Bangunan bergaya Belanda itu sudah terguyur hujan dan membasahi seluruh permukaanya. Bangunan tua yang dijadikan sekolah ternama dan terpandang itu mempunyai aura-nya tersendiri, lantai kelas yang terbuat dari kayu, dinding-dinding yang di batasi oleh tumpukan bata dan batu-batu yang tersusun rapi. Walaupun terkesan tua dan bergaya classic sekolah ini banyak diminati karena suasananya yang tenang dan nyaman, banyak pohon-pohon tua yang berdiri kokoh siap untuk meneduhkan para pelajar disini. Fasilitas modern yang dipadukan dengan gaya lama yang membuat sekolah ini seperti layaknya surga bagi para pelajar. pelajar yang bisa berfantasi,bermimpi sekaligus mengejar cita-citanya.
Clarina mencoba melanjutkan santapanya. Clarina menyuapkan sesendok demi sendok nasi gorengnya, ia bahkan sampai lupa untuk mengunyahnya dengan benar. Semua gumpalan nasi itu lansung ia telan habis dan membuat kerongkonganya serasa menelan batu. Clarina tersedak-sedak dan mengambil minumnanya dengan terburu-buru, Zafran yang melihat tingkah aneh clarina merasa tertarik perhatianya, dia memandang Clarina dengan wajah terheran-heran dan membuat clarina semakin gugup.
Kemudia Clarina merasakan detukan kecil di sikut kirinya, ternyata itu sikut Zafran dia sengaja menyenggol sikut Clarina dan memberinya isyarat untuk menerima sesobek kertas yang bertuliskan
"aku tunggu di perpus pulang sekolah. Kamu harus datang
-zafran"
Clarina kaget dan tubuhnya membeku, berusaha ia tolehkan lehernya dan melihat ke arah Zafran. Clarina memandang kaget wajah zafran. Lalu zafran tersenyum dan menunjuk gadis yang disebelah Clarina. Zafran membisikan sesuatu ke telinga Clarina.
“bukan buat kamu, kasihin ke yang disebelah dong” ucapnya sambil tetap tersenyum dan Clarina melihat pinggiran matanya yang mengkerut. Clarina tidak menjawab apa-apa dia hanya mengganguk, lalu memberikan sobekan kertas itu ke perempuan yang disebelahnya.
Gadis yang menerima sobekan kertas itu nampak tidak antusias, dia hanya melirik lalu membuka dan membaca surat kecil itu dalam hati. Ekspresi wajahnya tidak menunjukan perasaan apapun, kecuali bosan.
Gadis itu lalu merobek-robek kertas yang dititipkan Zafran melalui Clarina. Setelah merobeknya dia masukan ke mangkuk bekas makanya itu, Clarina tau ini suasana yang canggung. Dia menarik kesimpulan bahwa Zafran menyukai gadis yang disebelahnya itu dan gadis itu nampaknya tidak antusias terhadap Zafran. Clarina menoleh dan berusaha memberikan tatapan mata yang prihatin, Zafran hanya tersenyum suram.
Bel berbunyi tanda sekolah hari ini telah usai, Clarina berjalan melewati lorong-lorong sekolah yang kebetulan searah dengan lorong menuju perpustakaan. Saat Clarina sampai dan melihat jendela perpustakaan itu dia melihat Zafran sedang duduk dan bertumpu dagu pada meja di perpustakaan. Dia jadi teringat dengan kejadian tadi di kantin, saat Zafran hanya tersenyum suram. Clarina penasaran akan jawaban gadis yang disukai Zafran, apakah gadis itu datang? Apakah pernyataan Zafran diterima? Tanpa menimang keputusanya Clarina akhirnya masuk dengan mengendap-ngendap, dia tidak mau ketahuan oleh Zafran dia sudah terlalu malas untuk berurusan denganya lagi. Kali ini dia hanya penasaran bagaimana nasib Zafran.
