Foto di atas sebagai pengingat bahwa hari ini, mama menunjukkan betapa sayangnya beliau kepada putri tunggal-nya yang keras kepala ini.
Tenang, aku tidak ikutan demo seperti mahasiswa-mahasiswa di foto itu. Nyali ku tidak sebesar itu.
Aku salut pada mereka para mahasiswa yang berani menyuarakan pendapat dan melakukan aksi nyata akan kekhawatiran mereka terhadap keadilan di tanah air tercinta ini. Mengingat keberanian ku yang sekecil biji jagung, maka aku bantu kalian doa dari sini saja ya.
Dari dalam ruang kelas gelap gulita berisi seorang dosen dan 15 mahasiswa.
Ya, kami terjebak di dalam gedung perkuliahan di sebuah universitas yang terletak di daerah semanggi. Hari ini kami ada kuliah malam, demi menuntut ilmu dan lulus uts minggu depan. Belajar pajak sambil deg-deg-an mendengar suara tembakan gas air mata dan lemparan petasan disekeliling kami. Lama-lama kami pun menggunakan masker karena efek gas air mata sampai ke dalam kelas. Perkuliahan tetap berlanjut, toh pulang juga tidak bisa dengan ramainya masa di bawah.
Tiba-tiba datang seorang bapak yang menyuruh kami mematikan lampu ruang kelas karena polisi akan melakukan sweeping. Loh, loh, ada apa ini kok suasana jadi mencekam. Ternyata terjadi kericuhan antara masa dan polisi. Banyak yang memaksa berlindung masuk kampus hingga mau merusak gerbang dan melemparkan petasan juga gas air mata ke dalam pekarangan kampus.
Kami pun di dalam kelas yang gelap selama berjam-jam hanya bisa pasrah menunggu dan berdoa demi keselamatan bersama. Mungkin mama membaca berita di media, lalu menghubungi putrinya yang pasrah ini dengan suara panik. Setelah beberapa jam, tiba-tiba beliau mengabarkan sudah berada di area kampus untuk menjemput. Bagaimana caranya? Padahal jelas tidak ada yang boleh masuk dan keluar dari area kampus saat itu karena masa belum reda. Aku pun tidak tahu, mungkin itu yang namanya kekuatan orang tua demi keselamatan anaknya.
Entah bagaimana, tidak lama berselang kami semua - mahasiswa dan dosen - yang sudah lelah memaksa pulang. Dengan pertimbangan, kalau makin malam makin rusuh, terjebak di dalam seperti ini bisa lebih membahayakan. Koordinasi sana-sini dilakukan hingga tengah malam, sampai akhirnya kami pun bisa pulang dengan menerjang sisa-sisa kabut gas air mata dari lantai 7 hingga keluar area kampus melewati lautan mahasiswa pejuang yang tampak lebih lelah dari kami.
Sungguh, pengalaman yang membuat bersyukur karena bisa selamat. Bersyukur bisa bertemu dengan mama dan terima diomeli karena menyesal sudah membuat beliau panik.
Pengalaman yang akan selalu membuatku berpikir kembali tentang hal terpenting - keluargaku - dan pentingnya mengambil tidakan antisipatif demi keselamatan walau harus melawan arus.