Menembus Dimensi Ruang dan Waktu
Hari itu, genap sudah usiaku berumur dua puluh dua tahun. Usia yang tak lagi sederhana ketika memikirkan proses menuju ikatan suci. Iya, dua minggu lagi aku akan mengungkapkan semua perasaan yang terjaga selama dua tahun terakhir ini. Saat aku telah kembali ke negeriku.
“Rania, sebentar lagi aku akan mengikat perasaan ini menjadi sebuah ikatan suci. Tunggu aku,” ujarku dalam hati sambil memandangi foto seseorang di layar ponselku.
Dua tahun lalu, ketika aku sedang dalam proses penelitian tugas akhir dalam meraih gelar sarjana, aku bertemu seorang wanita. Seseorang yang -entah- mampu mengubah seluruh hidupku menjadi lebih baik, walaupun dia sendiri tak melakukan apa-apa. Namanya Virania Octaviana, yang lebih sering kupanggil Rania.
Kami bertemu tanpa sengaja di dalam sebuah kereta api, dengan tujuan yang sama: Jogjakarta. Kala itu, aku yang duduk di sampingnya tertegun diam melihat seorang wanita yang begitu asyik dengan bukunya sendiri, buku Psikologi Anak. Dimana orang-orang lainnya -termasuk diriku- justru menikmati indahnya pemandangan hijau di sekeliling perjalanan.
“Maaf, ini bukumu jatuh,” ujarku sambil menyapa.
Dia nampak serius membaca buku, lalu kemudian menoleh ke arahku. “Ooh iya terima kasih.”
Aku mengangguk disertai senyuman. “Sama-sama. Omong-omong namaku Enoch. Namamu siapa?”
Dia lantas menutup keseluruhan buku yang sedang dibacanya. Aku pun takut kalau-kalau dia marah atas perlakukanku padanya.
“Hai Enoch, namaku Virania. Salam kenal, senang bertemu denganmu.”
Obrolan sore itu mengawali obrolan-obrolan kami selanjutnya sampai stasiun terakhir. Pun ketika kembali ke Depok, kami memutuskan untuk memesan tiket di hari yang sama. Entah kebetulan atau tidak, pertemuanku dengan Rania selama di kereta membuatku membuka mata dan hati akan sosok wanita yang satu ini. Tentang kemandirian, wawasan jauh ke depan, dan sikapnya yang lembut sebagai wanita membuatku jatuh hati padanya.
Namun aku bukan laki-laki yang suka mengumbar perasaan, perasaanku kala itu terjaga hormat dan tersimpan rapi dalam doa dan upaya untuk menjadikan dia pendampingku kelak. Masa-masa menunggu itu pun aku habiskan dengan mengambil gelar master di negeri Paman Sam, Amerika.
Meski tak pernah mengatakan sedikitpun perihal perasaanku padanya, aku tetap menjaga komunikasi padanya. Sesekali ketika memang ada hal yang harus dibicarakan bersama.
Dari sana pula, kuketahui dia melanjutkan pendidikan masternya di universitas yang sama. Pun mengambil jurusan yang sama. Iya, cita-citanya memang sudah bulat. Memperkuat ilmu Psikologi Anak, agar kelak menjadi ‘madrasah keluarga’ yang sesungguhnya.
Penerbangan sore itu menjadi penerbangan pertama kembali ke negeriku setelah dua tahun lamanya aku tak pernah kembali. Aku memang tak ingin merepotkan kedua orang tuaku, rasanya segan bagiku bila harus meminta uang untuk kembali ke negeriku setiap tahunnya.
Dengan segala suka dukanya, aku kembali membawa bekal ilmu dan pengalaman menuju tanah kelahiranku: Indonesia.
“Uang negara ini harus aku bayar lunas untuk pengabdian kepada negeriku,” ujarku dalam hati.
Pun dengan Rania, rasanya tak sabar untuk bertemu dengannya. Ketika pulang nanti, aku akan menyampaikan maksudku -untuk mengkhitbahnya- kepada kedua orang tuaku. Aku tak sabar.
Hitungan detik-detik perjalanan berlalu. Aku telah sampai di negeri asalku Indonesia. Di depan bandara, kedua orang tuaku telah menunggu. Rasa rindu yang teramat sangat, aku sampaikan lewat sebuah pelukan yang menghangatkan jiwa dan perasaanku. Air mata pun tak sanggup kubendung, mengalir bak air terjun yang tenang.
