アクシデントシーン ドラムソロ中に ドラムに抱きつかれた #ドラム #drum #アクシデント #durmer #music #japan https://www.instagram.com/p/CPYCU_iJrNG/?utm_medium=tumblr
seen from Netherlands
seen from China

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Czechia

seen from T1
seen from Australia
seen from China
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from China
seen from China

seen from Malaysia
アクシデントシーン ドラムソロ中に ドラムに抱きつかれた #ドラム #drum #アクシデント #durmer #music #japan https://www.instagram.com/p/CPYCU_iJrNG/?utm_medium=tumblr
Menembus Dimensi Ruang dan Waktu
Hari itu, genap sudah usiaku berumur dua puluh dua tahun. Usia yang tak lagi sederhana ketika memikirkan proses menuju ikatan suci. Iya, dua minggu lagi aku akan mengungkapkan semua perasaan yang terjaga selama dua tahun terakhir ini. Saat aku telah kembali ke negeriku.
“Rania, sebentar lagi aku akan mengikat perasaan ini menjadi sebuah ikatan suci. Tunggu aku,” ujarku dalam hati sambil memandangi foto seseorang di layar ponselku.
***
Dua tahun lalu, ketika aku sedang dalam proses penelitian tugas akhir dalam meraih gelar sarjana, aku bertemu seorang wanita. Seseorang yang -entah- mampu mengubah seluruh hidupku menjadi lebih baik, walaupun dia sendiri tak melakukan apa-apa. Namanya Virania Octaviana, yang lebih sering kupanggil Rania.
Kami bertemu tanpa sengaja di dalam sebuah kereta api, dengan tujuan yang sama: Jogjakarta. Kala itu, aku yang duduk di sampingnya tertegun diam melihat seorang wanita yang begitu asyik dengan bukunya sendiri, buku Psikologi Anak. Dimana orang-orang lainnya -termasuk diriku- justru menikmati indahnya pemandangan hijau di sekeliling perjalanan.
“Maaf, ini bukumu jatuh,” ujarku sambil menyapa.
Dia nampak serius membaca buku, lalu kemudian menoleh ke arahku. “Ooh iya terima kasih.”
Aku mengangguk disertai senyuman. “Sama-sama. Omong-omong namaku Enoch. Namamu siapa?”
Dia lantas menutup keseluruhan buku yang sedang dibacanya. Aku pun takut kalau-kalau dia marah atas perlakukanku padanya.
“Hai Enoch, namaku Virania. Salam kenal, senang bertemu denganmu.”
Obrolan sore itu mengawali obrolan-obrolan kami selanjutnya sampai stasiun terakhir. Pun ketika kembali ke Depok, kami memutuskan untuk memesan tiket di hari yang sama. Entah kebetulan atau tidak, pertemuanku dengan Rania selama di kereta membuatku membuka mata dan hati akan sosok wanita yang satu ini. Tentang kemandirian, wawasan jauh ke depan, dan sikapnya yang lembut sebagai wanita membuatku jatuh hati padanya.
Namun aku bukan laki-laki yang suka mengumbar perasaan, perasaanku kala itu terjaga hormat dan tersimpan rapi dalam doa dan upaya untuk menjadikan dia pendampingku kelak. Masa-masa menunggu itu pun aku habiskan dengan mengambil gelar master di negeri Paman Sam, Amerika.
Meski tak pernah mengatakan sedikitpun perihal perasaanku padanya, aku tetap menjaga komunikasi padanya. Sesekali ketika memang ada hal yang harus dibicarakan bersama.
Dari sana pula, kuketahui dia melanjutkan pendidikan masternya di universitas yang sama. Pun mengambil jurusan yang sama. Iya, cita-citanya memang sudah bulat. Memperkuat ilmu Psikologi Anak, agar kelak menjadi ‘madrasah keluarga’ yang sesungguhnya.
***
Penerbangan sore itu menjadi penerbangan pertama kembali ke negeriku setelah dua tahun lamanya aku tak pernah kembali. Aku memang tak ingin merepotkan kedua orang tuaku, rasanya segan bagiku bila harus meminta uang untuk kembali ke negeriku setiap tahunnya.
Dengan segala suka dukanya, aku kembali membawa bekal ilmu dan pengalaman menuju tanah kelahiranku: Indonesia.
“Uang negara ini harus aku bayar lunas untuk pengabdian kepada negeriku,” ujarku dalam hati.
Pun dengan Rania, rasanya tak sabar untuk bertemu dengannya. Ketika pulang nanti, aku akan menyampaikan maksudku -untuk mengkhitbahnya- kepada kedua orang tuaku. Aku tak sabar.
