Heathens
Jangan bilang hidupmu sulit kalau belum pernah merasakan yang seperti ini; tidak punya orangtua, tidur di lorong-lorong antara bangunan, dan—harus menjaga seorang adik.
Apalagi, kau bukan manusia.
“Hyung, lapar.”
Hujan belum reda. Rintiknya membasahi aspal, menyiram tanpa ampun siapapun yang berpijak di atas bumi. Genangan air terbelah roda-roda kendaraan yang melintas. Enaknya. Mereka di dalam mobil dan bus, tidak perlu berlarian menghindari hujan. Lebih nyaman lagi yang duduk di bawah atap gedung, rumah, atau minimal halte bus. Apalah, dia hanya bisa mengedarkan pandangan iri, kemudian merapat ke dinding lembab di belakangnya. Dingin sekali. Dia sudah melepaskan mantelnya yang penuh tambalan untuk anak laki-laki yang duduk di sebelahnya. Dahinya berkerut, karena anak itu mengatakan suatu hal yang paling ditakutinya.
Lapar.
Mendung memang menutupi matahari, tetapi belum lewat tengah hari. Riskan jika mencari makan di siang hari. Namun ia tak bisa memarahi adiknya. Wajar, sudah seminggu mereka belum makan. Bergantung pada kopi kalengan tidak memuaskan perut. Yah, bahkan untuk sekaleng kopi, mereka harus berharap pada keberuntungan. Menemukan sekeping demi sekeping koin di pinggir jalan. Kadang perlu sehari penuh sampai mereka mendapatkan sekaleng kopi—dan harus berbagi.
“Tunggu hujannya reda, ya? Nanti kita beli kopi di mesin seberang sana,” ketika telunjuknya terangkat, mengarah pada mesin minuman di samping minimarket, setetes air hujan mendarat di dahinya. Dari setetes, dua tetes, lalu semakin deras.
Tak sempat mendongak, tapi dia tahu kalau papan yang diletakkan di sela-sela tangga darurat gedung di sampingnya ini, sudah digeser. Atau tergeser oleh air hujan. Bocah empat belas tahun itu buru-buru berdiri dan membawa bocah yang lebih muda itu, yang duduk di sampingnya tadi, untuk berpindah tempat. Berlari. Genangan air kotor di lorong sempit membuncah saat diinjak kaki-kaki kecil mereka. Mencari tempat berteduh, sulit untuk mereka. Sangat sulit. Bisa saja mereka berbalik arah untuk berteduh di halte pinggir jalan. Tetapi, di sana terlalu banyak orang, banyak manusia dan itu berbahaya. Apalagi mereka sudah seminggu kelaparan.
Yeonghwan-hyung pernah bilang, biarpun mereka adalah ghoul, pemangsa manusia, mereka tidak boleh menyakiti manusia yang masih hidup.
“Hyung—Hyung! Kita mau ke mana?”
“Hyung…aku capek lari terus…lapar…”
Dia bisa, kuat tidak makan seminggu, bahkan sebulan. Tapi, jangan paksa ia pura-pura tuli saat adiknya mengiba, meminta sesuatu yang tidak bisa diberikannya saat ini juga.
Menggigit bibirnya kuat-kuat, sambil menggenggam tangan adiknya, basah kuyup—dia berusaha tidak menoleh. Menyelinap di balik gedung-gedung tinggi Seoul, melewati lorong-lorong gelap yang terjamah manusia sekali dalam waktu lama. Abai pada bau menyengat tong sampah dan tumpukan plastik berisi makanan busuk di sisi pintu belakang restoran, dia terus berlari, membawa adiknya. Semakin jauh dari keramaian, semakin jauh. Sampai berhenti di lorong sempit, di mana atap-atap gedung nyaris menempel, sehingga hujan tidak tembus. Kering. Ya, lembab memang. Dia menarik adiknya untuk berteduh di sana.
“Moonbin tunggu di sini sebentar, ya? Aku cari makan dulu. Jangan ke mana-mana. Janji?” Kedua tangan menggenggam bahu adiknya. Tersenyum. “Pokoknya tunggu aku di sini.”
Adiknya tersenyum, mengangguk semangat.
“Hu-um! Ryu-hyung, Moonbin tunggu di sini!”
***
Dia sudah berpesan supaya adiknya menunggu. Niatnya menyelinap ke ruang jenazah rumah sakit di ujung jalan sana, mengambil beberapa potong bagian dari korban kecelakaan yang belum teridentifikasi—entah karena tak ada kartu pengenal, atau memang hancur total. Dia belum pernah membunuh. Tidak, bahkan menggunakan kagune seumur hidupnya, hanya dua kali. Sewaktu organ ajaib itu muncul pertama kali, dan saat—saat mereka dikejar para investigator. Satu tahun lalu.
