Apakah Islam Sebuah Kegagalan? (Part I)
(Diterjemahkan masih agak kasar dari artikel Tolu e Islam karya Ghulam Ahmed Pervez. Inggris-nya bisa dibaca di http://www.tolueislam.org/Parwez/articles/is_islam_a_failure.htm Kalau ada terjemahan yang dirasa agak kurang dan bingung dengan artikel ini, bisa langsung kontak ke [email protected] Kalau mau jadi kontributor nerjemahin sisa artikelnya, buoleh banget)
Pertanyaan ini memberikan kekhawatiran terutama pada para pelajar yang mempelajari kebangkitan dan kejatuhan Muslim. Pada masa awal kebangkitannya, Islam mengalami kebangkitan yang sangat pesat sampai akhirnya mencapai kejatuhan dengan kecepatan yang tidak diketahui oleh sejarah. Curamnya kejatuhan Islam sama terjalnya dengan pemulihannya. Fakta-fakta sejarah membawa sekelompok pelajar pada kesimpulan bahwa Islam tidak diragukan lagi membawa semangat baru kepada bangsa Arab, sehingga bangsa Arab mampu menggulingkan kerajaan Persia dan Roma dan menjadi penguasa dunia, tetapi kenyataannya semangat baru tersebut tidak memiliki kapasitas yang sama seiring berjalannya waktu, Islam tertinggal jauh di belakang dan kebangkitannya yang rumit membawa umat Islam memilih untuk terus mengambil tren yang terus menurun. Seperti yang dikatakan M. Abul Kalam Azad dalam buku India Wins Freedom (halaman 227), 'Percobaannya telah gagal dan akan terus gagal, dan merupakan hal bodoh memberikan sebuah percobaan yang baru.' Dan hal ini membuat beberapa kelompok pelajar mengatakan secara tidak terang-terangan bahwa sangat sulit untuk menyesuaikan pemahaman bahwa Islam membawa pesan kebenaran yang sesungguhnya dan mampu mengikuti perkembangan zaman, dan mengapa hanya sebentar, dan seolah berhenti mati? Skeptisme akhirnya terlahir sehingga menggoyahkan pondasi dasar keimanan bahwa Islam membawa pesan kebenaran. Pertanyaan-pertanyaan penting muncul dan layak dipertimbangkan secara serius sehingga mampu memberikan jawaban yang memuaskan.
Segala hal yang ada di jagad raya ini terikat tegas pada ketetapan Tuhan yang pasti dan tidak bisa diganggu gugat. Seperti yang diungkapkan di dalam Al-Qur'an. Hukum alam tidak pernah salah, dan juga tidak pernah berhenti bergerak. Alam bergerak non-stop tanpa menghalangi dan meragukan pemahaman, "Kamu tidak akan melihat ketidaksempurnaan pada ciptaan Tuhan." (Al Mulk : 3). Pada pola yang sama, terdapat prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang tidak bisa diganggu gugat yang diberikan kepada kemanusiaan, di mana prinsip dan nilai-nilai tersebut diberikan kepada manusia dalam bentuk wahyu, sehingga membuat manusia secara individu dan kelompok, dapat tumbuh dan mengembangkan kehidupan dan merasakan kebaikan yang bisa didapatkan di dunia dan di akhirat. Tetapi tidak seperti halnya alam yang harus mematuhi hukum-hukum Tuhan, manusia memiliki kebebasan untuk mengadopsi dan menolak hukum-hukum Tuhan, dan mengikuti apapun keinginan/hasrat yang memerintah mereka sendiri. Sementara mengikuti ketetapan Tuhan akan menjamin kehidupan yang kaya, mengadopsi hukum yang dibuat manusia akan menawarkan jaminan yang kosong, dan kemungkinan akan membawa kehidupan pada kerusakan.
