Bulan dan Bintang(1)
BULAN
Perempuan itu sebenarnya masih terbilang muda, namun kerutan-kerutan dan helaan nafas panjangnya menunjukkan bahwa terdapat banyak cerita yang telah menjadikannya lebih dewasa daripada seharusnya. Setidaknya saat ini, ketika putrinya terbaring manis di pangkuan, dan pikirannya melayang ke cerita-cerita tersebut.
Di benaknya terbayang masa itu. Masa yang penuh dengan cita-cita, idealisme, mimpi atau apapun itu yang membuatnya terus berlari. Ia berasal dari keluarga tidak berada, jatuh bangun memperjuangkan pendidikan hingga akhirnya berhasil beranjak ke pendidikan tinggi. Ia pun tak segan untuk bermimpi semakin jauh, kuliah di luar negeri tampaknya bukan sesuatu yang sulit lagi.
Ah, Hei.. Tidakkah itu pula cerita yang sudah seringkali diangkat ke media? Bahkan layar lebar. Cerita-cerita tokoh sukses yang berangkat dari kemiskinan. Apa yang membuatnya menjadi satu dari yang tidak mungkin? Kuncinya kerja keras, bukan? Ya, dan lain sebagainya. Ia sudah cukup bekerja keras, dan tidak segan untuk bekerja lebih keras.
Berita kegagalan satu demi satu berdatangan, ia masih kuat. Tidak apa, tinggal mencoba lagi. Semua kesempatan ia buka, semuanya tidak membiarkannya terbuka. Apa yang salah? Ia sudah melakukan semua rumusannya. Investasi yang dikeluarkannya pun tidak tanggung-tanggung tersebab keoptimisannya. Sekarang ia tidak punya modal apapun lagi. Orang-orang disekelilingnya juga tidak bisa mendukung banyak sejak awal. Saatnya untuk lebih realistis, katanya.
Ketika ia merutuk dan frustasi, ia mencoba meghibur diri, melarikan diri dari apapun kesalahannya, hingga tidak disadari bahwa ia jatuh dalam kesalahan yang lebih besar.
BINTANG
Aku ingin bermain! Tapi Bunda tidak membolehkan. Kata Bunda, aku harus selesai membaca huruf hijaiyah ini dahulu, eh, begitulah sebutannya. Aku mengikuti apa yang Bunda sebutkan, sambil bunda menunjuk-nunjuk gambar-gambar yang ditempel di dinding itu. Sekalipun aku menangis keras dan merajuk, Bunda tetap bergeming. Hiks, aahh aku ingin segera selesai.
Bunda melambaikan stiker di depan mataku, aku berhenti merajuk. MAUU, kubilang. Sambil berusaha merebutnya. Bunda kembali menyembunyikannya. Aku anak sholihah katanya, jadi setelah selesai baru kemudian akan mendapatkannya. Ah, baiklah.
Gambar yang ditunjuk Bunda lucu-lucu. Hihi. Ada yang bacanya mendesis, Bunda sampe muncrat-muncrat. Ada yang lidahnya digigit gitu. Ada yang monyong-monyong hihi.. sambil pipi Bunda bergetar. Tapi ada juga yang susah, bergetar gitu lidah Bunda, iih.. gimana sih? Aku ga bisa! Susah!
Pasti bisa kata Bunda. Gak susah. Masa sih? Iya, karena telah dijamin dengan pasti akan dimudahkan oleh Allah. Anak sholihah percaya Allah, kan? Bunda menyoel pipiku yang cemberut.
-bersambung-
***
nyoba2 buat cerpen buat dilombain, ga lolos. Alhasil mending di post disini. Biar smoga jadi hiburan di sela-sela ramadhan, dan post-post an yang berkaitan dg politik. ehe.
udah lama ga nulis cerpen, masih sangat drama alurnya. Tp cukup dari hati inspirasi dan pesannya.
Selamat menikmati. Semoga menginspirasi.









