"Insya Allah gue ga bohong"
"Nanti main kesini yuk!" , "Insya Allah :)". Seseorang jawab gitu waktu diajak temannya. Gue nanya "kapan itu mau maen?", dia jawab "ga tau, mereka suka ga bener, ngajak doang, makanya aku jawabnya gitu.". Hmm, oke..
Kalian, yang sering mengucapkan "Insya Allah", tau artinya kan? "Jika Allah mengizinkan", gitu kan ya kira-kira artinya? Bener? Oke. Nah, ada beberapa hal yang janggal buat gue. Sori, gue emang orangnya detil, jadi suka gatel aja kalau ada sesuatu yang menurut gue ga lazim. Pertama, mereka yang sering ngucapin itu sadar sama arti ucapan itu kan? Let say itu sama aja dengan gini : "bro maen yuk" | "kalau Allah ngijinin ya". Gue sering denger ucapan itu dari mereka dari dilabeli "alim" oleh lingkungannya, sebenarnya label "alim" pun agak menggelitik buat gue, setau gue artinya "berilmu", tapi ya namanya juga bahasa serapan, alim lebih melekat buat orang yang pengetahuan agamanya oke, kalau ga gitu, mungkin ilmuan jenius tapi yahudi bakal disebut alim juga. Oke, balik ke topik, suatu saat ada cowo bilang sama pacarnya : "gue ga akan selingkuh, gue bakal jaga perasaan lo, gue ga bakal nyentuh cewe laen seujung jaripun." Terus udahnya ditambah dengan harapan dari lubuk hati paling dalam cowo itu "aku harap kamu juga akan melakukan hal yang sama." Well, guess what, cewenya bales dengan "Insya Allah :)".
"WHAT THE FUCK" adalah respons gue, eh- diperhalus deh, "apa-apaan?" mungkin gitu harusnya. Kenapa gue ampe lebay? Coba di liat lagi, cowonya bilang "gue ga akan selingkuh", "bakal jaga perasaan", "ga bakal nyentuh cewe laen". Dan begitu diminta ngelakuin hal yang sama, cewenya bilang "jika Allah mengijinkan". Masih ga ngerti kenapa gue emosi? Oke, gue bukan orang suci, tapi setidaknya puluhan taun di doktrin sama keluarga bikin gue tau kalau "Tuhan punya aturan". Sekarang liat lagi baik-baik, cewe itu, bilang "Insya Allah" pada saat cowonya minta agar si cewe ga selingkuh. Terjemahan kalau diliat dari sisi lain adalah begini : "Kalau Tuhan ngijinin gue selingkuh, gue selingkuh, kalau ngga, gue setia." SEE? Liat kenapa gue emosi?
Sekali lagi, gue kesel, kenapa? Apa kesetiaan dateng dari Tuhan? Well, gue tau bakal banyak yang bilang "segala sesuatu berasal dari Tuhan dan kembali pada-Nya", gue bukan ngebahas itu, gue bukan ngebahas siapa pemilik alam semesta beserta isinya, atau kepada siapa kita bakal kembali. Sekarang gue tanya : "Tuhan mana yang ngijinin umatnya selingkuh?" "Tuhan mana yang bisa aja ga ngijinin umatnya buat ga ngejaga perasaan seseorang yang udah cinta sama umatnya itu? Terlebih kalau si umat juga menyatakan kalau dia cinta sama orang itu."
Sekali lagi, gue bukan orang suci. Mungkin kalau yang ngomong gini ustadz, semua setuju. Tapi jujur, gue aneh sama kalian. Kalian yang begitu mudah bilang "Insya Allah", apa susahnya berjanji? Apalagi berjanji sama orang yang juga tau kalau "segala sesuatu itu dikehendaki Tuhan"? Iya, semua dikehendaki Tuhan, terus gimana dengan perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, itu kehendak Tuhan? Jadi apa arti manusia sebagai "mahluk yang berakal"?
Akui saja, "Insya Allah" di negeri ini sering disalah gunakan, "Insya Allah" sudah dijadikan pelarian bagi mereka yang takut berkomitmen, takut jika mereka akhirnya salah, supaya mereka bisa bilang "ini sudah kehendak Tuhan kalau gue selingkuh". Gue kasian sama Tuhan. Namanya udah mulai murah diucap sebagai janji, pada saat manusia itu sadar betul yang mana yang kehendak mereka sendiri. Bukankah qada dan qadar itu dua hal? Dan salah satunya tergantung dari kita?
Liat judul post ini, "Insya Allah gue ga bohong". Yang bohong itu kehendak kita, atau kehendak Tuhan? Coba pikir lagi.