Hitungan detik-detik perjalanan berlalu. Aku telah sampai di negeri asalku Indonesia. Di depan bandara, kedua orang tuaku telah menunggu. Rasa rindu yang teramat sangat, aku sampaikan lewat sebuah pelukan yang menghangatkan jiwa dan perasaanku. Air mata pun tak sanggup kubendung, mengalir bak air terjun yang tenang.
Di perjalanan, aku bertanya kepada Ibuku soal kabar Rania.
“Ma, Rania masih suka main ke rumah? Bagaimana kabarnya, Ma?” tanyaku.
Ibu tak banyak berkata, dia hanya mengangguk. Aku pun senang mendengar kabar Rania yang baik-baik saja. Aku memang sengaja tak memberitahunya soal kepulanganku, biar tahu-tahu aku main ke rumahnya saja. Terakhir kali berkabar dengannya, seminggu yang lalu.
Empat puluh menit lamanya perjalanan, mobil yang kami tumpangi berpapasan dengan sebuah mobil ambulan. Tak berbeda dengan mobil ambulan pada umumnya. Namun entah mengapa, perasaanku seketika berubah menjadi tak enak. Merasakan hal buruk yang sepertinya terjadi.
Aku tiba di rumah malam hari.
***
Pagi harinya, aku mencoba menghubungi Rania. Menanyai keberadaannya sekarang. Tiga puluh menit berlalu tanpa balasan. Aku memutuskan untuk ke rumahnya, mungkin saja dia sedang sibuk dengan kegiatan barunya.
Di depan rumahnya, tak nampak satupun orang. Terlihat sepi dari luar. Kali ini aku mencoba meneleponnya, namun nihil. Tetap tak ada jawaban. Hari itu aku putuskan untuk kembali.
Di perjalanan pulang, sebuah mobil ambulan pun berpapasan kembali denganku. Sirinenya seakan memberiku sinyal negatif tentang sesuatu yang sedang terjadi. Firasatku buruk, tetapi aku tak paham maksud yang tersirat ini.
Tiga hari kemudian, semua itu terjawab.
Sore itu ketika aku berpapasan kembali untuk ketiga kalinya, aku memutuskan untuk mengikutinya. Menuju ke sebuah rumah sakit yang tak jauh dari rumah Rania. Awalnya aku ragu untuk bertanya, tapi keingintahuanku tentang kabar Rania menepis keraguan itu. Aku menghampiri meja pusat informasi. Menanyai apakah ada pasien bernama: Virania Octaviana.
Dan benar saja, nama tersebut ada. Cepat-cepat aku menuju ruangan yang disebutkan tadi. Langkahku terhenti lemas manakala di depanku terlihat kedua orang tua Rania dan adiknya -Arnia- yang menangis. Pikiranku mulai tak karuan, begitu pula dengan hatiku.
Aku tak mau membayangkan, kuhampiri mereka.
“Om...tante... bagaimana kabar Rania?” tanyaku dengan napas yang tersendat-sendat.
Mereka hanya menangis, makin terisak-isak. Dalam suasana itu, Arnia menyampaikan kepadaku.
“Kak Rania telah beristirahat dengan tenang, Kak. Baru saja dia memberi senyum terakhirnya kepada kita semua,” ujar Arnia.
Aku tak banyak bertanya lagi selepasnya. Bibirku gemetar dan sekujur tubuhku pun lemas. Dari balik kaca, untuk terakhir kalinya dia memberikan senyum terbaiknya kepada kami semua di sana. Rania telah kembali ke sisi-Nya. Membawa semua cerita yang telah dibuatnya selama dua puluh dua tahun ini. Satu hari sebelum hari ulang tahunnya.
Selamat jalan Rania.
***
Dua hari setelah pemakaman Rania, aku baru mengetahui kalau dia menderita kanker darah. Dia sama sekali tak pernah memperlihatkan penyakitnya ini pada orang-orang sekitar, kecuali keluarganya. Tak pernah pula terucap dalam perkataannya hal-hal yang berbau pesimis, dia seseorang yang optimis.
Mungkin kalau dia masih di sini, hari itu adalah hari terbaikku -dan mungkin juga dia- untuk mengungkapkan perasaanku selama dua tahun ini. Tentang seseorang yang menjadi salah satu alasan mengapa aku menjalani hari dengan penuh senyuman.
Mungkin cinta takkan pernah bersama, pun bahkan untuk terucap saja takkan pernah. Tapi satu hal yang aku pahami, bahwa cinta sejati akan terus tumbuh walau harus terpisah oleh kematian. Sebab ia mampu menembus dimensi ruang dan waktu.
Melawan Perasaan
Malam selalu menjadi waktu terindah untuk menumpahkan perasaanku pada-Nya. Atas segala perasaan yang aku lawan. Selama ini.
