi sedang mandi,” pikir Yudi.
Ia lalu menuju ke pintu belakang rumah. Kalau istrinya di rumah, kadang-kadang pintu belakang ini dibiarkan tak terkunci. Yudi melihat air di selokan mengalir deras, berarti benar istrinya masih mandi.
“Mas Yudi?!” teriak Lasmi dari dalam kamar mandi ketika mendengar pintu belakang ada yang membuka.
“Ya. Saya pulang, sayang,” jawab Yudi sambil melepas sepatunya.
“Mas, tolong ambilkan handuk, ketinggalan di kamar,” pinta Lasmi.
“Ambil sendiri ah, aku masih capek,” jawab Yudi.
Lasmi keluar masih telanjang. Mata Yudi terbelalak. Kemudian mendekati istrinya. “Biar aku yang mengeringkan tubuhmu,” katanya. Tapi Yudi bukannya terus mengambil handuk, melainkan malah mendekap istrinya.
“Jangan ah, mas. Mas Yudi masih bau”.
Yudi tak menghiraukan. Malah semakin nekat.
“Biarin. Kita nanti mandi lagi sama-sama,” jawabnya.
Lasmi sedikit heran menghadapi perubahan suaminya yang tiba-tiba ini.
“Kamu sudah bisa? Barusan minum obat apa?” tanya istrinya masih dengan nada heran.
“Obat?” Yudi malah terheran-heran. Sebab seingatnya ia tak minum obat apapun. “Aku tak minum obat apa-apa,” bantahnya kemudian.
“Oya, aku sampai lupa. Aku barusan makan sate kambing. Aku berubah kambing ya?”
“Ya, betul-betul jantan. Oh suamiku, kenapa tidak dari dulu-dulu”.
Entah karena sugesti semata, atau memang berkhasiat. Yudi dan Lasmi tidak tahu. Yang jelas setelah makan sate kambing itu, kejantanan Yudi bangkit.
Sore itu Lasmi dan Yudi keluar, bermaksud ingin membeli sate lagi.
“Belinya di warungnya Pak Jambul?” tanya Lasmi.
“Jelas dong. Nanti kita makan yang banyak ya. Biar kamu seperti domba betina,” kata Yudi bergurau.
“Dan kamu sendiri domba jantan yang perkasa,” balas Lasmi. Lalu Yudi mengembik menirukan suara kambing. Lucu sekali. Sehingga Lasmi sampai tertawa terpingkal-pingkal
Tak terasa, karena sepanjang perjalanan selalu bersendau-gurau, tahu-tahu mereka sudah sampai dekat ke tempat tujuan. Suami-istri itu bukannya tambah ceria, tetapi mendadak kecewa dan sedih. Mereka tidak melihat warung sate Pak Jambul. Di hadapan mereka puluhan orang membanjiri tempat itu. Di mana di tengah massa ada api yang berkobar-kobar. Ternyata warung sate yang dituju suami-istri itu dibakar oleh massa. Yudi terkejut.
“Aduh, kalau begini jadinya nanti tidak bisa berdiri lagi,” jerit Yudi dalam hati.
Tapi kenapa warung itu dibakar, Yudi tidak tahu. Ia segera mencari tahu di tengah kerumunan massa.
“Kenapa warung ini dibakar, pak?” tanya Yudi pada salah seorang massa.
“Bakul sate yang jualan di warung ini telah menipu masyarakat. Daging sate yang dijualnya, tidak semuanya asli kambing, sebagai telah dicampur dengan daging tikus”.
Yudi dan Lasmi sama-sama terperangah. “Masak iya?” kata Yudi tak percaya. Sedang Lasmi cuma bergidik membayangkan daging tikus yang menjijikkan itu telah masuk ke perut orang banyak.
“Sungguh. Kemarin ada dokter muda yang jajan di sini. Daging itu diperiksa di laboratoriumnya. Serat daging itu sama dengan daging tikus”.
Lasmi terus mengajak pulang. Ia tidak begitu kecewa, malah beruntung. Coba seandainya warung sate itu tidak dibakar massa, tentu ia ikut makan daging tikus itu. Ia nyaris muntah bila membayangkan ikut makan daging tikus.
Tapi tidak demikian dengan Yudi. Laki-laki itu tampak kecewa, sehingga wajahnya murung.
Lasmi terus mengajak suaminya mencari sate kambing di warung yang lain. Tapi anehnya Yudi tidak mau. Ia tidak percaya khasiatnya akan sama dengan sate kambing yang dibeli dari warung yang terbakar itu. Karena sore itu tidak jadi makan sate kambing Pak Jambul, maka ia tak jadi menggauli istrinya.
“Ayo, mas,” ajak Lasmi malam itu.
