the world without (my) instagram
seperti halnya ketika segala sesuatu terjadi dalam hidupmu, dunia tetap akan berjalan seperti tak ada apa-apa ketika aku memutuskan menonaktifkan akun instagram. para followers dan following tetap mengunggah foto dan video yang sudah mereka kurasi susah payah. instagram tetap mengeluarkan fitur baru. algoritma tetap membuat pusing digital agency. dan lain sebagainya.
but for me, ada beberapa hal yang sangat terasa bedanya:
1. apapun yang sedang kulakukan, bersama siapa, ke mana, mengapa, sudah nggak memunculkan rasa ingin mendokumentasikan segalanya untuk di-upload. aku ternyata bisa menikmati semuanya tanpa harus pamer ke siapa-siapa.
2. untuk orang yang deep down inside herself adalah makhluk judgemental sekaligus penuh insecurity, nggak ada instagram berarti mengurangi toksin yang menggerogoti dalam diri. somehow aku ngerasa lebih nggak ada beban.
3. aku punya banyak waktu luang untuk memperhatikan teman yang sering banget upload stories. akhirnya aku mengerti kenapa orang bisa sebel ngeliat aku yang dulu melakukan hal yang sama.
4. aku jadi nggak harus digerogotin anxiety setiap kali upload sesuatu. dia jadi kurus, kecil, dan makin lama makin less annoying.
5. aku ternyata nggak mati kalo nggak update apapun di instagram.
waktu ngetik ini, akun instagramku udah aktif lagi gara-gara butuh ngontak kenalan yang cuma mutualan di instagram. inilah susahnya menjauh dari instagram kalau pekerjaan yang ngasih kamu makan adanya justru di sana.
pas akun aktif lagi, gimana? apa jadi balik pengen upload lagi? jujur, ada keinginan untuk itu ketika ternyata banyak yang rindu. terutama sama update keseharian pia di kantor yang nyatanya jadi hiburan orang banyak. tapi...nggak sih. sampe detik ini belum ada keinginan untuk bener-bener balik.
maybe nanti, di masa depan, aku bisa aja berubah pikiran.
but trust me, nggak punya akun instagram pribadi rasanya nggak seburuk yang kalian pikirin, kok. malah, bikin ketagihan.









