Dear Rasulullah
Assalamualaikum...
Jadi Ya Rasul... boro-boro mikirin ummat, saya aja mikirin diri sendiri kelimpungan. Bukan dalam artian yang bener-bener cuek dan ga kepengen ngebantu kebaikan ummat, tapi memang beberapa tahun terakhir ini semacam harus lebih mengontrol emotional-struggling yang rasanya masih belum sempurna lulusnya. Dan sepertinya masih akan terus diuji sampai yang namanya residu-residu dosa dihapuskan, dan di sini saya tetap meminta Allah untuk senantiasa mensucikan.
Tapi mungkin cerminan ummat adalah cerminan yang terjadi pada diri saya. Saya berada dalam keadaan sakit yang benar-benar butuh penyembuhan. Syifaa berupa Quran salah satunya, yang sering kali menjauh karena cemburu oleh saya yang lebih fokus pada perkara-perkara dunia. Walaupun tetap saja saya berupaya mendekat terus, hanya saja keseimbangan antara perkara duniawi dan Quran masih timpang jauhnya. Dan ini rasanya yang terjadi pada ummat. Kedekatan pada Quran yang kurang, seperti halnya saya.
Tentu saja, Allah Maha Adil. Justru kesejahteraan ummat tidak Dia berikan kepada kami mengingat kami memang terus menjauh dari Quran. Sesuatu yang wajar, dan beberapa malah menyalahkan pihak eksternal yang berupaya menjauhkan. Wah saya tahu persis kesenangan dari ‘menyalahkan pihak eksternal’, karena rasanya ringan dan seolah perkara selesai. Walaupun hal ini tidaklah solutif, karena bagaimana pun semua harus digali dan dilihat dari diri sendiri. Nah, ini mungkin yang membuat saya mengatakan kalau saya berada dalam keadaan ‘sakit’. Upaya untuk terus masuk ke dalam jiwa dan mencari di mana detail kesalahan diri saya itu ternyata... sakitnya luar biasa.
Dan yang dibutuhkan memang sebenarnya kekuatan. Minta Allah agar memberi rasa kuat, tidak mengeluh akan rasa sakit, sampai semuanya benar-benar dalam keadaan suci, ikhlas, dan menjadi hamba-Nya yang baik, menjadi salah satu pengikutmu yang hebat.
Lelah dirasakan terkadang, padahal kalau saya sadari, saya belum berada pada jihad yang sesungguhnya. Curhat semacam ini sering kali saya utarakan dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda, dan saya sampai harus excuse diri sendiri kalau tidak mengeluh itu tidak manusiawi. Tapi Allah Maha Penyantun kan yah, dan Allah Maha Tahu. Segala upaya yang terus menerus diiringi oleh emosi manusiawi berupa rasa marah, rasa muak, rasa kecewa, terus mengiringi. Lalu minta disucikan lagi, minta maaf lagi pada-Nya, dan minta-minta-minta lagi kesabaran. Terus menerus berspiral seperti ini. Saya tahu Allah tidak akan bosan, yang bosan itu nanti saya. Dalam deraan kedzaliman yang saya buat diri sendiri ini saya cuman berharap tunas keimanan dan kesabaran saya tidaklah terbakar oleh setiap kedzaliman yang telah saya buat itu.
Dan saya yakin iringan doamu yang terlafalkan sekitar 1500 tahun yang lalu untuk kami masih menjadi energi di sekitar kami. Masih mencoba menelusup pada kulit kami dan menembus jiwa kami. Masih mengiringi kami untuk terus maju pada kebaikan, memberangus kemungkaran, dan akan Allah kabulkan sebagaimana doa itu memang sesuatu yang menembus zaman.
Semoga... kami terus maju, membersihkan luka dan penyakit-penyakit ini dari diri kami.