***
Namaku Toeckino Soemartojo. Teman-teman biasa memanggilku, Ino. Aku baru berusia tujuh belas tahun. Sejak kecil, aku tak pernah melihat wajah kedua orang tuaku. Kata nenek, mereka berpisah ketika aku berumur dua tahun. Usia dimana seorang manusia sedang membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang-orang tersayangnya, dari kedua orang tuanya. Namun tak apa, aku senantiasa mencoba bersyukur, sebab satu-satunya orang tuaku saat ini adalah nenek. Ia yang merawat dan membesarkanku hingga kini.
Meskipun orang-orang menilaiku terlihat kuat. Mereka tidak tahu bahwa setiap malam, aku menangis. Menumpahkan semua perasaan yang aku miliki. Hampir sebelas tahun aku melakukan “ritual” ini. Berharap perasaan ini terhamburkan lewat air mataku.
Namun beberapa hari ke belakang, aku mulai meninggalkan perilaku ini. Tepat semenjak aku mengenal seseorang yang baru dalam hidupku. Seorang wanita yang baik hati dan perilakunya. Namanya Eren. Erenia Putri.
Aku baru mengenalnya ketika kami sama-sama berada di kelas dua belas Sekolah Menengah Atas. Entah apa yang aku rasa, aku tak paham. Namun yang jelas, aku menikmati perasaan ini. Perasaan yang belum pernah aku rasakan selama tujuh belas tahun ke belakang.
Perasaan ini membuat diriku berbeda. Aku mudah sekali bersemangat, bahagia di setiap tempat dan keadaan, serta memberikan energi berlebih di segala halnya. Aku seperti “terlahir kembali”.
Apakah ini yang namanya kebahagiaan?
***
Siang itu, pelajaran Bahasa Jerman. Materinya adalah latihan berdialog. Entah kebetulan atau tidak, rekan dialogku adalah Eren. Hari itu teman satu mejaku sedang berhalangan hadir. Dan Eren yang duduk sendirian memintaku untuk menjadi rekan dialognya.
Lima belas menit kami saling latihan berdialog, sebelum maju ke depan kelas. Saat itu, wajah Eren begitu jelas terlihat di depanku. Sesekali aku membuang pandanganku, menjaga agar aku tetap dalam fokus utamaku. Walaupun adab berdialog mengatakan untuk saling menatap mata lawan bicaranya, namun aku lebih mendengarkan nasihat nenek. Bahwa memandang lawan jenis itu seperlunya saja, karena pandangan pun harus dijaga.
“Ino dan Eren, silahkan!” ujar Frau Schena.
Aku dan Eren maju ke depan kelas. Menampilkan hasil latihan kami. Lima belas menit berlalu dan kami berhasil menyelesaikannya dengan baik. Aku senang melihat Eren yang saat itu juga terlihat senang. Lagi-lagi aku belum paham dengan perasaan ini.
Sepulang sekolah, kami juga sering pulang bersama—dengan berjalan kaki. Lokasi rumah kami memang searah, namun tidak berdekatan. Eren tinggal di sebuah perumahan elit, sementara aku harus berjalan lagi sekitar satu kilometer untuk sampai ke bangunan berlantai empat di wilayahku—rumah susun. Keterbatasan ekonomi membuat aku dan nenek harus tinggal di tempat itu. Apapun bentuknya, aku mencoba menikmati dan tetap bersyukur. Dan karena nenek juga yang selalu mengajarkan bahwa hakikat rumah itu ketika nyaman berada di dalamnya. Tidak peduli seberapa luas dan besarnya.
“Ketika kamu nyaman, maka itulah rumahmu.” Begitu kata nenek.
***
Frekuensi pertemuan yang sering aku lakukan dengan Eren berbanding lurus dengan semakin menguatnya perasaan yang aku rasa.
Di kelas, di kantin, dan di tempat-tempat dimana Eren sedang berada, aku selalu mencoba untuk mencuri-curi pandang. Sesekali aku juga menyapanya tanpa keperluan. Hanya sebatas ingin bertegur sapa. Dan melihat senyum indahnya.
Tiga bulan mendekati Ujian Akhir, kami selalu menghabiskan waktu untuk belajar bersama. Biasanya di rumah Eren. Tiap kali aku ke sana, aku tak mendapati keberadaan orang tua Eren. Hingga sampai di suatu waktu, aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Orang tua kamu kemana, Eren?” tanyaku.
“Mereka sedang bekerja, Ino.”
“Keduanya?” tanyaku lebih heran.