(Yeonghwan-hyung juga tidak pernah pulang, setelah kejadian itu)
Pintu di bagian belakang rumah sakit ini sangat jarang digunakan. Letaknya sangat tersembunyi, sebenarnya merupakan pintu darurat. Namun tepat di sebelah kanan pintu itu, ialah ruang jenazah. Orang-orang enggan mendekat ke sini. Dia bisa berjalan dengan leluasa, tidak perlu mengendap-endap. Oh ya, bulan kemarin dia sudah pernah mampir ke tempat ini untuk mencari makan. Tetapi selalu dilakukan malam hari, saat bahkan para penjaga malas mendekat ke bagian sini. Sekali dia mendengar, katanya ada hantu, atau apalah. Ya, tetapi dia yakin itu hanya ulah ghoul yang ceroboh. Sebab dia bisa mengendus aroma sejenisnya, terpapar di berbagai sudut lorong ini.
“Ternyata ada seekor di sini.”
Tangannya sudah meraih gagang pintu, segera ditarik. Tercekat.
Lorong di belakang rumah sakit itu gelap. Basah. Seharusnya tidak ada siapa-siapa di sini.
“Masih bocah. Sayang sekali. Padahal aku butuh koleksi baru.”
Pria itu membawa koper. Bau ini sangat dikenalnya.
“Jangan takut, anak manis. Sakitnya hanya sebentar.”
***
Ryujoon tidak suka hujan.
Duduk di atap gedung, ujung mantel hitamnya berkibar diterpa angin. Mantelnya sekarang tak bertambal. Tebal. Mantel yang bagus. Pemuda delapan belas tahun itu mencebik di balik topeng bermotif rubah miliknya, mendengar suara-suara yang menandakan pertarungan sudah terjadi di bawah sana. Semua orang berpesan supaya dia bersembunyi saja di atas, biar yang lain mengurus dan membuka jalan—padahal mereka hanya lima orang, sementara gedung ini penuh dengan puluhan (mungkin ratusan, malah) investigator. Sekelompok di antaranya adalah Quinx—enam orang, kalau tidak salah—atau investigator setengah ghoul.
Ryujoon tidak suka hujan, dan tidak suka CCG. Catat itu.
Langit sudah mendung dan dia berada di atas markas CCG, sekarang bayangkan seberapa buruk suasana hatinya. Dia bisa mengendus aroma darah, tetapi diganggu oleh angin yang terus berembus, kencang. Tidak, kali ini dia tidak lapar. Tujuannya—mereka—datang ke sarang merpati ialah membebaskan salah seorang kawan, yang kemungkinan besar akan dicuci otak untuk dimanfaatkan melawan para ghoul di luar sana. Semakin busuk, organisasi ini semakin licik dan keji dalam mengincar ghoul. Mereka menangkap anak-anak ghoul yang kehilangan keluarga atau kerabat, kemudian dibesarkan dengan cara mereka—sampai akhirnya menjadi senjata yang mematikan.
Dulu, dulu sekali, empat tahun lalu dia hampir mengalami nasib serupa. Salah satu alasannya kenapa ia tak suka hujan, dan benci pada CCG.
Hujan dan investigator sialan itu membuatnya ingkar janji.
“Moonbin tunggu di sini!”
Dia tidak bertemu adiknya setelah itu. Jelas, dia baru bisa kembali ke lorong tersembunyi itu dua minggu setelah kepergiannya. Dua minggu, kata Feli-jie, Ryujoon tidak sadarkan diri selama itu. Memang keji, investigator yang menyerangnya waktu itu. Biarpun dia masih bocah, serangan bertubi-tubi menghantamnya, tanpa ampun. Sangat beruntung, Ryujoon sangat beruntung dia bisa bertahan sampai—kebetulan—Feli-jie dan seorang temannya lewat di dekat sana.
Entah beruntung atau sial. Sampai hari ini dia belum menemukan adiknya, dan itu semua karena kejadian di belakang rumah sakit.
Kadang dia berpikir lebih baik waktu itu mati saja sekalian. Setiap malam dia masih terbangun karena suara adiknya.
“Oh?” Terdengar derap langkah semakin mendekat, dari arah tangga. Dua pasang sayap merah terkembang di punggung. Mungkin sudah ada yang mengetahui kalau di atap pun ada satu ghoul yang bersiaga. Sewaktu membalikkan badan, di hadapannya ialah pria bertubuh jangkung, kedua tangannya menggenggam pedang kemerahan. Kenal, dia kenal sekali aroma ini. Di balik topeng, matanya terbeliak, tetapi dia menyeringai emosi.
