“Musuh kita bukanlah orang, musuh kita adalah syaiton. Karena itu, jika seseorang melakukan keburukuan, saya harap dia bisa kembali ke jalan yang benar, dan kita bisa bersama-sama masuk ke dalam syurga”
---
Itulah kalimat yang mentor saya ucapkan dalam sebuah ceramah. Kalimat itu menyadarkan saya, bahwa seringkali kita ketika melihat orang lain melakukan keburukan, apalagi jika orang itu kita benci, kita doakan hal buruk bagi mereka
Padahal, di satu sisi, kita juga bisa mendoakan hal-hal yang baik untuk mereka. Tapi, kita lebih senang mengikuti hawa nafsu kita, kita doakan semoga hidup orang itu hancur, semoga dia juga dapat keburukan.
Bolehkah mendoakan yang buruk? Tentu boleh-boleh saja. Rasulullah SAW juga pernah mendoakan orang-orang yang mau menghancurkan agama islam, agar dilaknat dan diazab.
Tapi pertanyaannya, apakah orang yang melakukan keburukan di sekitarmu, dia melakukan hal sebesar itu? Atau dia begitu hanya karena kekurangan ilmunya dan ketidak dewasaannya saja?
Ya, kita berhak mendoakan orang lain apapun, bahkan saat kita didzalimi. Tapi, andai bisa memilih do’a, tentu saya berdo’a, agar mereka yang berbuat dzalim, berubah menjadi orang yang mampu berbuat amal sholeh.
Bukankah terasa senang ketika orang-orang yang pernah dzalim di dunia, lalu taubat, akhirnya saling bertemu di syurga?
===
BERSAMA-SAMA
Bandung, 10 Februari 2022
@choqi-isyraqi
Pemuda itu berteriak "WAKIL RAKYAT JANGAN KORUPSI! ITU UANG RAKYAT"
Sambil sesekali dia di kampus suka markup uang Kegiatan Kampus, uang CSR, atau uang dari Rakyat.
Pemudi itu berteriak "BUKA MATA, APA KALIAN TIDAK PEDULI DENGAN RAKYAT"
Sambil sesekali dia pergi dari rumah tanpa kabar, sampai-sampai keluarga selalu cemas dan tak tahu anaknya sedang apa diluar sana, menunggu dengan cemas.
Pemuda itu berteriak "PEMIMPIN KOK BANYAK YANG DIPENJARA! HUKUM DI INDONESIA INI TUMPUL"
Sambil sesekali pemuda itu memohon keringanan saat ditilang oleh polisi karena kelalaian berkendaraan
Pemuda itu berteriak "PEMIMPIN KOK INGIN MENANG DENGAN CARA CURANG?! SAMPAH KALIAN"
Sambil sesekali di kampus kadang suka curi2 pandang jawaban orang saat ujian.
Pemudi itu berteriak "KEMANAKAH NILAI NILAI KEMANUSIAAN? APAKAH KALIAN TIDAK MENGERTI SESAMA MANUSIA SALING MENYAYANGI?"
Sambil sesekali dia suka membicarakan orang seolah menjadi biasa
Pemuda itu berteriak "AKU CINTA NEGERIKU" Sambil sesekali mendengarkan lagu-lagu luar negeri sampai bahkan tak hapal lagu-lagu budaya daerahnya sendiri
Pemudi itu berteriak "AKU KESAL! DI NEGERI INI, SEMUA ORANG INGIN MENANG SENDIRI"
Sambil sesekali dia menyela antrian, ataupun menerobos lampu merah, atau berkendara di jalur orang lain.
Pemuda itu berteriak "KAMI INGINKAN PERDAMAIAN"
Sambil sesekali mendorong para aparat dan melemparkan batu saat menyampaikan aspirasi
Pemudi itu berteriak "BANYAK DARI RAKYAT INI YANG SENGSARA. PEMIMPIN HARUS BISA BERGERAK!"
Sambil sesekali dia lebih senang jalan-jalan sama temannya ketimbang ikut kegiatan yang bersifat kemanusiaan.
Pemuda itu berteriak "ANGGOTA DPR RAPAT KOK PADA GAHADIR! RAPAT KO MALAH TIDUR!"
Sambil sesekali dia sendiri datang terlambat pada rapat-rapat organisasinya sendiri, atau bahkan tak hadir karena hanya rasa malas
--------------------------------
Pemimpin sekarang adalah pemuda dulunya. Dan pemuda sekarang adalah Pemimpin di masa depan. Maka, kita tak hanya bisa menuntut saja, berteriak hingga serak, atau mengeringkan tenggorokan.
Tapi, mungkin kita juga perlu berhenti sejenak, memandang cermin, dan melihat, apakah mungkin kita juga sama dengan mereka yang kita benci
BERHENTI SEJENAK, BERCERMIN
Di depan tv Konka dan | 27 Oktober 2014
Choqi-isyraqi.tumblr.com