- Pergulatan antara Benar dan Salah
Jalan kehidupan diungkapkan oleh Tuhan dan disebut dengan nama 'Al Deen' atau Al-Islam, mengungkapkan bahwa apapun anugrah yang tersimpan dan bisa diperoleh dari dalam bumi kita yang indah ini, bisa didapatkan oleh seluruh umat manusia secara seimbang dan sama rata. Walaupun begitu, ada beberapa manusia yang tidak menyukai dan dengan kekuasaannya justru mengontrol sumber produksi bumi, sehingga mereka justru menahan anugrah Tuhan yang bisa didapatkan dari makhluk-Nya, dan memanfaatkan anugrah itu secara pribadi berdasarkan kehendak dan keinginan mereka sendiri. Kelompok ini lah yang menentang jalan hidup berdasarkan Tuhan (Al Islam), dan menempatkan seluruh pendirian mereka pada umat manusia, sehingga membawa pada apa yang disebut di dalam Al-Qur'an 'pergulatan antara Benar dan Salah.' Sementara Islam memiliki hal yang mutlak dan tidak usah dipertanyakan lagi terkait alam, Islam harus bersaing dengan oposisi yang sangat keras terkait kemasyarakatan dan kemanusiaan.
Sebagaimana contoh benih-benih yang ditaburkan di bumi. Dibutuhkan beberapa syarat yang diperlukan untuk pertumbuhan benih yang sehat dan kuat, dan tunasnya akan tumbuh tinggi perlahan-lahan dan akan datang hari di mana benih-benih kecil tesebut akan tumbuh menjadi pohon yang matang dan kuat. Benih-benih tersebut memiliki kemampuan untuk tumbuh sebagaimana mestinya untuk mencapai tujuannya. Dengan demikian, ketetapan-ketetapan dan nilai-nilai yang permanen seperti yang sudah disebutkan, membuat Al-Islam memiliki kapasitas untuk mengatasi kendala yang berhubungan dengan material untuk mencapai tujuan mereka. Seperti yang sudah disebutkan di dalam Al-Qur'an terkait, 'konsep kehidupan yan mulia, Kalimah-Tayyib, memiliki kapasitas untuk naik ke atas kepada-Nya.' (QS Fatir 35:10), yang di dalamnya mengungkapkan bagaimana mencapai kemuliaan yang telah ditakdirkan Tuhan. Dengan kata lain, Kebenaran memiliki kapasitas dan kekuatan untuk berjuang dan mengatasi Kesalahan dan mengupayakan dirinya sendiri. Tetapi hal-hal yan terjadi pada kemasyarakatan, baik di masa lalu dan di masa sekarang, tampaknya justru memungkiri kesimpulan yang ada. Kebohongan tersebar di mana-mana, memiliki pergerakan yang penuh tanpa memberikan pergerakan kepada kebenaran. Tirani, eksploitasi, kebohongan, dan penipuan merajalela. Penampakannya bahkan bisa jadi menipu. Oleh karena itu mari kita membersihkan kesalahpahaman terkait ini.
Berdasarkan Al-Qur'an, konsep kehidupan yang dikemukakan oleh Tuhan memiliki kemampuan dan kekuatan untuk membersihkan rintangan dan juga dapat menang di muka bumi ini, tetapi keseluruhannya bergerak dengan sangat lambat berdasarkan hitungan manusia. "Dia mengatur urusan dari langit ke bumi." (QS As-Sajdah 32:5), yakni, berdasarkan keinginan-Nya, Allah memformulasikan seluruh rencana-Nya di langit sana, tetapi praktiknya dilakukan pada tingkatan yang terendah, bahkan benih yang hidup pun terkubur di bawah bumi yang mana nantinya akan tumbuh menjadi pohon di kemudian hari, "kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS As-Sajdah 32:5) Rencana-rencana Tuhan, berdasarkan semua kebenaran, harus ditegakkan. Rintangan-rintangan yang ada di dunia ini seharusnya tidak menjadi hambatan. Tetapi bagaimana pun, perkembangannya yang terbilang sangat lambat harus lah terlihat. Kebenaran yang abstrak terpisah, bahkan di dalam kasus seperti hanlnya materi-materi, laju evolusi tidaklah terlihat. Ilmuwan mengatakan terkait evolusi organik bahwa perubahan terkecil di dalam suatu spesies bahkan membutuhkan ribuan tahun untuk dapat terlihat dampaknya. Selama periode yang lama ini, perubahan mulai terlihat secara bertahap dan terkadang tidak diketahui, dan perubahannya baru bisa terlihat pada akhir millenium. Hal ini harusnya pemahaman mengenai kecepetan bahwa rencana-rencana Tuhan haruslah terwujud, yang mana satu hari diukur ribuan atau bahkan lima puluh ribu tahun (QS Al-Ma`ārij 70 : 4) dalam hitungan manusia. Kita mungkin akan duduk untuk melihat pertumbuhan tanaman siang dan malam, dalam beberapa minggu atau bulan, atau bahkan tahunan, tetapi pertumbuhannya akan terus tumbuh seiring berjalannya waktu, kita mungkin tidak melihat perubahannya, karena perubahannya yang terlihat sangat lambat. Seperti halnya jam tangan, perpindahan jarum jam ke jam yang lainnya tidak akan terlihat oleh mata telanjang.
