Timur Tragedi (melawan anjing)
Kini senja sudah beganti dengan tatapan sang rembulan, matahari yang gagah kini sudah tertunduk malu diantara sang bintang bintang yang bergantian memancarkan kilau sinarnya. Di ujung barat bukan lagi menjadi sang kiblat dan lantas timur yang mengaku pusat dari segala kehidupan.
Keindahan timur memang secantik paras wajahmu wahai sang impian. Dimana kau bat tuhan cemburu dengan berpalingnya pandanganku padamu. Bukan lagi ada pelangi dimatamu wahai terkasih, tapi Nirwana yang kulihat jauh ada dalam dirimu. Isyarat hati sudah tak dapat tergambarkan dengan sketsa maupun mesin mesin buatan amerika yang bias membentuk bentuk nyata. Bahkan disaat ku terpejam adalah dirimu. Engkau doa yang terselip dalam hati dan bibir yang selalu ku panjatkan dalam semoga yang menjadi awal dalam setiap permohonanku pada sang Pencipta. Bertemu denganmu adalah sebuah anugerah yg layak untuk dimerdekakan.
Badai kini memang berlabuh di dalam gurun yang tengah merasakan panas bergejolak. Dengan halus anjing gurun menggonggong padamu, seakan isyarat bahwa aku bukan yang terbaik bagimu. Waktu memang bias menjawab siapa yang menjadi malaikat dan iblis diantara kita. Tenang saja, Anjing memang hanya bisa menggonggong. Tak akan ada cerita dibumi ini Anjing mengeong dn kucing menggonggong. Ya itulah ANJING!.
Badai belum menyelesaikan tugasnya untuk memporak porandakan timur tengah. Evakuasi harus terjadi meski harus menjaga jarak. Barikade Anjing kini menjadi pagar dan aku hanya bersiap di depan. Ku sampaikan rinduku kepada pasir agar bisa berbisik padamu. Gonggongan anjing hanya isu belaka. Kini pasir mengungkap rinduku padamu. Engkau harus tahu, bahwa engkau adalah yang terkasih didalam hidupku. Pasir suci bukan anjing yang seharusnya percaya.
Kini tuan atas anjing menembakkan peluru peluru kebenaran . memohon maaf atas tindakan anjing , serta memaksa anjing untuk meminta maaf atas fitnah dibalik gonggongannya selama ini. Berakhir pula tugas badai memporak porandakan timur. Kini kau bisa percaya atas pasir yang sampaikan kebenaran rinduku atas dirimu wahai sang terpilih hatinya untukku. Dan jangan biarkan Anjing itu mengganggu hidupmu lagi dan kini kau tahu itu.
Waktu memang menjawab semua atas tindakan kita. Das Sein Das sollen. Kau meminta maaf atas kepercayaanmu kepada gonggongan Anjing yang selama ini untuk membenciku. Ku tak bias menahan haru atas teangisanmu wahai betina yang ku dambakan. Biarlah tetesan air suci dari matamu itu menjadi bukti padaku bahwa engkau punya perasaan yang sama denganku.
Ku peluk engkau erat di dekapku, seakan tak ingin lepas, terus mendekapmu sepanjang hari. Kini kau harus tahu bahwa aku merindumu lebih dari apa yang pasir bicarakan. Aku ingin engkau ada bersamaku dan layaknya seperti dongeng yang diceriterakan Bundaku di masa kecilku. Dimana Sang putrid tepat memilih pangeran dan hidup bahagia.