SECANGKIR KOPI TERAKHIR
“Kopimu terlalu cepat dingin, sayang.”
Ia mengucapkannya dengan suara datar, seperti biasa. Kalimat itu jatuh ke meja seperti tetes air dingin yang merembes ke kayu di tengah malam.
Bukan angin yang bersalah. Bukan cangkir yang terlalu tipis. Yang mendingin adalah ruang di antara mereka, makin lebar, meski tubuh masih duduk di meja yang sama.
Dulu apinya berkobar.
Kini di dada perempuan itu hanya tersisa bara kecil, merah samar, masih bernapas, setiap hembusan angin membuatnya gentar. Ia tahu bara itu sedang meregang nyawa. Ia juga tahu laki-laki di depannya sudah lama berhenti meniupnya.
Mereka tetap menjalani hari seperti mesin yang terawat. Adegan makan malam, redup lampu kamar, percakapan seperlunya tentang tata letak ruang, atau keluh kesah yang berulang.
Semua berjalan.
Semua teratur.
Selalu rapi.
Tak ada yang terlewat.
Hanya saja tak ada lagi seduhan pertama yang mengepul panas, yang dulu cukup membuat dada berdesir hanya karena air menyentuh bubuk. Kopi ini masih bisa diteguk. Masih ada manis tipis di ujung lidah, masih ada jejak rasa yang mengingatkan.
Tapi rasanya sudah lain.
Bukan lagi kopi yang baru diseduh. Hanya kopi kemarin yang dihangatkan ulang: panasnya sebentar, aromanya pudar.
Dan mereka berdua tahu itu.
Mereka saling pandang sesekali, tersenyum sekadarnya, lalu kembali ke rutinitas masing-masing.
“Kopimu terlalu cepat dingin, sayang.”
Kalimat itu tak pernah diucapkan lagi. Ia hanya menggantung di antara mereka, menjadi gema yang tak bersuara. Sementara satu pertanyaan pelan-pelan bersemayam di dada:
Apakah sesuatu masih layak dipertahankan hanya karena masih bisa diminum?
Atau mereka akan terus memegang cangkir yang sama, berpura-pura tak menyadari bahwa hangat yang dulu pernah ada, tak pernah kembali seperti seduhan pertama.