“Iya. Papaku seorang sibuk di salah satu perusahaan milik negara. Sementara Ibuku seorang konsultan manajemen. Biasanya mereka pulang agak malam. Ada apa, Ino?”
“Ooh sibuk sekali kedua orang tuamu. Tidak apa, aku hanya bertanya.”
Aku jadi ingat kedua orang tuaku. Bahkan mengingatnya membuatku sedih. Kadang aku bertanya dalam hati apa alasan mereka meninggalkanku, kalau hanya karena perdebatan belaka rasanya tak sampai seperti ini.
Ah, sudahlah. Aku sudah tak berniat mengingatnya. Semoga Tuhan menjaga mereka.
***
Siang itu, sepulang sekolah. Seperti biasa, aku dan Eren belajar bersama guna mempersiapkan Ujian Akhir. Tidak seperti hari-hari kemarin, hari itu Ibu Eren sedang berada di rumah. Beliau menyapa dan menyambutku dengan ramah.
Satu jam berlalu, saat itu sedang rehat sejenak. Kemudian Ibu Eren menghampiri kami. Mengajakku berbicara.
“Ino ajarin Eren ya biar pintar seperti kamu,” ujar Ibu Eren dengan nada bercanda. Aku hanya mengangguk sambil sedikit tersenyum.
“Omong-omong rumah kamu dimana, Ino?” tanya Ibu Eren.
Sejak delapan bulan aku mengenal Eren, memang dia belum sama sekali mengetahui rumahku. Aku sedikit menjaga identitas keluargaku.
“Di ujung perumahan ini, tante. Sekitar satu kilometer dari sini,” jawabku.
“Satu kilometer... ooh yang dekat rumah susun itu ya.”
“Rumah saya di sana tante.”
Persis sesaat aku menjawab pertanyaan Ibu Eren. Seketika itu juga wajah beliau mulai berubah. Wajah sambutan yang nyaman perlahan mulai berubah menjadi ketidaksukaan dengan kehadiranku di sana. Aku merasakan itu. Kemudian beliau pergi meninggalkanku dan Eren. Di saat itu pula kami melanjutkan belajar.
Keesokannya, Eren tampak berbeda. Dia tak menyapu bahkan ketika berpapasan. Seperti membuang pandangannya terhadapku. Aku tak paham mengapa demikian.
Apa salahku?
Sejak kejadian sore itu, kami tak pernah lagi menghabiskan waktu bersama. Eren tak lagi memintaku untuk mengajarkannya. Begitu pula denganku, aku tak mungkin memintanya untuk belajar bersama. Ada rasa canggung di dalam diriku.
Waktu terus berlalu, namun sikap Eren tak kunjung kembali seperti dulu. Dia benar-benar telah berubah, terhadapku. Meskipun demikian, perasaan yang aku rasakan ke dia tak berubah—tetap sama dan aku tetap tak memahaminya.
Dua minggu berlalu bahkan sampai Ujian Akhir berakhir dia tak kunjung berubah. Sesaat ketika dia berjalan pulang, aku mengejarnya. Menghalangi langkahnya seraya bertanya, “Eren, kamu kenapa? Aku salah apa? Kenapa sikapmu dingin seperti ini?”
Eren tak menjawab. Dia mencoba melanjutkan perjalanan, aku pun terus berusaha menghalanginya. Meminta dia menjawab pertanyaanku.
“Aku tak bisa bergaul lagi denganmu!!! Ibuku melarang aku bergaul dengan anak-anak rusun itu. Tak terkecuali kamu. Maafkan aku,” ujar Eren sambil berlari menjauhiku. Tampak jelas air mata yang tertahan darinya. Aku merenung diam, di sana. Duduk terjatuh. Tak percaya dengan perkataan yang baru saja aku dengar. Bahkan keadaan harus memisahkan aku dengan Eren. Dengan semua perasaan yang belum pernah aku alami selama tujuh belas tahun.
***
Malam harinya, perasaan yang aku rasakan kepada Eren mulai pudar. Gejolak pertarungan antara membiarkan dan menghilangkan bercampur aduk. Malam itu aku kembali menumpahkan air mata pada gelapnya malam. Kali dengan perasaan berbeda. Kesedihan yang lebih mendalam.
Hari-hari mulai terlihat kosong bagiku. Bahkan sampai pengumuman kelulusan, aku tak terlalu menggubris hasil yang aku peroleh. Meskipun saat itu, aku memperoleh nilai tertinggi di sekolah. Aku tak peduli, tidak ada lagi perasaan bahagia sedikitpun. Aku kehilangan kemampuan merasakannya. Yang tersisa hanya kesedihan.
“Kakak kenapa?” tanya salah seorang anak perempuan yang tinggal satu rusun denganku. Aku yang saat itu sedang menangis, lekas menghapus air mata yang mengalir di pipi.
