Being a Woman
Pas beres-beres gak sengaja lihat sisir serit. Tiba-tiba ingat kejadian dulu.
Jadi pas aku lagi nyeritin rambut di kamar, tiba-tiba kakak kelasku yang sudah menikah kaget dan bilang “kamu kutuan?”. Kujawab “gak tahu, tadi gatal, jadi kuseritin aja, gak tahu ini kutu atau ketombe, emang kakak gak kutuan?”, tanyaku polos.
“Ya ampun plis deh, aku sudah nikah kali” (sambil ketawa-tawa). Aku yang cengengesan sambil ikut ketawa ini sebenarnya justru timbul tanda tanya besar di otakku.
“Memangnya gak wajar kalau sudah menikah tapi kutuan?”
“Memangnya orang yang sudah menikah atau akan menikah harus se-perfect apa, hingga tak boleh ada kurangnya?”
“Apa kutuan itu aib?”
Aku gak tahu pasti sih apa jawaban yang paling bijak untuk perihal ini. Tapi yakinku, hal seperti ini kayaknya wajar-wajar aja. Bukankah kutu rambut bisa dibasmi dengan rajin keramas, sering diserit, dan tidak tidur bersampingan dengan orang yang rambutnya kutuan juga? Aku dulu kutuan kok, dan sekarang pensiun dari kutuan karena telah melalui tiga hal tadi.
Jika ada santriwati yang semasa mondoknya gak pernah terkena problem kutuan, aku justru heran, kok bisa?! Yang saat itu adalah momen tidur bersama-sama di kasur yang dijadikan satu, aku justru memakluminya.
Namun aku sepertinya paham mengapa respon kakak kelasku yang sudah menikah itu terlihat kaget. Menjadi wanita memang gampang-gampang sulit, saat menjadi seorang istri atau akan menjadi istri mungkin menjadi puncak berbenah diri. Berbenah dari apa-apa yang bisa kita jadikan itu lebih baik.
Atau alasan mudahnya, mungkin rasanya malu kali yaa, tapi gak apa-apa, itu manusiawi ^_^.












