Cinta Serambi Madinah
Hey, Dengarlah...
Kamu, seraut wajah polos tak berdandan dengan sepasang bola mata indah.
Aku ingin merayumu sejenak dengan sebait puisi, meski aku ini pujangga yang tak pandai memuisikanmu.
Esok, jika senja datang, aku ingin mengajakmu bercengkrama dengan waktu di tangga 2000, mengingat kembali kisah romantis Lahilote memikat bidadari dengan caranya. Menyaksikan jejak cinta yang masih terukir abadi di atas bongkahan batu itu...
Hey,
Kamu yang berlindung dibalik hijab kesederhanaanmu.
Mengapa kamu bersembunyi dibalik Benteng Otanaha? Biarlah tembok besar itu memadu kasih dengan sejarahnya sendiri. Kamupun demikian, sejarahmu adalah milikmu dan masa depanmu adalah milik kita...
Hey,
Kamu yang berjari-jari lentik...
Masih ingatkah saat kamu membangun istana pasirmu di Pulau Saronde?
Hey,
Kamu, sepasang mata di balik jendela biru itu..
Dengarlah ikrarku ini..
Aku ingin memuliakanmu di Menara Mulia, menyuntingmu dengan teratai merah yang kupetik dengan kasih di tepian Danau Limboto...