Dalam memberantas kekeliruan, kebenaran harus menang walaupun akan memakan waktu yang sangat panjang. Seperti yang dikatakan Al-Qur'an, "Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap." (QS Al-Anbya 21 : 18), hal ini menjelaskan secara tegas bahwa kebenaran dapat dicapai dengan cara yang normal. Bukan hal yang benar untuk berharap bahwa hasil dari perjuangan bisa didapatkan dalam hitungan puluhan tahun, butuh perjuangan berabad-abad untuk dapat memastikan hasil dari sebuah perjuangan. Faktanya bagaimanapun, konflik antara prinsip keTuhanan dan sistem buatan manusia akan selalu berakhir dengan kemenangan pada hal yang pertama, dan kekalahan pada hal yang lainnya. Contoh akan diberikan nanti.
Dasar yang akan dibahas sejauh ini akan diulang berdasarkan:
1. Islam adalah kumpulan prinsip Tuhan yang tidak dapat diganggu gugat sebagai bimbingan bagi manusia untuk mencapai tujuan dalam hidup.
2. Mereka yang memanfaatkan sesama manusia untuk menentang tanda-tanda keTuhanan akan menciptakan pergulatan antara Kebenaran dan Kebatilan.
3. Kebenaran memiliki kemampuan untuk mengatasi Kebatilan dan akan bergerak sesuai dengan jalannya sendiri.
4. Prosesnya lambat, sangat lambat bahkan satu hari akan setara dengan seribu tahun berdasarkan perhitungan manusia.
- Lajunya dapat Dipercepat
Proses kemenangan bagaimana pun dapat dipercepat. Seperti yang tertera pada Surat Fatir ayat 10, "kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya." Yang mana ketetapan Tuhan akan bergerak sendiri, beroperasi dalam kecepatan normalnya, tetapi jika dalam suatu waktu manusia mengadopsi ketetapan Ilahi dalam struktur sosial mereka, kecepatannya akan terakselerasi dan hasilnya yang normalnya mengambil waktu ribuan tahun untuk terbentuk, akan didapatkan dalam hitungan beberapa hari. Secara normal, hukum ilahi bekerja dalam evolusi; kerja sama manusia akan bergerak dan berevolusi, atau yang sering diistilahkan dalam istilah keilmuan, Evolusi Tiba-Tiba. Proses evolusi normal mengizinkan kinerja waktu dalam otak manusia berkembang secara bertahap dan memahami hukum ilahi. Serangan pada 'Evolusi Tiba-Tiba' membawa manusia untuk bekerja sama, yang mana akhirnya mempercepat otak manusia untuk bekerja. Kerja sama dalam komunitas ini tidak diragukan lagi dilengkapi kemampuan untuk menerima hukum ilahi dan mengasimilasi semangat mereka, tetapi mereka yang tidak berada dalam komunitas tersebut memiliki kekurangan dalam perkembangan mental yang dibutuhkan demi terciptanya tujuan tersebut, dan akhirnya mengalami kesulitan dalam menguasai mereka. Seorang murid yang dibesarkan dan terdidik secara baik sampai tahap akhir pendidikannya, akan mengatasi kesulitan dengan mudah, tetapi mereka akan membuat kebingungan orang-orang yang masih berada pada tahap tengah-tengah pembelajaran. Untuk dapat memungkinkan bergaul dengan orang-orang macam mereka, pendidikannya harus ditingkatkan dengan pengaturan khusus yang dibuat untuk dapat mencapai perkembangan mental yang lebih cepat.
(Part II... to be continued)