Tak tahulah ini apa namanya, sudah terlalu siang untuk dibilang pagi, tapi masih terlalu pagi untuk dikatakan siang. Ah yang abang tahu ayam yang patuk rezeki itu sudah digoreng, ya harus kubilang ayam kampus, memang begitu adanya, ayam yang digoreng di kantin dalam kampus dengan sepiring nasi dan sedikit sambal, serta tahu tempe. Kopi hitam di meja sudah begitu dingin untuk ditiup, rasanya mubazir jika tidak diminum. Baru pukul 10.25 di sini, di Indonesia bagian Jatinangor yang harus dibilang sudah bukan di Bandung, tapi terlalu jauh untuk ke Sumedang, seharusnya Jatinangor jadi kota tersendiri, dengan begitu bisa menandingi Yogyakarta sebagai kota terpelajar. Bagaimana tidak? Sederetan kampus beken berdiri berjejer beriringan sepanjang jalan jatinangor. Mulai dari praja IPDN, mahasiswa IKOPIN, Mahasiswa ITB, dan primadona UNPAD. Ah, abang rasa memang seharusnya ITB dan UNPAD selalu beriringan, seperti mahasiswanya, yang rasanya memang tidak sedikit yang sekedar makan bareng, atau cuma pulang bareng. Ya, cukup saja begitu adanya. Tidak usah terlalu dekat, tapi jangan sampai jauh-jauh. Apalah daya mahasiswa tanpa mahasiswi, sebaliknya mahasiswi bisa apa tanpa mahasiswa? Haruslah kita berjalan beringan demi tujuan bersama. Kopinya sudah habis, ayamnya juga, tapi masih ada telornya, ah biarkan saja dia menetas, agar menciptakan cerita baru untuk kehidupan.