Awalnya Clarina hanya mengintip sedikit demi sedikit dari balik lemari-lemari buku yang lebih tinggi dari tubuhnya. Sudah hampir 10 menit Zafran hanya duduk terdiam tidak melakukan apa-apa. Clarina semakin penasaran karena tidak ada kerjaan, dia mengambil sebuah buku yang kebetulan ada dibelakang punggungnya. “Sejarah Tahun 1920” judul buku itu, sampulnya berwarna coklat tua, kertas di dalamnya juga sudah menguning. Aroma bukunya seperti bau tanah dan bau debu yang terperangkap selama puluhan taun. Clarina sejenak mengagumi buku itu, buku sejarah sudah seperti saksi bisu peristiwa-peristiwa sejarah Indonesia. Rupanya ini bukan seperti buku sejarah terbitan penerbit buku sekolah, ini lebih seperti journal yang di ketik ulang. Gaya ketikanya seperti model ketikan pada mesin tik. Disana hanya berisi tentang berita-berita pemerintahan Belanda terhadap Indonesia, menceritakan saat Batavia (sekarang Jakarta) dijadikan pusat pemerintahan Belanda dan beberapa silsilah keluarga beserta foto hitam putihnya.
Clarina terlalu asik sampai-sampai dia lupa terhadap orang yang sedang ia buntuti itu, saat Clarina sudah mengingatnya dia menutup buku itu dan berhenti membaca. Clarina mengintip melalui celahan-celahan buku di lemari buku melihat Zafran yang masih duduk diam, sepertinya dia tidur. Clarina putus asa. Rupanya perburuanya tidak berbuah pada suatu kejadian yang menarik. Akhirnya Clarina berusaha memikirkan ide lain, dia duduk dan menyimpan buku itu di pangkuanya. Suasana gelap dan tenang perpustakaan sungguh membuat hati menjadi damai. Aroma kayu-kayu tua dan pantulan cahaya matahari pada lantainya yang gelap, menambah kesan Belanda di perpustakaan ini. Suasana hatinya yang tenang berefek pada otaknya lalu ke bagian matanya. Clarina mulai merasakan rileks dan mengantuk lalu tertidur.
“Belinda bangun, Belinda.. Belinda bangun sayang”
Clarina bangun dan mengosok-gosok matanya. Dia kebingungan, dia bangun bukan di perpustakaan dan lebih seramnya lagi dia bangun bukan di kamarnya. Kamarnya yang ini bertempat tidurkan yang terbuat dari besi dengan seprai putih dan berenda. Clarina juga bingung sejak kapan dia suka memakai gaun tidur seperti ini.
“aku dimana? Maaf ibu siapa?” tanya Clarina bingung
“saya Ibu Saruyu saya ditugaskan untuk melayani Nyonya Belinda”
“apa?!” Clarina semakin bingung, siapa itu Belinda. Dan ibu ini memangginya Belinda dari tadi.
“nyonya jangan berteriak-teriak. Tidak baik untuk anak perempuan, nanti tuan Cornelis akan marah”
“tunggu-tunggu bu, nama saya bukan Belinda..” jawab clarina pasrah dan menatap nanar pada Ibu Saruyu
“sudah nyonya jangan berbohong ayo cepat mandi, mari saya bantu”
Dengan sergap Ibu Saruyu sudah menarik tubuh Clarina dan membuka kancingan bajunya, kali ini Clarina berusaha menutupi tubuhnya yang dibuka paksa oleh Ibu Saruyu itu
“oke oke ibu! Saya bisa sendiri ibu keluar aja oke?” bentaknya pada Ibu Saruyu
“nyonya sejak kapan berbicara tidak sopan seperti itu. Yasudah saya keluar” jawab Ibu Saruyu datar.
Terserahlah. Guman Clarina kesal. Dia berusaha mencari tau dimana dia sekarang kenapa kamarnya berubah dan siapa itu Ibu Saruyu dan Tuan Cornelis?
Clarina mencari pakaian di lemari yang ada di kamar itu. Dan betapa terkejutnya saat dia melihat semua pakaian itu hanya pakaian lama dan tidak ada unsur-unsur ‘celana’. Semua pakaian itu beruba gaun-gaun mini dan pakaian yang sangat feminim. Tanpa pikir panjang clarinya menyambar salasatu baju yang dianggapnya paling normal.
