Banyu membantu wanita tua itu turun dari kursi belakang mobilnya dan memapahnya. Sebenarnya dia tak begitu mengenal wanita tua itu, yang ia tahu adalah bahwa wanita berumur mendekati tujuh puluh tahun dengan rambut yang telah berwarna keabu-abuan itu adalah adik kandung neneknya . Wanita yang ia panggil Nenek Runi itu—nama aslinya adalah Seruni, tapi dia berkeras hanya mau dipanggil Runi oleh orang-orang di sekitarnya—sebenarnya tak pernah ia kenal sebelumnya, namun beberapa pekan sebelumnya ketika pemakaman neneknya, wanita tua itu datang dan ibu Banyu menghampirinya. Sejak itulah dia tinggal di rumah orang tua Banyu.
“Kau tak perlu menemaniku,” Nenek Runi melepaskan pegangan tangan Banyu di siku kirinya. Tangan kanannya menggenggam tongkatnya dan mengetukkannya ke tanah, seolah memberi isyarat bahwa ia akan baik-baik saja tanpa Banyu menemaninya. “Sana temani istrimu, kau boleh pergi dan menjemputku nanti.”
Banyu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Orang tua memang sering kali sok kuat, pikirnya. Dia hanya takut jika Nenek Runi tersesat atau lebih parah lagi, tiba-tiba penyakitnya kambuh dan tak ada orang di sampingnya yang bisa menolongnya. Bukan berarti Banyu tahu apa penyakit wanita itu, tapi bukankah penyakit orang-orang berusia lanjut itu hampir sama saja?
“Ibu bisa memarahiku kalau aku sampai kehilangan Nenek,” gumam Banyu memberi alasan.
Nenek Runi tersenyum kecil, menampakkan deretan giginya yang masih utuh. Keriput di wajahnya semakin kentara ketika ia menarik bibirnya untuk tersenyum semakin lebar. Banyu tak bisa memungkiri bahwa wanita di depannya ini mengingatkannya pada nenek kandungnya yang telah meninggal, mau bagaimana lagi mereka ‘kan kakak-adik.
“Aku bisa menjaga diriku sendiri. Sana pergi, aku akan baik-baik saja, tak akan ada orang yang cukup bodoh untuk merampok orang tua ini.” Nenek Runi kembali tersenyum, mendorong pelan Banyu untuk kembali ke mobilnya. “Sana, cepat kembali ke mobil, Lembayung pasti menunggumu.”
Banyu hanya bisa mendesah dan mengangguk pasrah ketika Nenek Runi berbalik arah dan berjalan masuk melewati sebuah portal menuju perumahan sederhana. Banyu tak mengenal perumahan ini, tentu saja, karena letaknya berbalik arah dari rumahnya dan berjarak cukup jauh. Dia harus menyetir selama dua jam lebih untuk sampai di sini, itu juga berbekal arahan dari Nenek Runi yang menjadi penunjuk jalan.
Yakin bahwa tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menuruti perintah Nenek Runi, Banyu berjalan kembali ke tempatnya memarkir mobil. Di kursi penumpang di jok depan, duduk seorang wanita muda dengan rambut pendek sebahu berwarna coklat tua.
“Dimana Nenek?” tanya Lembayung ketika tahu bahwa suaminya kembali sendirian. “Kenapa kau meninggalkannya?”
Banyu kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Nenek menyuruhku kembali untuk menemanimu.”
Banyu hanya menganggkat bahunya, tak tahu harus menjawab apa.
“Astaga, Banyu, kau meninggalkan seorang nenek tua sendirian dan malah memilih untuk menemaniku disini? Bagaimana kalau Nenek Runi tersesat? Bagaimana kalau ia tak tahu jalan menuju kesini? Bagaimana kalau ada orang yang—”
“Sssttt…” Banyu meletakkan telunjuk kanannya pada bibir merah Lembayung, menyuruhnya berhenti berbicara. Ia tahu cara ini selalu ampuh untuk menyuruh istrinya diam, apalagi kalau penyakit bawelnya kumat. “Apa semua orang hamil muda akan cerewet sepertimu?”
Lembayung memutar bola matanya sementara Banyu tergelak melihat ekspresi istrinya. Ia meraih tubuh Lembayung mendekat kepadanya lalu menyandarkan kepala wanita itu ke bahunya. Banyu menempelkan pipinya ke puncak kepala Lembayung dan membelai punggung tangan wanita itu. “Sudah, jangan khawatir. Kau lihat, nenek itu masih tangguh, kalau anak kita nanti lahir kurasa dia masih bisa menggendongnya dan mengajarinya beladiri.”
