Suatu pagi aku terbangun dengan suara ketukan keras di kamar kosku. Aku kesal, jengkel, dan marah karena dibangunkan sekasar itu. Aku berusaha mengabaikan suara ketukan itu. Tapi ketukan itu semakin keras, seakan tak peduli bahwa aku masih ingin mendekap selimutku yang hangat. Dengan setengah hati, aku menuju pintu kosku, untuk sekedar mengintip tamu yang mengganggu tidurku.
Rambut kubiarkan berantakan, baju kubiarkan seadanya. Tak berkeinginan untuk mencuci muka, hanya sekilas memeriksa pantulan bayanganku di cermin saja sepertinya sudah cukup. Mendekati pintu, aku mendengar suara beberapa pemuda yang berbisik-bisik. Entah membicarakan apa, hanya saja nada bicara mereka terdegar cemas. Ragu-ragu, kuputar kenop pintu.
“Maaf, cari siapa ya?” ujarku.
Beberapa pemuda itu tiba-tiba terdiam. Tak lagi berbisik saat melihat kehadiranku di hadapan mereka. Salah seorang dari mereka akhirnya menjawab pertanyaanku,”Benar nama kamu Rizky?” Aku mengangguk cepat. Namun mereka malah saling memandang satu sama lain. Mereka tampaknya ingin menyampaikan sesuatu, namun air muka ragu-ragu itu justru membuatku semakin cemas.
“Sebenarnya ada apa?”
“Boleh kita masuk ke dalam? Lumayan panas di luar nih,” salah seorang dari mereka tiba-tiba bertanya. Memang, matahari sedang terik-teriknya, seperti hujan hawa panas ke bumi.
“Oh, iya. Silakan masuk. Maaf ya, berantakan.” Aku mundur beberapa langkah, mempersilakan mereka masuk kamarku yang belum tersentuh alat pembersih apapun sejak seminggu lalu. Kuhitung satu per satu. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Lima pemuda dan seorang kebingungan; aku.
“Gini, Mas Rizky.. Sebenernya kita ke sini mau..” Kata-katanya belum sempat diselesaikan. Namun tiba-tiba ada bunyi barang-barang jatuh dari arah kamar mandi. Kami semua saling berpandangan.
“Mas, kami tahu Mas Rizky orang baru di sini.” Seorang pemuda memulai pembicaraan. Wajahnya memucat. “Kami penghuni lama di kos ini. Kami tinggal di lantai bawah, makanya kita jarang bertemu. Kami harus memberi tahu Mas Rizky… Mas Rizky harus tahu bahwa… Di tempat ini ada…sesuatu.” Ia sedikit berbisik.
Aku mengerenyitkan dahi. Mulai paham arah pembicaraan para pemuda ini. Aku memang baru beberapa hari pindah ke kos ini. “Maksud kalian…hantu?”
Beberapa dari mereka mulai gelisah. Keringat di keningku pun menetes sudah. Aku mulai mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Perasaan tidak nyaman ketika berada di kamar mandi, seperti ada yang memandangiku dari setiap sudutnya. Lalu, bulu kuduk yang terkadang meremang ketika aku memasak mie instan di tengah malam karena lapar.
“Emm.. Jadi benar, ada hantu?”
Salah satu dari mereka menghela nafas, lalu bertanya, “Mas Rizky dulunya ngekos di mana, sebelum di sini? Soalnya..”
“Soalnya setelah lo datang, tu setan baru muncul. Lo habis ngapain sih sebelum pindah ke sini?!” Tiba-tiba, seorang pemuda yang sedari tadi diam, mencecarku tanpa ampun.
“Saya merasa tak berbuat apa-apa, atau melakukan kesalahan apapun.” Aku berkata dengan suara setegas mungkin, walaupun otakku terus-menerus berputar, memikirkan berbagai kemungkinan, mengapa mereka menganggapku sebagai sumber masalah.
“Tapi semenjak kedatangan Mas, kami merasa tak tenang tinggal di sini.” Seorang pemuda berambut cepak berkata.
“Itu tuduhan yang tak berdasar,” sahutku dingin. “Sebaiknya kalian tak menuduh seseorang berdasar praduga seperti itu.” Aku melanjutkan.
Seorang pemuda yang tadi menanyakan namaku akhirnya berkata,”Baiklah, kita selidiki bersama masalah ini.”
“Caranya?” Si pemuda yang mencecarku bertanya.
“Coba Mas ingat-ingat kembali, adakah sesuatu yang sekiranya bisa memicu masalah ini?”
Aku tercenung. Bingung. Aku merasa selalu menjadi orang baik selama ini. Setidaknya, aku tak pernah dengan sengaja menghilangkan nyawa milik orang lain ataupun.. Eh, tunggu sebentar. Aku ingat sesuatu. Wanita yang tempo hari menyebrang jalan di depan kos-kosan ini. Jangan-jangan…
“Kenapa, kamu ingat sesuatu?” Salah seorang dari mereka bertanya saat melihat air mukaku yang berubah.
“Tidak, hanya saja…” Kata-kataku terputus. Aku bingung bagaimana mengatakannya pada mereka.
“Hanya apa?!” Salah satu dari mereka mendesakku.