Clarina membuka jendela dan terkejut untuk kesekian kalinya, ini bukanlah rumahnya yang dulu, halaman rumah ini sangat luas hampir semuanya berupa rumput hijau, dan hanya ada beberapa pohon yang sangat besar. Clarina panik dia takut diculik ke puncak atau semacamnya.
Lalu dia meliha salasatu foto keluarga yang terpampang di dinding kamarnya.
“Kantor Pusat, Batavia -1920”
Semuanya semakin jelas sekarang. Clarina sepertinya entah bagaimana menjalani perlintasan waktu dan terjebak di tahun 1920.
Pintu kamarnya dibuka dan dia melihat Ibu Saruyu yang membuka mulutnya, terkejut.
“nyonya! Kenapa belum siap-siap?! Jangan memakai pakaian yang itu! Pakai yang paling bagus.. ya gusti, nyonya harusnya bisa lebih sopan. Nanti saya kena marah sama Tuan Cornelis”
“ibu, saya bukan Belinda. Jangan panggil saya nyonya lagi ya bu, tolong. Dan kalau tuan cornelis itu marah-marah pada ibu, tenang saja nanti saya hajar”
“nyonya! Jangan seperti itu! Tuan cornelis itu ayah nyonya sendiri”
Clarina diam terpatung.
“siapa? Ayah saya?”
“iya yang ini” tunjuk Ibu Saruyu pada foto keluarga yang tadi dilihat oleh Clarina. Ayahnya si Tuan Cornelis itu rupanya seorang penjabat belanda dan menikah dengan orang pribumi. Ayahnya si Tuan Cornelis yang berkumis dan dengan potongan rambut yang sederhana, dengan memakai baju khas pemerintah belanda itu sedang memegang tongkatnya dan gergaya di dalam bingkai foto itu.
“sudah ayo cepat nyonya! Sini saya gantikan pakaian nyonya. Tuan sudah menunggu di luar”
Dengan pasrah clarina hanya diam saja membiarkan ibu saruyu melepas pakainya dan mengantinya dengan yang baru.
“bu, emangnya ada apa dengan tuan- eh ayah. Kenapa dia ingin bertemu dengan saya?”
“nyonya akan dijodohkan” jawab ibu saruyu datar
“apa?! Saya masih 16 tahun bu!”
“Lah, saya menikah pada umur 14 dan suami saya berumur 25 tahun. Nyonya beruntung karena nyonya anak seorang pejabat. Maka akan dinikahkan dengan anak pejabat lainya juga”
“dia pasti sudah tua ya bu..” Clarina memandangi pasrah nasibnya
“enggak nyonya, tadi saya ngintip. sepertinya masih muda”
Syukurlah, guman Clarina. Kalau calon jodohnya itu masih muda mungkin dia masih diajak kompromi. Dan bisa membantu Clarina untuk kabur dan mencari alamat sekolahya di jaman 1920 ini. Mungkin dengan kembali ke perpustakaan itu Clarina akan sendirinya bangun dan berada di jamannya lagi. Ibu saruyu sudah mendandani Clarina dengan riasan yang menurut Clarina sangat norak dan berlebihan. Clarina hanya diam saja pasrah, ibu saruyu sulit sekali untuk diajak berdebat diakhir kalimat pasti ibu saruyu akan bilang “jangan begitu.. tidak pantas... harus patuh... itu tidak sopan nyonya.. dan blablabla”
Clarina sudah digiring ke ruang tamu disana ada keluarga si calon jodoh Belinda. Ya Belinda bukan Clarina.
Hari ini merupakan hari tes jantung bagi Clarina. Sudah beberapa kali dia terkejut di jaman 1920 ini entah apakah dia tahan sampai tahun 2013, atau jantungnya yang tidak tahan. Si calon Belinda ini, wajahnya mirip sekali dengan Zafran. Hanya saja rambutnya lebih coklat dan dengan potongan rambut model 7:3. Dia memakai pakaian kasual ala keluarga bangsawan jaman Belanda.