“Kakak tidak apa-apa,” jawabku berusaha membaikkan keadaan.
“Jangan bohong kak. Air mata kakak berkata sebaliknya. Cerita saja kak,” ujar anak perempuan itu.
Dengan menunjukkan senyumku, aku menyampaikan bahwa aku baik-baik saja.
“Baiklah, kak. Kalau pangkal kesedihan kakak ada di kerasnya hidup, kata almarhum ibu saya jangan dituruti kak perasaan sedihnya. Lawan perasaan yang membuat kakak sedih tersebut. Aku masuk dulu ya kak, semoga kakak lekas membaik.” Dia pun kembali menuju kamar di sebelah kamar aku dan nenek.
Aku tersentak mendengar anak perempuan berusia sebelas tahun itu. Dengan penuh keyakinanya, dia menasihatiku. Dan entah mengapa, aku menerima nasihat yang mulus masuk ke sanubariku. Membuatku lebih tentram dari sebelumnya.
Anak perempuan itu benar. Kesedihan yang dituruti hanya akan membuat kesedihan baru, bukan menyelesaikan kesedihan sebelumnya. Membuat sisi-sisi yang seharusnya dinikmati dengan bahagia, terlewatkan begitu saja dengan rasa sedih.
Mungkin, aku memang ditakdirkan untuk melawan perasaan sedih yang hadir di kehidupanku. Dan membuatnya tersisih dalam kamus hidupku.
Aku Lelah
“Hei, turun!” teriakan-teriakan polisi itu jelas terdengar dari atas sini. Aku tak menggubrisnya. Tetap pada posisiku.
Dari atas gedung berlantai dua puluh dua ini, aku bisa melihat semuanya. Kerumunan orang-orang yang berpura-pura menangisiku. Mencoba menghalau langkah yang siap membawaku ke surga ini.
Aku menggeleng. Berteriak, “Tidak!!!”
Orang-orang semakin terlihat cemas. Berharap aku tidak melakukannya. Sayang, tekadku bulat untuk menyelesaikan ini semua. Aku pun melompat sambil berteriak, “Aku lelah!!!”.
***
“Bangun, nak. Bangun,” terdengar samar suara itu. Perlahan-lahan aku membuka kedua mataku. Melihat sekeliling. Kosong dan putih.
“Kamu siapa?!!!” teriakku sambil mencari sosok yang membangunkanku.
“Untuk apa kamu melakukan hal itu, nak?” Suara tak bersosok itu kembali terdengar.
“Bukan urusanmu!!! Kamu siapa, hei? Jawab aku!!!”
“Itu jelas urusanku, nak. Jawablah.” Memintaku untuk menjelaskan.
Dengan berurai air mata, aku pun menjelaskan. “Aku lelah. Lelah dengan kehidupan yang sama sekali tak pernah adil kepadaku ini. Lelah harus hidup susah. Lelah menahan lapar. Lelah tak dihargai orang. Bahkan lelah harus mengorbankan perasaan.”
“Mengapa lelah, nak? Bukankah kamu punya Tuhan?”
Sejak kecil aku bahkan tak mengenal Tuhan. Tidak ada yang mengajariku tentang-Nya. “Siapa Tuhan?”
“Dialah dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, nak. Yang Maha Mampu mengeluarkanmu dari segala masalah. Dialah Allah swt.”
Mendengar hal tersebut, aku tertegun diam. “Benarkan demikian. Lantas dimanakah Dia? Dimana aku bisa bertemu dengan-Nya? Meminta pertolongan-Nya?”
“Dia amat dekat dengan setiap hamba-Nya, nak. Bahkan sangat dekat. Akan ada saat kamu bertemu dengan-Nya. Berdoalah ketika kamu membutuhkan pertolongan-Nya. Dimanapun dan kapanpun. Dia Maha Mendengar segala doa.”
Aku terus merasakan sebuah energi mengalir ke dalam tubuhku—ke dalam hatiku. Sebuah perasaan yakin akan suatu hal.
“Sekarang kembalilah, nak. Usiamu masih panjang. Tugasku belum sampai kepadamu, nak. Percayalah bahwa Tuhan akan selalu bersama hamba-hamba-Nya. Sembahlah Dia, nak.”
Aku mengangguk. Merasakan sebuah ketenangan akan jawaban barusan.
Dalam ingatanku, aku merasakan tubuhku mulai tidak kelihatan. Seperti akan berhamburan. “Bolehkah aku tahu, siapa kamu?”
“Aku Azrael.” Bersamaan dengan suara itu, tubuhku seakan kembali ke keadaan semula. Kembali kepada saat sebelum aku melangkahkan kaki untuk jatuh.