“Kalian ingat ada kecelakaan tempo hari?” tanyaku. “Yang korbannya seorang wanita?”
Si pemuda berambut cepak mengangguk. “Iya, kejadian itu berlangsung dini hari. Tak ada saksi mata. Wanita itu tewas. Dekat kos ini. Lalu apa hubungannya denganmu?”
Aku memandang para pemuda itu dengan gugup. “Sebenarnya…aku…melihat kejadian yang sesungguhnya…aku ada disana…”
“Dia…memanggilku. Berkali-kali. Tapi aku terlalu takut menghampirinya. Aku…”
“Jadi, lo diem aja sampe dia mati?! Gila lo, ya?!”
“Tapi…aku…Kamu tidak mengerti situasinya, Mas…Aku bingung harus bagaimana…” Seketika, lututku melemas. Pada tembok polos di belakangku, aku bersandar. Nafas mulai memburu, keringat kian bercucuran, dada berdebar tak henti.
“Sudah, sudah… Coba Mas Rizky ingat-ingat lagi. Setelah kejadian itu, mayatnya dibawa ke mana?”
“Aku…tak tahu…Aku tidak menyentuh dia sama sekali. Aku langsung lari. Paginya, saat aku kembali ke kosan ini, mayatnya sudah tak ada di tempat semula.”
“Kita harus mencarinya.” Salah satu dari mereka langsung bangkit berdiri.
“Mencari apa?” tanyaku gugup.
“Sudah pasti ‘kan? Mayat wanita itu?” sahutnya.
“Tapi, kemana kita harus mencarinya?” Jantungku berdegup kencang, mengingat kembali mayat wanita yang tak berdaya itu, yang mati di hadapanku itu.
“Aku punya dugaan.” Pemuda yang mencecarku yang belakangan kuketahui bernama Doni langsung bergerak menuju keluar kos.
“Kamu mau kemana, Don?” tanya teman-temannya yang lain.
“Menurut kalian, siapa yang bangun hingga subuh di kos ini?” tanyanya dengan wajah serius.
“Siapa?” tanyaku.
“Pak Hendro, penjaga kos ini.” Si pemuda berambut cepak menyahut. “Ayo, kita temui dia.”
Kami bergegas menuju tempat tinggal Pak Hendro yang letaknya di belakang bangunan kos. Siang itu, suasana kos cukup sepi. Kami hanya berpapasan dengan beberapa orang yang baru saja pulang kuliah. Ada sebuah lorong panjang yang terbentang menuju halaman belakang. Kira-kira dua ratus meter panjangnya. Di sepanjang lorong, suasana cukup gelap. Sebab sinar matahari tak leluasa masuk ke bagian bangunan sebelah sini. Tercium bau lembab di mana-mana. Pemandangan tembok retak ada di sana-sini, meski tak seberapa. Maklum, kos-kosan ini sudah cukup tua.
Sesampainya di depan pintu rumah Pak Hendro, jantungku masih belum berhenti berdebar-debar. Seno, pemuda yang tubuhnya paling tinggi diantara kami, mengetuk pintu.
“Permisi.. Pak Hendro? Pak? Ini saya, Seno..”
“Mau apa?” sahut Pak Hendro dengan suara serak.
“Pak, kami mau tanya tentang hal yang penting. Tolong, buka pintunya…” Seno berkata.
Pak Hendro kemudian membuka pintu.
“Ada apa ini?” Ia tampak terkejut melihat beberapa pemuda berombongan di depan pintunya.
“Pak, apa Bapak tahu sesuatu tentang…wanita yang kecelakaan itu?” sambar Doni. Ia rupanya tak sabar lagi.
Wajah Pak Hendro memucat. Ia langsung menyeret tangan kami satu persatu agar masuk ke dalam rumahnya yang sempit.
“Apa yang kalian ketahui?” tanya Pak Hendro saat kami sudah di dalam.
“Kami pikir…Bapak tahu tentang kecelakaan itu…” Aku berkata dengan hati-hati.”Apakah…apakah Bapak yang menguburnya?”
Ada jeda beberapa detik sebelum Pak Hendro menjawab, “Menurut kalian bagaimana?” Entah mengapa,Pak Hendro mundur perlahan, lalu mengunci pintu di belakang kami. Suasana tiba-tiba mencekam.
“Menurut kalian, kenapa?” Pak Hendro malah balas bertanya sambil tersenyum sinis.
“Bapak tidak punya niat jahat sama kami, kan? Kami cuma ingin tahu tentang wanita itu, Pak…” Seno mulai waspada, terlihat dari bahasa tubuhnya. Tangannya menggapai-gapai benda di sekitar, berusaha mencari sesuatu sebagai senjata.
“Kalian tanya saja langsung sama orangnya.”
Kejadian itu terjadi begitu cepat. Tanpa kami sadari, sebelah tangan Pak Hendro sudah siap dengan golok besar. Kemudian, kita semua tahu yang terjadi setelahnya. Kami berusaha menyelamatkan diri, sambil berdoa dalam hati. Namun, mungkin kami terlambat menyadari, karena kami berhadapan dengan orang yang telah menabrak seseorang hingga mati.