Semusim telah berlalu sejak kita pertama kali bertemu. Adakah sesuatu yang mengusik dada, hingga kehadiranmu seakan menggangguku?
Sebenarnya tidak juga. Atau barangkali, tidak sepenuhnya. Kau seseorang misterius yang tak pernah kukenal sebelumnya, Bahkan bertemu denganmu adalah suatu yang tidak ada artinya. Itu dulu, sebelum aku belum sepenuhnya mengenalmu lebih dalam.
Ah, sebenarnya aku tidak ingin mengakuinya. Tetapi mengenalmu lebih dalam membuatku berpikir pada hal-hal yang tidak semestinya kupikirkan. Kau menjelma menjadi sosok menginspirasi yang bisa jadi kisah hidupmu selama ini bisa mengubah mindset banyak orang. Dan, barangkali aku juga.
Dari percakapan-percakapan yang mengalir begitu saja, secara tidak sadar, ada sesuatu yang tiba-tiba mengusik hati ini. Ah, Ya Tuhan, dengan disusul kalimat pengampunan, aku terus menyebut-nyebut-Mu ketika sesuatu yang menggelitik itu menerpa dada ini.
Dia setidaknya cukup istimewa dari kebanyakan seseorang yang kukenal, tetapi, untuk mengakui bahwa aku telah terjatuh pun rasanya belum cukup akurat.
Siapalah aku dan siapalah dia. Kurasa ini waktu yang tidak cukup tepat untuk membicarakan cinta. Dan, kalimat pengampunan itu terus terkomat-kamit dalam bibir.
Setidaknya, apabila hal ini benar-benar bukan hal yang tepat, jauhkanlah Tuhan. Jauhkanlah Ya Rabb. Karena, barangkali cinta itu masih bisa diredam jika itu adalah suatu hal yang tak semestinya. Atau, barangkali cinta itu bisa ditunda kehadirannya apabila itu akan mengkhawatirkan diri ini untuk kembali terjebak pada suatu hal yang tidak dapat diterka.