....Pernahkah kau merasa hidupmu hampa dan tanpa arah tujuan?....
Tak pernah terbayangkan bahwa aku akan menghadapi hari-hari kelabu. Bukan karena penderitaan. Semua kebutuhanku tercukupi. Aku tak kekurangan apapun kecuali satu hal, aku tak memiliki arah dan tujuan dalam hidupmu. Semua seakan terhenti saat usiaku 18 tahun. Setelah lulus SMA, aku tak tahu harus ke mana. Beruntung ada sebuah rumah makan memperkerjakanku sebagai pelayan. Kujalani kehidupanku sehari-hari sebagai di sana, sambil aku merenungkan hidupku selanjutnya.
Hari ini tak terlalu banyak pengunjung yang datang. Di satu sisi aku senang karena aku memiliki waktu yang cukup untuk istirahat, tetapi di sisi lain pendapatan menjadi berkurang. Saat seorang pengunjung datang, hal itu sangat melegakan.
“Selamat datang, mau pesan apa?” aku menyambut seorang pengunjung laki-laki yang datang seorang diri.
“Mbak, aku pesan kopi,” ujarnya sambil berlalu dan menempati meja yang berada di dekat jendela.
“Iya, kopi satu. Ditunggu ya mas.”
Seorang laki-laki muda yang tinggi dan berdiri tegap. Memakai kemeja putih dan celana coklat lengkap dengan sneaker putih. Dia duduk sambil melipat kaki kanan di atas kaki kirinya, memandang lepas ke arah luar. Kusajikan sebuah kopi di hadapannya, tetapi dia tak menyadari kehadiranku. Aku berlalu meninggalkannya.
“Duduklah di sini,” jawabnya sambil menunjuk kursi kosong yang ada di hadapannya. “Aku tak terbiasa meminum kopi sendiri, bisa menemani saya sebentar?”
Seketika aku bingung. Dia orang asing, bagaimana aku bisa segera menerima permintaannya. Tetapi dia adalah pengunjungku. Tanpa berpikir lebih panjang lagi, aku duduk di hadapannya.
“Mbak, beberapa waktu lalu saya pernah membeli spaghetti di sini.”
“Ah, ya spaghetti di sini adalah menu favorit kami,” aku menyela ceritanya dengan semangat.
“Apakah kau yang membuatnya?”
“...ehmm..iya,” kuturunkan intonasi suaraku.
“Aku sering ke tempat ini sejak SMA, tapi aku tak pernah memakan spaghetti seenak itu.”
“Ah maaf, saya masih baru di sini. Sepertinya pujian itu terlalu berlebihan untukku,” aku menundukkan wajah dan tak berani menatap wajahnya.
“Angkatlah wajahmu itu dan lihat ke sini.” Perlahan kuangkat wajahku walau rasa malu begitu menyelimuti diriku. Aku tak pernah merasa percaya diri apalagi menerima pujian semacam itu.
“Ku rasa kau berbakat,” ujarnya santai sambil menyeduh kopinya. “Kayaknya kau cocok jadi seorang chef.”
Mendengar kata-katanya seolah waktu terhenti dan aku tersihir. Aku merasa baru saja mendapat secercah cahaya yang menyelinap. Menghapus perlahan awan kelabu yang terus membendung pikiranku. Walau itu komentar sederhana baginya, bagiku itu adalah hal yang berharga. Sekali lagi aku berkesempatan untuk memiliki harapan dalam hidup ini.
Seketika tersirat dalam pikiranku “Yah, aku akan menjadi seorang chef.”
Walau aku tak mengenal laki-laki itu, aku merasa sangat berterima kasih padanya karena melalui dirinya aku memiliki gairah baru dalam hidup dan harapan.
Laki-laki itu meneguk kopinya sampai habis, lalu beranjak dan meninggalkan dua lembar uang di meja. Dia pergi tanpa kata dan dia melambaikan tangannya padaku. Yang kulihat saat itu seorang melaikat yang sedang berjalan memecah sinar matahari dan memberikan sedikit sinar itu untukku.
Kalimat terakhir darinya itu adalah perpisahan bagi kami, tetapi bagiku hal itu adalah awal dari hidupku yang baru.