“Belinda, perkenalkan keluarga mister Marcekov”
Clarina pun tersenyum dan menjabat tangan satu-persatu keluarga Marcekov itu.
Nama calon Belinda adalah Devoss Everhart. Clarina tidak bisa menahan tawa karena mambayangkan Zafran si cowo populer itu punya nama aneh seperti ini, tubuh Clarina bergetar karena menahan tawa. Kemudian saat itu ayah Belinda menyadari keanehan pada Clarina lalu dia mencubit lengan Clarina dengan keras
“bersikaplah yang sopan” bisik ayah Belinda dengan suara yang menyeramkan.
Clarina hanya bisa menggaguk karena cubitan itu sangatlah sakit, sepertinya akan meninggalkan bekas memar.
“sebaiknya Devoss harus bisa berkenalan lebih jauh lagi dengan Belinda” ujar mister Marcekov
“ya kalian berdua pergilah berjalan-jalan di kebun luar” kata ayah Belinda
Tanpa basa-basi pun Devoss yang berwajah Zafran itu langgung membuka lenganya, tanda agar Clarina menyalipkan tanganya pada lengan Devoss atau lebih singkatnya Devoss mengajaknya untuk bergandengan.
Awalnya Clarina hanya diam “apa maksudnya?” guman Clarina. Tapi entah kenapa dia teringat adegan-adegan film dan menuruti isyarat dari Devoss.
Mereka berjalan menaiki bukit hijau yang terbuka, pengawal ayahnya sengaja membututi untuk pengawalan Belinda. Clarina pun membuka pembicaraan.
“Devoss sangat mirip dengan temanku, em.. bukan teman sih”
“Mevrouw Belinda tidak seharusnya memanggilku tanpa tanda kehormatan” balas Devoss tak acuh.
“maksudnya apa? Eh apa tadi? Mevrouw?” tanya Clarina
“ya. Itu artinya Nona atau Nyonya. Apakah ibu anda tidak mengajarkanya?”
Clarina pun sadar, dimana sosok ibu Belinda daritadi yang mengurusnya hanya Ibu Saruyu
“mungkin sedang keluar.. ahaha lalu panggilan untuk laki-laki apa?” Clarina berbohong dia tidak tau dimana keberadaan ibu Belinda.
“panggil saja meneer Devoss. Tapi setelah kita menikah, mevrouw bisa memanggil saya dengan sebutan apa saja”
Bagai petir di siang bolong. Pembicaraan laki-laki ini sangatlah dalam, Clarina tau dia seumuran dengan Devoss tapi tutur katanya sudah seperti skrip di film-film drama.
“me-me-meneer?”
“ya. Itu artinya tuan”
Clarina terngitan suatu produk pada jamanya, produk yang memang berkesan ke belanda-belanda-aan. Ya! Jamu nyonya meneer. Clarina pun tertawa terbahak-bahak.
“mevrouw seharusnya tidak terawa sekeras itu, apalagi Belinda adalah anak seorang pejabat”
Lagi-lagi dia menceramahi Clarina. Sesaat bicaranya sangat dalam, lalu kemudian akanberubah menjadi seorang guru di sekolah kepribadian.
“ya maaf maafkan saya ‘meneer Devoss’” ujar clarina dengan nada yang sedikit di tekan di ‘meneer devoss’
Kemudian mereka berhenti bicara dan tetap berjalan-jalan, ini suasana yang canggung. Apalagi jarak diantara keduanya sangat dekat. Secara, Clarina sedang menggandeng tanganya dengan Devoss. Akhirnya Clarina memberanikan diri.
“jadi meneer Devoss. Tolong ceritakan tentang diri anda” hmph. Clarina ingin tertawa keras karena lagat bicaranya sudah seperti orang-orang bangsawan saja.
