Macam judul film aja tulisannya, haha.
Ya, sesi lari hari ini menandai ucapan selamat tinggal gue ke tanah suci gue selama 4 tahun terakhir ini, Jatinangor.
Sebenarnya gue sudah merencanakan sesi lari ini sejak 2 minggu lalu. Tapi dalam 2 minggu selalu gagal di Sabtu malam, waktu
krusial sebelum long-run. Sabtu malam pertama dihabiskan dengan malam mingguan di Bandung dan baru sampai kosan jam 12 malam, tepar
dan gabisa bangun paginya. Minggu kemudian, Sabtu malam gagal karena kebodohan gue minum Americano ketika nongkrong. Alhasil
yang harusnya nyampe kosan langsung tidur jadi nggak bisa dan baru bisa tidur jam 3. Hilanglah kesempatan sesi pagi. Dan sorenya pun
hujan. Yasudah.
Dan akhirnya terlaksana minggu pagi ini. Karena ini adalah jalanan yang gue belum pernah coba (sengaja milih ini biar epik),
gue ngga tahu bakal lari berapa jauh dan berapa lama. Kalau dilihat dari googlemaps, gue rasa ada sekitar 14 kilometer dalam bayangan.
Oleh karenanya gue memperlakukan sesi ini layaknya long-run beneran. Bangun sebelum subuh, minum energen dan makan pisang. Baru sejam
setelahnya mulai lari. Sambil bawa-bawa Pocar* di tangan (ini pertama kalinya gue lari sambil bawa botol minum, lumayan merepotkan).
Jam setengah 6 gue berangkat ketika gelap masih merundung di sekitaran kosan. Udara ngga begitu dingin kaya biasanya, jadi lebih
mudah untuk bangun dan keluar. Dan yak, hitungan Nike+ Running dimulai.
Ternyata jalanan ini enak sekali. Gue memang nggak menargetkan pace atau waktu berapapun. Simply enjoy the run.
Karena grogi mungkin lari terakhir di Jatinangor, gue terlalu banyak minum sebelum lari dan alhasil harus mampir sebuah mesjid di bilangan
Jatiroke untuk menuntaskan hajat kecil gue. Jelas ngaruh ke waktu yang terus jalan di aplikasi, tapi gue mencoba masabodo dengan hal itu.
Ternyata jalan yang gue pilih beneran tembus di gang masuk Jatiroke, persis seperti yang gue duga. Karena baru pertama lari di
jalanan ini, meskipun trek-nya naik turun, capeknya ngga terlalu kerasa karena gue menikmati lingkungan sekitar, dan karena memang gue
nggak memperhitungkan pace lari jadi larinya selow. Karena lari di kampung, udaranya sangat sangat nyaman sekali. Udara sejuk yang bikin
dingin dada adalah salah satu alasan utama gue selama ini selalu memilih lari di pagi hari setelah subuh. Berasa langsung sehat kalau
hirup udara macam itu.
Keluar gang Jatiroke, gue masuk ke gang Sukawening dan berniat lari di jalanan tembus ke Hegarmanah yang ngelewatin sawah-sawah itu.
Yang nggak gue sadari, jalanan di tembusan itu becek sangat. Pace lari gue hampir kaya orang jalan kaki. Tapi mungkin disitu highlight dari
lari kali ini, dan gue sempatkan berfoto dengan latar persawahan, komplek kosan, dan gunung Geulis yang tetep angkuh hingga saat ini.
I'm gonna miss this place and this scenery.
Tembus Hegarmanah gue lanjutkan ke jalanan tembus Puri Indah. Jalanan yang sama yang dulu ketika masih tinggal di puri
selalu gue gunakan kalau pulang dari kosan temen di Hegarmanah. Keluar di dalam kompleks Puri Indah, gue ikutin rute jalanan yang dulu gue pakai
kalau lari di dalam komplek. Bangunan-bangunan yang dulu masih dalam pembangunan kini udah selesai. Bagus-Bagus. Dan gue menyempatkan lewat
depan A3-16, sekedar menengok rumah terakhir yang dikontrak dan menandai berakhirnya periode Rumah_Farel. Masih sama kaya dahulu, catnya belum
diperbarui ternyata. Berharap semoga bu Zahra yang punya rumah ada di halaman buat sekedar menyapa, sayangnya beliau tidak ada disana ketika
gue lewat. Akhirnya gue lanjut aja keluar Puri dan naik ke atas arah Ciawi.
Masuk ke gang Ciawi gue berhenti lari. Gue sempatkan tengok hape yang sedari awal nangkring di lengan kiri dan nggak gue sentuh selama lari.
Di luar dugaan, ternyata hitungan di aplikasi Nike+ Running hanya mencatat 4,5 mil, atau sekedar 8 kilo. Jauh dari perkiraan gue yang mencapai 14
kilometer. Dan gue tengok pace. Malu! Haha.
Sambil jalan dikosan gue baru sadar kalau lari gue kali ini membuat gue mengenangkan banyak hal. Tentang kosan dan kontrakan, kosan temen
tempat sering ngumpul, tempat raker Himpunan dahulu, dan hal-hal lain yang mungkin beberapa waktu belakangan luput gue kenangkan karena tenggelam
oleh perasaan insecure tentang masadepan. Gue udah bukan mahasiswa sekarang, status gue sekedar pengangguran. Gue berubah menjadi angka. 1 orang
dari sekian juta penganggur di bumi Indonesia.
Ah, sayang kalau tulisan ini jadi terlalu galau, padahal gue nulis ini sambil dengerin Grandrodeo - Can Do, lagu yang gue temui dari
endtrack sebuah series anime. Toh tujuan awal gue lari pagi ini adalah buat bilang selamat tinggal ke tanah Jatinangor dengan sebuah kenangan yang menyenangkan, lari pagi di udara yang sejuk. Meskipun ga gue pungkiri, sambil menulis tulisan ini gue masih dirundung
perasaan insecure dan kekecewaan diri sendiri yang dari beberapa hari ini hinggap. Syukurlah, lari tadi pagi cukup jadi obat meskipun masih sedikit tersisa.
Akhirnya, selamat tinggal Jatinangor. Tanah tempat gue tinggal 4 tahun ke belakang. Tanah yang menjanjikan gue pijakan masa depan yang kuat.
Yang udah ngajarin banyak hal. Yang udah mempertemukan gue dengan manusia-manusia hebat, teman-teman gue. Yang udah buat gue tertawa, nangis, bahagia,sedih, apapun. Tanah yang mungkin dalam beberapa tahun ke depan aja udah akan sangat berubah dan nggak gue kenali. Tapi, gue tetap akan berterimakasih ke tanah Jatinangor. Karena tanah inilah yang menjadikan seorang Giffar Masabih seperti sekarang. Then, I'll be ready to face anything ahead.