Kagune Yeonghwan-hyung.
“Menyerah saja,” pria itu memasang kuda-kuda, “Archangel.”
Archangel.
Kode konyol yang disematkan padanya oleh merpati-merpati ini.
Tak perlu bicara saat berhadapan dengan investigator, itu ajaran yang didapatnya selama ini, selama ia bertahan hidup di balik lorong-lorong. Habisi secepat mungkin, lalu pergi. Setahun pertama hidup bersama sekelompok ghoul yang lebih tua, dia sempat enggan menyerang investigator, masih terbayang petuah Yeonghwan-hyung. Sayang sekali prinsipnya luntur dengan cara yang menyakitkan waktu itu, ketika seorang temannya tewas di depan mata, karena dia enggan ikut menyerang. Sejak saat itu dia berani melawan investigator, tak segan membunuh mereka, malah. Salah satu alasan mengapa CCG memberi nama ‘Archangel’ padanya—dia punya empat sayap, dan sangat berbahaya.
Kali ini pun ia tak akan ragu menghabisi investigator sialan itu. Dia akan membawa pulang Yeonghwan-hyung.
Walau hanya quinque itu—akhirnya dia bertemu dengan Hyungnya.
(“Ryujoon, janji sama Hyung. Apapun yang terjadi, jangan pernah menyakiti manusia.”)
(“Ryujoon, Moonbin, dan Hyung bisa kok, hidup bersama manusia. Kita bisa berteman dengan mereka. Tidak semuanya jahat, yang jahat pun masih bisa berubah.”)
Hyung—
“Berikan,” telunjuknya mengarah pada quinque berbentuk pedang itu. “Aku tidak akan menyerang kalau kau menyerahkan senjatamu.”
Investigator itu tertegun. Memandangi quinque di tangannya, bergantian dengan ghoul muda yang berdiri di sana. Kelihatan bingung. Ryujoon sendiri, bingung kenapa ia meminta quinque itu alih-alih langsung menyerang. Mudah saja, harusnya. Beberapa tembakan dari kagunenya pasti bisa menumbangkan si investigator. Tetapi, dia seolah melihat kakak sepupunya di sana, berdiri dan melipat tangan di depan dada. Menggeleng tidak setuju—Yeonghwan-hyung selalu menggeleng seperti itu tiap mendapati Ryujoon berulah dulu.
(“Menyerang investigator juga tidak boleh, Hyung?”)
(“Jangan, Ryu-ah. Mereka juga punya keluarga. Bayangkan sedihnya kalau keluarga mereka kehilangan, dibunuh oleh kita, ghoul. Ryu juga tidak mau kan, dipisahkan dari Hyung atau Moonbin?”)
“Hah. Jangan bercanda!”
Dia melamun terlalu lama. Mendadak investigator itu sudah menerjangnya. Ketika melompat untuk menghindar, dia merasakan kehadiran sosok ketiga di belakangnya.
“Tsk—”
“Jangan kira kami bodoh—Moonbin!”
Rintik pertama hujan hari itu jatuh di topengnya.
Dia mendengar deru angin, ada yang melesat membelah udara. Sosok ketiga di atap gedung tampak berdiri di samping investigator itu. Ryujoon kenal sekali, kenal sekali dengan wajah itu—biarpun sekarang garis-garisnya lebih tegas, sepasang manik merah kelam itu dulu tak memiliki pandangan setajam sekarang.
“Moonbin…”
Dua pasang sayap. Identik seperti miliknya.
Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba dia hanya bisa melihat langit mendung, hujan deras membasahi wajahnya—oh, topengnya lepas—dan sebelumnya, dua pasang sayap memenuhi horizonnya. Entah sakit, atau mati rasa, tubuhnya ditarik gravitasi menjauhi pinggiran gedung. Terjun bebas. Namun ia tak bisa menggerakkan sedikitpun bagian tubuhnya. Oh, sakit. Ternyata yang menyelimutinya adalah rasa sakit.
Itu Moonbin.
Ya. Moonbin berdiri di sana, menunduk, memandangnya seolah Ryujoon hanya seonggok sampah.
Tidak ada binar polos di dalam sepasang rubi—binar polos, yang sangat ingin dilindunginya.
Moonbin…?
Sosok adiknya semakin jauh. Semakin jauh. Tubuhnya sendiri semakin dekat dengan bumi.
Ryujoon benci hujan.
Hari itu, hujan turun lagi, ketika dia terpisah dari adiknya—lagi.













