この2冊 ようやく買えた #giantkilling #ジャイアントキリング #days28 (文教堂書店梶ケ谷店)
seen from Portugal
seen from China

seen from Malaysia

seen from Portugal
seen from Malaysia
seen from China

seen from Portugal
seen from China
seen from Denmark

seen from Australia

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Brunei

seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from Poland
seen from Netherlands

seen from Belgium

seen from Maldives
この2冊 ようやく買えた #giantkilling #ジャイアントキリング #days28 (文教堂書店梶ケ谷店)
Pentas Seni (1)
Saat-saat yang menggembirakan bagiku adalah ketika bel tanda pulang sekolah berbunyi dan tidak ada pelajaran membaca ataupun menulis.
“Anak-anak kelas B, hari ini akan berlatih untuk pentas seni.” Begitulah pengumuman yang disampaikan kepala sekolah taman kanak-kanak tempatku belajar saat berbaris bersama di lapangan pagi ini.
Sorak sorai anak-anak kelas B terdengar sangat keras. Setelah kepala sekolah memeberikan pengumuman, kami yang akan berlatih bernyanyi segera berhamburan menuju ruang musik. Di sana sudah menunggu seorang pianis yang akan mengiringi kami semua bernyanyi. Betapa senangnya hatiku ketika selesai berbaris di lapangan tidak langsung kembali ke kelas.
“Rey, jangan lari! Nanti jatuh lho!” teriak kak Fitri yang mengejarku berlarian di koridor sekolah. Saking senangnya hatiku, aku sampai lupa kalau kak Fitri kutinggal jauh di belakang. Seketika aku berhenti dan menoleh, ternyata kak Fitri sedang berlari ke arahku. Seolah kak Fitri ingin mengajak bermain kejar-kejaran, aku melanjutkan berlari dan jauh di depan kak Fitri. Tanpa sadar aku berteriak karena terlalu senang.
Berlari di sepanjang koridor memang sangat menyenangkan. Langkahku harus terhenti tatkala aku sampai di depan ruang musik dan melihat di sana sudah banyak teman-teman lainnya. Mereka sudah berbaris dan mengambil posisi siap untuk bernyanyi. Kutengok kanan dan kiri, ternyata kak Fitri semakin dekat denganku, maka aku langsung masuk ke ruag musik supaya tidak tertangkap olehnya.
Kak Fitri menghela nafas panjang, “Kena kamu Rey!” Tiba-tiba kak Fitri mendekapku dari belakang. Entah lewat dari mana, tetapi aksi kejar-kejaran ini sudah usai. Kak Fitri menggiringku turut berbaris dengan teman lainnya. Aku tak terbiasa berbaris dengan jarak yang begitu dekat dengan teman-teman dari kelas lain. Seketika kuraih tangan kak Fitri, seolah berkata “Kak Fitri jangan pergi! Temani aku di sini!”
“...dididik (baca: kak Fitri),” kusebut namanya berulang-ulang kali tiap kak Fitri ingin melepaskan genggaman tanganku. Semakin kak Fitri menjaga jarak, semakin aku menggenggam tangannya erat.
“Rey, ayo nyanyi bareng teman-teman!” kak Fitri mencoba mendorongku agar mau bersuara. “Nanti kalau Rey mau nyanyi, kak Fitri ajak main. Mau?”
Kuanggukkan kepala tanda setuju. Perlahan aku mengikuti nyanyian yang sedang dilantunkan. Irama indah yang dibawakan oleh sang pianis itu membuat paduan suara kami menjadi sangat bagus. Dengan tangan yang masih kugenggam, kak Fitri mengayunkan tanganku mengikuti gerakan yang dicontohkan bu guru yang memimpin di depan. Sesekali ku lirik, ternyata kak Fitri juga ikut bernyanyi. Aku semakin bersemangat dan menaikkan volume suaraku. Walau apa yang kuucapkan tak sejelas teman-teman lainnya, setidaknya aku berusaha bernyanyi.
“Rey, hebat!” seru kak Fitri sambil menunjukkan jempol kirinya ke arahku. Kata-katanya seperti sebuah sihir, aku menjadi semakin bersemangat karenanya.
“...dididik...ae...hebak (baca: Kak Fitri, Rey, Hebat),” ujarku sambil tesenyum selebar-lebarnya hingga terlihat gigi-gigiku. Kak Fitri membalas dengan senyuman dan hanya menganggukkan kepalanya.
Begitu banyak lagu yang kami nyanyikan, seperti lagu Guruku, Quesera-sera, Hymne Sekolahku, Apuse, dan Sayonara. Lagu favoritku adalah Quesera-sera. Hal ini karena pada akhir lagu, bapak pianis memberikan sedikit gubahan sehingga terdengar sangat syahdu.
Quesera-sera...What happen will be will be.....
Lirik itulah yang selalu kunyanyikan dengan sangat keras.
Setelah latihan bernyanyi, kami melanjutkan dengan persiapan lain. Ada sebagian siswa yang berlatih operet dan lainnya menari. Aku masuk di kelompok menari. Walau aku seorang laki-laki, aku tetap ikut menari berasama anak laki-laki lainnya. Tak tertinggal, kak Fitri selalu berdiri di belakangku layaknya bayangan bagik. Dia menggandeng tanganku dan bersiap jika tiba-tiba latihan menari dimulai, maka kak Fitri akan menuntunku menggerakkan tangan.
One two three
Dengan aba-aba itu, pertanda bahwa kami akan segera memulai kegiatan. Aku berkonsentrasi penuh selama berlatih. Mulai dari mengamati gerakan bu guru, hingga mencoba menggerakkan tangan dan kakiku walau terkadang gerakan yang kuhasilkan tidak semirip bu guru, tetapi aku terus mencobanya. Beberapa kali kak Fitri menuntun tangan dan kakiku saat aku kesusahan mengikuti gerakan bu guru. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa menari.
Aku tak sabar lagi ingin menampilkan hasil berlatihku ini kepada mama saat acara pentas seni nanti.
[bersambung]
Senja menjejak Senjaku menghilang, dalam gelap dan pekat malam penuh bisa. Hening, dia pergi. Tanpa kabar, tanpa jejak tuk dikenali. Senjaku tinggalkan ruam, terasa perih tiap hati kian merindu. Nyenyat, dia telah pergi. Tiada ramai yang senantiasa menghias hari. Senjaku menjejak tanya, akankah kembali? Senjaku menjejak pilu, menghimpit dada tanpa mampu bernafas. Senjaku menjejak, sebaris airmata yang tak juga mengering. #menutuptahundenganberpuisi #days28 #pipitfp #senja #poem #makindekatujungtahun