“saya lahir di Belanda tahun 1904. Lalu ayah saya dipindah tugaskan dan pergi ke Hindia-timur (sebutan indonesia pada masa penjajahan Belanda), kami sekeluarga pergi dan itu saat saya berumur 4 tahun. Sebenarnya nama lengkap saya Devoss Marcekov Everhart. Saya punya satu kakak laki-laki dan dia dikirim ke makasar, dan satu adik perempuan saya yang tadi mervouw Belinda lihat sendiri. Kedudukan ayah saya diatas ayah anda”
Clarina mengerjapkan mata, satu lagi nama aneh yang masuk ke directory otaknya. Dan Hindia-timur itu adalah sebutan Indonesia pada masa penjajahan Belanda, untung clarina suka membaca buku. Jadi dia tau.
“bagaimana dengan Belinda?” tanya devoss
“oh um.. nama saya Belinda Drick, ibu saya adalah anak pejabat pribumi jadi tidak heran perawakan saya seperti ini. Saya anak tunggal dan saya berumur 16 tahun” jawab Clarina mengasal, dia haya mengupulkan fragmen-fragmen yang diceritakan oleh ibu Saruyu.
“ya, saya bisa melihatnya” lalu tiba-tiba Devoss mengambil tangan Clarina dan menggengamnya.
“kulit mevrouw lebih berwarna dan tidak pucat”
Adegan ini membuat jantung Clarina berdebar-debar. Ia takut kalau Devoss akan berbuat lebih jauh dari hanya menggengam tangan. Tapi syukurlah pengawal ayahnya datang dan memberitahukan bahwa mereka berdua sudah ditunggu di rumah Belinda.
“semoga pernikahan anak kita ini langgeng dan hubungan diantara keluarga kita akan semakin erat” ucap meneer Marcekov
“ya saya harap juga begitu” jawab ayah Belinda
Saat memasuki ruangan wajah Clarina berubah menjadi pucat. Tanganya mengeluarkan keringat dingin. Pernikahan. Ya akan ada pernikahan. Antara Belinda dengan Devoss. Dan sekarang orang-orang mengira Clarina adalah Belinda. Ia lupa untuk memikirkan jalan kabur, sebenarnya saat tadi berjalan di kebun Clarina bisa saja melarikan diri.
“ya baiklah Belinda kalian akan menikah 3 hari lagi” ujar ayah Belinda pada Clarina
“tunggu! Aku bahkan baru mengenal Devoss! Berhenti memanggilku Belinda dan aku masih 16 tahun! Mana mungkin menikah!” bentak Clarina kesal. Ketika Clarina hendak berjalan menuju kamarnya tanganya dicengkram oleh ayah Belinda.
“Belinda, ayah mengerti. Tolong jangan mempermalukan ayah” tiba-tiba suaranya ayah belinda berubah menjadi lembut. Clarina pun luluh, dan saat dia melihat ke arah keluarga Marcekov. Mereka melotot terkaget-kaget.
“maaf meneer Marcekov. Ini um.. hanya pertengkaran kecil. Antara putri dan ayah”
Setelah kepergian keluarga Marcekov, Clarina masuk ke kamar dengan lesu. Kemudian ayahnya mengetuk pintu kamar belinda.
“Belinda tolong buka pintunya”
“buka saja, tidak dikunci”
“Belinda biar ayah jelaskan”
Sungguh hari ini hari yang mengjengkelkan bagi Clarina. Semua orang memanggilnya Belinda. ‘Ini Clarina!’ guman clarina. Kemana sebenarnya Belinda yang asli?
“semenjak ibumu meninggal, ayah kesulitan untuk mengurusmu. Tugas ayah semakin banyak dan menumpuk. Tidak ada yang bisa ayah percayai lagi kecuali keluarga Marcekov, Sahabat ayah. Jadi tolong ini demi kebaikan mu Belinda” ujar ayah Belinda lirih.
“tuan Cornelis..” ujar Clarina dan membuat ayah Belinda kaget dengan sebutan itu.
“saya bukan Belinda, nama saya Clarina Larasati. Saya bukan dari jaman ini. Mungkin saya mirip dengan anak tuan Cornelis, tapi saya bukan Belinda”
“lalu kemana Belinda?! Kamu jangan berpura-pura Belinda jangan harap ini akan membatalkan pernikahanmu, ayah sangat sayang pada Belinda” ucap ayah belinda lirih.
