Jika Berpisah Tak Terelakan Lagi
“One, two, three, four, five...” Suara teriakan anak-anak bergermuh di sepanajang sekolah taman kanak-kanak. Suasana sekolah menjadi lebih serius daripada biasanya. Biasanya pada bulan-bulan seperti saat ini semua siswa sedang sibuk mempersiapkan diri untuk kenaikan kelas bagi kelas TK A dan menuju SD bagi TK B. Hampir tiap hari bu guru mengulang dan memberikan kami semua pengayaan. Tiap hari adalah belajar. Bahkan waktu bermain menjadi sedikit berkurang.
“Rey, ayo belajar dulu,” bujuk kak Fitri. Semua situasi itu hanya berlaku begi teman-temanku lainnya, kecuali aku. Bagiku, setiap hari adalah sama, yaitu bermain. Aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi belajar. Walau di luar sana teman-teman berlomba-lomba mendapatkan bintang pernghargaan atas usaha belajar mereka, tetapi bagiku tiada yang berbeda. Aku tetap berlarian walau di tengah padatnya jadwal belajar di seklah.
“Rey, ayo kembali. Duduk lagi,” kak Fitri terus saja membujukku untuk duduk.
Aku lihat sahabat-sahabatku tidak ada yang mengikutiku berlari. Mereka duduk manis menghadap meja dan buku mereka. Kutatap saja mereka dari kejauhan. Terbayang olehku serunya bermain bersama mereka. Kuteringat masa menyenangkan di mana mereka mengejar-ngejar diriku dan berteriak bersama. Lalu kami dimarahi dan tertawa bersama-sama.
Kutatap satu per satu wajah sahabat-sahabtku itu. Wajah-wajah itu pasti akan sangat kurindukan. Mereka ada yang akan naik kelas B dan lainnya pergi ke SD. Sedangkan aku, mama sudah menyiapkan jalanku selanjutnya. Sebuah pendaftaran untuk masuk ke SD menjadi tujuan besar bagiku. Aku ingin bisa lebih maju dan mendapatkan pendidikan yag lebih baik lagi.
“Rey, katanya mau SD?” kak Fitri berusaha mengalihakan perhatianku, sehingga aku hanya meliha ke arahnya. “Siapa sih anak SD?”
“....aaae (baca: Rey),” jawabku sambil meletakkan telapak tangan tepat di depan dada. Dengan bangga kusebut diriku sebagai siswa SD.
“Makanya, anak SD yang hebat ayo belajar, biar makin hebat!”
Seketika aku tertegun dengan kata-kata kak Fitri. Sejenak aku berpikir bahwa aku akan menjadi anak yang jauh lebih hebat dengan belajar di SD, tetapi di sisi lain aku akan kehilangan teman-temanku yang selama ini sangat kusayangi. Hanyalah mereka, teman kelas khusus Rainbow, yang dapat menerima kekuranganku tanpa bergeming sedikitpun. Hanya mereka yang mengejakku untuk bermain. Hanya mereka pula yang mau berbagi makanan, minuman, dan menggandeng tanganku serta menggandeng tanganku untuk berlari bersama.
Apakah mungkin aku akan bertemu dengan teman-teman sebaik mereka saat aku di SD? Tiba-tiba saja aku tak ingin ke SD, bukan karena aku takut tak bisa mengikuti, tetapi aku takut kheilangan sosok teman-teman yang selama ini baik kepadaku.
“Rey, ayo,” Milo, salah satu temanku menggandeng tanganku dan mengajakku untuk duduk. Tanpa ragu dia menerima dan mengajakku untuk berjalan bersama. Bagaimana mungkin aku bisa berada jauh dari mereka. Tak bisa kubayangkan bagaimana rasa sedih itu akan menyerang saat kudapati bukan mereka yang duduk di bangku sekolahku nantinya. Apakah tanganku akan sehangat tangan yang menggandengku kali ini. Walau kami belum sepenuhnya berada di tempat yang berbeda, bisa kubayangkan betapa rindunya aku akan kehadiran mereka. Hari-hariku akan menjadi sepi tanpanya. Smeua karena aku menyadari kami akan berpisah.
Jika perpisahan itu pasti ada, setidaknya aku ingin menghentikan waktu sejenak untuk memperlambat perpisahan itu. Dalam diam itu aku ingin mencurahkan semua ketakutan dan kekhawatiranku, sehingga hanya bahagia yang menyelimuti diriku. Akan kubangun sebuah memori indah bersama teman-teman terbaikku ini.