Di perjalanan, aku bertanya kepada Ibuku soal kabar Rania.
“Ma, Rania masih suka main ke rumah? Bagaimana kabarnya, Ma?” tanyaku.
Ibu tak banyak berkata, dia hanya mengangguk. Aku pun senang mendengar kabar Rania yang baik-baik saja. Aku memang sengaja tak memberitahunya soal kepulanganku, biar tahu-tahu aku main ke rumahnya saja. Terakhir kali berkabar dengannya, seminggu yang lalu.
Empat puluh menit lamanya perjalanan, mobil yang kami tumpangi berpapasan dengan sebuah mobil ambulan. Tak berbeda dengan mobil ambulan pada umumnya. Namun entah mengapa, perasaanku seketika berubah menjadi tak enak. Merasakan hal buruk yang sepertinya terjadi.
Aku tiba di rumah malam hari.
Pagi harinya, aku mencoba menghubungi Rania. Menanyai keberadaannya sekarang. Tiga puluh menit berlalu tanpa balasan. Aku memutuskan untuk ke rumahnya, mungkin saja dia sedang sibuk dengan kegiatan barunya.
Di depan rumahnya, tak nampak satupun orang. Terlihat sepi dari luar. Kali ini aku mencoba meneleponnya, namun nihil. Tetap tak ada jawaban. Hari itu aku putuskan untuk kembali.
Di perjalanan pulang, sebuah mobil ambulan pun berpapasan kembali denganku. Sirinenya seakan memberiku sinyal negatif tentang sesuatu yang sedang terjadi. Firasatku buruk, tetapi aku tak paham maksud yang tersirat ini.
Tiga hari kemudian, semua itu terjawab.
Sore itu ketika aku berpapasan kembali untuk ketiga kalinya, aku memutuskan untuk mengikutinya. Menuju ke sebuah rumah sakit yang tak jauh dari rumah Rania. Awalnya aku ragu untuk bertanya, tapi keingintahuanku tentang kabar Rania menepis keraguan itu. Aku menghampiri meja pusat informasi. Menanyai apakah ada pasien bernama: Virania Octaviana.
Dan benar saja, nama tersebut ada. Cepat-cepat aku menuju ruangan yang disebutkan tadi. Langkahku terhenti lemas manakala di depanku terlihat kedua orang tua Rania dan adiknya -Arnia- yang menangis. Pikiranku mulai tak karuan, begitu pula dengan hatiku.
Aku tak mau membayangkan, kuhampiri mereka.
“Om...tante... bagaimana kabar Rania?” tanyaku dengan napas yang tersendat-sendat.
Mereka hanya menangis, makin terisak-isak. Dalam suasana itu, Arnia menyampaikan kepadaku.
“Kak Rania telah beristirahat dengan tenang, Kak. Baru saja dia memberi senyum terakhirnya kepada kita semua,” ujar Arnia.
Aku tak banyak bertanya lagi selepasnya. Bibirku gemetar dan sekujur tubuhku pun lemas. Dari balik kaca, untuk terakhir kalinya dia memberikan senyum terbaiknya kepada kami semua di sana. Rania telah kembali ke sisi-Nya. Membawa semua cerita yang telah dibuatnya selama dua puluh dua tahun ini. Satu hari sebelum hari ulang tahunnya.
Dua hari setelah pemakaman Rania, aku baru mengetahui kalau dia menderita kanker darah. Dia sama sekali tak pernah memperlihatkan penyakitnya ini pada orang-orang sekitar, kecuali keluarganya. Tak pernah pula terucap dalam perkataannya hal-hal yang berbau pesimis, dia seseorang yang optimis.
Mungkin kalau dia masih di sini, hari itu adalah hari terbaikku -dan mungkin juga dia- untuk mengungkapkan perasaanku selama dua tahun ini. Tentang seseorang yang menjadi salah satu alasan mengapa aku menjalani hari dengan penuh senyuman.
Mungkin cinta takkan pernah bersama, pun bahkan untuk terucap saja takkan pernah. Tapi satu hal yang aku pahami, bahwa cinta sejati akan terus tumbuh walau harus terpisah oleh kematian. Sebab ia mampu menembus dimensi ruang dan waktu.