Umbra Part 3:
REMNARIA
Ada hari tertentu ketika semesta seperti menahan napas, seolah rasi bintang sengaja berhenti berputar agar ruang dalam dadaku punya cukup waktu untuk menata ulang dirinya.
Hari ini salah satunya. Aku berdiri bukan untuk menunggu siapa pun, tetapi untuk memastikan orbitku tidak lagi tertarik pada sebuah pusat yang sejak awal tidak pernah benar-benar memanggilku. Masih ada sisa-sisa kecil yang menempel seperti debu kosmik di tepian hidupku:
surat yang pernah kutulis dengan jantung terlalu telanjang; lagu yang dulu kudengarkan untuk meredam bintang-bintang gugur di dalam dada; trotoar malam yang menyimpan ritme dua langkah yang dulu seolah seirama; Dan cardigan yang sempat memeluk rindunya kini tinggal bayangan hangat yang sudah kupulangkan ke konstelasiku sendiri.
Dulu aku berpikir jarak adalah neraka. Ternyata bukan. "Neraka adalah memaksa jiwa tinggal di galaksi yang bahkan tidak memberinya gravitasi."
Aku pernah tinggal di neraka itu. Aku melihatnya menyusun topeng-topeng dengan rapi: Topeng kuat. Topeng tenang. Topeng tidak butuh siapa-siapa. Topeng seolah sempurna.
Semua topeng ia kenakan seperti sisi gelap bulan, menyembunyikan kawah-kawah dari benturan lama yang tak pernah ia perlihatkan utuh pada siapa pun. Ia berdiri seakan di pusat orbit, padahal ia sendiri gentar pada cahaya yang bisa lahir jika ia berhenti bersembunyi.
Aku melihat itu semua, dan dulu aku tinggal. Tinggal untuk memahami sesuatu yang bahkan pemiliknya enggan mengakuinya. Tapi waktu, makhluk purba yang tidak pernah berkompromi, telah mengajariku satu hal:
"Cinta yang terlalu sibuk menyelamatkan seseorang akan kehilangan cahayanya sendiri."
Ada satu detik hening ketika semesta berbisik “cukup.” Bukan petir, bukan gemuruh. Hanya hampa yang terasa penuh. Sebuah jeda yang menyadarkanku, aku tidak perlu lagi menunggu seseorang yang bahkan tidak sanggup bernapas tanpa topengnya.
Aku berjalan menjauh karena memahami aku hanya tempat ia berlindung dari ketakutannya sendiri. Dan bila seseorang hanya datang untuk bersembunyi, bukan berubah, maka kepergiannya bukan duka. Itu adalah pemulangan.
Kini aku berdiri di bawah langit yang sama yang pernah kubagi bersamanya, tetapi rasanya berbeda. Lebih lapang. Lebih jernih. Lebih setia pada nadiku sendiri.
Jika suatu hari ia menoleh dan menemukan ruang kosong, itu bukan karena aku pergi. Tapi karena aku tidak pernah menunggunya di sana. Aku hanya tinggal beberapa waktu untuk menentukan arahku.
Ketika akhirnya aku melangkah, aku pergi tanpa marah, Tanpa dendam. Tanpa ingin dilihat lagi olehnya.
Hanya perempuan yang akhirnya pulang ke galaksinya sendiri…