“Kenapa kau bicara seolah kau tahu anakmu akan lahir laki-laki?” gumam Lembayung dengan nada sedikit kesal.
“Siapa bilang?” Banyu pura-pura tersentak. “Aku ingin anak perempuanku bisa beladiri dan menjadi karateka wanita yang hebat.”
“Kenapa kau bicara seolah kau tahu anakmu akan lahir perempuan?” Lembayung mengulang pertanyaannya.
“Kenapa kau sekarang banyak bicara? Sejak kapan Lemayungku-ku banyak bicara, huh?” Banyu menarik hidung Lembayung dengan main-main, membuat istrinya terkikik geli.
Hening sebentar ketika tawa Lembayung mereda. Banyu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Cuaca hari ini sedang cerah, tak terlalu panas dan tak mendung seperti hari-hari biasanya. Dia tahu dengan pasti bahwa hujan akan turun suatu saat nanti, mungkin setelah matahari terbenam, tapi tidak sekarang. Kotanya selalu disambangi oleh hujan, hampir setiap hari. Banyu mengeratkan rangkulannya pada Lembayung, dalam hati berterima kasih pada Nenek Runi karena memberinya kesempatan untuk berdua dengan istrinya, walaupun itu hanya di dalam mobil dan tak ada hal romantis yang terjadi kecuali tubuh yang saling bersandar.
“Banyu.” Panggilan Lembayung menarik Banyu dari lamunannya.
“Ya?” Ia menundukkan pandangannya, menatap sepasang mata coklat tua milik wanita di sampingnya.
“Dimana suami Nenek Runi?”
Kening Banyu berkerut. Dia berusaha mengingat percakapannya dengan ibu dan ayahnya tentang Nenek Runi, hanya beberapa hari sebelum kepindahan nenek itu ke rumah orang tuanya. Kata ibunya, ia terakhir kali bertemu dengan bibinya itu ketika ia masih berumur lima tahunan. Oh Tuhan, itu sudah lama sekali, karena itu berarti sekitar hampir lima puluh tahun yang lalu. Pantas saja jika bahkan ayahnya juga tak mengenal Nenek Runi. Menurut cerita ibunya, Nenek Runi kabur dari rumah karena orangtuanya tak menyetujui pernikahannya dengan seorang lelaki yang ia cintai.
Klasik, pikir Banyu. Klasik sekali, seperti roman-roman picisan dan cerita cinta yang disampaikan oleh Shakespeare tentang Romeo dan Juliet. Bedanya hanyalah bahwa mereka, Nenek Runi dan entah lelaki mana yang jadi suaminya, kabur untuk menikah dan tidak dengan tololnya bunuh diri bersama.
“Hem?” Lemayung mendongakkan kepalanya, memandang wajah Banyu, menunggu lanjutan jawaban Banyu.
“Aku tak tahu apakah Nenek Runi punya suami atau tidak.”
“Aw!” Banyu mengusap lengan atasnya yang baru saja dipukul Lembayung—lebih karena terkejut bukan karena sakit. “Kenapa kau memukulku? Apa salahku?”
“Kau jahat sekali, tak tahu apa-apa tentang nenekmu sendiri. Dia itu calon nenek buyutnya anakmu, tahu! Dan lagi, coba pikirkan perasaan Nenek Runi kalau mendengarmu berkata begitu. Oh dia pasti sakit hati dan terluka, saudaranya sendiri tak tahu apa-apa tentang dirinya dan tak mau tahu. Apalagi kau menganggap seolah-olah Nenek Runi tak punya suami, itu lebih kejam lagi. Walaupun mungkin suaminya telah meninggal, bukan berarti kau boleh berkata begitu, tahu!”
Diam-diam Banyu ingin sekali menjambak rambutnya sendiri. Dia mulai bertanya-tanya apakah bayi bisa membuat emosi wanita jadi naik dan menjadi super labil dan sangat sensitif. Setidaknya ia harus berkompromi dengan emosi Lembayung untuk tujuh bulan ke depan.
“Kembalikan Lembayung yang dulu tak banyak bicara, kumohon, siapapun dirimu, Nona.”
“Apa kau bilang? Malam ini kau tidur di luar!”