Clarina tidak memjawab apa-apa lagi, dia tidak kuat melihat ekspresi ayah Belinda. Apalagi setelah mengetahui bahwa ibu Belinda sudah meninggal. Lalu ayah Belinda pergi berlalu. Dan Clarina pun tertidur. Dan bermimpi..
Clarina melihat dirinya yang sedang bersekolah di sekolah asalnya, jalanya sangat anggun dan rambutnya diikat dengan pita bunga. Clarina berusaha memanggil-manggil dirinya, tapi dirinya yang berseragam sekolah itu tidak mendengar Clarina, sampai Clarina sadari bahwa tubuhnya hanya berupa bayangan transparan. Clarina mengikuti gadis yang mirip denganya itu kemana-mana ke kelas, ke toilet, bahkan ke kantin dan melihat bahwa Zafran yang asli yang memang Zafran populer yang berasal dari jaman sekarang sedang berbicara dengan gadis yang mirip Clarina itu. Gadis yang mirip clarina itu tidak merespon baik pada zafran. ‘malang sekali nasib zafran dia populer, di tolak oleh gadis yang disukainya. Bahkan diriku yang disana menolaknya juga. Ahahaha’ umpat Clarina mengejek Zafran. Clarina terus mengikuti dirinya yang bersekolah itu sampai ke kelasnya dan seorang temanya bertanya
“Clarina, kenapa kamu engga mau sama Zafran?”
“dia tampan. Tapi tidak sopan, seharusnya dia meminta izin ayahku dulu untuk mengajaku makan siang. Dia berbicara seperti tidak menghargai wanita, lihat saja keluakuanya pada teman wanitanya yang lain”
Clarina bengong. Membayangkan teman-temanya yang mendengar ucapan dirinya yang itu, mereka pasti akan heran dengan gaya bahasanya yang sangat kuno dan terkesan sangat baku, Clarina hanya bisa menepuk jidat.
Dan saat itu Clarina pun tersadar, entah bagaimana caranya. Clarina dan Belinda tertukar tempat. Clarina yang berasal dari tahun 2013 bertukar tempat dengan Belinda yang berasal dari tahun 1920. Akhirnya Clarina mendapatkan ide. Belinda yang ada di jamanya itu sepertinya tidak suka pada laki-laki dari jamannya Clarina, dan kebalikanya, Clarina tidak suka dengan adat pernikahan pada jaman Belinda. ‘aku berwujub seperti hantu. Apakah bisa merasuki seseorang?’ tanya Clarina pada diri sendiri. Clarina mencobanya. Dia merasuki teman sekelasnya dan menarik tangan Belinda yang berada ditubuh Clarina, Clarina akan menuntun Belinda agar membaca buku sejarah tahun 1920 itu lagi, mungkin saja mereka bisa kembali ke tempatnya masing-masing.
“baca ini” Clarina dengan tubuh temanya itu menyodorkan sebuah buku coklat tua yang asalnya Clarina baca. Belinda nampak kebingungan, akhirnya Clarina berusaha lebih jauh.
“tolong baca ini plis.. Belinda aku tau itu kamu. Kamu Belinda kan? Anak Pak Cornelis”
“darimana kamu tau?”
“aku ini Clarina orang yang terlempar ke jaman kamu, kita ketuker.. wajah kita hampir sama, jadi tolong kamu kangen sama ayah kamu kan? Percaya deh dijaman kamu, kamu bakalan dijodohin sama laki-laki mirip sama Zafran dan dia lebih sopan dari Zafran yang ini”
“bagaimana kabar ayah saya? Siapa yang akan dijodohkan dengan saya?”
“udah deh Belinda, nanti kamu lihat aja sendiri. Sekarang tolong baca aja buku ini sampe sele---“
Clarina bangun. Clarina bangun di bangunkan oleh ibu Saruyu. Dia belum sempat menyelesaikan kata-katanya pada Belinda, ini membuatnya gusar. Bagaimana kalau Belinda tidak pernah membaca buku itu dan Clarina akan terjebak dijaman ini tahun 1920 selamanya?