***
“Kamu tidak apa-apa kan?” Ibuku memelukku seraya menangis.
Aku mengangguk. Terasa bingung akan hal yang terjadi. Dalam sadar, tubuhku sudah berada dalam pelukkan Ibu, tepat di atas gedung berlantai dua puluh dua itu.
“Ibu... aku ingin mengenal Tuhan. Allah swt. Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dzat Yang Maha Mampu mengeluarkan setiap hamba-Nya dari kesulitan. Aku ingin mengenal-Nya, Ibu.”
Maafkan Aku, Nenek
Di tengah suasana Ibu Kota dengan segala permasalahannya, dimana mungkin tak ada lagi kebaikan tersisa di dalamnya. Aku masih percaya pada satu hal: keluargaku. Aku hidup bersama kedua orang tuaku dan nenekku. Kami tinggal satu rumah.
Waktu itu aku baru menginjak kelas empat SD. Sekolahku cukup jauh, walaupun dapat ditempuh hanya dengan sekali naik angkutan umum. Sehari-hari aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama nenekku, kedua orang tuaku harus pergi bekerja sejak pagi dan pulang malam hari.
Aku selalu ingat, setiap waktu dhuha nenek selalu memintaku untuk mencabuti ubannya. Jumlahnya selalu genap seratus buah, tak lebih dan tak kurang. Meskipun demikian, uban nenek tak pernah habis.
Menghilangkan rasa gatal katanya.
Selain mencabuti uban nenek, kegiatan yang juga sering kami lakukan ialah makan gado-gado bersama. Jangan bayangkan nenek yang membuat sendiri, tidak demikian. Aku membelikannya di depan jalan rumah kami. Gado-gado langganan nenekku sejak pertama kali ke sini katanya.
Anak nenek tak hanya satu, namun tujuh. Beberapa tersebar di Ibu Kota, beberapa di provinsi. Dan setiap bulan sekali juga, nenek rutin mengunjungi rumah anak bungsunya. Apalagi dalam sebulan terakhir, semenjak cucu kelima nenek baru lahir, ia rutin seminggu sekali menengok cucunya di sana.
Sampai di suatu saat sebelum nenek pergi ke sana, ia berpesan kepadaku, “Nanti kalau nenek sudah pergi, kamu yang angkat jenazah nenek ya.” Aku yang saat itu baru menginjak kelas empat SD hanya mengangguk. Jelas tak begitu paham, yang aku pahami saat itu adalah sebuah pesan nenek seperti biasa ia menasihatiku.
Dua hari berlalu, ketika itu hari Kamis dan juga hari libur nasional. Aku sedang bersiap membantu Ibu bersih-bersih rumah. Telepon rumah berdering, Ibu mengangkatnya.
Tak lama setelah Ibu mengangkat telepon, ia lantas kemudian berteriak. Menangis histeris sampai tetangga sebelah rumah ikut menanyakan apa yang terjadi. Keadaanku di sana pun bingung tak mengerti. Baru setelah Ibu menjelaskan, aku paham kalau nenek telah tiada. Ia meninggal di angkutan umum saat menuju rumah, di pangkuan Ayahku.
Satu jam kemudian, ambulan yang membawa jenazah nenekku sampai di rumah. Aku masih ingat betul beberapa orang mengangkatnya untuk sampai ke rumah. Tak lama, orang-orang mulai berdatangan—mengucapkan bela sungkawa dan mendoakan jenazah nenekku.
Aku juga masih ingat betul detik-detik terakhir sebelum nenek dikafani, aku dipanggil oleh Ibu. “Sini, nak.” Itu kali terakhir aku melihat dan mencium kening nenekku. Air mataku hampir jatuh, namun aku menahannya. Nenekku pun dibawa menuju tempat peristirahatan terakhirnya.
Sesampainya di sana, aku kembali melihat jenazah nenek yang sudah di bawah liat lahat. Sudah diazani dan didoakan, siap ditutup untuk selama-lamanya.
Dalam tiap hamburan tanah yang dilemparkan ke sana, aku teringat pesan terakhir nenek kepadaku. Di situ aku baru paham, makna yang terkandung di dalam pesan terakhirnya. Bahwa nenek ingin aku menjadi salah satu pengangkat jenazahnya. Namun sayang, aku tak melakukan itu. Tanah telah meninggi. Nenek telah terkubur di sana untuk selama-lamanya.
Maafkan aku, nenek. Aku belum menjalankan amanah terakhirmu.
Hingga kini, enam tahun setelahnya. Tiap kali aku mendoakan nenek, aku selalu teringat kejadian itu. Detik terakhir nenek berbicara padaku, detik terakhir aku mencabuti ubannya, dan detik terakhir kami makan gado-gado bersama.