“Kenapa mesti lain kali? Kau masih bisa kan?”
Lasmi kecewa lagi. Ia terus bertanya-tanya, kenapa suaminya kelihatan jantan cuma sekali. “Suamiku telah kena sugesti sate tikus rasa kambing itu,” keluhnya.
Esoknya Yudi terus mencari-cari informasi tentang alamat rumah Pak Jambul si penjual sate. Tapi tak satupun mendapatkan orang yang mengetahuinya. Namun di luar dugaan, teman sekantornya malah ada yang tahu. Siapa lagi kalau bukan Hendrik.
“Untuk apa kau mendatangi rumah penjual sate keparat itu?” tanya Hendrik.
“Aku ingin membuktikan omongan orang-orang yang membakar warung itu, benar apa tidak”.
“Kau ini hanya ingin mencari masalah saja”.
Hendrik tidak tahu kalau dirinya cuma dikibuli Yudi. Sebenarnya Yudi tidak ingin mencari bukti apa-apa. Ia tidak peduli sate itu asli kambing atau sudah dicampuri daging tikus. Ia tetap ingin membelinya. Sebab, menurutnya, cuma sate itulah yang bisa membangkitkan gairah seksnya. Kalau sampai tidak mendapatkan, khawatir kalau tak bisa melayani istrinya lagi.
Dengan susah payah, akhirnya Yudi bisa menemukan rumah penjual sate itu. Di luar dugaannya, Pak Jambul, si penjual sate itu orangnya kaya raya. Terbukti rumahnya besar dan indah. Bagi orang yang belum tahu, pasti tak akan mengira kalau rumah mewah itu milik penjual sate kaki lima yang setiap sore mangkal di pinggir jalan, di mana warung itu sekarang sudah lenyap dibakar.
“Pak Jambul ada?” tanya Yudi pada orang yang berdiri di samping pagar rumah besar itu.
“Saya mau beli sate, pak. Apakah Bapak masih punya persediaan di rumah?”
“Saya untuk sementara tidak jualan sate. Tahu nggak warung saya dibakar massa. Mereka menuduh saya menjual sate tikus”.
“Tahu, pak, dan saya melihat sendiri”.
“Tapi saya tetap ingin beli satenya Bapak. Saya tidak percaya dengan omongan orang-orang itu. Saya yakin Bapak kena fitnah”.
“Kenapa engkau bisa yakin, kalau sateku benar-benar sate kambing?”
“Firasat-firasat. Jangan-jangan engkau hendak membuat onar di sini. Setelah mendapatkan sateku, kau tunjukkan pada orang-orang bahwa sateku sate tikus. Lalu kau memengaruhi penduduk sini untuk turun ke jalan dan membakar rumahku”.
“Tidak, Pak Jambul. Sungguh. Saya tidak punya niat sekeji itu”.
“Aku tak percaya,” bantah Pak Jambul. Lalu pedagang sate itu memanggil seorang polisi yang tengah duduk di teras. “Tangkap dia,” perintahnya.
Yudi terbelalak. Ia tak menduga di rumah ini sudah dijaga polisi. Rupanya sejak kejadian pembakaran warung itu, Pak Jambul telah menyewa posisi untuk menjaga rumahnya.
“Wah gawat. Bisa-bisa aku dituduh biang keladi kerusuhan itu. Lebih gawat lagi aku bisa dituduh PKI. Lalu aku dimasukkan tahanan,” kata Yudi dalam hati. Apa boleh buat, Yudi terpaksa lari.
“Tangkap dia,” teriak posisi itu.
Orang-orang yang kebetulan mengetahuinya, segera ikut mengejar. Yudi akhirnya tertangkap.
Laki-laki itu mencoba meloloskan diri. Tapi tangan-tangan orang yang menangkapnya lebih kuat. Lalu diserahkan ke polisi yang sedang menjaga rumah Pak Jambul. Tapi polisi itu malah terkejut begitu tahu yang dihadapi ternyata tetangganya sendiri.
“Yudi, kenapa bisa begini?” tanya posisi.
“Sebenarnya saya mau beli sate, pak. Tapi oleh Pak Jambul malah didakwa akan membuat keonaran di sini, akan membakar rumah ini”.
Polisi itu lalu menghampiri Pak Jambul dengan tersenyum. “Jangan khawatir, Pak Jambul. Ini orang baik-baik dan tetangga saya sendiri”.
Barulah Pak Jambul percaya. Yudi terus dipersilakan masuk. Bahkan laki-laki muda itu diberi sate kambing dengan gratis sebanyak dua puluh tusuk.
“Ini hadiah orang yang tak mudah terprovokasi,” kata Pak Jambul.
“Terima kasih, Pak Jambul”.
Yudi pulang dengan suka cita.