Dua hari sudah berlalu Clarina masih belum merasakan tanda-tanda bahwa dia akan kembali ke jamanya, apalagi hari pernikahanya semakin dekat. Bukan, lebih tepatnya hari pernikahanya sudah ada didepan mata. Besok kalau Clarina tidak kembali, dia akan menikah dengan Devoss si Zafran versi belanda ini.
Clarina terus berdoa dan berharap agar Belinda segera membaca buku sejarah yang membuat mereka bertukar tempat. Clarina medapat pencerahan. Kalau buku itu tentang sejarah tahun 1920, mungkin buku itu ada di jaman Belinda. Clarina memanggil ibu Saruyu dan menyuruhnya untuk membawa semua buku yang bersampul coklat. Rata-rata buku yang dibawa ibu saruyu adalah berbahasa belanda Clarina tentu saja tidak mengerti. Sudah berjam-jam Clarina dan ibu Saruyu mencari buku itu tapi tidak juga ditemukan, Clarina semakin panik dilihatnya jam dinding di kamar Belinda tinggal beberapa belas jam menuju hari pernikahanya dengan Devoss.
Ibu Saruyu sudah membereskan semua buku itu dan menyuruh Clarina untuk tidur. Mana bisa clarina tidur dengan perasaan panik seperti itu, tapi Clarina tetap berusaha untuk tidur. Kemudian ayah Belinda tiba-tiba datang dan duduk di tempat tidur disebelah Clarina. Clarina hanya pura-pura tertidur.
“Belinda, putri ayah. Besok kamu akan menikah dengan laki-laki yang ayah percayai, ayah harap kamu bahagia. Jangan pikirkan ayah” ujar ayah Belinda seraya membelai lembut kepala Clarina. Clarina tidak bisa menahan rasa haru-nya, kasih sayang ayah Belinda yang amat besar membuat Clarina merasa bersalah karena sudah membentak-bentaknya kemarin. Clarina pun menangis tersedu-sedu dan ayah belinda hanya diam dan mengusap-ngusap kepala Clarina. Clarina pun terpejam karena ketulusan ayah belinda.
Semerntara itu dimimpi clarina..
“kamu Clarina larasati kan?”
“ya kamu siapa?”
“aku Belinda! Ya tuhan akhirnya kita bisa bertemu!”
“Be-belinda?” Clarina pun menangis karena perasaan lega yang meluap saat bertemu lagi dengan Belinda. Dan ini memang Belinda yang asli.
“iya Clarina,aku sudah baca buku itu dan aku ketiduran! aku juga sangat rindu dengan ayahku. Apakah benar aku akan menikah?”
“syukurlah.. ayahmu sangat sayang sama kamu Belinda..” isak Clarina sambil berusaha menyelesaikan kalimatnya “iya nama calon jodoh kamu Devoss..”
“apa?! Devoss dari keluarga Marcekov? Anugrah apa ini, aku sudah menyukainya dari dulu. Dia itu cinta pertamaku, aku sudah mengatakanya pada ayah. Terima kasih ayah..” ucap Belinda terburu-buru
“iya Belinda.. aku juga rindu sama keluargaku. Aku kangen sama Zafran..” Clarina teringat awal saat dia terlempar ke jama 1920 adalah karena dia berusaha menintip Zafran saat di perpustakaan, dia hanya ingin menyalahkan Zafran atas semua ini. Clarina dan Belinda saling berpelukan dan menangis bersama-sama.
“ya baiklah terima kasih atas petualanganya Clarina... Ini akan menjadi rahasia kita kan?”
“ya tentu saja, walaupun aku ceritakan pada orang-orang mereka tidak akan percaya..”
“aku harap kita masih bisa berhubungan Clarina” ucap Belinda dengan sedih
“ya aku juga, sudah sana pergi temui ayahmu dan Devoss..”
“baiklah Clarina selamat tinggal, aku sayang Clarina” Belinda tersenyum pada Clarina.
“ya aku juga” Clarina membalas seyuman belinda
Kemudia mereka berpisah jalan secara berlawanan, keduanya masih saling tengok kebelakang melihat detik-detik terakhir mereka berpisah.