Hari itu, aku memahami bahwa akhir kehidupan itu menjadi rahasia Tuhan yang pasti kedatangannya. Bahwa setiap waktu, kita semakin menuju kepada kematian.
Selamat jalan nenek, semoga Tuhan menempatkan nenek di tempat yang sebaik-baiknya. Aamiin.
Memberi Sekadarnya (?)
“Mengapa bapak sering melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini?” tanya seorang ibu-ibu.
Bapak itu hanya tersenyum sambil terus memberikan bahan-bahan pokok kepada tujuh puluh anak yatim piatu di panti asuhan dekat rumahnya.
“Saya hanya mengamalkan perintah agama dan amanah almarhum bapak saya,” jawab bapak itu.
Wajah ibu tadi terlihat masih belum paham atas apa yang baru ia dengar. Mungkin dalam benaknya, agak aneh melihat orang seperti bapak ini. Wajar saja, di tahun itu orang-orang berlomba-lomba memikirkan dirinya masing-masing. Jangankan melakukan hal-hal seperti ini, bahkan untuk saling sapa saja mereka enggan melakukannya.
***
Tiga belas tahun lalu, ketika usia bapak itu baru berumur tiga belas tahun. Waktu itu ia dan bapaknya sedang menikmati sedapnya hidangan tempat makan kaki lima di pinggiran Ibu Kota. Sejak kecil, bapaknya selalu mengajarkan kesederhanaan dalam hidup—meskipun keadaan mereka sedang di atas level kehidupan.
Dari sudut kejauhan, terdengar lantunan musisi jalanan. Sudah menjadi kebiasaan mereka berpindah satu ke satu tempat lainnya. Menjajakkan keahlian mereka demi sesuap rezeki halal. Mereka tiba di dekat bapak dan anaknya itu.
Selembar uang kertas dengan nominal tertinggi pun dikeluarkan dari saku bapak tersebut. “Nak, berikan uang ini kepada mereka,” seru bapak itu kepada anaknya.
Tanpa banyak bertanya, anak itu lantas memberikannya. Nyanyian musisi jalanan itu pun terhenti. Dalam hati kecilnya, anak itu ingin sekali bertanya mengapa bapaknya begitu yakin memberikan uang yang saat itu sebetulnya mampu untuk membeli empat buah pecel lele di pinggiran Ibu Kota itu.
“Nak, suatu saat. Ketika kamu hendak memberi, jangan ragu dan jangan setengah-setengah. Bantulah semaksimal yang kamu bisa. Kalau tidak bisa uang, bantu tenaga,” ujar bapak itu kepada anaknya.
Kejadian malam itu menjadi malam sekaligus nasihat terakhir bapak itu kepada anaknya. Keesokan siangnya, Tuhan memanggil pulang sang bapak. Sejak saat itu pula, perlahan namun pasti sang anak mulai paham akan nasihat tersebut. Tentang hakikat memberi. Bahwa memberi dekat sekali dengan membantu. Dan memberi bukan karena kasihan, namun karena perintah Tuhan.
***
Dan hari ini, tiga belas tahun setelahnya. Saat Tuhan memberikan rezeki lebih untuk ia dan keluarganya. Ia tak lupa untuk memberi kepada sesama, berbagi sebagian rezeki yang telah Tuhan berikan.
Sampai sekarang, tak pernah ada kata bosan. Karena baginya, selama ada kesempatan memberi, maka di sana ada kebahagiaan batin yang tak ternilai harganya.
Prime Time
Sudah hampir dua minggu Ibu tak mengajakku menikmati liburan?
Liburan sekolah kali ini memang hampir berakhir. Dan belum sekalipun aku menikmati masa liburanku bersama Ibuku. Jangan tanya soal liburan teman-temanku, mereka sudah berulang kali mengunggah foto-foto asyiknya bersama keluarga.
Semenjak Ayah berpulang setahun yang lalu. Ibulah yang menggantikan posisi Ayah, banting tulang menghidupiku—anak semata wayangnya. Semua kebutuhan yang dahulu dipenuhi Ayah selama Ibu hanya menjadi home educator, kini menjadi tanggungan Ibu seorang. Berbekal keahliannya mendalami ilmu tata boga, tiap pagi Ibu sudah harus menjajakkan dagangan makanannya keliling wilayah provinsi. Hal itulah yang membuat aku dan Ibu hanya bertemu ketika pagi dan malam.
Meskipun demikian, Ibu tak pernah lupa membawakan sarapan dan menyiapkan makan siang di rumah ketika aku pulang sekolah.
Agar aku bisa berkonsentrasi belajar katanya.
