Pagi ini aku melenggangkan kaki dengan semangat menuju kelas. Setelah masuk kelas aku dibuat bingung karena ada yang berubah dengan kelas yang biasa menjadi tempatku belajar. Biasanya meja-meja kecil disusun secara melingkar kemudian diselipkan bangku kecil. Namun hari ini semua meja dan bangku kecil itu menghilang dan digantikan oleh kursi-kursi untuk orang dewasa yang disusun berjajar dari depan hingga belakang kelas. Yang tadinya kaki ini melangkah pasti memasuki ruang kelas, kuurungkan saja dan mundur keluar kelas.
Aku duduk termenung di lantai depan kelas sambil membawa tas dan masih memakai jaket dan helm. Tak lama kemudian kak Fitri datang dengan jalan yang sedikit sempoyongan, nampak seperti tergesa-gesa.
“Rey, maaf kakak datang terlambat,” ucap kak Fitri sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah. “Kok kamu duduk di sini sih Rey, ayo masuk.”
Aku hanya memandangi dengan tatapan kosong ke kak Fitri sambil menopang dagu dengan tangan kiriku lalu kugerakkan rahang bawahku ke atas dan bawah, sehingga tanpa sadar air liurku menetes.
“Eh Rey hayo tangannya ga boleh gitu,” ujar kak Fitri sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajahku. “Kebiasaan deh Rey ini, kalau uda kayak gitu pasti kamu gak konek.”
Melihat acungan jari kak Fitri seolah membuyarkan segala keasyikan yang kurasakan saat itu. Lalu aku berusaha memberitahukan mengapa aku ada di luar kelas.
“...dididik...guguk kusik...ilak (baca: kak Fitri, duduk kursi, hilang),” ucapku sambil menunjuk ke arah dalam kelas.
“Kursi? Hilang?” kak Fitri menyahut dengan kebingungan lalu dia melangkahkan kakinya menuju ruang kelas. Kemudian dia melihat sekeliling sambil berbicara sendiri denga lirih, “Ehmm, kelasnya kok berubah ya. Bu guru kemana ya?”
Seketika bu guru datang sambil membawa setumpuk buku dan kertas. Bu guru masuk ke dalam kelas untuk meletakkan barang bawaannya itu, kemudian keluar lagi untuk berbicara kepada kak Fitri.
“Maaf, saya lupa menyampaikan. Hari ini kelas Rainbow sementara belajar bersama dengan kelas reguler ya, karena hari ini ada tamu dari luar kota yang study banding dan memakai kelas ini untuk presentasi,” bu guru menjelaskan dengan sesekali tersenyum kecil seperti ada sedikit rasa tidak enak kepada aku dan kak Fitri.
Setelah penjelasan bu guru selesai, aku dan kak Fitri bergegas menuju kelas reguler yang kebetulan kelasnya berada di ujung lorong. Saat kami jalan menyusuri lorong, tiba-tiba ada suara kecil mengagetkan kami. Dooooooor. Suara kecil Milo dan Gerry mengagetkan kami. Mereka baru saja datang dan langsung menyusul kami.
Setibanya kami di kelas reguler, kami langsung masuk kelas kemudian bersalaman dengan bu guru, yang dipanggil bu Desi. Kami segera meuju tempat duduk yang tersisa di ujung kelas. Awalnya tidak ada yang aneh dengan keberadaan kami di kelas tersebut ataupun siswa-siswa lainnya. Kami melangkah dengan pasti. Tiba-tiba ada suara anak laki-laki, sebut saja Dimas yang langsung saja menyeletuk kepada bu guru.
“Loh bu, hari ini apakah kita pindah kelas?” tanya Dimas ke bu guru dengan lantang sehingga seluruh kelas dapat mendengarkannya.
“Huuush, Dimas ayo duduk lagi. Hari ini kita tidak pindah kemanapun, kita belajar di kelas ini bersama temen-temen kelas Rainbow,” bu guru menanggapi respon Dimas dengan hati-hati.
“Duh ngapain sih beginian ke kelas ini...,” sahut Dimas sambil memandang ke arah aku, Milo, dan Gerry.
“Hush...gak boleh bicara gitu,” sontak bu Desi menyela ucapan Dimas dengan nada keras sebari melototkan mata. Seketika Dimas diam dan duduk dengan memalingkan wajahnya dari aku, Milo, dan Gerry.
Aku tak mengerti apa yang maksud dari perkataan Dimas itu, tetapi melihat respon bu Desi yang terlihat marah, kurasa Dimas berkata yang tidak baik. Walaupun begitu tak berarti membuatku membenci Dimas.
Setelah kejadian itu, bu Desi memulai pelajaran hari itu dengan berdoa, bernyanyi dan saling menyapa satu sama lain. Sejenak tak ada yang aneh dari suasana di kelas ini, semua berjalan lancar bahkan saat kegiatan belajar mengajar. Tetapi hal berbeda saat kami waktu istirahat datang dan kami diperbolehkan untuk bermain.
Aku melihat ada Bella, anak perempuan yang kusebut cantik dan merupakan idolaku di sekolah ini, di dalam kelas ini. Ketika jam istirahat, aku berjalan mendekati Bella yang saat itu bergerombol dengan teman-teman perempuannya. Aku memandang ke arah gerombolan itu dan penasaran apa yang sedang mereka lakukan. Mereka asyik bercerita dan sahut menyahut. Seketika muncul keinginan besar dalam diriku untuk turut bercerita dengan mereka.
Aku berceloteh tentang tokoh kartun kucing dan tikus yang kutonton di televisi, dengan sesekali aku memeragakan gaya si tikus yang jahil.
“...kukik ayi-ayi... (baca: kucing lari-lari),” sepenggal celotehku yang kusampaikan pada mereka.
Seketika para gadis itu menoleh ke arahku sambil bisik-bisik dan tersenyum kecil. Kulihat Bella juga ikut berbisik sesuatu, semkain lama bisikan itu berubah menjadi tawa yang sangat keras. Merekapun tertawa terbahak-bahak. Kupikir mereka menyukai ceritaku dan merasa bahwa cerita ini lucu. Maka kulanjutkan saja ceritanya.
“....ngngngngng dok aeaaeae eeee,” aku beceloteh secara bebas dan hanya suara itu yang mampu keluar dari mulutku.
“Kamu ngomong apa sih Rey?” sahut Bella dengan tegas, kemudian dia tertawa bersama teman-temannya.
Aku berusaha mendekatkan jarakku dengan gerombolan perempuan itu supaya aku bisa bercerita lebih banyak dan membuat mereka mengerti. Tetapi mereka justru lari berhamburan sambil tertawa lepas.
Kukira karena ceritaku yang lucu, tetapi setelah melihat bagaimana mereka meresponku aku merasa hal ini bukan hal yang baik. Aku tak mengerti mengapa mereka berlari saat aku mendekat dan tertawa saat aku bicara. Aku hanya berdiri terdiam di titik dimana aku berdiri saat itu. Aku menatap kosong ke arah pintu di mana anak-anak itu berhamburan keluar. Pikiranku tak membiarkanku berpikir lebih dalam lagi. Aku membiarkan semua yang kualami ini terjadi begitu saja, aku tak membenci mereka.
Walau banyak sekali pertanyaan yang muncul mengapa mereka bersikap seperti itu kepadaku, tetapi tidak kepada anak lainnya. Aku tak terlalu mengambil pusing semua itu. Hal ini tak memutuskan semangatku untuk terus bermain dan melakukan apa yang kusukai, kerena aku anak hebat, begitulah kata mama.