“Clarina! Clarina! Kenapa kamu nangis? Eh! Bangun! Bangun!”
“huh? Dimana aku? Kamu siapa?” tanya Clarina
“aku Zafran! Kamu diperpustakaan tadi baca buku sampai tidur!” ujar Zafran
“terus sekarang dimana aku?”
“kamu di uks, aku gendong kamu soalnya kamu engga bangun-bangun. Kalo kamu mati sayang, nanti perpustakaanya bau mayat” ejek Zafran
“sialan...” bisik Clarina. Tapi dalam hati clarina, jantungnya berdegup kencang saat dia ingat kata-katanya pada Belinda tentang ‘aku kangen zafran..’ dan Zafran bilang bahwa dia sudah menggendong Clarina ke uks. Clarina hanya bisa bergidik.
“kamu sakit?” tiba-tiba suara Zafran berubah dan berisi sedikit perhatian
“hah? Aah e-engga..” jawab Clarina salah tingkah
“soalnya kamu tidurnya lama. diperpus aku nungguin kamu bangun tapi engga bangun-bangun aku kira kamu pingsan atau apa. Terus tadi kamu nangis-nangis sendiri”
“kamu ngapain nungguin aku, bukanya kamu nunggin cewe yang bakalan kamu tembak?” Clarina berusaha mengalihkan pembicaraan
“oh ahaha itu.. aku mau minta alamat kamu lewat cewe itu” ujar Zafran lalu menundukan kepala
“hah? Buat apa? Ahahaha” Clarina berusaha meledek Zafran, tapi tawanya berhenti saat melihat wajah Zafran yang memerah. ‘Lucunya..’ guman Clarina “eh Zafran jangan marah gitu dong!”
Sementara itu di rumah Belinda di tahun 1920..
Belinda sudah mengenakan gaun putih yang dibantu oleh ibu Zaruyu. Ayahnya melihat Belinda dengan pandangan haru. Devoss datang dan meraih tangan Belinda mereka berdua bergandengan dan berjalan ke altar yang dibuat sederhana di belakang kebun mereka, Devoss dan Belinda saling mengucapkan janji pernikahan. Sungguh sulit dipercaya mereka hanya seorang anak berumur 16 tahun dan sudah terikat oleh ikatan. Ya itulah 1920..
‘Clarina terima kasih, aku akan menyimpan rahasia ini. Suatu saat kalau aku akan segera pergi ke surga, akan aku ceritakan pada anak cucuku kalau bisa aku akan tulis di diary-ku. Tidak apa-apa kan? Ehehe sayangnya kita hanya bisa berteman sangat sebentar’
Satu bulan kemudian disekolah bergaya Belanda itu Clarina menemui kepala sekolah dan meminta catatan sejarah sekolah ini pada tahun 1920. Dan yang Clarina temukan adalah sekolah ini adalah rumah Belinda yang ia jadikan sekolah dan perpustakaan itu adalah kamarnya dulu yang mengalami pembesaran ruangan karena dijadiikan sebuah perpustakaan, Clarina berusaha mengenang gambaran-gambaran saat ibu Saruyu membangunkanya di kamar itu, saat dia menangis putus asa dan saat ayah Belinda datang dan mengelus-elus kepalanya sampai tertidur pulas. Sekarang kamar itu sudah diisi oleh lemari-lemari buku.
Clarina mengambil kembali buku coklat itu , membacanya dan berusaha agar tidak ketiduran karena dia takut akan kembali ke 1920 lagi. Clarina menangis karena diakhir buku itu terdapat tulisan
‘terima kasih atas petualanganya, untuk sahabatku dari masa depan. Clarina. Aku akan memdoakan mu selalu’
Zafran datang menghampiri clarina yang sedang menangis dan mengelus-elus pundaknya.
“iya.. udah, udah.. aku percaya kok..”
“engga kamu engga percaya” protes Clarina
“iya, iya terserah kamu aja” balas Zafran pasrah dan memeluk Clarina agar clarina berhenti menangis.