Kejadian setahun lalu memang mengubah pola keluargaku. Keuangan, kebahagiaan, bahkan sampai pertemuan terbabat habis olehnya.
“Mengapa bahkan di liburan ini Ibu terus bekerja? Tidakkah salah bagiku meminta haknya sebagai anak untuk mendapat perhatian lebih?” tanyaku dalam hati. Tiap hari aku selalu mempertanyakan hal demikian. Bahkan sampai waktu liburan kali ini pun akan berakhir. Tapi tetap saja tak ada jawaban. Ibu tak menghiraukan suara hati anaknya ini.
Sampai suatu ketika di pagi terakhir liburan, Ibu membangunkanku. Waktu itu usiaku genap berumur enam belas tahun. Tak ada yang spesial, hanya sebuah nasi kuning dan doa. Khas keluargaku.
Namun di pagi itu ada hal yang berbeda. Ibu terlihat santai menjalani kegiatannya di dapur—tak seperti biasanya. Padahal sudah setengah jam dari waktu biasanya Ibu harus berangkat kerja. Hari itu Ibu tak bekerja. Ia menghabiskan waktu satu jam penuh di dapur untuk membuat beberapa masakan kesukaanku.
Tak sampai di situ, Ibu bahkan memberikanku sebuah hadiah yang sedang aku idam-idamkan, sebuah handphone keluaran terbaru.
“Maafkan Ibu yang tak pernah ada waktu untukmu. Selamat ulang tahun anakku. Semoga kebaikan selalu mengikutimu. Doa Ibu senantiasa mengikuti setiap langkahmu,” ujar Ibu kepadaku. Aku tak sanggup menahan air mata. Satu per satu air mata berjatuhan. Aku memeluk Ibu.
“Terima kasih, Ibu. Aku sayang Ibu,” ucapku.
“Ibu memahami betapa menjeritnya hatimu. Ibu paham akan hal itu. Tapi anakku, mengertilah keadaan kita sekarang. Ibu melakukan ini untukmu. Suatu saat kamu akan memahami bahwa bukan soal seberapa sering kamu melakukan pertemuan, tapi seberapa berkualitas pertemuan itu. Jauh-jauh hari Ibu telah menyiapkan ini semua, untukmu.” tambahan dari Ibu.
Aku semakin menangis sejadi-jadinya, tak sampai hati mendengarnya. Terasa sekali kesalahan yang telah aku buat. Tentang pemahamanku yang belum baik. Ibu benar, hari ini ia mengajarkan bahwa melihat pertemuan bukan hanya dari intensitasnya tapi juga kepada kualitas dari pertemuan itu sendiri. Semoga aku lebih memahami, pertemuan-pertemuan berkualitas berikutnya.
Untuk Sebuah Kebaikan
“Jangan berharap imbalan untuk sebuah kebaikan,” ujar seorang bapak kepada anaknya.
Lalu lintas sore itu memang begitu padat. Kendaraan berlalu lalang ke sana ke sini, didominasi oleh roda dua. Memang di jam-jam itu, orang-orang berlomba menuju tempat ternyaman mereka—rumah. Aku tertegun diam mendengar ucapan itu. Kendaraanku dan angkutan umum itu memang berhenti bersampingan, menunggu lampu hijau.
Enam puluh detik berlalu. Tak ada lanjutan perbincangan selain kalimat terakhir yang aku dengar dari perbincangan bapak dengan anak di dalam angkutan umum itu.
“Sebuah kejadian langka,” ujarku dalam hati sambil terus mengemudikan sepeda motorku.
Sepanjang perjalanan aku terus memahami kalimat yang baru saja aku dengar itu. Pelan-pelan, kontemplasi itu mulai terefleksikan ke dalam hidupku. Memutar ulang kejadian-kejadian yang sifatnya memberi kebaikan—apapun itu. Ingatanku jatuh ke dalam sebuah memori lama akan nasihat kawan lamaku di kampus.
“Hanya mereka yang merasa cukuplah yang akan berbuat ikhlas di sekelilingnya,” begitu nasihat kawan lamaku.
“Mengapa begitu?” tanyaku yang saat itu belum begitu memahami.
“Karena mereka hanya mengharap imbalan dari Tuhan. Cukuplah demikian bagi mereka.”
Dan sore itu, ketika aku mendengar bagian lain dari nasihat kawan lamaku. Aku semakin yakin bahwa cukuplah ikhlas di atas segala dasar dalam memberi kebaikan. Tanpa secuil embel-embel apapun. Aku rasa tak ada imbalan yang lebih berharga daripada imbalan yang datangnya dari Tuhan. Bukankah demikian untuk sebuah kebaikan?